<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="http://mongabay.co.id/2012/06/11/kematian-empat-gajah-aceh-diselidiki/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/2012/06/11/kematian-empat-gajah-aceh-diselidiki/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 18 Jun 2026 11:00:30 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Apakah Harimau Sumatera Baik-baik Saja di Hutan Leuser?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 11:00:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok dan Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/11/22043343/Malelang1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129421</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Hutan Sumatra Kehilangan Rajanya]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan Ekosistem Leuser merupakan habitat harimau sumatera (Panthera tigiris sumatrae) yang berstatus Kritis. Di hutan yang membentang dari Aceh hingga Sumatera Utara ini, sang kucing besar masih berkeliaran sebagai penguasa puncak rantai makanan. Populasinya diperkirakan masih stabi. Namun, fragmentasi habitat, tekanan hutan, dan meningkatnya interaksi dengan manusia merupakan ancaman yang terus membayangi masa depan penguasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/">Apakah Harimau Sumatera Baik-baik Saja di Hutan Leuser?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan Ekosistem Leuser merupakan habitat harimau sumatera (Panthera tigiris sumatrae) yang berstatus Kritis. Di hutan yang membentang dari Aceh hingga Sumatera Utara ini, sang kucing besar masih berkeliaran sebagai penguasa puncak rantai makanan. Populasinya diperkirakan masih stabi. Namun, fragmentasi habitat, tekanan hutan, dan meningkatnya interaksi dengan manusia merupakan ancaman yang terus membayangi masa depan penguasa hutan ini. Ujang Wisnu Barata, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, menjelaskan populasi harimau sumatera di Aceh saat ini diperkirakan berada pada kisaran 150-170 individu yang tersebar di dua lanskap utama, yakni Leuser dan Ulu Masen. Hasil tersebut berdasarkan pemantauan lanskap Leuser pada 2021 serta periode 2023-2024. Jumlah ini relatif stabil dibanding beberapa tahun sebelumnya, meski pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi terkini di lapangan. “Namun, angka ini tetap perlu diversifikasi melalui monitoring lanjutan,” jelasnya, Selasa (16/6/2026). Leuser bukan hanya habitat penting harimau tetapi di sini juga hidup gajah sumatera, orangutan sumatera, dan badak sumatera yang semuanya berstatus Critically Endangered berdasarkan IUCN. Stabilnya populasi harimau, tidak serta-merta menunjukkan kondisi habitatnya baik-baik saja. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan mengenai kemunculan harimau di sekitar kebun dan permukiman warga semakin terdengar. Di sejumlah wilayah seperti Aceh Selatan, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara, masyarakat kerap berhadapan dengan jejak, suara, bahkan penampakan langsung harimau. “Interaksi yang meningkat, tidak selalu menunjukkan populasi harimau bertambah. Banyak kasus terjadi karena tekanan terhadap habitat yang membuat satwa bergerak lebih dekat ke wilayah aktivitas manusia,” jelas Ujang. Dia mencontohkan sejumlah kejadian di kawasan Simpur dan Ketambe yang berada di sekitar Taman Nasional&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hotel Ramah Energi Masih Minim di Yogyakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 10:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17235517/IMG_8396-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129385</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, politik dan hukum, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Hotel di provinsi ini terus tumbuh, namun, hanya hitungan jari yang memiliki sertifikasi bangunan ramah energi. Padahal, bangunan ramah energi dan berkelanjutan memainkan peranan dalam adaptasi krisis iklim. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ledakan hotel terjadi pada 2016-2019 yang semula hanya 1.370 menjadi 1.980 atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/">Hotel Ramah Energi Masih Minim di Yogyakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Hotel di provinsi ini terus tumbuh, namun, hanya hitungan jari yang memiliki sertifikasi bangunan ramah energi. Padahal, bangunan ramah energi dan berkelanjutan memainkan peranan dalam adaptasi krisis iklim. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ledakan hotel terjadi pada 2016-2019 yang semula hanya 1.370 menjadi 1.980 atau naik lebih dari 50%. Saat pandemi COVID-19 sempat stagnan tetapi sejak 2024 meningkat lagi yang kini ada 2.291. Sedang daerah istimewa ini tak punya regulasi khusus untuk mengatur hotel ramah energi. Selama ini, aturan masih berdasarkan Permen PUPR 21/2021 yang mengatur tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau (BGH). Penelitian di Kelurahan Sosromenduran, di jantung wisata Malioboro, menyebut, kenaikan jumlah hotel di sana menyebabkan meningkatnya suhu mikroklimat perkotaan akibat kepadatan bangunan. Pembangunan hotel-hotel di sana dengan gaya modern yang cenderung menjadi bangunan intensif energi yang bergantung pada pendingin ruangan, pencahayaan buatan, dan konsumsi air dalam jumlah besar. Akibatnya, terjadi tekanan ekologis yang menyebabkan peningkatan suhu mikroklimat perkotaan akibat kepadatan bangunan. Penelitian ini menawarkan solusi green architecture yang bukan sekadar estetika bangunan hijau, melainkan pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan efisiensi energi, konservasi air, penggunaan energi terbarukan, ventilasi alami, dan pengelolaan ruang hijau dalam hotel. Dalam Peta Jalan Penyelenggaraan dan Pembinaan Bangunan Gedung Hijau, hotel masuk kategori bangunan komersil yang signifikan dalam menekan emisi karbon. Padahal,  sumbangan gas rumah kaca (GRK) dari bangunan terbesar di sektor energi dengan rata-rata kontribusi sekitar 33% sepanjang 2011–2021. Sekitar 90% emisi itu berasal dari penggunaan listrik bangunan, terutama untuk pendingin udara, pencahayaan, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Hilang dan Ancaman Bencana Dampak Tambang Emas Ilegal di Sumbar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 04:58:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indionesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/08013550/PETITRIBATANEWS-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129374</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) pada November 2025, ratusan orang menjadi korban. Lebih dari 200 jiwa meninggal dunia, ribuan warga terdampak, sementara rumah, sawah, dan infrastruktur rusak akibat terjangan material dari hulu. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) meyakini, kerusakan lingkungan di Sumbar berkontribusi terhadap bencana yang terjadi, salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/">Hutan Hilang dan Ancaman Bencana Dampak Tambang Emas Ilegal di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) pada November 2025, ratusan orang menjadi korban. Lebih dari 200 jiwa meninggal dunia, ribuan warga terdampak, sementara rumah, sawah, dan infrastruktur rusak akibat terjangan material dari hulu. