<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="http://mongabay.co.id/2012/07/17/petani-ogan-ilir-polisi-bentrok-diduga-ada-skenario/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/2012/07/17/petani-ogan-ilir-polisi-bentrok-diduga-ada-skenario/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 13 Jun 2026 12:34:25 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Para Pihak Dorong Penguatan Perlindungan Bentang Latimojong</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 12:34:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wahyu Chandra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/09050659/Latimojong-01-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129014</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kota Belopa mendung ketika puluhan orang berkumpul di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, awal Mei 2026. Di dalam ruangan, para pegiat lingkungan, masyarakat adat, akademisi, pemerintah, jurnalis, hingga kelompok tani hutan duduk dalam satu forum yang sama: membicarakan masa depan bentang alam Latimojong. Bagi banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/">Para Pihak Dorong Penguatan Perlindungan Bentang Latimojong</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kota Belopa mendung ketika puluhan orang berkumpul di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, awal Mei 2026. Di dalam ruangan, para pegiat lingkungan, masyarakat adat, akademisi, pemerintah, jurnalis, hingga kelompok tani hutan duduk dalam satu forum yang sama: membicarakan masa depan bentang alam Latimojong. Bagi banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel), Latimojong bukan sekadar pegunungan,  juga sumber air, rumah keanekaragaman hayati, penyangga pangan, sekaligus ruang hidup ribuan orang. Saat  saat  sama, gunung itu juga sedang berada dalam tekanan besar. “Kerusakan di bagian hulu akan berdampak langsung pada wilayah hilir,” kata Ismail Ishak, Direktur Yayasan Lestari Alam, saat membuka diskusi konservasi Pegunungan Latimojong bertema ‘Menjaga Latimojong berarti menjaga keberlangsungan hidup masyarakat’. Ungkapan itu tak berlebihan. Setahun sebelumnya, sekitaran Mei 2025, banjir bandang dan longsor menerjang Lereng Latimojong. Rumah warga rusak, akses jalan terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh berhari-hari. Peristiwa itu menjadi titik balik bagi banyak orang untuk melihat ulang hubungan manusia dengan gunung. Pegunungan Latimojong membentang melintasi Luwu, Enrekang, Tana Toraja, Sidrap, hingga Wajo. Dengan ketinggian mencapai 3.470 meter di atas permukaan laut, kawasan ini dikenal sebagai puncak tertinggi Sulawesi dan salah satu Seven Summit Indonesia. Namun yang membuatnya penting bukan hanya ketinggian atau panorama alam,  Latimojong adalah jantung ekologis Sulsel. Dari pegunungan ini, sejumlah sungai mengalir menuju berbagai wilayah pertanian di Sulsel. Empat kabupaten penghasil padi terbesar—Luwu, Sidrap, Wajo, dan Pinrang—bergantung pada sistem hidrologi Latimojong. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel bahkan menyebut kawasan ini menopang sekitar 41% produksi padi Sulsel. Di lereng gunung,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 08:20:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/13081214/Perdagagan-pleci-masih-marak-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129170</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/">Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang burung, tetapi juga tentang manusia, keserakahan, dan penebusan. Suatu pagi di kawasan Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, suara itu kembali terdengar. Tak lama, hanya beberapa kali kicauan. Namun, bagi  staf Bidang Konservasi Alam Peka Muria ini, kicau tersebut sangat berharga. Mengingat, sebelumnya pleci bukanlah burung yang sulit dijumpai. “Dulu tak perlu masuk hutan. Dari rumah saja sudah bisa mendengar suaranya setiap hari,” ujarnya, akhir Mei 2026. Di tengah maraknya tren burung kicau awal 2010, jenis yang masuk famili Zosteropidae mendadak jadi primadona. Di kalangan penghobi, pleci asal Muria punya tempat sendiri. “Dikenal sebagai dada kuning mata putih atau dakun maput, burung ini dianggap punya kualitas berbeda.” Burung pleci atau kacamata yang tidak lepas dari perburuan karena kicau yang merdu. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Diburu Pleci hidup berkelompok. Saat menemukan pohon berbunga, ratusan individu bisa berkumpul dalam satu lokasi. Biasanya, pemburu mengoleskan pulut pada ranting-ranting tempat mereka hinggap. “Dalam sehari bisa ratusan individu terjerat,” jelas Setyawan. Harga pleci yang terus naik ketika itu membuat banyak warga jadi pemburu dadakan, tak terkecuali Setyawan. Seiring waktu, dia sadar ada sesuatu yang hilang dari hutan. Kicau burung yang biasanya terdengar, perlahan berkurang. “Hutan sepi, sedih sekali. Ini yang menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Perbaikan Nasib Pekerja Perikanan Pasca Indonesia Ratifikasi ILO C-188</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 01:28:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/07/22023100/hasil-tangkapan-ikan-kapal-nelayan-tegal-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129152</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Endi duduk di depan pintu menuju geladak lantai dua kapal penangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta.  