<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="http://mongabay.co.id/2012/07/02/pemetaaan-hutan-tropis-3d-dengan-terobosan-sensor-terbaru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/2012/07/02/pemetaaan-hutan-tropis-3d-dengan-terobosan-sensor-terbaru/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 15 Jun 2026 04:38:40 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jun 2026 04:38:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/14082058/Misna-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129210</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur dan madura]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6. Rosidi,  berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/">Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6. Rosidi,  berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 tahun ini dia meninggalkan kampung halaman bersama istrinya untuk bekerja mencari kepiting bakau di Bangkalan. Dia sewa rumah jadi tempat tinggal sementara. “Re sarean, pak,” katanya, Minggu (10/5/26) siang itu. Maksudnya adalah berusaha mencari nafkah.  Rosidi mengatakan, pendapatan dari menangkap kepiting tak tetap. Bila beruntung, dia bisa dapat lima kilogram sehari. Hingga siang itu, dia baru mendapat 15 kepiting atau sekitar 1,5 kilogram yang telah dia ikat dengan rafia. Usai istirahat siang, dia kembali mengangkat bubu dan mendapat lima lagi.  Wawan dapat sembilan kepiting. Rosidi punya 50 pentor dan Wawan 35 pentor. Pentor bukan satu-satunya alat mereka untuk menangkap kepiting. Ada juga cara lain, bergantung pasang surut air laut.  Misal, dengan metode lu gellu. Yakni, menggunakan besi panjang berdiameter enam milimeter yang dibengkokkan pada bagian ujung untuk memaksa keluar kepiting yang bersembunyi di balik rongga-rongga.  Cara terakhir ini mereka lakukan ketika laut surut.  Dengan menggunakan sepatu air, celana panjang, kaos lengan panjang, dan topong, Rosidi dan Wawan menelusuri celah-celah mangrove, bebatuan, lumpur, satu per satu. Pohon mangnrove yang ditanam di antara tambak ikan di pesisir Bangkalan. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia. Pindah-pindah tempat Rosidi dan Wawan kerap pindah tempat untuk menangkap kepiting. Aktivitas itu biasa mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Garangan Dilepas di Pulau Ini untuk Membasmi Ular, Tapi Berubah Jadi Bencana Ekologi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jun 2026 02:06:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15015651/9145959089_d5326d5a35_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129228</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di berbagai belahan dunia, spesies asing yang sengaja diperkenalkan manusia sering kali menimbulkan dampak yang tidak terduga. Hewan yang awalnya dianggap solusi justru dapat berubah menjadi ancaman baru. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Pulau Amami Oshima, Jepang, ketika puluhan garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) dilepasliarkan untuk membasmi ular berbisa, namun akhirnya menjadi malapetaka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/">Puluhan Garangan Dilepas di Pulau Ini untuk Membasmi Ular, Tapi Berubah Jadi Bencana Ekologi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di berbagai belahan dunia, spesies asing yang sengaja diperkenalkan manusia sering kali menimbulkan dampak yang tidak terduga. Hewan yang awalnya dianggap solusi justru dapat berubah menjadi ancaman baru. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Pulau Amami Oshima, Jepang, ketika puluhan garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) dilepasliarkan untuk membasmi ular berbisa, namun akhirnya menjadi malapetaka bagi satwa endemik pulau tersebut. Pada 1979, sekitar 30 ekor garangan didatangkan ke Amami Oshima untuk mengendalikan populasi ular habu (Protobothrops flavoviridis), ular berbisa yang selama puluhan tahun menjadi ancaman bagi masyarakat setempat. Namun ada satu kekeliruan mendasar yang tidak diperhitungkan: garangan aktif pada siang hari, sementara ular habu berburu pada malam hari. Akibatnya, kedua spesies ini jarang bertemu di alam. Alih-alih memburu habu, garangan beralih memangsa satwa yang lebih mudah ditemukan. Ular habu (Protobothrops flavoviridis), pit viper berbisa yang menjadi alasan diperkenalkannya garangan ke Amami Oshima pada 1979, dengan akibat yang justru jauh lebih merugikan bagi ekosistem pulau tersebut. | Foto: Mmsmr/Wikimedia Commons (CC0 1.0) Amami Oshima, yang terletak di Prefektur Kagoshima, Jepang bagian selatan, adalah rumah bagi banyak satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia, termasuk kelinci Amami (Pentalagus furnessi), tikus berduri Amami, berbagai katak, burung, dan reptil yang berevolusi secara terpisah selama jutaan tahun. Bagi spesies yang tumbuh tanpa tekanan predator mamalia besar, kedatangan garangan menjadi ancaman yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Perlu Waktu 50 Tahun Tanpa predator alami yang efektif, populasi garangan meledak dari sekitar 30 individu menjadi sekitar 10.000 ekor pada tahun 2000. Kelinci Amami, yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sempat Pelihara, Warga Pacitan Kembalikan Dua Anakan Kucing Kuwuk ke Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 10:59:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/14105109/Anakan-kucing-kuwuk_Foto-Anggun-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129220</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Niat baik Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung pada pelajaran penting tentang konservasi satwa liar. Dua anakan kucing congok atau kucing kuwuk yang sempat dirawat di rumahnya selama dua hari, akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Sang induk, diketahui masih berada di sekitar lokasi penemuan. Peristiwa bermula saat suaminya mencari rumput [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/">Sempat Pelihara, Warga Pacitan Kembalikan Dua Anakan Kucing Kuwuk ke Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Niat baik Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung pada pelajaran penting tentang konservasi satwa liar. Dua anakan kucing congok atau kucing kuwuk yang sempat dirawat di rumahnya selama dua hari, akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Sang induk, diketahui masih berada di sekitar lokasi penemuan. Peristiwa bermula saat suaminya mencari