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) meyakini, kerusakan lingkungan di Sumbar berkontribusi terhadap bencana yang terjadi, salah satu karena maraknya pertambangan emas tanpa izin (peti) atau pertambangan emas ilegal. “Bencana ekologis yang terjadi tidak bisa lepas dari buruknya tata kelola sumber daya alam selama bertahun-tahun,” kata Tommy Adam, Direktur Walhi Sumbar dalam konferensi pers &#8220;Ketika Tambang Dibiarkan, Siapa yang Melindungi Warga?&#8221; di Jakarta, Jumat (12/6/26). Catatan Walhi,  Sumbar memiliki sekitar 2,2 juta hektar kawasan hutan.  Kurun 2001-2025, provinsi ini kehilangan sekitar 320.000 hektar hutan primer. Pada 2025 saja, hutan di Sumbar yang hilang capai 15.000 hektar. Secara geografis, Sumbar merupakan hulu dari tiga sungai besar, yakni Batanghari, Indragiri, dan Kampar. Kerusakan  di  pegunungan dan hutan Sumbar tidak hanya berdampak pada masyarakat,  juga wilayah hilir di Jambi dan Riau. Di antara berbagai faktor yang menyebabkan degradasi lingkungan itu, Walhi menempatkan tambang emas ilegal sebagai salah satu ancaman paling serius. Setidaknya, ada sembilan kabupaten/kota di Sumbar marak dengan aktivitas ini. Mulai dari Pasaman, Pasaman Barat, Limapuluh Kota, Sawahlunto, Dharmasraya, Solok Selatan, Solok, Sijunjung hingga Pesisir Selatan. Berdasarkan analisis citra satelit oleh Walhi, lebih dari 10.000 hektar hutan dan lahan rusak akibat peti. Dalam rentang 2012-2026, sedikitnya 50 orang meninggal dunia akibat kecelakaan yang berkaitan dengan aktivitas tambang ilegal. Ancaman kesehatan Jejak kerusakan tak hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dilarang Dikunjungi Manusia, Pulau Ini Dihuni Ribuan Ular yang Bisanya Bisa Jadi Obat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 04:01:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/22115647/Bothrops_insularis_Instituto_Butanta_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129391</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari jauh, Ilha da Queimada Grande tampak seperti pulau tropis biasa di lepas pantai Brasil: hutan lebat, pantai berbatu, dan deburan ombak Atlantik Selatan. Tidak ada bangunan, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jejak manusia. Pemerintah Brasil melarang siapa pun masuk ke sana, kecuali ilmuwan berlisensi yang didampingi dokter. Tapi larangan itu bukan karena pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/">Dilarang Dikunjungi Manusia, Pulau Ini Dihuni Ribuan Ular yang Bisanya Bisa Jadi Obat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari jauh, Ilha da Queimada Grande tampak seperti pulau tropis biasa di lepas pantai Brasil: hutan lebat, pantai berbatu, dan deburan ombak Atlantik Selatan. Tidak ada bangunan, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jejak manusia. Pemerintah Brasil melarang siapa pun masuk ke sana, kecuali ilmuwan berlisensi yang didampingi dokter. Tapi larangan itu bukan karena pulau ini tidak menarik. Justru sebaliknya. Di pulau seluas 44 hektare ini hidup antara 2.000 hingga 4.000 ekor Bothrops insularis, ular lancehead emas dengan racun yang bisa membunuh dalam hitungan jam. Dan racun itulah yang kini menjadi incaran para ilmuwan karena menyimpan potensi medis yang sangat besar. Peneliti dari Instituto Butantan Brasil menemukan bahwa senyawa aktif dalam racun B. insularis memiliki karakteristik unik yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati gangguan pembekuan darah, penyakit jantung, dan berpotensi dikembangkan sebagai terapi kanker. Komponen racunnya mampu memengaruhi sistem peredaran darah dan enzim vital tubuh secara sangat spesifik, menjadikannya bahan penting dalam pengembangan farmasi modern. Tapi untuk mempelajarinya, ilmuwan harus masuk ke pulau yang dilarang, dengan pengawalan dokter, dan risiko kematian yang nyata. Bagaimana pulau sekecil ini bisa menjadi habitat dengan konsentrasi ular berbisa tertinggi di dunia? Ribuan tahun lalu, naiknya permukaan laut memutus hubungan darat antara Queimada Grande dan daratan utama Brasil. Ular-ular yang tadinya bagian dari populasi Bothrops jararaca terjebak di ekosistem pulau yang sempit, tanpa predator alami dan tanpa mamalia darat sebagai mangsa. Satu-satunya sumber makanan yang tersedia adalah burung-burung migran yang hinggap sejenak di pepohonan. Tantangannya: burung bisa terbang dan tidak bisa dikejar. Untuk bertahan, ular-ular ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Kesepakatan Dagang Timbal Balik atau Pesta Mineral Kritis Amerika Serikat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 01:28:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhamad Karim*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/29034410/image-04-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129392</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tandatangani kesepakatan dagang timbal balik (agreement on reciprocal trade/ART),  pada 19 Februari 2026. Kesepakatan ini tak hanya menimbulkan konsekuensi kelembagaan (hukum bisnis internasional) bagi Indonesia juga berimplikasi secara ekonomi politik dan geopolitik. Pasalnya, isi kesepakatan itu justru memproduksi ketidaksetaraan (inequality), ketidakadilan (injustice) dan ketidak-fair-an (unfairness) dalam perdagangan itu. Tulisan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/">Opini: Kesepakatan Dagang Timbal Balik atau Pesta Mineral Kritis Amerika Serikat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tandatangani kesepakatan dagang timbal balik (agreement on reciprocal trade/ART),  pada 19 Februari 2026. Kesepakatan ini tak hanya menimbulkan konsekuensi kelembagaan (hukum bisnis internasional) bagi Indonesia juga berimplikasi secara ekonomi politik dan geopolitik. Pasalnya, isi kesepakatan itu justru memproduksi ketidaksetaraan (inequality), ketidakadilan (injustice) dan ketidak-fair-an (unfairness) dalam perdagangan itu. Tulisan ini akan menyoroti imbas kesepakatan ini terhadap aktivitas pertambangan khusus mineral kritis di Indonesia. Jika dicermati, ada klausal kontroversial. Pertama, Pasal 6.1 menghapus hambatan ekspor mineral kritis. Pasal ini bertentangan dengan kebijakan larangan ekspor bijih mineral kritis mentah (hilirisasi). Kedua, absennya klausal free, prior and informed consent (FPIC) untuk melindungi hak-hak masyarakat adat. Ketiga, perusahaan-perusahaan tambang Amerika Serikat memperoleh akses terbuka di Indonesia. Artinya,  operasi mereka setara dengan BUMN, seperti PT Aneka Tambang (Antam) tanpa disertai kewajiban transfer teknologi yang mengikat. Keempat,  Indonesia juga memilik kewajiban yang bersifat mandatory untuk mengimpor energi fosil dari AS US$15 miliar per tahun. Angka ini lima kali lipat lebih besar dari impor Indonesia dari AS pada 2025. Bukankah kesepakatan ini membuat AS pesta