Beralaskan terpal warna biru, awak kapal perikanan (AKP) 42 tahun itu ceritakan pengalamannya selama bekerja di atas kapal. Dua AKP yang sekampung dengannya turut menemani ngobrol. “Kami lagi menunggu jadwal. Rencananya sehabis Idul Adha kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/">Menanti Perbaikan Nasib Pekerja Perikanan Pasca Indonesia Ratifikasi ILO C-188</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Endi duduk di depan pintu menuju geladak lantai dua kapal penangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta.  Beralaskan terpal warna biru, awak kapal perikanan (AKP) 42 tahun itu ceritakan pengalamannya selama bekerja di atas kapal. Dua AKP yang sekampung dengannya turut menemani ngobrol. “Kami lagi menunggu jadwal. Rencananya sehabis Idul Adha kami berangkat ke Bitung,” ucap pria asli Wonokerto,  Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) belum lama ini. Kendati membosankan, menunggu kapal berangkat adalah hal biasa bagi Endi. Bisa hanya beberapa hari, atau bahkan berbulan-bulan. Di atas kapal, para AKP mendapat upah tak sama. Mereka yang berperan sebagai anak buah kapal (ABK)  Rp25.000 per hari. Sedangkan untuk kepala kamar mesin, kisaran Rp65.000-Rp100.000 setiap hari. Itu berarti untuk dua bulan berlayar, total upah yang mereka terima Rp1.500.000-Rp6.000.000. Nilai itu, katanya, masih kecil ketimbang kebutuhan keluarga di kampung. Meski begitu, dia masih bersyukur di tengah sulitnya mencari pekerjaan. “Saya hanya lulusan SD. Pernah juga saya mencoba profesi lain seperti tukang bangunan. Tapi saya nggak kuat. Penghasilan juga kecil,” ujarnya. Meski begitu, bagi Endi dan kawan-kawannya, keputusan pemerintah meratifikasi konvensi ILO C-188 memberinya setitik harapan. Mereka berharap, adopsi aturan internasional itu bisa memperbaiki nasib mereka. “Saya akan ikuti semua syarat yang diwajibkan, selama itu bisa memperbaiki nasib saya di atas kapal perikanan.” Wahyudi dan Wasdiono, dua rekan Endi mengamini harapan itu. Tatapan mereka kosong ke depan, seolah mencoba menerabas dinding-dinding kapal yang tengah sandar di pelabuhan. “Saya tidak mau anak saya mengikuti jejak menjadi pelaut. Biar mereka mencari nafkah di darat saja,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 09:45:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/12093928/Hampir-semua-dangau-rumah-pondok-yang-berada-di-kebun-di-wilayah-Semende-Sumsel-penerangannya-menggunakan-listrik-dari-PLTMH.-Foto-drone-Ariadi-Damara_Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129159</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Sumatera Selatan, energi bersih cenderung dikembangkan masyarakat yang tidak dapat mengakses instalasi listrik negara. Misalnya di wilayah pedalaman Semende, Kabupaten Muara Enim. Mereka mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Apakah El Nino Godzilla yang hadir pada 2026 ini berdampak pada kedaulatan energi bersih tersebut? “Kami di sini sangat mencemaskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/">El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Sumatera Selatan, energi bersih cenderung dikembangkan masyarakat yang tidak dapat mengakses instalasi listrik negara. Misalnya di wilayah pedalaman Semende, Kabupaten Muara Enim. Mereka mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Apakah El Nino Godzilla yang hadir pada 2026 ini berdampak pada kedaulatan energi bersih tersebut? “Kami di sini sangat mencemaskan masa depan listrik dari turbin (PLTMH) ini, sebab volume air kian berkurang. Apalagi menghadapi musim kemarau tahun ini, yang kabarnya disertai El Nino Godzilla yang membuat kemarau lebih panas dan panjang,” kata Ikral Sawabi (30), warga Ataran Datas Pagi, Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, awal Mei 2026 lalu. Di wilayah Ataran Datas Pagi, terdapat sekitar tujuh PLTMH yang disebut warga listrik turbin. Listrik ini dialirkan ke dangau (rumah pondok) untuk lampu penerangan, radio, serta mengisi baterai telepon seluler dan senter. Rata-rata, setiap PLTMH dapat menyediakan listrik untuk dua dangau. Pembuatan PLTMH di Ataran Datas Pagi yang berada di kaki Bukit Lumut Balai atau di ketinggian sekitar 2.000 meter dari permukaan laut, sekitar awal tahun 2000. “Murni inisiatif masyarakat, bukan bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya.” Hampir semua dangau di ataran atau perkebunan kopi dan palawija di kaki Bukit Lumut Balai, kebutuhan listriknya dipenuhi PLTMH. Mereka memanfaatkan pancuran atau air sungai yang dialirkan ke turbin untuk menghasilkan listrik. Puluhan ataran di bawah kaki Bukit Lumut Balai, didiami warga dari Desa Tanjung Tiga, Desa Tanjung Agung, Desa Palak Tanah, Desa Kota Agung, hingga Desa Muara Tenang. “Saya menggunakan listrik dari air ini sudah 10 tahun.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 09:34:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28044447/Morelia-azurea-Foto_-Imam-Ramdhani-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129160</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda. Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/">Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda. Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di ketinggian kanopi dan jarang sekali terlihat manusia. Dan justru keindahan transformasinya itulah yang membuatnya menjadi incaran pedagang satwa. Muh. Imam Ramdani dari komunitas Bogor Nature Wildlife Photography pertama kali menjumpainya secara tak terduga, saat hujan deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tim pengamat sedang bergerak pulang lebih awal demi keselamatan ketika sorot lampunya menangkap seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak. &#8220;Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,&#8221; kata Imam. Malam itu, ular berada lebih rendah dari biasanya, bukan di ketinggian 10 hingga 20 meter seperti umumnya, kemungkinan sedang mencari mangsa. Sanca pohon hijau utara adalah predator penyergap yang mengandalkan kesabaran. Nokturnal, hampir tidak bergerak saat menunggu, dan menyerang dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat. Tidak berbisa, dan cenderung menghindari manusia. Tapi persepsi masyarakat terhadapnya masih didominasi rasa takut. &#8220;Semua jenis ular dianggap bahaya,&#8221; kata Imam. Secara ilmiah, Morelia azurea baru diakui sebagai spesies tersendiri sekitar 2019, dipisahkan dari Morelia viridis melalui publikasi ilmiah internasional yang menemukan perbedaan signifikan pada populasi di wilayah utara Papua. Masalahnya, regulasi perlindungan satwa di Indonesia terakhir diperbarui pada 2018, sebelum pemisahan taksonomi itu terjadi. Secara administratif, ada kemungkinan spesies ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Sebut Kebun Sawit Sengsarakan Masyarakat Adat Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 07:30:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/02/22065354/papua-1_MWr_OakDT07bwwN0DtRq1g-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129130</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pusaran Masalah Seputar Industri Sawit]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perkebunan sawit di Papua Selatan tidak hanya mengubah muka bentang alam provinsi. Masyarakat adat pun terdampak, antara lain, mereka terpaksa jadi buruh di atas tanah leluhurnya sendiri. Begitu salah satu kesimpulan riset &#8220;Buruh Paksa&#8221; dari Pusat Kajian Hukum Adat Djojodigoeno Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM). Mereka meneliti tiga perusahaan sawit, dua hadir bersama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/">Riset Sebut Kebun Sawit Sengsarakan Masyarakat Adat Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perkebunan sawit di Papua Selatan tidak hanya mengubah muka bentang alam provinsi. Masyarakat adat pun terdampak, antara lain, mereka terpaksa jadi buruh di atas tanah leluhurnya sendiri. Begitu salah satu kesimpulan riset &#8220;Buruh Paksa&#8221; dari Pusat Kajian Hukum Adat Djojodigoeno Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM). Mereka meneliti tiga perusahaan sawit, dua hadir bersama proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) dan lainnya di Boven Digul. Almonika Cindy Fatika, tim riset, menyebut, penelitian ini menemukan perkebunan sawit bekerja layaknya “teknologi politik” yang mengatur manusia sekaligus wilayah. Menggeser otoritas struktur adat yang sebelumnya menentukan penggunaan hutan dan wilayah adat. “Kehadiran perusahaan perkebunan ini seperti melemahkan, mencerabut otoritas kepala marga dan kepala suku,” katanya dalam talkshow bertajuk Hutan Hilang dan Jeratan Kerja Paksa, di Jakarta, Mei lalu. Perusahaan, katanya, menentukan area yang boleh masyarakat akses, waktu bekerja, cara hidup, bahkan pola konsumsi masyarakat. Ada paksaan agar masyarakat adat mengikuti target produksi, disiplin ritme kerja industri modern. Riset juga menemukan lima dari 11 indikator kerja paksa berdasarkan pedoman Organisasi Buruh Internasional (ILO). Yakni, pemanfaatan kerentanan secara negatif, pengucilan atau isolasi, lilitan hutang, kondisi kerja dan hidup yang menyiksa, serta lembur berlebihan. Perusahaan memang memiliki standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tetapi  praktiknya berbeda. Karena, buruh dapat pelindung diri seperti sarung tangan, topi, hingga alat panen saat pertama kali kerja. Ketika alat rusak atau hilang, mereka harus membeli sendiri melalui potongan gaji. Perusahaan juga menggunakan basis target produksi dalam metode kerja. Durasi delapan jam kerja sehari hanya formalitas. Dalam satu musim, misal,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/riset-sebut-kebun-sawit-sengsarakan-masyarakat-adat-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bakas Mati di Kandang, dan Harimau Sumatera Semakin Dekat ke Jurang Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 06:15:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22041639/Harimau3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129136</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 7 November 2025, seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Ia menabrakkan tubuhnya ke dinding dan pintu kandang tiga kali. Pada benturan ketiga, ia jatuh, kejang, dan tidak pernah bangkit lagi. Bakas bukan korban perburuan. Ia bukan pula harimau yang mati di hutan karena jerat atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/">Bakas Mati di Kandang, dan Harimau Sumatera Semakin Dekat ke Jurang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 7 November 2025, seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Ia menabrakkan tubuhnya ke dinding dan pintu kandang tiga kali. Pada benturan ketiga, ia jatuh, kejang, dan tidak pernah bangkit lagi. Bakas bukan korban perburuan. Ia bukan pula harimau yang mati di hutan karena jerat atau racun. Ia mati dalam proses penyelamatan yang seharusnya melindunginya. Forum HarimauKita (FHK) menyebut perilaku Bakas bukan tindakan bunuh diri, melainkan reaksi stres ekstrem akibat gangguan sekitar. Harimau adalah satwa yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia, suara, dan kontak visual. &#8220;Pelanggaran prinsip dasar kesejahteraan satwa, seperti bebas dari ketakutan dan tekanan, dapat menyebabkan stres fatal,&#8221; kata Iding Achmad Haidir, Ketua FHK. FHK juga menyoroti minimnya informasi tentang tahapan pemindahan Bakas, termasuk apakah sedasi dilakukan dengan benar dan siapa yang bertanggung jawab secara medis. Kematian Bakas bukan sekadar kehilangan satu individu. Dalam konteks populasi harimau sumatera yang sudah sangat kecil, setiap individu adalah aset genetik yang tidak tergantikan. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, dan populasinya terus tertekan dari berbagai arah. Data FHK menunjukkan dari 2018 hingga 2024, sebanyak 17 individu harimau ditemukan mati, umumnya akibat jerat atau racun. Angka itu belum termasuk yang diperdagangkan secara ilegal. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya habitat. Selama dua dekade terakhir, Sumatera kehilangan tutupan hutan akibat pembalakan, perluasan perkebunan, dan pembangunan infrastruktur. Di Aceh saja, kehilangan tutupan hutan pada 2024 mencapai 10.610 hektar, naik 19 persen dari tahun sebelumnya. Populasi terbesar harimau sumatera diperkirakan masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/bakas-mati-di-kandang-dan-harimau-sumatera-semakin-dekat-ke-jurang-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Perempuan Bajo di Pesisir Soropia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 03:51:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22003013/Kerang-Lola-Morombo-Pantai-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129097</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hartati sedang duduk bersama suaminya, Mardin, di teras belakang rumah panggung yang berdiri di atas laut di Desa Bajo Indah, satu dari tujuh perkampungan Suku Bajo di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara, Selasa (19/5/26). Ibu empat anak ini sibuk menggunting jala rusak dan memisahkan dari tali pengikat timah pemberat. Satu tahun terakhir, jala ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/">Nasib Perempuan Bajo di Pesisir Soropia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hartati sedang duduk bersama suaminya, Mardin, di teras belakang rumah panggung yang berdiri di atas laut di Desa Bajo Indah, satu dari tujuh perkampungan Suku Bajo di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara, Selasa (19/5/26). Ibu empat anak ini sibuk menggunting jala rusak dan memisahkan dari tali pengikat timah pemberat. Satu tahun terakhir, jala ini menjadi nyawa bagi Mardin untuk melaut. Jala rusak itu pula yang mengingatkan Hartati pada angin kencang yang melanda Desa Saponda Laut, Kecamatan Soropia pada 11 Januari lalu. Ada 32 rumah hancur, 20 perahu rusak dan dua perahu hilang terbawa arus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe mencatat total 84 keluarga atau 314 jiwa di Soropia terdampak. Malam itu, Mardin yang sedang melaut terhalang gelombang tinggi saat kembali ke daratan. Perahu fiber dengan mesin 13 PK tak mampu menghalaunya. Saat terombang-ambing, penutup bak penampungan ikan lepas tertiup angin, lalu mengenai hidungnya hingga berdarah. Dia nyaris pingsan dan membuatnya sulit mengendalikan kemudi. “Anak-anak kita khawatirkan. Mana orang di laut, ya, istigfar saja terus, baca doa,” cerita Hartati kembali mengingat traumanya. Hartati menggunting pukat rusak untuk memisahkannya dari tali tambang yang mengikat timah pemberat. Tali bekas akan mereka pasang lagi pada jaring baru. Foto: La Ode Risman Hermawan/Mongabay Indonesia Mardin berhasil selamat dengan menambatkan perahunya pada keramba di pesisir Desa Bajoe, sekitar dua kilometer dari rumahnya di Desa Bajo Indah. Dia berdiam diri di atas keramba selama dua jam hingga hujan serta angin kencang mereda. Kejadian ini, katanya kali pertama terjadi selama hampir lebih dari 20 tahun melaut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk Bisa Berenang Melintasi Sungai, tapi Tidak Bisa Lolos dari Perdagangan Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 03:11:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004448/Leopard_Cat_Tennoji-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129135</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing identik dengan ketakutan terhadap air. Tapi ada satu jenis kucing liar di Indonesia yang tidak hanya tidak takut air, melainkan menggunakannya sebagai bagian dari cara hidupnya. Kucing kuwuk, atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis), adalah perenang yang terampil, dan kemampuan itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil evolusi yang diturunkan dari genus yang memang beradaptasi dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/">Kucing Kuwuk Bisa Berenang Melintasi Sungai, tapi Tidak Bisa Lolos dari Perdagangan Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing identik dengan ketakutan terhadap air. Tapi ada satu jenis kucing liar di Indonesia yang tidak hanya tidak takut air, melainkan menggunakannya sebagai bagian dari cara hidupnya. Kucing kuwuk, atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis), adalah perenang yang terampil, dan kemampuan itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil evolusi yang diturunkan dari genus yang memang beradaptasi dengan lingkungan semi-akuatik. Penelitian di kawasan hutan non-konservasi Cisokan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang dipublikasikan di Jurnal Biodiversitas 2018, menemukan jejak dan feses kucing kuwuk di dua lokasi yang dipisahkan oleh Sungai Cisokan. Kesimpulan para peneliti: kucing ini menyeberangi sungai dengan berenang. Bukan insiden. Tapi bagian dari pola jelajahnya. Kemampuan ini bukan keanehan individual. Kucing kuwuk memiliki genus yang sama dengan