rumput di kawasan hutan tidak jauh dari desanya. Di tengah aktivitas tersebut, dia menemukan dua anakan Prionailurus bengalensis. Merasa kasihan dan khawatir, keduanya dibawa pulang. “Informasinya, ditemukan saat mencari rumput di hutan rakyat,” jelas Ganes Pramudito, Kepala Resort Konservasi Wilayah Ponorogo-Pacitan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). Menurut Ganes, mereka mulai sadar satwa liar dilindungi ini tidak mudah dipelihara layaknya kucing domestik. Kesulitan pakan yang sesuai, menjadi kendala utama. Selain itu, sang induk kucing diduga datang malam hari ke sekitar rumah mereka mencari anak-anaknya. “Setelah kejadian itu, paginya mereka kembalikan ke lokasi ditemukan.” Petugas BBKSDA Jawa Timur yang mendapat laporan langsung ke lokasi dengan berkoordinasi pemerintah desa setempat. Spesies yang menghadapi ancaman penyempitan habitat ini, punya peran penting pengendali hama tikus. “Kucing kuwuk tidak boleh dipelihara. Kalau menemukan, baiknya laporkan ke kami,” kata Ganes. Meskipun warga berniat baik menyelamatkan satwa, namun membawa pulang bukan langkah tepat. Banyak kasus, anakan kucing kuwuk yang terlihat sendirian sesungguhnya dalam pengawasan induknya. “Peluang hidupnya jauh lebih besar bersama induknya di habitat alami dibandingkan dipelihara manusia.” Anakan kucing kuwuk ini dikembalikan ke hutan wilayah Pacitan, JAwa Timur, yang sebelumnya sempat dipelihara dua hari oleh warga. Foto:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Film Pesta Babi dan Polemik Undang-undang Kehutanan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 09:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bambang Tri Daxoko*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000048/PSN-Merauke--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129191</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan publik bahkan berada dalam bayang-bayang sensor. Film ini menggambarkan deforestasi hutan terbesar dalam sejarah modern, juga menampilkan gambaran watak kolonialisme negara yang merampas ruang hidup orang Papua atas nama pembangunan. Seperangkat paradigma, narasi, dan instrumen hukum yang memadai hadir untuk memuluskan jalan ini.  Salah satunya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/">Opini: Film Pesta Babi dan Polemik Undang-undang Kehutanan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan publik bahkan berada dalam bayang-bayang sensor. Film ini menggambarkan deforestasi hutan terbesar dalam sejarah modern, juga menampilkan gambaran watak kolonialisme negara yang merampas ruang hidup orang Papua atas nama pembangunan. Seperangkat paradigma, narasi, dan instrumen hukum yang memadai hadir untuk memuluskan jalan ini.  Salah satunya, Instruksi Presiden (Inpres) 14/2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional. Sebelumnya, sudah ada beberapa peraturan dalam tajuk kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang Pusaka Bentala Rakyat rangkum dalam linimasa PSN di Merauke. Dalih ketahanan pangan dan transisi energi telah membenarkan pembabatan 2,5 juta hektar hutan di selatan Papua untuk cetak sawah, kebun sawit, dan tebu. Akibatnya orang Papua yang hidup di atas tanah dan hutan tersebut pun terancam haknya, termasuk hak atas pangan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Pertanyaannya, mengapa orang Papua yang hidup di sana tidak memiliki klaim hukum atas tanah tersebut? Kenapa pemerintah mudah sekali mengembangkan proyek apapun di atas tanahnya? Ada asas atau norma yang mengatur pembenaran praktik klaim negara atas tanah dan hutan hingga memudahkan pengembangan proyek apapun di atasnya. Hal ini bisa terlacak dari praktik teritorialisasi penguasaan hutan oleh negara melalui UU Kehutanan. Saat ini, DPR dan Pemerintah Indonesia  melakukan revisi keempat UU Kehutanan. Kita perlu mengingat kembali bagaimana paradigma ini bermula, berkembang, dan melanggengkan perampasan tanah dan hutan yang masyarakat lokal huni serta dampak yang timbul. Hutan adat di Merauke, Papua, yang rata dengan tanah untuk proyek pangan dan energi yang pemerintah gadang-gadang. Foto: Yayasan Pusaka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 06:43:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232006/taal-lake-sea-snake-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129209</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut. Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/">Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut. Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, menyentuh air laut. Bukan karena ia bukan ular laut sungguhan. Ia adalah ular laut sejati dari keluarga Elapidae, berkerabat dekat dengan ular laut pita biru yang hidup di samudra. Tapi seluruh hidupnya, dari lahir hingga mati, dihabiskan di dalam danau air tawar ini. Tidak ada perjalanan ke laut. Tidak ada air asin. Tidak ada jalan pulang ke lautan tempat leluhurnya berasal. Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya ada di geologi, dan di sebuah letusan gunung berapi pada 1754. Saat itu, runtuhnya ruang vulkanik membendung jalur menuju laut dan memerangkap berbagai makhluk laut di dalam kaldera yang terbentuk. Termasuk nenek moyang ular laut garman. Seiring waktu, akumulasi air hujan mengubah air yang dulunya asin menjadi tawar. Makhluk-makhluk laut yang terjebak hanya punya dua pilihan: beradaptasi atau punah. Nenek moyang H. semperi memilih yang pertama. Adaptasinya tidak sepele. Ular laut pada umumnya memiliki kelenjar garam sublingual yang aktif untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Pada H. semperi, kelenjar itu masih ada tapi hampir tidak aktif karena tidak lagi diperlukan. Secara genetik, penelitian mengonfirmasi bahwa seluruh proses isolasi dan adaptasi ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat secara geologis. Ada spesies lain yang sering dibandingkan dengannya: ular laut crocker&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Kaca: Ikan Aneh dari Papua yang Jantan Mengerami Telur di Kepalanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 04:31:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22022337/Ikan-kaca-yang-unik-Foto_-Hari-Suroto-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129208</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di sungai-sungai berair gelap dan rawa bakau di selatan Papua, hidup seekor ikan yang sulit dijelaskan dengan singkat. Tubuhnya pipih dan tinggi seperti belah