mineral kritis? Ironisnya, Pemerintah Indonesia tak menggubris kritik dan penolakan kesepakatan itu yang datang dari akademisi, organisasi masyarakat sipil hingga pakar ekonomi. Organisasi masyarakat sipil antara lain, Indonesia for Global Justice (IGJ) mengajukan 33 poin keberatan, juga Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai,  kesepakatan ini sebagai penguatan ekstraktivisme dan mengabaikan kedaulatan negara atas sumber daya alam termasuk mineral emas di Papua. Bahkan koalisi masyarakat sipil juga menggugat kesepakatan dagang ART ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Mengapa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koloni Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan di Tempat yang Tidak Pernah Kena Sinar Matahari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 00:58:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/11115555/screenshot_2025-11-06_at_105053am-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129390</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari dan dipenuhi gas belerang beracun, para peneliti menemukan koloni laba-laba terbesar yang pernah tercatat di alam: sekitar 111 ribu individu dari dua spesies berbeda, membangun jaring bersama seluas 106 meter persegi di dinding batu yang lembap. Temuan ini diterbitkan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/">Koloni Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan di Tempat yang Tidak Pernah Kena Sinar Matahari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari dan dipenuhi gas belerang beracun, para peneliti menemukan koloni laba-laba terbesar yang pernah tercatat di alam: sekitar 111 ribu individu dari dua spesies berbeda, membangun jaring bersama seluas 106 meter persegi di dinding batu yang lembap. Temuan ini diterbitkan di jurnal Subterranean Biology tahun 2025 oleh tim yang dipimpin István Urák dari Sapientia Hungarian University of Transylvania. Gua itu bernama Sulfur Cave, bagian dari sistem gua bawah tanah di Lembah Sarandaporo. Di dalamnya, air panas kaya belerang terus keluar dari dasar bumi. Gas hidrogen sulfida yang memenuhi udara gua bersifat beracun bagi manusia, kadar oksigennya rendah, dan tidak ada cahaya sama sekali. Tapi justru kondisi itulah yang menopang seluruh ekosistem di dalamnya. Rantai makanannya dimulai dari bakteri pengoksidasi sulfur yang memanfaatkan gas H₂S sebagai sumber energi, membentuk lapisan biofilm di dinding dan dasar sungai gua. Lapisan ini dimakan larva lalat kecil dari keluarga chironomid. Ketika dewasa, lalat-lalat itu beterbangan dalam kawanan padat di atas aliran air belerang yang hangat, menyediakan sumber makanan konstan bagi laba-laba yang menempel di dinding. Tidak ada bahan organik dari luar yang masuk dalam jumlah berarti. Ekosistem ini sepenuhnya mandiri dari sinar matahari. Dua spesies yang membangun koloni ini, Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans, umumnya hidup soliter. Di Sulfur Cave, keduanya hidup berdampingan tanpa konflik, berbagi ruang dan mangsa. Kepadatan mencapai rata-rata 650 individu T. domestica dan 800 individu P. vagans per meter persegi. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai &#8220;kolonialitas fakultatif&#8221;,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inilah Penyebab Punahnya Manusia Purba dan Gajah Kerdil Flores</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/17/inilah-penyebab-punahnya-manusia-purba-dan-gajah-kerdil-flores/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/17/inilah-penyebab-punahnya-manusia-purba-dan-gajah-kerdil-flores/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jun 2026 09:11:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17090820/manusia-purba-flores-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129381</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar seratus ribu tahun lalu, Pulau Flores jauh lebih hijau dan basah daripada yang kita saksikan hari ini. Hutan tropis lembap masih menutupi sebagian besar wilayahnya, dengan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun. Jatuhnya musim hujan lebih pasti dibandingkan dengan sekarang. Curah hujannya pun lebih tinggi dan merata. Sementara, musim kemarau tidak terlampau panjang sehingga manusia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/17/inilah-penyebab-punahnya-manusia-purba-dan-gajah-kerdil-flores/">Inilah Penyebab Punahnya Manusia Purba dan Gajah Kerdil Flores</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar seratus ribu tahun lalu, Pulau Flores jauh lebih hijau dan basah daripada yang kita saksikan hari ini. Hutan tropis lembap masih menutupi sebagian besar wilayahnya, dengan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun. Jatuhnya musim hujan lebih pasti dibandingkan dengan sekarang. Curah hujannya pun lebih tinggi dan merata. Sementara, musim kemarau tidak terlampau panjang sehingga manusia purba masih mudah mendapatkan air. Begitu juga bagi hewan-hewan yang ada pada waktu itu. Sungai Wae Rancang mengalir sepanjang tahun, kondisi yang sangat mendukung kehidupan di sekitar Liang Bua, gua tempat bermukim manusia purba Flores dari generasi ke generasi. Sampai kemudian mereka meninggalkan Liang Bua, menyisihkan sejumlah artefak berupa peralatan batu, juga tulang belulang hasil buruan. Kepergian mereka pun menyisakan pertanyaan. Mengapa mereka pergi? Kapan itu terjadi? “Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi. Ketika peran potensial perubahan iklim dan agen manusia terus diperdebatkan, kisah ketersediaan air tawar sebagai penopang kehidupan di lokasi penemuan, Liang Bua, masih kurang dipahami,” tulis Michael K. Gagan, mewakili tim peneliti. Para peneliti itu berasal dari Australia, Amerika, China, dan Indonesia. Mereka menyoroti ketersediaan air tawar di Liang Bua dengan merekonstruksi iklim masa lalu. Caranya, dengan mengolah data speleothem untuk mengetahui curah hujan tahunan, musim kemarau dan hujan, sehingga dapat menilai kondisi iklim saat Homo floresiensis hidup. Laporan penelitian mereka yang berjudul “Onset of summer aridification and the decline of Homo floresiensis at Liang Bua 61,000 years ago” dimuat di jurnal Communications Earth &amp; Environment, Desember 2025.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/17/inilah-penyebab-punahnya-manusia-purba-dan-gajah-kerdil-flores/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/17/inilah-penyebab-punahnya-manusia-purba-dan-gajah-kerdil-flores/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Tambang Batubara Ilegal Marak di Banjar?