kucing tandang (Prionailurus planiceps) dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus), dua spesies yang dikenal sebagai spesialis lahan basah. Secara fisik, genus Prionailurus memiliki punggung melengkung dengan tungkai pendek, sebagian telapak kaki yang bisa ditarik sebagai adaptasi semi-akuatik, dan pola makan yang banyak mencakup ikan. &#8220;Tak heran jika kucing hutan adalah perenang dan penyelam yang sangat baik, karena sering mengunjungi hutan rawa dengan hutan bakau atau vegetasi lebat di tepi sungai,&#8221; tulis para peneliti yang dikutip dari ScienceDirect. Kucing kuwuk adalah jenis kucing liar yang paling sering berinteraksi dengan manusia di Indonesia. Dari sekitar 40 jenis kucing liar di dunia, 11 bisa ditemukan di Indonesia, dan 2 di antaranya sudah punah. Kucing kuwuk tersebar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, dengan dua subspesies yang kini dipisahkan secara taksonomi: Prionailurus javanensis sumatranus untuk Sumatera dan Kalimantan, dan Prionailurus javanensis&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-bisa-berenang-melintasi-sungai-tapi-tidak-bisa-lolos-dari-perdagangan-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Petani dan Nelayan Jateng Protes Kerusakan Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 01:36:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/10061459/20260608_143228-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129077</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan petani dan nelayan di Jawa Tengah (Jateng) turun jalan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), peringati Hari Lingkungan Sedunia, Senin (8/6/26). Dalam aksinya, mereka suarakan berbagai persoalan, mulai dari perampasan ruang hidup, kriminalisasi pejuang lingkungan, hingga kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat. Di lokasi, peserta aksi bentangkan spanduk jumbo menghadap kantor gubernur. Mereka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/">Ketika Petani dan Nelayan Jateng Protes Kerusakan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan petani dan nelayan di Jawa Tengah (Jateng) turun jalan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), peringati Hari Lingkungan Sedunia, Senin (8/6/26). Dalam aksinya, mereka suarakan berbagai persoalan, mulai dari perampasan ruang hidup, kriminalisasi pejuang lingkungan, hingga kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat. Di lokasi, peserta aksi bentangkan spanduk jumbo menghadap kantor gubernur. Mereka berharap tulisan dalam spanduk itu terbaca oleh para pengambil kebijakan yang ada di balik gedung. “Hari ini kami berkumpul di kantor yang ada pemimpinnya katanya mau ngopeni (peduli) rakyat. Kenyataannya,  hari ini berubah. Hari ini kita berkumpul menuntut keadilan, banyak kerusakan alam terjadi di Jawa Tengah, gunung hingga pesisir laut,” kata  Sugeng, Nelayan Kabupaten Kendal. Dia katakan, Mageri Segoro, program penanaman Mangrove di Jateng yang digadang-gadang menjadi program unggulan Jateng terkesan jauh panggang dari api.  Program itu justru memperlihatkan kondisi pesisir utara saat ini sudah dalam kuasa pihak tertentu, baik pejabat maupun pengusaha. Buntutnya, nelayan kian tergusur dari ruang hidupnya. Sugeng juga soroti Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dia nilai tak cukup efektif. Perda,  seharusnya bisa menjadi penjaga wilayah dari bisnis yang merusak alam dan menyengsarakan rakyat. Saat proyek strategis nasional (PSN) datang, pemerintah daerah begitu saja membuka jalan, tanpa prosedur ketat. “Kita selama ini cuma bisa bersuara di bawah karena pemimpin kita sudah tuli dan buta dengan keadaan yang terjadi selama ini. Kami harap mereka bisa mendengar kami hari ini,” katanya. Para petani dan nelayan perempuan saat mengikuti aksi turun jalan dalam rangkat memperingati Hari Lingkungan Hidup di Jawa Tengah. Foto: Wulan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/ketika-petani-dan-nelayan-jateng-protes-kerusakan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 23:02:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/11225947/THUMBNAIL-ARTIKEL-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=129133</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan mangrove]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, para nelayan kepiting bakau di Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, sudah bersiap menyusuri kawasan mangrove. Waktu keberangkatan mereka bukan ditentukan oleh jam kerja, melainkan oleh pasang surut air laut. Sebab, kemunculan kepiting bakau sangat bergantung pada siklus alam tersebut. Bagi para pencari kepiting, pekerjaan ini adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/">Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, para nelayan kepiting bakau di Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, sudah bersiap menyusuri kawasan mangrove. Waktu keberangkatan mereka bukan ditentukan oleh jam kerja, melainkan oleh pasang surut air laut. Sebab, kemunculan kepiting bakau sangat bergantung pada siklus alam tersebut. Bagi para pencari kepiting, pekerjaan ini adalah perpaduan antara pengalaman, ketekunan, dan keberuntungan. “Dibilang gampang susah, dibilang susah kadang gampang,” ungkap Udin, seorang nelayan yang telah lima tahun menggantungkan hidup dari mencari kepiting bakau. Saat musim sedang baik, mereka harus mengejar waktu pasang dengan berangkat sebelum fajar. Setelah beberapa jam berburu, hasil tangkapan langsung dibawa ke pengepul sebelum dijual ke pasar. Pendapatan yang diperoleh pun tidak selalu pasti. Harga kepiting berfluktuasi mengikuti ketersediaan di lapangan. Ketika hasil tangkapan melimpah, harga justru cenderung turun. Sebaliknya, saat kepiting sulit ditemukan, nilainya bisa meningkat. Untuk ukuran besar, harga jual dapat mencapai sekitar Rp80.000 per kilogram ketika kondisi pasar sedang baik, namun bisa turun hingga kisaran Rp60.000-Rp70.000 saat pasokan berlimpah. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, ada satu hal yang dianggap jauh lebih penting oleh para nelayan: keberadaan hutan mangrove. Mereka meyakini mangrove bukan sekadar pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga habitat utama bagi kepiting bakau untuk berlindung dan berkembang biak. Kesadaran itu semakin menguat setelah bencana banjir besar yang terjadi pada 2018 merusak kawasan pesisir Panimbang. Tanggul-tanggul tambak hancur dan kondisi mangrove mengalami kerusakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar. Sejak saat itu, warga berinisiatif melakukan penanaman kembali mangrove sebagai upaya memulihkan ekosistem sekaligus menjaga sumber&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/06/tak-ada-kepiting-bakau-tanpa-hutan-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Labuhanbatu Utara Rusak, Habitat Satwa Terganggu Picu Konflik dengan Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 17:03:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Kucin]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/09191341/Harimau-Sumatera-terkena-jerat-pemburu-di-Labuhan-Batu-Utara-tewas-AyatS-Karokaro-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129054</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, hutan indonesia, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara alami ancaman serius penebangan liar dan alih fungsi lahan. Padahal, kawasan hutan di sana merupakan ekosistem penting untuk jalur jelajah dan koridor alami satwa seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir sumatera hingga beruang madu. Lus hutan Labuhanbatu Utara  sekitar  124.789,25 hektar. Wildlife Crime Response Unit (WCRU), mencatat, wilayah ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/">Hutan Labuhanbatu Utara Rusak, Habitat Satwa Terganggu Picu Konflik dengan Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara alami ancaman serius penebangan liar dan alih fungsi lahan. Padahal, kawasan hutan di sana merupakan ekosistem penting untuk jalur jelajah dan koridor alami satwa seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir sumatera hingga beruang madu. Lus hutan Labuhanbatu Utara  sekitar  124.789,25 hektar. Wildlife Crime Response Unit (WCRU), mencatat, wilayah ini terdiri dari hutan lindung  41.144,83 hektar, hutan konservasi 898,93 hektar, dan hutan produksi terbatas  25.032,40 hektar. Kemudian, hutan produksi tetap (HP)  20.237,13 hektar, dan hutan produksi yang dapat dikonversi  (HPK) 25.032,40 hektar, serta areal penggunaan lain (APL). Mereka juga catat kerusakan di HL  24.700-26.800 hektar atau sekitar 60-65%, HK sekitar 580-630 hektar atau sekitar 65-70%, HPT sekitar 18.800-20.000 hektar atau sekitar 75- 80%, HP sekitar 14.200-15.200 hektar atau sekitar 70-75%, dan HPK sekitar 21.300-22.500 hektar atau sekitar 85-90%. Menurut Alif Ramadhan, Tim Analis WCRU,  penebangan liar dan alih fungsi lahan jadi kebun sawit jadi penyebab utama kerusakan hutan Labuhanbatu Utara. Sekitar 35-40% lahan berubah jadi jalur akses dan lokasi penimbunan kayu. Hutan lindung  di Labuhanbatu Utara membentang di bagian barat dan perbukitan meliputi Kecamatan Aek Natas, Kecamatan Na IX‑X, Kecamatan Kualuh Selatan, Kualuh Hulu,  Kualuh Leidong, dan sebagian  Kualuh Hilir. Ini  merupakan sumber mata air utama sekaligus penahan longsor, namun kondisi rusak berat mencapai 60-65%, terutama di bagian lereng berbatasan langsung dengan  perkebunan. Kondisi ini  terjadi karena jaringan penebangan liar bebas bawa alat berat masuk dan membuka jalan menembus hutan lalu menebang pohon-pohon besar bernilai tinggi, seperti meranti dan kayu campuran. “Begitu habis kayunya, lahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/11/hutan-labuhanbatu-utara-rusak-habitat-satwa-terganggu-picu-konflik-dengan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Untuk Pertama Kalinya, Ilmuwan Berhasil Mengangkat Batuan dari Mantel Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/untuk-pertama-kalinya-ilmuwan-berhasil-mengangkat-batuan-dari-mantel-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/untuk-pertama-kalinya-ilmuwan-berhasil-mengangkat-batuan-dari-mantel-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 14:05:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/12062242/3968-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129124</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Manusia sudah pernah mendaki puncak tertinggi di Bumi, menyelami palung terdalam di samudra, dan mengirim wahana ke tepi tata surya. Tapi satu eksplorasi yang paling mendasar justru selalu gagal: menggali ke dalam planet yang kita pijak sendiri. Lapisan mantel Bumi, yang mencakup 84 persen volume planet dan menjadi mesin penggerak lempeng tektonik, gempa bumi, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/untuk-pertama-kalinya-ilmuwan-berhasil-mengangkat-batuan-dari-mantel-bumi/">Untuk Pertama Kalinya, Ilmuwan Berhasil Mengangkat Batuan dari Mantel Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Manusia sudah pernah mendaki puncak tertinggi di Bumi, menyelami palung terdalam di samudra, dan mengirim wahana ke tepi tata surya. Tapi satu eksplorasi yang paling mendasar justru