ketupat memanjang, sisi kanan dan kirinya berkilau perak seperti kaca. Tapi yang paling aneh bukan penampilannya, melainkan caranya bereproduksi: sang jantan mengerami telur-telurnya di atas kepalanya sendiri, pada sebuah tonjolan tulang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/">Ikan Kaca: Ikan Aneh dari Papua yang Jantan Mengerami Telur di Kepalanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di sungai-sungai berair gelap dan rawa bakau di selatan Papua, hidup seekor ikan yang sulit dijelaskan dengan singkat. Tubuhnya pipih dan tinggi seperti belah ketupat memanjang, sisi kanan dan kirinya berkilau perak seperti kaca. Tapi yang paling aneh bukan penampilannya, melainkan caranya bereproduksi: sang jantan mengerami telur-telurnya di atas kepalanya sendiri, pada sebuah tonjolan tulang berbentuk kail yang melengkung di dahi. Karena perilaku itulah ia mendapat dua nama sekaligus: ikan kaca, karena kilaunya, dan ikan perawat, karena kesetiaan sang jantan menjaga telur hingga menetas. Nama ilmiahnya Kurtus gulliveri castelnau, dideskripsikan pertama kali pada 1878 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan Thomas Allen Gulliver, pegawai pos dan telegraf Australia yang tinggal di dekat Sungai Norman, Teluk Carpentaria. Nama itu sekaligus menjadi petunjuk tentang sejarah biogeografis ikan ini: ia tidak hanya hidup di Papua, tapi juga di Australia bagian utara, khususnya di Sungai Adelaide, Northern Territory. Kesamaan fauna antara Papua dan Australia bukan kebetulan. Hari Suroto, peneliti arkeologi BRIN, menjelaskan bahwa sekitar 17.000 tahun lalu, ketika permukaan laut jauh lebih rendah dari sekarang, Australia dan Papua menyatu dalam satu daratan yang disebut Sahulland. Fauna dari kedua wilayah bergerak bebas melintasi daratan yang kini sudah tenggelam. Ikan kaca adalah salah satu warisan hidup dari masa itu, spesies yang masih mendiami kedua sisi dari bekas benua yang sama. Di Papua, ikan ini tersebar luas di Sungai Digul, Sungai Maro, Sungai Mappi, dan berbagai sungai serta rawa di Kabupaten Boven Digoel, Merauke, Mappi, Asmat, hingga Fakfak. Penelitian di Sungai Digoel dan muara Sungai Maro menunjukkan kelimpahan yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 03:02:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/13105303/WhatsApp-Image-2026-06-13-at-03.49.05-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129177</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekejaman satwa di media sosial (medsos) telah mencapai pada tahap mengkhawatirkan. Di banyak negara, pelaku sengaja mempertontonkan adegan kekerasan satwa menjadi konten demi meraup cuan hingga miliaran juta dolar, termasuk Indonesia. Berangkat dari situasi itu, untuk kali pertama, puluhan organisasi perlindungan satwa yang tergabung dalam Asia for Animals Coalition (AfA) menggelar pertemuan bertajuk Social Media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/">Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekejaman satwa di media sosial (medsos) telah mencapai pada tahap mengkhawatirkan. Di banyak negara, pelaku sengaja mempertontonkan adegan kekerasan satwa menjadi konten demi meraup cuan hingga miliaran juta dolar, termasuk Indonesia. Berangkat dari situasi itu, untuk kali pertama, puluhan organisasi perlindungan satwa yang tergabung dalam Asia for Animals Coalition (AfA) menggelar pertemuan bertajuk Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) 11-12 Juni di Bali. Pertemuan yang menghadirkan para pakar, praktisi, Non Government Organization (NGO) dan berbagai pihak berkepentingan, termasuk penyedia platform, ini mencari kerangka yang tepat memerangi kekejaman satwa di dunia maya. Nicola O’Brien, Lead Coordinator AfA mengatakan, praktik kekejaman satwa  menyebar dalam skala yang lebih besar. Praktik itu tentu tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu organisasi, platform atau pemerintah. “Ini bukan hanya soal krisis kesejahteraan hewan saja, tetapi juga persoalan keamanan digital, tata kelola, dan kepercayaan publik,” katanya dalam pertemuan bertema ‘Building Cross-Sector Collaboration to End Online Animal Cruelty’ itu. AfA, kata Nicola, merancang kegiatan itu sebagai ruang konstruktif bagi para pemangku kepentingan untuk memperdalam pemahaman mengenai ancaman daring yang terus berkembang. Selain itu, para peserta juga dapat berbagi pengalaman lapangan, saling mengeksplorasi langkah-langkah praktis guna memperkuat tata kelola digital, hingga penegakan hukum. Karena itu, forum ini tidak hanya menghadirkan para ahli, NGO dan praktisi, tetapi juga perwakilan platform untuk bersama-sama mewujudkan tindakan nyata memerangi praktik tersebut. “Kita membutuhkan dialog yang jujur, sistem yang lebih kuat dan respons yang terkoordinasi dan memahami penderitaan nyata di balik konten-konten tersebut.&#8221; AfA merupakan jaringan internasional dengan lebih dari 400 organisasi perlindungan satwa di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>BMKG Ingatkan Lagi soal Kemarau, Karhutla dan Kekeringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 23:59:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/20064132/Petugas-memadamkan-kebakaran-lahan-di-Kecamatan-Landasan-Ulin-Banjarbaru.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129193</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Berdasarkan monitoring dinamika atmosfer dan laut terkini oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini bakal jauh lebih kering, datang lebih awal, dan berlangsung dengan durasi lebih panjang dari kondisi normal. “Terdapat peluang 50% hingga 60% El Nino dengan maksimal kategori moderat mulai pertengahan tahun, dan musim kemarau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/">BMKG Ingatkan Lagi soal Kemarau, Karhutla dan Kekeringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Berdasarkan monitoring dinamika atmosfer dan laut terkini oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini bakal jauh lebih kering, datang lebih awal, dan berlangsung dengan durasi lebih panjang dari kondisi normal. “Terdapat peluang 50% hingga 60% El Nino dengan maksimal kategori moderat mulai pertengahan tahun, dan musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dari kondisi biasanya,” kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, dalam konferensi pers, Rabu, (10/6/26). Kondisi ini terpicu fenomena ganda, yaitu, menguatnya El-Nino di Samudra Pasifik yang berpeluang mencapai