Sinarmas Tercoreng Lagi
PROGRAM konservasi hutan yang dikembangkan Grup Sawit Sinarmas, Golden Agri Resources (GAR) atau PT Smart Tbk, tercoreng menyusul kasus penembakan dan penangkapan petani akibat konflik lahan di Padang Halaban, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara (Sumut).
Terkait
- Tanam Sawit di Luar HGU, Walhi Desak PT PN XIV Kembalikan Lahan Warga
- Mengapa Kapal Rainbow Warrior Ramah Lingkungan?
- Raksasa Bisnis Kelapa Sawit Indonesia Tekan Deforestasi Lewat Perusahaan Penyuplai Mereka
- Hutan Riau: Konflik Tenurial Belum Usai, Moratorium Hutan Harus Dilanjutkan
- Berlayar dari Papua ke Jakarta, Rainbow Warrior III akan Pantau Laut dan Hutan Indonesia
Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi menilai, penembakan petani di Padang Halaban merupakan kasus kedua yang melibatkan perusahaan-perusahaan Grup sawit Sinarmas selama dua tahun terakhir ini.
“Pertengahan Januari 2011, juga terjadi penembakan petani Karang Mendapo, Sarolangun, Jambi. Ini terkait dengan PT Kresna Duta Agroindo, salah satu perusahaan sawit milik grup Sinarmas,” katanya Jumat(8/6/12).

Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk besar 20 x 10 meter di Gedung Sinar Mas pada 19 Maret 2009. Aktivis Greenpeace mengunci diri di depan kantor pusat Sinar Mas untuk menghentikan kegiatan sampai mereka berkomitmen menghentikan kegiatan penghancuran hutan terakhir di Indonesia. Foto: Greenpeace
Elfian menilai, program konservasi hutan Grup Sawit Sinarmas, yang mendapat dukungan dari Greenpeace itu, harus mampu menghentikan praktik-praktik kekerasan terhadap petani dan masyarakat terulang. Terlebih, hingga terjadi penembakan.
“Greenpeace harus turun tangan meminta Grup Sawit Sinarmas ini agar memastikan tidak ada lagi praktik-praktik kekerasan itu terjadi lagi.”
Greenpeace bisa saja mengancam menghentikan dukungan kepada program konservasi hutan Grup sawit Sinarmas, jika grup ini tak mampu memastikan tidak akan ada lagi praktik-praktik kekerasan dalam operasi perkebunan mereka.
Polisi Masih Berjaga
Sementara itu, kabar terakhir aparat kepolisian, Brimob, masih berjaga-jaga di perkampungan warga di Padang Halaban. Kondisi ini menambah ketakutan warga.
Pendamping warga dari Lentera Medan, Saurlin Siagian kembali menegaskan agar polisi segera ditarik dari lokasi warga. Sebab, keberadaan Brimob dari Asahan ini sangat meneror warga. “Bebaskan tanpa syarat petani-petani yang ditangkap, “ katanya.
Dia juga meminta Komnas HAM segera turun ke lapangan untuk penyelidikan.

RSS feed