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/17/mengapa-tambang-batubara-ilegal-marak-di-banjar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/17/mengapa-tambang-batubara-ilegal-marak-di-banjar/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jun 2026 04:00:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16200501/DJI_20260129130630_0023_D-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129343</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bekas konsesi PT Banjar Intan Mandiri (BIM), Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) yang pailit pada 2020  penuh dengan penambangan batubara ilegal. Tidak jelas siapa otak di balik aktivitas ini, kepolisian dan pemerintah daerah pun tidak memberikan jawaban jelas. Warga Kecamatan Mataraman bercerita dengan cemas soal aktivitas pertambangan yang dia lihat langsung. “Angkutan batubara di Gunung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/17/mengapa-tambang-batubara-ilegal-marak-di-banjar/">Mengapa Tambang Batubara Ilegal Marak di Banjar?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bekas konsesi PT Banjar Intan Mandiri (BIM), Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) yang pailit pada 2020  penuh dengan penambangan batubara ilegal. Tidak jelas siapa otak di balik aktivitas ini, kepolisian dan pemerintah daerah pun tidak memberikan jawaban jelas. Warga Kecamatan Mataraman bercerita dengan cemas soal aktivitas pertambangan yang dia lihat langsung. “Angkutan batubara di Gunung Ulin ramai, banyak yang naik, ratusan lebih,” katanya. Dia memantau truk melintasi jalan desa. Perkiraannya, sekitar 2.000 ton batubara keluar melalui jalur satu arah dari bagian utara. Truk itu berhenti sejenak di simpang empat depan Kantor Desa Gunung Ulin, memberikan iuran pada sekelompok orang yang berjaga. Besarannya Rp15.000 per ton. Aktivitas itu rutin, katanya. Jalan penghubung desa jadi korban. Belasan kilometer ke arah hilir rusak parah. “Kalau batubara lewat, getarannya sampai ke rumah. Tidur jadi tidak nyenyak. Mereka lewat di samping, biasanya malam sehabis isya.” Di titik -3.387139, 114.971483, misal, akses menuju Desa Baru, timur Gunung Ulin, kerap alami longsor. Badan jalan bahkan menyusut hingga tinggal separuh. Bahkan, longsor di dekat pengerukan lubang tambang (void) sempat viral awal tahun. Karena, ketika hujan mengguyur, lokasinya selalu becek dan licin. Pengendara rawan jatuh ke jurang. Mirisnya, akses ini yang ratusan warga lalui menuju Kantor Desa, fasilitas kesehatan, hingga pusat ibu kota Kabupaten di Martapura. Anak-anak pun berangkat dan pulang sekolah melalui jalur ini. “Tolong jaga lingkungan, ini jalan kabupaten, bukan jalan tambang. Seharusnya perusahaan buat jalan sendiri.” Bekas konsesi BUMD  BIM merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Banjar yang skemanya lewat Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/17/mengapa-tambang-batubara-ilegal-marak-di-banjar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/17/mengapa-tambang-batubara-ilegal-marak-di-banjar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harapan Baru Perempuan Pengelola Hutan di  Nusa Tenggara Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/17/harapan-baru-perempuan-pengelola-hutan-di-nusa-tenggara-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/17/harapan-baru-perempuan-pengelola-hutan-di-nusa-tenggara-timur/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jun 2026 01:09:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komuniitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/05/22050834/4A-pertanian-kakao-ntt-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129273</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ujung kampung Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur,  berbatasan langsung dengan hutan kawasan produksi Iligai. Jaraknya hanya sekitar 300 meter. “Meski sudah ujung kampung tapi masih ada 4 rumah di dalam hutan namun berada di luar kawasan,” kata  Agnes Guer, pendamping kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Watu Letong, Senin (11/5/26). Kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/17/harapan-baru-perempuan-pengelola-hutan-di-nusa-tenggara-timur/">Harapan Baru Perempuan Pengelola Hutan di  Nusa Tenggara Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ujung kampung Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur,  berbatasan langsung dengan hutan kawasan produksi Iligai. Jaraknya hanya sekitar 300 meter. “Meski sudah ujung kampung tapi masih ada 4 rumah di dalam hutan namun berada di luar kawasan,” kata  Agnes Guer, pendamping kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Watu Letong, Senin (11/5/26). Kawasan hutan terlihat padat oleh pepohonan. Ada kemiri, kakao, kelapa, pala, durian, alpukat dan vanili. Bambu dari jenis peli (Gigantochloa atter) dan petung (Dendrocalamus asper) juga ada di sana. Agnes mengenang,  pada 1987, desa ini hanya dihuni 20 rumah. Suaminya, almarhum Yudas Tadeus mengumpulkan 10 bapak-bapak di kampung itu dan mengajaknya membuka kebun di dalam kawasan hutan. “Dia katakan kalau kita merantau ke Kalimantan dan Papua pun kerja di hutan. Lebih baik kita manfaatkan lahan di hutan kita,” katanya menirukan ucapan suaminya kala itu. Kemudian mereka tanam  cengkih, kakao dan durian. Sembari menunggu tanaman  besar dan berbuah, mereka menanami sebagian lahan dengan padi. “Panen pertama padi dan jagung hasilnya luar biasa. Kami bahkan menyembelih kuda untuk membuat ritual adat sebagai ucapan syukur,” katanya. Tahun ketiga kakao pun mulai berbuah diikuti tanaman lain. Setelah itu, mereka menanam alpukat, pala, vanili dan lain-lain. Selanjutnya, warga dilarang menebang pohon di kawasan hutan, kecuali bambu untuk membangun rumah. Rupanya, kesuksesan membuka kebun memicu warga lain untuk ikut membuka hutan. “Suami saya berulang kali harus menghadap ke Dinas Kehutanan hingga hampir masuk penjara. Bahkan aparat datang ke rumah karena dituduh mengajak warga membuka lahan kebun di dalam kawasan hutan,” katanya. Setelah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/17/harapan-baru-perempuan-pengelola-hutan-di-nusa-tenggara-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/17/harapan-baru-perempuan-pengelola-hutan-di-nusa-tenggara-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Gambut Rawa Tripa Terbakar Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 17:06:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16170003/Rawa-Tripa1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129337</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap kembali membumbung di gambut Rawa Tripa, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Peraturan Daerah atau Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 menetapkan Rawa Tripa sebagai kawasan lindung dengan ketebalan gambut lebih dari tiga meter. Hasil pantauan citra satelit yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), menunjukkan luas tutupan hutan yang hilang di kawasan ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/">Hutan Gambut Rawa Tripa Terbakar Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap kembali membumbung di gambut Rawa Tripa, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Peraturan Daerah atau Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 menetapkan Rawa Tripa sebagai kawasan lindung dengan ketebalan gambut lebih dari tiga meter. Hasil pantauan citra satelit yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), menunjukkan