kategori moderat hingga kuat, serta potensi aktifnya Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Kombinasi kedua fenomena global ini secara signifikan akan menekan pertumbuhan awan dan memangkas curah hujan di sebagian besar wilayah nusantara. Berdasarkan analisis zona musim (ZOM), satuan wilayah berdasarkan karakteristik curah hujan homogen dengan referensi periode normal klimatologi (1991–2020), awal musim kemarau tahun ini datang lebih cepat. Tercatat,  308 zona musim atau setara 39,77% luas daratan Indonesia mengalami awal kemarau maju dari jadwal semestinya. Hingga akhir Mei, sebanyak 200 ZOM (11,83% daratan) sudah memasuki musim kemarau, meliputi sebagian Sumatera sampai Papua. Disusul 198 ZOM pada Juni dan 66 ZOM pada Juli. Secara umum, watak kemarau 2026 berada di bawah normal atau jauh lebih kering, mencakup 482 zona musim (56,18% daratan). Wilayah-wilayah terdampak sangat kering ini meliputi seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB, sebagian NTT, Sulawesi, Maluku, hingga Pulau Papua. Ardhasena katakan, masa-masa paling kritis dari siklus kering ini akan terjadi pada pertengahan hingga akhir kuartal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pihak Dorong Penguatan Perlindungan Bentang Latimojong</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 12:34:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wahyu Chandra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/09050659/Latimojong-01-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129014</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kota Belopa mendung ketika puluhan orang berkumpul di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, awal Mei 2026. Di dalam ruangan, para pegiat lingkungan, masyarakat adat, akademisi, pemerintah, jurnalis, hingga kelompok tani hutan duduk dalam satu forum yang sama: membicarakan masa depan bentang alam Latimojong. Bagi banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/">Para Pihak Dorong Penguatan Perlindungan Bentang Latimojong</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kota Belopa mendung ketika puluhan orang berkumpul di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, awal Mei 2026. Di dalam ruangan, para pegiat lingkungan, masyarakat adat, akademisi, pemerintah, jurnalis, hingga kelompok tani hutan duduk dalam satu forum yang sama: membicarakan masa depan bentang alam Latimojong. Bagi banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel), Latimojong bukan sekadar pegunungan,  juga sumber air, rumah keanekaragaman hayati, penyangga pangan, sekaligus ruang hidup ribuan orang. Saat  saat  sama, gunung itu juga sedang berada dalam tekanan besar. “Kerusakan di bagian hulu akan berdampak langsung pada wilayah hilir,” kata Ismail Ishak, Direktur Yayasan Lestari Alam, saat membuka diskusi konservasi Pegunungan Latimojong bertema ‘Menjaga Latimojong berarti menjaga keberlangsungan hidup masyarakat’. Ungkapan itu tak berlebihan. Setahun sebelumnya, sekitaran Mei 2025, banjir bandang dan longsor menerjang Lereng Latimojong. Rumah warga rusak, akses jalan terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh berhari-hari. Peristiwa itu menjadi titik balik bagi banyak orang untuk melihat ulang hubungan manusia dengan gunung. Pegunungan Latimojong membentang melintasi Luwu, Enrekang, Tana Toraja, Sidrap, hingga Wajo. Dengan ketinggian mencapai 3.470 meter di atas permukaan laut, kawasan ini dikenal sebagai puncak tertinggi Sulawesi dan salah satu Seven Summit Indonesia. Namun yang membuatnya penting bukan hanya ketinggian atau panorama alam,  Latimojong adalah jantung ekologis Sulsel. Dari pegunungan ini, sejumlah sungai mengalir menuju berbagai wilayah pertanian di Sulsel. Empat kabupaten penghasil padi terbesar—Luwu, Sidrap, Wajo, dan Pinrang—bergantung pada sistem hidrologi Latimojong. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel bahkan menyebut kawasan ini menopang sekitar 41% produksi padi Sulsel. Di lereng gunung,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 08:20:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/13081214/Perdagagan-pleci-masih-marak-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129170</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/">Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang burung, tetapi juga tentang manusia, keserakahan, dan penebusan. Suatu pagi di kawasan Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, suara itu kembali terdengar. Tak lama, hanya beberapa kali kicauan. Namun, bagi  staf Bidang Konservasi Alam Peka Muria ini, kicau tersebut sangat berharga. Mengingat, sebelumnya pleci bukanlah burung yang sulit dijumpai. “Dulu tak perlu masuk hutan. Dari rumah saja sudah bisa mendengar suaranya setiap hari,” ujarnya, akhir Mei 2026. Di tengah maraknya tren burung kicau awal 2010, jenis yang masuk famili Zosteropidae mendadak jadi primadona. Di kalangan penghobi, pleci asal Muria punya tempat sendiri. “Dikenal sebagai dada kuning mata putih atau dakun maput, burung ini dianggap punya kualitas berbeda.” Burung pleci atau kacamata yang tidak lepas dari perburuan karena kicau yang merdu. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Diburu Pleci hidup berkelompok. Saat menemukan pohon berbunga, ratusan individu bisa berkumpul dalam satu lokasi. Biasanya, pemburu mengoleskan pulut pada ranting-ranting tempat mereka hinggap. “Dalam sehari bisa ratusan individu terjerat,” jelas Setyawan. Harga pleci yang terus naik ketika itu membuat banyak warga jadi pemburu dadakan, tak terkecuali Setyawan. Seiring waktu, dia sadar ada sesuatu yang hilang dari hutan. Kicau burung yang biasanya terdengar, perlahan berkurang. “Hutan sepi, sedih sekali. Ini yang menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Perbaikan Nasib Pekerja Perikanan Pasca Indonesia Ratifikasi ILO C-188</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 01:28:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/07/22023100/hasil-tangkapan-ikan-kapal-nelayan-tegal-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129152</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Endi duduk di depan pintu menuju geladak lantai dua kapal penangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta.  