selalu gagal: menggali ke dalam planet yang kita pijak sendiri. Lapisan mantel Bumi, yang mencakup 84 persen volume planet dan menjadi mesin penggerak lempeng tektonik, gempa bumi, dan gunung berapi, sampai kini hampir tidak pernah bisa disentuh secara langsung. Pada Mei 2023, sebuah tim ilmuwan dari International Ocean Discovery Program (IODP) mengubah itu. Menggunakan kapal riset JOIDES Resolution, mereka mengebor dari atas laut di kawasan Punggungan Tengah Atlantik dan berhasil mengangkat inti batuan berbentuk silinder sepanjang 1.268 meter dari mantel atas Bumi. Sampel ini, yang penelitian awalnya diterbitkan di jurnal Science, adalah yang terdalam dan paling utuh yang pernah diperoleh manusia dari lapisan mantel. Lokasi pengeboran dipilih dengan cermat. Di Punggungan Tengah Atlantik, aktivitas tektonik telah menyingkap batuan mantel yang biasanya tersembunyi di bawah kerak setebal hingga 70 kilometer. Di dekat gunung bawah laut Atlantis Massif, terdapat kawasan hidrotermal yang dijuluki &#8220;Kota yang Hilang&#8221; atau Lost City, di mana cairan basa kaya hidrogen dan metana keluar dari dasar laut. Ini adalah salah satu lokasi yang diduga menjadi tempat kehidupan pertama di Bumi bermula, dan juga tempat batuan mantel bertemu langsung dengan air laut melalui proses yang disebut serpentinisasi. Hasil analisis awal mengejutkan para peneliti sendiri. Profesor Johan Lissenberg dari Universitas Cardiff menyatakan, &#8220;Hasil kami berbeda dari yang kami perkirakan. Kadar mineral piroksen di dalam batuan ini jauh lebih sedikit, dan konsentrasi magnesiumnya sangat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/untuk-pertama-kalinya-ilmuwan-berhasil-mengangkat-batuan-dari-mantel-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/untuk-pertama-kalinya-ilmuwan-berhasil-mengangkat-batuan-dari-mantel-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Jawa Menyusut, Pemburu Makin Canggih, dan Macan Tutul Semakin Terdesak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hutan-jawa-menyusut-pemburu-makin-canggih-dan-macan-tutul-semakin-terdesak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hutan-jawa-menyusut-pemburu-makin-canggih-dan-macan-tutul-semakin-terdesak/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 11:04:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/31102927/Macan-tutul-jawa-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129123</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor macan tutul jawa membutuhkan ruang hidup setara 490 lapangan sepak bola untuk menopang aktivitas jelajah, mencari pasangan, dan bertahan hidup. Di Pulau Jawa, pulau terpadat di dunia, ruang sebesar itu semakin sulit dipertahankan. Dan ancaman yang mengepungnya kini datang dari dua arah sekaligus: hutan yang terus menyusut, dan pemburu yang semakin canggih. Hasil Population [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hutan-jawa-menyusut-pemburu-makin-canggih-dan-macan-tutul-semakin-terdesak/">Hutan Jawa Menyusut, Pemburu Makin Canggih, dan Macan Tutul Semakin Terdesak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor macan tutul jawa membutuhkan ruang hidup setara 490 lapangan sepak bola untuk menopang aktivitas jelajah, mencari pasangan, dan bertahan hidup. Di Pulau Jawa, pulau terpadat di dunia, ruang sebesar itu semakin sulit dipertahankan. Dan ancaman yang mengepungnya kini datang dari dua arah sekaligus: hutan yang terus menyusut, dan pemburu yang semakin canggih. Hasil Population Viability Analysis (PVA) IUCN menyampaikan angka yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak: 19 dari 22 subpopulasi macan tutul jawa berisiko punah dalam 100 tahun ke depan, dengan probabilitas 84 persen. Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, risiko kepunahannya masih 53 persen. Ini bukan proyeksi pesimistis. Ini hitungan ilmiah berdasarkan kondisi yang ada sekarang. Tekanan terhadap habitatnya nyata dan berlapis. Tutupan hutan di Jawa Barat, salah satu kantong populasi terpenting, menyusut hingga 43 persen dalam periode 2023 hingga 2025 menurut catatan Walhi Jawa Barat, akibat alih fungsi lahan untuk pertambangan, pariwisata, proyek strategis, dan kawasan pengelolaan khusus. Ketika hutan terfragmentasi, jalur jelajah macan ikut terputus. Macan terpaksa menempuh jarak lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, menguras energi yang seharusnya dipakai untuk berburu dan bereproduksi. Sementara habitatnya menyempit, ancaman dari manusia justru semakin presisi. Pemburu kini menggunakan anjing hasil persilangan ras pitbull, terrier, dan beagle yang memiliki kemampuan penciuman dan keberanian lebih tinggi. Senapan angin bertekanan tinggi tipe PCP dipadukan dengan teleskop termal yang bisa mendeteksi panas tubuh di malam hari. Macan, yang semula bukan target utama, menjadi sasaran ketika anjing pemburu dimangsa saat memasuki teritori mereka. Di Garut, ada kasus macan diracun untuk diambil kulitnya. Di Subang,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hutan-jawa-menyusut-pemburu-makin-canggih-dan-macan-tutul-semakin-terdesak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hutan-jawa-menyusut-pemburu-makin-canggih-dan-macan-tutul-semakin-terdesak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bahayakan Warga dan Ekosistem, Benahi Penanganan Bahan Peledak Sisa PD II di Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/11/bahayakan-warga-dan-ekosistem-benahi-penanganan-bahan-peledak-sisa-pd-ii-di-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/11/bahayakan-warga-dan-ekosistem-benahi-penanganan-bahan-peledak-sisa-pd-ii-di-papua/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 09:22:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Asrida Elisabeth]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/11091134/Bom-Papua-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129094</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Biak dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ledakan bom menyebabkan lima orang tewas  di Kompleks Perikanan Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua,  jelang sore, 1 Juni lalu begitu mencengangkan.  