Sungai Tercemar Limbah Pabrik, Warga Surabaya Bertindak

Facebook0Twitter27LinkedIn1Google+0Email

Pegiat lingkungan di Surabaya bersihkan sungai di Surabaya dari sampah untuk tekan pencemaran. Foto: Komunitas Nol Sampah Surabaya

Tingkat pencemaran di beberapa sungai di dalam kota Surabaya kini sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Sejak pekan lalu, rbuan ikan mati di beberapa sungai yang melintasi kota Surabaya. Diantaranya di kawasan Waru Gunung, Driyorejo, hingga kawasan Wringin Anom, Kabupaten Gresik.

Ikan-ikan ini mati diduga akibat pencemaran dari limbah ratusan pabrik di sepanjang bantaran sungai di Surabaya. “Saya menduga ada dua pabrik, yaitu pabrik penyedap masakan dan pabrik tepung yang punya andil dalam membunuh ikan-ikan ini,” kata Direktur Lembaga Konservasi Lahan Basah (Ecological Observation and Wetlands Conversation, Ecoton) Surabaya, Prigi Arisandi, kepada Tempo.

Prigi menambahkan, kecurigaan ini muncul setelah di sepanjang aliran sungai ditemukan banyak kotoran limbah tetes tebu yang merupakan bahan pokok pembuat penyedap rasa masakan. Tak hanya itu, juga banyak ditemukan lendir-lendir mirip sisa tepung yang mengambang di sepanjang Kali Surabaya.

Ikan-ikan yang mati di antaranya berjenis keting, rengkik, jendil, bader, serta berot. Rata-rata ikan tersebut merupakan ikan besar dengan ukuran hingga betis orang dewasa. Matinya ikan-ikan tersebut menjadi perhatian warga yang bermukim di tepi sungai. Namun, karena khawatir mengandung racun, mayoritas warga tak berani mengambil ikan tersebut untuk dijadikan santapan.

Data dari Ecoton menunjukkan, di sekitar kawasan Gempol Kerep, Kabupaten Mojokerto, juga ditemukan ribuan ikan yang mati mengambang. “Warga di Gempol Kerep mencium bau tetes tebu sejak pukul 7 pagi, dan pada siang harinya ribuan ikan di sana mati,” ujar Prigi.

Ecoton mendesak PT Perum Jasa Tirta segera menggelontorkan air dengan membuka pintu-pintu air sehingga air yang ada di Kali Surabaya segera terbuang ke laut. Ecoton juga mendesak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, untuk sementara menghentikan aktivitas pengambilan air Kali Surabaya sebagai bahan baku utama air minum sebelum adanya upaya penggelontoran oleh PT Jasa Tirta. Ecoton pun meminta Gubernur Jatim bertanggung jawab atas kematian ribuan ikan di Kali Surabaya itu melalui surat resmi disertai data serta bukti otentik. Jenis ikan mati yang diserahkan di antaranya rengkik, belut, dan bader.

Menurut juru bicara Ecoton, Riska, selain menindak pelaku, antisipasi ke depan juga penting karena kini memasuki musim kemarau dan hampir semua pabrik gula mulai menggilig tebu. Menurut Riska, ada dua pabrik besar di kawasan Wringinanom dan Mojokerto yang sedang diamati secara serius oleh tim Ecoton karena diduga menjadi sumber pencemaran di Kali Surabaya.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo pun kemudian berjanji mengungkap pelaku pencemar Kali Surabaya dalam kurun waktu 10 hari. Hal itu sebagai jawaban atas desakan aktivis Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah kepada DPRD Jatim di Surabaya.

Soekarwo berharap pelaku pencemar Kali Surabaya bisa terungkap oleh tim gabungan yang dibentuk Pemerintah Provinsi Jatim, Jasa Tirta, polisi, dan aktivis lingkungan. Soal sanksi terhadap pelaku pencemaran, Soekarwo menyatakan tidak bisa mengintervensi keputusan pengadilan.

Pihak kepolisian pun mulai bertindak dan memulai penyelidikan atas permintaan langsung dari Gubernur JawaTimur. “Untuk saat ini, belum banyak yang bisa kami sampaikan. Karena bukti-bukti masih minim,” kata AKBP Suhartoyo, Kasubbidpenmas Polda Jatim.

Kondisi sungai di Surabaya yang mengenaskan ini pun membuat aktivis lingkungan di Surabaya turun tangan. Hari Minggu, tanggal 3 Juni 2012, sejumlah organisasi lingkungan dan komunitas melakukan aksi memulung sampah yang mencemari sungai. “Kita sengaja melibatkan komunitas supaya mereka tahu dan bisa ikut peduli dengan Kali Surabaya. Bahwa Kali Surabaya adalah milik kita bersama, apalagi air sungai dipakai untuk bahan baku PDAM,” kata Koordinator Komunitas Nol Sampah, Wawan Some seusai memunguti sampah di Kali Surabaya kepada beritajatim.com

Kegiatan ini dilakukan dengan mengarungi sekitar 45 km Kali Surabaya mulai dari PDAM Karang Pilang hingga bawah Tol Gunung Sari Surabaya. Komunitas yang mengikuti kegiatan ini diantaranya Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia dan Ecoton, Bonek Garis Hijau, Dewan Kota serta Pandu Keadilan. Total ada sekitar 35 orang yang mengikuti kegiatan mulung sampah di sungai ini.

Selama penyusuran, banyak sampah yang ditemukan. Kebanyakan merupakan sampah rumah tangga seperti sampah plastik, styrofoam dan diapers. Meskipun begitu, Wawan yakin banyak limbah pabrik yang juga mencemari air sungai. “Buktinya beberapa waktu lalu, ada ribuan ikan mabuk dan mati di Kali Surabaya,” ujarnya.

Ia juga berharap Pemerintah Provinsi dan PDAM juga turut mengontrol lebih ketat proses pembuangan limbah pabrik-pabrik di sekitar Kali Surabaya. “Karena ini menjadi bahan baku konsumsi air minum sebagian warga kota,” katanya.

Video dari Ecoton di bawah ini, mungkin bisa menjadi sebuah bukti bahwa rendahnya kesadaran masyarakat dan pebisnis di kota Surabaya, menjadi salah satu sebab utama rusaknya kualitas air di Surabaya, dan tercemarnya habitat ikan-ikan di kota Surabaya.

http://www.youtube.com/watch?v=J23n7Ji85tU

Comments