Beralaskan terpal warna biru, awak kapal perikanan (AKP) 42 tahun itu ceritakan pengalamannya selama bekerja di atas kapal. Dua AKP yang sekampung dengannya turut menemani ngobrol. “Kami lagi menunggu jadwal. Rencananya sehabis Idul Adha kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/">Menanti Perbaikan Nasib Pekerja Perikanan Pasca Indonesia Ratifikasi ILO C-188</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Endi duduk di depan pintu menuju geladak lantai dua kapal penangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta.  Beralaskan terpal warna biru, awak kapal perikanan (AKP) 42 tahun itu ceritakan pengalamannya selama bekerja di atas kapal. Dua AKP yang sekampung dengannya turut menemani ngobrol. “Kami lagi menunggu jadwal. Rencananya sehabis Idul Adha kami berangkat ke Bitung,” ucap pria asli Wonokerto,  Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) belum lama ini. Kendati membosankan, menunggu kapal berangkat adalah hal biasa bagi Endi. Bisa hanya beberapa hari, atau bahkan berbulan-bulan. Di atas kapal, para AKP mendapat upah tak sama. Mereka yang berperan sebagai anak buah kapal (ABK)  Rp25.000 per hari. Sedangkan untuk kepala kamar mesin, kisaran Rp65.000-Rp100.000 setiap hari. Itu berarti untuk dua bulan berlayar, total upah yang mereka terima Rp1.500.000-Rp6.000.000. Nilai itu, katanya, masih kecil ketimbang kebutuhan keluarga di kampung. Meski begitu, dia masih bersyukur di tengah sulitnya mencari pekerjaan. “Saya hanya lulusan SD. Pernah juga saya mencoba profesi lain seperti tukang bangunan. Tapi saya nggak kuat. Penghasilan juga kecil,” ujarnya. Meski begitu, bagi Endi dan kawan-kawannya, keputusan pemerintah meratifikasi konvensi ILO C-188 memberinya setitik harapan. Mereka berharap, adopsi aturan internasional itu bisa memperbaiki nasib mereka. “Saya akan ikuti semua syarat yang diwajibkan, selama itu bisa memperbaiki nasib saya di atas kapal perikanan.” Wahyudi dan Wasdiono, dua rekan Endi mengamini harapan itu. Tatapan mereka kosong ke depan, seolah mencoba menerabas dinding-dinding kapal yang tengah sandar di pelabuhan. “Saya tidak mau anak saya mengikuti jejak menjadi pelaut. Biar mereka mencari nafkah di darat saja,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 09:45:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/12093928/Hampir-semua-dangau-rumah-pondok-yang-berada-di-kebun-di-wilayah-Semende-Sumsel-penerangannya-menggunakan-listrik-dari-PLTMH.-Foto-drone-Ariadi-Damara_Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129159</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Sumatera Selatan, energi bersih cenderung dikembangkan masyarakat yang tidak dapat mengakses instalasi listrik negara. Misalnya di wilayah pedalaman Semende, Kabupaten Muara Enim. Mereka mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Apakah El Nino Godzilla yang hadir pada 2026 ini berdampak pada kedaulatan energi bersih tersebut? “Kami di sini sangat mencemaskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/">El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Sumatera Selatan, energi bersih cenderung dikembangkan masyarakat yang tidak dapat mengakses instalasi listrik negara. Misalnya di wilayah pedalaman Semende, Kabupaten Muara Enim. Mereka mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Apakah El Nino Godzilla yang hadir pada 2026 ini berdampak pada kedaulatan energi bersih tersebut? “Kami di sini sangat mencemaskan masa depan listrik dari turbin (PLTMH) ini, sebab volume air kian berkurang. Apalagi menghadapi musim kemarau tahun ini, yang kabarnya disertai El Nino Godzilla yang membuat kemarau lebih panas dan panjang,” kata Ikral Sawabi (30), warga Ataran Datas Pagi, Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, awal Mei 2026 lalu. Di wilayah Ataran Datas Pagi, terdapat sekitar tujuh PLTMH yang disebut warga listrik turbin. Listrik ini dialirkan ke dangau (rumah pondok) untuk lampu penerangan, radio, serta mengisi baterai telepon seluler dan senter. Rata-rata, setiap PLTMH dapat menyediakan listrik untuk dua dangau. Pembuatan PLTMH di Ataran Datas Pagi yang berada di kaki Bukit Lumut Balai atau di ketinggian sekitar 2.000 meter dari permukaan laut, sekitar awal tahun 2000. “Murni inisiatif masyarakat, bukan bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya.” Hampir semua dangau di ataran atau perkebunan kopi dan palawija di kaki Bukit Lumut Balai, kebutuhan listriknya dipenuhi PLTMH. Mereka memanfaatkan pancuran atau air sungai yang dialirkan ke turbin untuk menghasilkan listrik. Puluhan ataran di bawah kaki Bukit Lumut Balai, didiami warga dari Desa Tanjung Tiga, Desa Tanjung Agung, Desa Palak Tanah, Desa Kota Agung, hingga Desa Muara Tenang. “Saya menggunakan listrik dari air ini sudah 10 tahun.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 09:34:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28044447/Morelia-azurea-Foto_-Imam-Ramdhani-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129160</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda. Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/">Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda. Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di ketinggian kanopi dan jarang sekali terlihat manusia. Dan justru keindahan transformasinya itulah yang membuatnya menjadi incaran pedagang satwa. Muh. Imam Ramdani dari komunitas Bogor Nature Wildlife Photography pertama kali menjumpainya secara tak terduga, saat hujan deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tim pengamat sedang bergerak pulang lebih awal demi keselamatan ketika sorot lampunya menangkap seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak. &#8220;Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,&#8221; kata Imam. Malam itu, ular berada lebih rendah dari biasanya, bukan di ketinggian 10 hingga 20 meter seperti umumnya, kemungkinan sedang mencari mangsa. Sanca pohon hijau utara adalah predator penyergap yang mengandalkan kesabaran. Nokturnal, hampir tidak bergerak saat menunggu, dan menyerang dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat. Tidak berbisa, dan cenderung menghindari manusia. Tapi persepsi masyarakat terhadapnya masih didominasi rasa takut. &#8220;Semua jenis ular dianggap bahaya,&#8221; kata Imam. Secara ilmiah, Morelia azurea baru diakui sebagai spesies tersendiri sekitar 2019, dipisahkan dari Morelia viridis melalui publikasi ilmiah internasional yang menemukan perbedaan signifikan pada populasi di wilayah utara Papua. Masalahnya, regulasi perlindungan satwa di Indonesia terakhir diperbarui pada 2018, sebelum pemisahan taksonomi itu terjadi. Secara administratif, ada