luas tutupan hutan yang hilang di kawasan ini meningkat. Tahun 2021 sekitar 36 hektar, 2022 (69 hektar), dan 2023 (210 hektar). “Pada 2024 sebanyak 644 hektar dan sepanjang 2025 tercatat 997 hektar. Secara kumulatif, luas tutupan hutan yang hilang periode 2021–2025 mencapai 1.955 hektar,” kata Lukmanul Hakim, Manajer Geographic Information System (GIS) Yayasan HAkA, Senin (15/6/2026). Data ini memperlihatkan, tekanan terhadap Rawa Tripa semakin masif dari tahun ke tahun. “Rawa Tripa merupakan habitat penting orangutan sumatera dan menyimpan karbon bernilai tinggi. Perlu langkah cepat dari seluruh pihak untuk menyelamatkan kawasan gambut ini.” Rawa Tripa kembali terbakar yang merupakan kejadian tahunan. Foto: Dok. APEL Green Aceh. Yayasan APEL Green Aceh mencatat, hingga pertengahan Juni 2026 sekitar 334 hektar  gambut Rawa Tripa terbakar dengan 332 titik panas terdeteksi. “Ini bukan peristiwa musiman, melainkan masalah struktural berulang setiap tahun,” jelas Rahmat Syukur, Direktur APEL Green, Senin (15/6/2026). Dalam banyak kasus, kebakaran lahan berkaitan erat dengan aktivitas manusia, baik melalui pembukaan lahan, pengeringan gambut, kelalaian, maupun lemahnya pengawasan terhadap area yang rentan terbakar. &#8220;Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pemadaman api. Harus ditelusuri siapa yang menguasai lahan, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang lalai hingga kebakaran meluas.&#8221; Rahmat menambahkan, adanya aktivitas terorganisir di Rawa Tripa terlihat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dorong Pola Tanam Ramah Lingkungan untuk Pangan Aman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 14:50:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vitri Angreni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/03233649/Petani-di-Ternate-Mulai-Gunakan-Pupuk-Organik-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129332</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kondisi tanah pertanian banyak alami kerusakan, salah satu karena penggunaan zat kimia. Bagi para pegiat pangan dan lingkungan, kerusakan tanah bukan hanya persoalan lingkungan juga memengaruhi kualitas dan keamanan pangan yang sampai ke meja makan masyarakat.  Untuk itu, perlu mendorong gerakan menanam ramah lingkungan agar produksi pangan aman. “Tanah menjadi sangat kritis. Ibaratnya kita berbudidaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/">Dorong Pola Tanam Ramah Lingkungan untuk Pangan Aman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kondisi tanah pertanian banyak alami kerusakan, salah satu karena penggunaan zat kimia. Bagi para pegiat pangan dan lingkungan, kerusakan tanah bukan hanya persoalan lingkungan juga memengaruhi kualitas dan keamanan pangan yang sampai ke meja makan masyarakat.  Untuk itu, perlu mendorong gerakan menanam ramah lingkungan agar produksi pangan aman. “Tanah menjadi sangat kritis. Ibaratnya kita berbudidaya di tanah itu kalau nggak diberi pupuk nggak akan berhasil karena memang sudah jenuh. Contoh ketika main ke sawah,  masihkah kita sering menemukan ada belut, ada cacing, atau ada lumpur yang cukup tebal di dalam sawah? Sudah sangat jarang,” kata Sukmi Alkausar, Direktur Aliansi Organis Indonesia (AOI). Kondisi hari ini, katanya,  dari sistem pertanian kimia yang mulai Indonesia terapkan sejak 1960an, sebagai revolusi hijau. Sistem pertanian kimia ini membuat petani tergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Dari data Food Agriculture Organization (FAO), organisasi pangan dunia, pada 2022, Indonesia tercatat sebagai negara posisi ketiga pengguna pestisida kimiawi terbesar, setelah Brazil dan Amerika Serikat. Tingginya penggunaan pestisida ini menjadi salah satu faktor berkontribusi degradasi lahan dan meningkatnya risiko kontaminasi pada rantai pangan. Dampak pertanian kimia, katanya, tak hanya pada lingkungan dan para petani yang terpapar zat kimia berbahaya juga hasil produksi pertaniannya. Buah murbei yang ditanam dalam pot di pekarangan rumah secara alami. Pupuk gunakan kompos maupun pupuk kandang. Foto: Sapariah Saturi/Mongabay Indonesia Kesadaran pangan aman masih terbatas Rentannya kontaminasi akibat pemakaian bahan kimia pada hasil produksi pertanian ini juga Sri Palupi dari The Institute for Ecosoc Rights, tegaskan. Dia mengatakan,  produksi pangan di Indonesia sudah tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ke Mana Air Itu Mengalir?  Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 13:02:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Aziz Fardhani Jaya *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16130959/Foto-Udara-Sungai-Sagea-yang-keluar-dari-Gua-Batulubang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129311</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam tiga tahun terakhir, air di sungai Sagea di Halmahera Tengah, Maluku Utara, mengalami perubahan mencolok. Setiap musim hujan, air sungai yang muncul di Gua Batulubang kerap berubah menjadi oranye kecoklatan akibat lumpur yang terbawa arus. Padahal sebelumnya sungai ini dikenal karena kejernihan airnya yang berwarna biru. Setidaknya sebagian dari sumber perubahan ini terjawab dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/">Ke Mana Air Itu Mengalir?  Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam tiga tahun terakhir, air di sungai Sagea di Halmahera Tengah, Maluku Utara, mengalami perubahan mencolok. Setiap musim hujan, air sungai yang muncul di Gua Batulubang kerap berubah menjadi oranye kecoklatan akibat lumpur yang terbawa arus. Padahal sebelumnya sungai ini dikenal karena kejernihan airnya yang berwarna biru. Setidaknya sebagian dari sumber perubahan ini terjawab dari hasil investigasi Forest Watch Indonesia pada September 2023. Riset citra satelit menunjukkan adanya hubungan antara kekeruhan aliran sungai Sagea dengan deforestasi sekitar 392 hektare di bagian hulu yang merupakan konsesi tambang nikel pada periode 2021-2023. Endapan lumpur tersebut menyebabkan peningkatan suplai sedimen ke sungai. [1] Namun temuan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan utama. Jika lumpur dan sedimen berasal dari kawasan hulu, bagaimana material itu bisa keluar dari Gua Batulubang yang merupakan wilayah di hulu sungai? Lebih jauh lagi pertanyaan besar muncul: Dari mana sebenarnya sumber aliran sungai Sagea berasal? Seberapa luas daerah tangkapan air yang menyuplai sistem ini? Lalu, bagaimana perubahan di hulu dapat memengaruhi air di hilir dalam waktu relatif cepat? Foto udara sungai di bagian hulu yang hilang dan masuk ke dalam Gua Legaelol. Dok: Save Sagea Karst Sagea yang Kompleks Sagea lebih sering dikenal sebagai tujuan wisata air jernih di mulut Gua Bokimoruru. Banyak orang datang untuk melihat air biru yang keluar dari gua, berenang, atau menikmati lanskap sungai yang tenang. Tetapi di balik pemandangan itu, Sagea adalah sebuah bentang alam karst tropis yang menyimpan sistem air bawah tanah yang kompleks. Kawasan karst Sagea tersusun atas perbukitan batugamping tua berumur sekitar 65&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harimau Makin Terdesak Ketika Hutan Sumatera Barat Terus Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 08:00:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/07101454/evakuasi-harimau-sumatra-di-Palupuah-Agam-22-Mei-2026_Dokumentasi-BKSDA-SUmbar-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129226</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, hutan indonesia, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih terus terjadi di Sumatera Barat (Sumbar). Sepanjang 2025, lebih 20 kasus konflik tersebar di beberapa kabupaten di Sumbar, antara lain, Kabupaten Agam, Pasaman dan Solok Selatan.  