kemungkinan spesies ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Sebut Kebun Sawit Sengsarakan Masyarakat Adat Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 07:30:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/02/22065354/papua-1_MWr_OakDT07bwwN0DtRq1g-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129130</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pusaran Masalah Seputar Industri Sawit]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perkebunan sawit di Papua Selatan tidak hanya mengubah muka bentang alam provinsi. Masyarakat adat pun terdampak, antara lain, mereka terpaksa jadi buruh di atas tanah leluhurnya sendiri. Begitu salah satu kesimpulan riset &#8220;Buruh Paksa&#8221; dari Pusat Kajian Hukum Adat Djojodigoeno Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM). Mereka meneliti tiga perusahaan sawit, dua hadir bersama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/">Riset Sebut Kebun Sawit Sengsarakan Masyarakat Adat Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perkebunan sawit di Papua Selatan tidak hanya mengubah muka bentang alam provinsi. Masyarakat adat pun terdampak, antara lain, mereka terpaksa jadi buruh di atas tanah leluhurnya sendiri. Begitu salah satu kesimpulan riset &#8220;Buruh Paksa&#8221; dari Pusat Kajian Hukum Adat Djojodigoeno Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM). Mereka meneliti tiga perusahaan sawit, dua hadir bersama proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) dan lainnya di Boven Digul. Almonika Cindy Fatika, tim riset, menyebut, penelitian ini menemukan perkebunan sawit bekerja layaknya “teknologi politik” yang mengatur manusia sekaligus wilayah. Menggeser otoritas struktur adat yang sebelumnya menentukan penggunaan hutan dan wilayah adat. “Kehadiran perusahaan perkebunan ini seperti melemahkan, mencerabut otoritas kepala marga dan kepala suku,” katanya dalam talkshow bertajuk Hutan Hilang dan Jeratan Kerja Paksa, di Jakarta, Mei lalu. Perusahaan, katanya, menentukan area yang boleh masyarakat akses, waktu bekerja, cara hidup, bahkan pola konsumsi masyarakat. Ada paksaan agar masyarakat adat mengikuti target produksi, disiplin ritme kerja industri modern. Riset juga menemukan lima dari 11 indikator kerja paksa berdasarkan pedoman Organisasi Buruh Internasional (ILO). Yakni, pemanfaatan kerentanan secara negatif, pengucilan atau isolasi, lilitan hutang, kondisi kerja dan hidup yang menyiksa, serta lembur berlebihan. Perusahaan memang memiliki standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tetapi  praktiknya berbeda. Karena, buruh dapat pelindung diri seperti sarung tangan, topi, hingga alat panen saat pertama kali kerja. Ketika alat rusak atau hilang, mereka harus membeli sendiri melalui potongan gaji. Perusahaan juga menggunakan basis target produksi dalam metode kerja. Durasi delapan jam kerja sehari hanya formalitas. Dalam satu musim, misal,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bakas Mati di Kandang, dan Harimau Sumatera Semakin Dekat ke Jurang Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 06:15:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22041639/Harimau3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129136</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 7 November 2025, seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Ia menabrakkan tubuhnya ke dinding dan pintu kandang tiga kali. Pada benturan ketiga, ia jatuh, kejang, dan tidak pernah bangkit lagi. Bakas bukan korban perburuan. Ia bukan pula harimau yang mati di hutan karena jerat atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/">Bakas Mati di Kandang, dan Harimau Sumatera Semakin Dekat ke Jurang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 7 November 2025, seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Ia menabrakkan tubuhnya ke dinding dan pintu kandang tiga kali. Pada benturan ketiga, ia jatuh, kejang, dan tidak pernah bangkit lagi. Bakas bukan korban perburuan. Ia bukan pula harimau yang mati di hutan karena jerat atau racun. Ia mati dalam proses penyelamatan yang seharusnya melindunginya. Forum HarimauKita (FHK) menyebut perilaku Bakas bukan tindakan bunuh diri, melainkan reaksi stres ekstrem akibat gangguan sekitar. Harimau adalah satwa yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia, suara, dan kontak visual. &#8220;Pelanggaran prinsip dasar kesejahteraan satwa, seperti bebas dari ketakutan dan tekanan, dapat menyebabkan stres fatal,&#8221; kata Iding Achmad Haidir, Ketua FHK. FHK juga menyoroti minimnya informasi tentang tahapan pemindahan Bakas, termasuk apakah sedasi dilakukan dengan benar dan siapa yang bertanggung jawab secara medis. Kematian Bakas bukan sekadar kehilangan satu individu. Dalam konteks populasi harimau sumatera yang sudah sangat kecil, setiap individu adalah aset genetik yang tidak tergantikan. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, dan populasinya terus tertekan dari berbagai arah. Data FHK menunjukkan dari 2018 hingga 2024, sebanyak 17 individu harimau ditemukan mati, umumnya akibat jerat atau racun. Angka itu belum termasuk yang diperdagangkan secara ilegal. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya habitat. Selama dua dekade terakhir, Sumatera kehilangan tutupan hutan akibat pembalakan, perluasan perkebunan, dan pembangunan infrastruktur. Di Aceh saja, kehilangan tutupan hutan pada 2024 mencapai 10.610 hektar, naik 19 persen dari tahun sebelumnya. Populasi terbesar harimau sumatera diperkirakan masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Perempuan Bajo di Pesisir Soropia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 03:51:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22003013/Kerang-Lola-Morombo-Pantai-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129097</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hartati sedang duduk bersama suaminya, Mardin, di teras belakang rumah panggung yang berdiri di atas laut di Desa Bajo Indah, satu dari tujuh perkampungan Suku Bajo di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara, Selasa (19/5/26). Ibu empat anak ini sibuk menggunting jala rusak dan memisahkan dari tali pengikat timah pemberat. Satu tahun terakhir, jala ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/">Nasib Perempuan Bajo di Pesisir Soropia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hartati sedang duduk bersama suaminya, Mardin, di teras belakang rumah panggung yang berdiri di atas laut di Desa Bajo Indah, satu dari tujuh perkampungan Suku Bajo di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara, Selasa (19/5/26). Ibu empat anak ini sibuk menggunting jala rusak dan memisahkan dari tali pengikat timah pemberat. Satu tahun terakhir, jala ini menjadi nyawa bagi Mardin untuk melaut. Jala rusak itu pula yang mengingatkan Hartati pada angin kencang yang melanda Desa Saponda Laut, Kecamatan Soropia pada 11 Januari lalu. Ada 32 rumah hancur, 20 perahu rusak dan dua perahu hilang terbawa arus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe mencatat total 84 keluarga atau 314 jiwa di Soropia terdampak. Malam itu, Mardin yang sedang melaut terhalang gelombang tinggi saat kembali ke daratan. Perahu fiber dengan mesin 13 PK tak mampu menghalaunya. Saat terombang-ambing, penutup bak penampungan ikan lepas tertiup angin, lalu mengenai hidungnya hingga berdarah. Dia nyaris pingsan dan membuatnya sulit mengendalikan kemudi. “Anak-anak kita khawatirkan. Mana orang di laut, ya, istigfar saja terus, baca doa,” cerita Hartati kembali mengingat traumanya. Hartati menggunting pukat rusak untuk memisahkannya dari tali tambang yang mengikat timah pemberat. Tali bekas akan mereka pasang lagi pada jaring baru. Foto: La Ode Risman Hermawan/Mongabay Indonesia Mardin berhasil selamat dengan menambatkan perahunya pada keramba di pesisir Desa Bajoe, sekitar dua kilometer dari rumahnya di Desa Bajo Indah. Dia berdiam diri di atas keramba selama dua jam hingga hujan serta angin kencang mereda. Kejadian ini, katanya kali pertama terjadi selama hampir lebih dari 20 tahun melaut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk Bisa Berenang Melintasi Sungai, tapi Tidak Bisa Lolos dari Perdagangan Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 03:11:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004448/Leopard_Cat_Tennoji-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129135</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing identik dengan ketakutan terhadap air. Tapi ada satu jenis kucing liar di Indonesia yang tidak hanya tidak takut air, melainkan menggunakannya sebagai bagian dari cara hidupnya. Kucing kuwuk, atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis), adalah perenang yang terampil, dan kemampuan itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil evolusi yang diturunkan dari genus yang memang beradaptasi dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/">Kucing Kuwuk Bisa Berenang Melintasi Sungai, tapi Tidak Bisa Lolos dari Perdagangan Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing identik dengan ketakutan terhadap air. Tapi ada satu jenis kucing liar di Indonesia yang tidak hanya tidak takut air, melainkan menggunakannya sebagai bagian dari cara hidupnya. Kucing kuwuk, atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis), adalah perenang yang terampil, dan kemampuan itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil evolusi yang diturunkan dari genus yang memang beradaptasi dengan lingkungan semi-akuatik. Penelitian di kawasan hutan non-konservasi Cisokan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang dipublikasikan di Jurnal Biodiversitas 2018, menemukan jejak dan feses kucing kuwuk di dua lokasi yang dipisahkan oleh Sungai Cisokan. Kesimpulan para peneliti: kucing ini menyeberangi sungai dengan berenang. Bukan insiden. Tapi bagian dari pola jelajahnya. Kemampuan ini bukan keanehan individual. Kucing kuwuk memiliki genus yang sama dengan kucing tandang (Prionailurus planiceps) dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus), dua spesies yang dikenal sebagai spesialis lahan basah. Secara fisik, genus Prionailurus memiliki punggung melengkung dengan tungkai pendek, sebagian telapak kaki yang bisa ditarik sebagai adaptasi semi-akuatik, dan pola makan yang banyak mencakup ikan. &#8220;Tak heran jika kucing hutan adalah perenang dan penyelam yang sangat baik, karena sering mengunjungi hutan rawa dengan hutan bakau atau vegetasi lebat di tepi sungai,&#8221; tulis para peneliti yang dikutip dari ScienceDirect. Kucing kuwuk adalah jenis kucing liar yang paling sering berinteraksi dengan manusia di Indonesia. Dari sekitar 40 jenis kucing liar di dunia, 11 bisa ditemukan di Indonesia, dan 2 di antaranya sudah punah. Kucing kuwuk tersebar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, dengan dua subspesies yang kini dipisahkan secara taksonomi: Prionailurus javanensis sumatranus untuk Sumatera dan Kalimantan, dan Prionailurus javanensis&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Petani dan Nelayan Jateng Protes Kerusakan Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 01:36:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/10061459/20260608_143228-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129077</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan petani dan nelayan di Jawa Tengah (Jateng) turun jalan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), peringati Hari Lingkungan Sedunia, Senin (8/6/26). Dalam aksinya, mereka suarakan berbagai persoalan, mulai dari perampasan ruang hidup, kriminalisasi pejuang lingkungan, hingga kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat. Di lokasi, peserta aksi bentangkan spanduk jumbo menghadap kantor gubernur. Mereka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/">Ketika Petani dan Nelayan Jateng Protes Kerusakan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan petani dan nelayan di Jawa Tengah (Jateng) turun jalan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), peringati Hari Lingkungan Sedunia, Senin (8/6/26). Dalam aksinya, mereka suarakan berbagai persoalan, mulai dari perampasan ruang hidup, kriminalisasi pejuang lingkungan, hingga kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat. Di lokasi, peserta aksi bentangkan spanduk jumbo menghadap kantor gubernur. Mereka berharap tulisan dalam spanduk itu terbaca oleh para pengambil kebijakan yang ada di balik gedung. “Hari ini kami berkumpul di kantor yang ada pemimpinnya katanya mau ngopeni (peduli) rakyat. Kenyataannya,  hari ini berubah. Hari ini kita berkumpul menuntut keadilan, banyak kerusakan alam terjadi di Jawa Tengah, gunung hingga pesisir laut,” kata  Sugeng, Nelayan Kabupaten Kendal. Dia katakan, Mageri Segoro, program penanaman Mangrove di Jateng yang digadang-gadang menjadi program unggulan Jateng terkesan jauh panggang dari api.  