Terbaru, pada 21 Mei, harimau  anakan kena jerat babi di Pasaman,  sehari setelah itu, anakan harimau masuk kandang jebak di Agam. Kerusakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/">Harimau Makin Terdesak Ketika Hutan Sumatera Barat Terus Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih terus terjadi di Sumatera Barat (Sumbar). Sepanjang 2025, lebih 20 kasus konflik tersebar di beberapa kabupaten di Sumbar, antara lain, Kabupaten Agam, Pasaman dan Solok Selatan.  Terbaru, pada 21 Mei, harimau  anakan kena jerat babi di Pasaman,  sehari setelah itu, anakan harimau masuk kandang jebak di Agam. Kerusakan hutan jadi salah satu pemicu hewan belang ini keluar dari habitatnya. Analisis citra satelit sentinel oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI menemukan 20.000 hektar hutan hilang di Ranah Minang selama dua tahun belakangan (2023-2025). Pada 2023 luas tutupan hutan 1.752.567 hektar, berkurang menjadi 1.731.672 hektar pada 2025. Di kawasan konservasi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumbar mengamini kerusakan yang terjadi. Misal, di Cagar Alam (CA) Malampah, CA Barisan, CA Panti, Suaka Margasatwa (SM) Malampah Alahan Panjang dan CA maninjau. “Ada penebangan, penambangan, illegal logging dan pembukaan kebun, tingkat kerusakan ada yang sudah parah, ada yang masih bisa tidak dilakukan rehab dan ada yang hanya butuh pengamanan saja,” kata Antonius Vevri, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Sumbar. Ade Putra, Kepala Resort Maninjau BKSDA Sumbar, menyebut, masih terdapat aktivitas ilegal seperti pembalakan liar, perambahan, perburuan, perkebunan maupun pertambangan di beberapa kawasan konservasi di Agam ataupun Pasaman. “Alih fungsi lahan dari hutan jadi non hutan menjadi salah satu penyebab interaksi negatif satwa liar, khususnya harimau,” katanya. Kondisi ini menjadi sorotan Walhi Sumbar. Tommy Adam, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sumbar, mengkritik lemahnya upaya perlindungan in-situ. “Lemah karena pada faktanya kawasan-kawasan habitat harimau itu sudah terfragmentasi mulai dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Pembasahan Gambut Bukan Hanya Masalah Lingkungan, Tapi Investasi untuk Kesehatan Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 05:32:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Onrizal *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16051601/Diperkirakan-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-rawa-gambut-di-Sumatera-Selatan-akan-terus-berlangsung.-Sebab-terus-dilakukan-pengeringan-rawa-gambut-untuk-perkebunan-dan-pertanian.-Foto-Humaidy-Kenedy-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129287</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, huhutan indonesia, Lahan Basah, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap musim kemarau, sebagian warga di Sumatra dan Kalimantan biasanya kembali menjalani &#8216;ritual&#8217; yang seharusnya sudah berakhir: mata perih, napas sesak, sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan masker menjadi barang wajib. Fenomena itu sering disebut sebagai &#8216;kabut asap&#8217;, seolah sesuatu yang wajar dan telah lama kita terima. Padahal asap itu bukan hasil peristiwa alam, melainkan konsekuensi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/">Opini: Pembasahan Gambut Bukan Hanya Masalah Lingkungan, Tapi Investasi untuk Kesehatan Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap musim kemarau, sebagian warga di Sumatra dan Kalimantan biasanya kembali menjalani &#8216;ritual&#8217; yang seharusnya sudah berakhir: mata perih, napas sesak, sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan masker menjadi barang wajib. Fenomena itu sering disebut sebagai &#8216;kabut asap&#8217;, seolah sesuatu yang wajar dan telah lama kita terima. Padahal asap itu bukan hasil peristiwa alam, melainkan konsekuensi dari tata kelola lahan gambut yang keliru. Gambut dikeringkan dan dikonversi, lalu menjadi sangat rentan terbakar. Indonesia sendiri memiliki gambut tropis yang menyimpan cadangan karbon sangat besar dan berperan sebagai “spons” lanskap: menyimpan air saat hujan dan melepaskannya perlahan saat kering. Ketika gambut dikeringkan untuk perkebunan atau pembukaan lahan, proses oksidasi meningkat, permukaan tanah ambles (subsidence), dan risiko kebakaran melonjak. Pengelolaan gambut seharusnya tidak lagi dipandang sebagai program lingkungan semata, program pembasahan kembali gambut (rewetting) adalah bagian dari investasi kesehatan publik. Api di gambut tidak selalu terlihat; ia bisa merambat di bawah permukaan, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap pekat berhari-hari. Asap yang terhirup itu pun bukan hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal dekat titik api. Partikel halus (PM2.5) dari kebakaran gambut dapat terbawa angin lintas kabupaten, provinsi, bahkan lintas negara. Studi tentang dampak kebakaran gambut di Indonesia menunjukkan beban kesehatan yang jauh dari kecil: sebuah kajian menghitung bahwa polusi PM2.5 dari kebakaran gambut menyebabkan, rata-rata, sekitar 33.100 kematian dini pada orang dewasa dan 2.900 kematian dini pada bayi setiap tahun (untuk Sumatra dan Kalimantan), disertai ribuan rawat inap, ratusan ribu kasus asma berat pada anak, serta jutaan hari kerja yang hilang (Hein dkk., 2022). Ketika&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Satgas Taman Nasional dan Sinyal Potensi Konflik Kepentingan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 01:45:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Firdaus Cahyadi*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/07083424/7.-Ekspedisi-Wallacea-di-empat-bentang-alam-Karst-Sulawesi-Tenggara-yang-mengusulkan-kawasan-ini-sebagai-Taman-Nasional-dan-Warisan-Dunia.