Program itu justru memperlihatkan kondisi pesisir utara saat ini sudah dalam kuasa pihak tertentu, baik pejabat maupun pengusaha. Buntutnya, nelayan kian tergusur dari ruang hidupnya. Sugeng juga soroti Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dia nilai tak cukup efektif. Perda,  seharusnya bisa menjadi penjaga wilayah dari bisnis yang merusak alam dan menyengsarakan rakyat. Saat proyek strategis nasional (PSN) datang, pemerintah daerah begitu saja membuka jalan, tanpa prosedur ketat. “Kita selama ini cuma bisa bersuara di bawah karena pemimpin kita sudah tuli dan buta dengan keadaan yang terjadi selama ini. Kami harap mereka bisa mendengar kami hari ini,” katanya. Para petani dan nelayan perempuan saat mengikuti aksi turun jalan dalam rangkat memperingati Hari Lingkungan Hidup di Jawa Tengah. Foto: Wulan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 23:02:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/11225947/THUMBNAIL-ARTIKEL-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=129133</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan mangrove]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, para nelayan kepiting bakau di Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, sudah bersiap menyusuri kawasan mangrove. Waktu keberangkatan mereka bukan ditentukan oleh jam kerja, melainkan oleh pasang surut air laut. Sebab, kemunculan kepiting bakau sangat bergantung pada siklus alam tersebut. Bagi para pencari kepiting, pekerjaan ini adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/">Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, para nelayan kepiting bakau di Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, sudah bersiap menyusuri kawasan mangrove. Waktu keberangkatan mereka bukan ditentukan oleh jam kerja, melainkan oleh pasang surut air laut. Sebab, kemunculan kepiting bakau sangat bergantung pada siklus alam tersebut. Bagi para pencari kepiting, pekerjaan ini adalah perpaduan antara pengalaman, ketekunan, dan keberuntungan. “Dibilang gampang susah, dibilang susah kadang gampang,” ungkap Udin, seorang nelayan yang telah lima tahun menggantungkan hidup dari mencari kepiting bakau. Saat musim sedang baik, mereka harus mengejar waktu pasang dengan berangkat sebelum fajar. Setelah beberapa jam berburu, hasil tangkapan langsung dibawa ke pengepul sebelum dijual ke pasar. Pendapatan yang diperoleh pun tidak selalu pasti. Harga kepiting berfluktuasi mengikuti ketersediaan di lapangan. Ketika hasil tangkapan melimpah, harga justru cenderung turun. Sebaliknya, saat kepiting sulit ditemukan, nilainya bisa meningkat. Untuk ukuran besar, harga jual dapat mencapai sekitar Rp80.000 per kilogram ketika kondisi pasar sedang baik, namun bisa turun hingga kisaran Rp60.000-Rp70.000 saat pasokan berlimpah. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, ada satu hal yang dianggap jauh lebih penting oleh para nelayan: keberadaan hutan mangrove. Mereka meyakini mangrove bukan sekadar pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga habitat utama bagi kepiting bakau untuk berlindung dan berkembang biak. Kesadaran itu semakin menguat setelah bencana banjir besar yang terjadi pada 2018 merusak kawasan pesisir Panimbang. Tanggul-tanggul tambak hancur dan kondisi mangrove mengalami kerusakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar. Sejak saat itu, warga berinisiatif melakukan penanaman kembali mangrove sebagai upaya memulihkan ekosistem sekaligus menjaga sumber&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Labuhanbatu Utara Rusak, Habitat Satwa Terganggu Picu Konflik dengan Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 17:03:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Kucin]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/09191341/Harimau-Sumatera-terkena-jerat-pemburu-di-Labuhan-Batu-Utara-tewas-AyatS-Karokaro-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129054</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, hutan indonesia, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara alami ancaman serius penebangan liar dan alih fungsi lahan. Padahal, kawasan hutan di sana merupakan ekosistem penting untuk jalur jelajah dan koridor alami satwa seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir sumatera hingga beruang madu. Lus hutan Labuhanbatu Utara  sekitar  124.789,25 hektar. Wildlife Crime Response Unit (WCRU), mencatat, wilayah ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/">Hutan Labuhanbatu Utara Rusak, Habitat Satwa Terganggu Picu Konflik dengan Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara alami ancaman serius penebangan liar dan alih fungsi lahan. Padahal, kawasan hutan di sana merupakan ekosistem penting untuk jalur jelajah dan koridor alami satwa seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir sumatera hingga beruang madu. Lus hutan Labuhanbatu Utara  sekitar  124.789,25 hektar. Wildlife Crime Response Unit (WCRU), mencatat, wilayah ini terdiri dari hutan lindung  41.144,83 hektar, hutan konservasi 898,93 hektar, dan hutan produksi terbatas  25.032,40 hektar. Kemudian, hutan produksi tetap (HP)  20.237,13 hektar, dan hutan produksi yang dapat dikonversi  (HPK) 25.032,40 hektar, serta areal penggunaan lain (APL). Mereka juga catat kerusakan di HL  24.700-26.800 hektar atau sekitar 60-65%, HK sekitar 580-630 hektar atau sekitar 65-70%, HPT sekitar 18.800-20.000 hektar atau sekitar 75- 80%, HP sekitar 14.200-15.200 hektar atau sekitar 70-75%, dan HPK sekitar 21.300-22.500 hektar atau sekitar 85-90%. Menurut Alif Ramadhan, Tim Analis WCRU,  penebangan liar dan alih fungsi lahan jadi kebun sawit jadi penyebab utama kerusakan hutan Labuhanbatu Utara. Sekitar 35-40% lahan berubah jadi jalur akses dan lokasi penimbunan kayu. Hutan lindung  di Labuhanbatu Utara membentang di bagian barat dan perbukitan meliputi Kecamatan Aek Natas, Kecamatan Na IX‑X, Kecamatan Kualuh Selatan, Kualuh Hulu,  Kualuh Leidong, dan sebagian  Kualuh Hilir. Ini  merupakan sumber mata air utama sekaligus penahan longsor, namun kondisi rusak berat mencapai 60-65%, terutama di bagian lereng berbatasan langsung dengan  perkebunan. Kondisi ini  terjadi karena jaringan penebangan liar bebas bawa alat berat masuk dan membuka jalan menembus hutan lalu menebang pohon-pohon besar bernilai tinggi, seperti meranti dan kayu campuran. “Begitu habis kayunya, lahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>