-Foto_-Dokumentasi-Naturevolution-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129267</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kesekian kalinya,  Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya, Hashim Djojohadikusumo, menduduki jabatan strategis di negeri ini. Melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya sendiri sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional. Sebelumnya, Hashim telah menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Perubahan Iklim. Sejatinya ini sinyal rawan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/">Opini: Satgas Taman Nasional dan Sinyal Potensi Konflik Kepentingan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kesekian kalinya,  Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya, Hashim Djojohadikusumo, menduduki jabatan strategis di negeri ini. Melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya sendiri sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional. Sebelumnya, Hashim telah menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Perubahan Iklim. Sejatinya ini sinyal rawan konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Pada saat Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya sebagai utusan khusus Presiden Indoenesia untuk perubahan iklim dan energi pun sebenarnya sudah banyak kritik bermunculan. Kritik itu berhasil diredam dengan narasi bahwa penunjukan adik Prabowo Subianto sebagai utusan khusus presiden akan dapat membawa harapan percepatan transisi energi. Narasi yang menormalisasi penunjukan Hashim sebagai utusan khusus Presiden Indonesia itu justru tidak terbukti. Alih-alih serius menjalankan agenda transisi energi, akhir 2025, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru mengumumkan keputusan pemerintah membatalkan rencana pensiun dini PLTU Cirebon-1. Di tengah situasi sistem kelistrikan yang mengalami kelebihan pasokan, pengembangan energi terbarukan akan sulit terwujud tanpa terlebih dahulu pensiun dini PLTU. Ironisnya, hampir dalam waktu yang bersamaan beberapa media massa juga memberitakan perusahaan yang dikaitkan dengan Hashim justru mengakusisi blok migas. Pemberitaan itu tentu membuat kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang utusan khusus presiden untuk perubahan iklim dikaitkan dengan bisnis migas? Terkait dengan penunjukan kembali Hashim sebagai Ketua Satgas Taman Nasional, muncul pertanyaan baru, apakah ini murni kepentingan konservasi, ataukah sekadar pintu masuk bagi konsolidasi ekonomi hijau oleh segelintir elite? Owa jawa yang hidup nyaman di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Foto: Rahayu Oktaviani/Kiara Rentan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Nyata El Nino Godzilla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 00:06:30 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/20063828/Petugas-memadamkan-kebakaran-lahan-di-Kecamatan-Landasan-Ulin-Banjarbaru.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=129264</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ancaman Nyata El Nino Godzilla]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena El Nino Godzilla menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim global saat ini dengan dampak konkret yang langsung dirasakan di Indonesia. Fokus utama tertuju pada ancaman sistemik yang ditimbulkan, mulai dari lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan, hingga gangguan nyata pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/">Ancaman Nyata El Nino Godzilla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena El Nino Godzilla menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim global saat ini dengan dampak konkret yang langsung dirasakan di Indonesia. Fokus utama tertuju pada ancaman sistemik yang ditimbulkan, mulai dari lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan, hingga gangguan nyata pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat lokal. Di tengah situasi kritis ini, terdapat urgensi besar untuk mempercepat mitigasi nasional melalui transisi ke energi bersih serta memperkuat kesiapan langkah institusional dalam menghadapi ketidakpastian iklim yang kian mendesak. The post Ancaman Nyata El Nino Godzilla appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jun 2026 04:38:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/14082058/Misna-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129210</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur dan madura]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6. Rosidi,  berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/">Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6. Rosidi,  berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 tahun ini dia meninggalkan kampung halaman bersama istrinya untuk bekerja mencari kepiting bakau di Bangkalan. Dia sewa rumah jadi tempat tinggal sementara. “Re sarean, pak,” katanya, Minggu (10/5/26) siang itu. Maksudnya adalah berusaha mencari nafkah.  Rosidi mengatakan, pendapatan dari menangkap kepiting tak tetap. Bila beruntung, dia bisa dapat lima kilogram sehari. Hingga siang itu, dia baru mendapat 15 kepiting atau sekitar 1,5 kilogram yang telah dia ikat dengan rafia. Usai istirahat siang, dia kembali mengangkat bubu dan mendapat lima lagi.  Wawan dapat sembilan kepiting. Rosidi punya 50 pentor dan Wawan 35 pentor. Pentor bukan satu-satunya alat mereka untuk menangkap kepiting. Ada juga cara lain, bergantung pasang surut air laut.  Misal, dengan metode lu gellu. Yakni, menggunakan besi panjang berdiameter enam milimeter yang dibengkokkan pada bagian ujung untuk memaksa keluar kepiting yang bersembunyi di balik rongga-rongga.  Cara terakhir ini mereka lakukan ketika laut surut.  Dengan menggunakan sepatu air, celana panjang, kaos lengan panjang, dan topong, Rosidi dan Wawan menelusuri celah-celah mangrove, bebatuan, lumpur, satu per satu. Pohon mangnrove yang ditanam di antara tambak ikan di pesisir Bangkalan. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia. Pindah-pindah tempat Rosidi dan Wawan kerap pindah tempat untuk menangkap kepiting. Aktivitas itu biasa mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Garangan Dilepas di Pulau Ini untuk Membasmi Ular, Tapi Berubah Jadi Bencana Ekologi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jun 2026 02:06:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15015651/9145959089_d5326d5a35_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129228</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di berbagai belahan dunia, spesies asing yang sengaja diperkenalkan manusia sering kali menimbulkan dampak yang tidak terduga. Hewan yang awalnya dianggap solusi justru dapat berubah menjadi ancaman baru. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Pulau Amami Oshima, Jepang, ketika puluhan garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) dilepasliarkan untuk membasmi ular berbisa, namun akhirnya menjadi malapetaka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/">Puluhan Garangan Dilepas di Pulau Ini untuk Membasmi Ular, Tapi Berubah Jadi Bencana Ekologi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di berbagai belahan dunia, spesies asing yang sengaja diperkenalkan manusia sering kali menimbulkan dampak yang tidak terduga. Hewan yang awalnya dianggap solusi justru dapat berubah menjadi ancaman baru. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Pulau Amami Oshima, Jepang, ketika puluhan garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) dilepasliarkan untuk membasmi ular berbisa, namun akhirnya menjadi malapetaka bagi satwa endemik pulau tersebut. Pada 1979, sekitar 30 ekor garangan didatangkan ke Amami Oshima untuk mengendalikan populasi ular habu (Protobothrops flavoviridis), ular berbisa yang selama puluhan tahun menjadi ancaman bagi masyarakat setempat. Namun ada satu kekeliruan mendasar yang tidak diperhitungkan: garangan aktif pada siang hari, sementara ular habu berburu pada malam hari. Akibatnya, kedua spesies ini jarang bertemu di alam. Alih-alih memburu habu, garangan beralih memangsa satwa yang lebih mudah ditemukan. Ular habu (Protobothrops flavoviridis), pit viper berbisa yang menjadi alasan diperkenalkannya garangan ke Amami Oshima pada 1979, dengan akibat yang justru jauh lebih merugikan bagi ekosistem pulau tersebut. | Foto: Mmsmr/Wikimedia Commons (CC0 1.0) Amami Oshima, yang terletak di Prefektur Kagoshima, Jepang bagian selatan, adalah rumah bagi banyak satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia, termasuk kelinci Amami (Pentalagus furnessi), tikus berduri Amami, berbagai katak, burung, dan reptil yang berevolusi secara terpisah selama jutaan tahun. Bagi spesies yang tumbuh tanpa tekanan predator mamalia besar, kedatangan garangan menjadi ancaman yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Perlu Waktu 50 Tahun Tanpa predator alami yang efektif, populasi garangan meledak dari sekitar 30 individu menjadi sekitar 10.000 ekor pada tahun 2000. Kelinci Amami, yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sempat Pelihara, Warga Pacitan Kembalikan Dua Anakan Kucing Kuwuk ke Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 10:59:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/14105109/Anakan-kucing-kuwuk_Foto-Anggun-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129220</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Niat baik Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung pada pelajaran penting tentang konservasi satwa liar. Dua anakan kucing congok atau kucing kuwuk yang sempat dirawat di rumahnya selama dua hari, akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Sang induk, diketahui masih berada di sekitar lokasi penemuan. Peristiwa bermula saat suaminya mencari rumput [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/">Sempat Pelihara, Warga Pacitan Kembalikan Dua Anakan Kucing Kuwuk ke Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Niat baik Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung pada pelajaran penting tentang konservasi satwa liar. Dua anakan kucing congok atau kucing kuwuk yang sempat dirawat di rumahnya selama dua hari, akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Sang induk, diketahui masih berada di sekitar lokasi penemuan. Peristiwa bermula saat suaminya mencari rumput di kawasan hutan tidak jauh dari desanya. Di tengah aktivitas tersebut, dia menemukan dua anakan Prionailurus bengalensis. Merasa kasihan dan khawatir, keduanya dibawa pulang. “Informasinya, ditemukan saat mencari rumput di hutan rakyat,” jelas Ganes Pramudito, Kepala Resort Konservasi Wilayah Ponorogo-Pacitan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). Menurut Ganes, mereka mulai sadar satwa liar dilindungi ini tidak mudah dipelihara layaknya kucing domestik. Kesulitan pakan yang sesuai, menjadi kendala utama. Selain itu, sang induk kucing diduga datang malam hari ke sekitar rumah mereka mencari anak-anaknya. “Setelah kejadian itu, paginya mereka kembalikan ke lokasi ditemukan.” Petugas BBKSDA Jawa Timur yang mendapat laporan langsung ke lokasi dengan berkoordinasi pemerintah desa setempat. Spesies yang menghadapi ancaman penyempitan habitat ini, punya peran penting pengendali hama tikus. “Kucing kuwuk tidak boleh dipelihara. Kalau menemukan, baiknya laporkan ke kami,” kata Ganes. Meskipun warga berniat baik menyelamatkan satwa, namun membawa pulang bukan langkah tepat. Banyak kasus, anakan kucing kuwuk yang terlihat sendirian sesungguhnya dalam pengawasan induknya. “Peluang hidupnya jauh lebih besar bersama induknya di habitat alami dibandingkan dipelihara manusia.” Anakan kucing kuwuk ini dikembalikan ke hutan wilayah Pacitan, JAwa Timur, yang sebelumnya sempat dipelihara dua hari oleh warga. Foto:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Film Pesta Babi dan Polemik Undang-undang Kehutanan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 09:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bambang Tri Daxoko*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000048/PSN-Merauke--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129191</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan publik bahkan berada dalam bayang-bayang sensor. Film ini menggambarkan deforestasi hutan terbesar dalam sejarah modern, juga menampilkan gambaran watak kolonialisme negara yang merampas ruang hidup orang Papua atas nama pembangunan. Seperangkat paradigma, narasi, dan instrumen hukum yang memadai hadir untuk memuluskan jalan ini.  Salah satunya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/">Opini: Film Pesta Babi dan Polemik Undang-undang Kehutanan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan publik bahkan berada dalam bayang-bayang sensor. Film ini menggambarkan deforestasi hutan terbesar dalam sejarah modern, juga menampilkan gambaran watak kolonialisme negara yang merampas ruang hidup orang Papua atas nama pembangunan. Seperangkat paradigma, narasi, dan instrumen hukum yang memadai hadir untuk memuluskan jalan ini.  Salah satunya, Instruksi Presiden (Inpres) 14/2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional. Sebelumnya, sudah ada beberapa peraturan dalam tajuk kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang Pusaka Bentala Rakyat rangkum dalam linimasa PSN di Merauke. Dalih ketahanan pangan dan transisi energi telah membenarkan pembabatan 2,5 juta hektar hutan di selatan Papua untuk cetak sawah, kebun sawit, dan tebu. Akibatnya orang Papua yang hidup di atas tanah dan hutan tersebut pun terancam haknya, termasuk hak atas pangan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Pertanyaannya, mengapa orang Papua yang hidup di sana tidak memiliki klaim hukum atas tanah tersebut? Kenapa pemerintah mudah sekali mengembangkan proyek apapun di atas tanahnya? Ada asas atau norma yang mengatur pembenaran praktik klaim negara atas tanah dan hutan hingga memudahkan pengembangan proyek apapun di atasnya. Hal ini bisa terlacak dari praktik teritorialisasi penguasaan hutan oleh negara melalui UU Kehutanan. Saat ini, DPR dan Pemerintah Indonesia  melakukan revisi keempat UU Kehutanan. Kita perlu mengingat kembali bagaimana paradigma ini bermula, berkembang, dan melanggengkan perampasan tanah dan hutan yang masyarakat lokal huni serta dampak yang timbul. Hutan adat di Merauke, Papua, yang rata dengan tanah untuk proyek pangan dan energi yang pemerintah gadang-gadang. Foto: Yayasan Pusaka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>