Bom yang meledak itu sisa Perang Dunia Kedua (PD II).  Kabar lainnya, bom-bom atau bahan peledak itu masih banyak bertebaran di perairan dan darat Papua hingga  bisa bahayakan warga maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/bahayakan-warga-dan-ekosistem-benahi-penanganan-bahan-peledak-sisa-pd-ii-di-papua/">Bahayakan Warga dan Ekosistem, Benahi Penanganan Bahan Peledak Sisa PD II di Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ledakan bom menyebabkan lima orang tewas  di Kompleks Perikanan Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua,  jelang sore, 1 Juni lalu begitu mencengangkan.  Bom yang meledak itu sisa Perang Dunia Kedua (PD II).  Kabar lainnya, bom-bom atau bahan peledak itu masih banyak bertebaran di perairan dan darat Papua hingga  bisa bahayakan warga maupun lingkungan sekitar. Dalam ledakan itu, selain korban tewas juga ada tiga orang masih dalam pencarian, 18 luka ringan, dua luka berat. Rumah-rumah di tempat kejadian hancur,  56 warga harus mengungsi. Frans Rumsarwir, Lurah Fandoi, mengatakan, ada dua nelayan sedang bekerja membongkar mortir peninggalan PD II sebelum ledakan terjadi. Biasanya, bahan dari mortir ini mereka rakit kembali menjadi bom untuk menangkap ikan. “Yang nama Lai ini dia gergaji, yang nama Nando dia pahat.” Keduanya termasuk dalam tiga korban tewas yang hingga kini tidak ditemukan. Besar kemungkinan sudah hancur karena ledakan. Tim SAR sudah mengumpulkan potongan tubuh para korban di lokasi kejadian. Cliff Marlessy, Direktur Indonesia Locally Managed Marine Area (ILMMA), lembaga yang bekerja dengan masyarakat untuk mengelola sumber daya laut di Biak mengatakan, nelayan merakit bom ikan dari bahan peledak sisa Perang Dunia II karena memang tersedia dan mudah mereka jangkau. “Barangnya masih ada di laut. Ini kan mereka turun manual. Mereka tidak pakai alat. Kalau tidak pakai alat. Itu kan artinya 10 meter mereka masih bisa jangkau.” Sejak lama nelayan Biak sudah punya keahlian merakit bom dari sisa bahan peledak PD II yang paling banyak di Kepulauan Padaido. Pada delapan dekade lalu adalah basis perang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/bahayakan-warga-dan-ekosistem-benahi-penanganan-bahan-peledak-sisa-pd-ii-di-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/11/bahayakan-warga-dan-ekosistem-benahi-penanganan-bahan-peledak-sisa-pd-ii-di-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rutinitas Dapur yang Mengubah Pola Konsumsi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/11/rutinitas-dapur-yang-mengubah-pola-konsumsi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/11/rutinitas-dapur-yang-mengubah-pola-konsumsi/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 05:08:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Nur Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/25071601/Pangan-lokal-warga-Desa-Tapobali-Kabupaten-Lembata-Provinsi-NTT-yang-masih-dikonsumsi-dan-coba-dibudidayakan-kembali-oleh-Komunitas-Gebetan.Foto-Nopri-IsmiMongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129051</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, hutan indonesia, pangan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Sejak 2020, Kartika Gene merantau ke Kota Makassar dari kota kelahirannya di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Waktu, pekerjaan dan ritme kota membuat kebiasaan dalam mengonsumsi makanan menjadi berbeda. Kebiasaan memasak perlahan bergeser menjadi membeli makanan siap saji atau instan. “Semakin tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/rutinitas-dapur-yang-mengubah-pola-konsumsi/">Rutinitas Dapur yang Mengubah Pola Konsumsi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Sejak 2020, Kartika Gene merantau ke Kota Makassar dari kota kelahirannya di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Waktu, pekerjaan dan ritme kota membuat kebiasaan dalam mengonsumsi makanan menjadi berbeda. Kebiasaan memasak perlahan bergeser menjadi membeli makanan siap saji atau instan. “Semakin tidak lagi menyentuh dapur tiap pagi, dari dibikin menjadi dibeli”, tutur Gene yang bekerja sebagai akuntan di salah satu media daring kepada Mongabay, pada bulan Mei lalu, Dulu, saat masih sekolah, Gene ingat bahwa pagi harinya bermula dari dapur. “Makan nasi goreng yang dibuat seadanya, dari nasi sisa semalam.” Memori itu, kata Gene bukan cuma soal makanan, tapi juga upaya mengolah sisa makanan agar tak terbuang. Namun saat merantau, pilihan makanannya berubah. Dia tak lagi memasak, lebih sering memilih apa yang tersedia daripada apa yang diinginkan. Saat kuliah, dia mengandalkan makanan instan. “Makannya mie instan, sosis, nugget, yang instan-instan.” Baginya, aktivitas memasak menjadi hilang karena tidak adanya lemari pendingin (kulkas) karena bahan makanan tak bertahan lama jika tak langsung dimasak. Masifnya pangan instan mendominasi pangan masyarakat. Secara perlahan, ini menyingkirkan keberagaman pangan lokal. Foto: Lusia Arumingtyas/ Mongabay Indonesia Samanta, orang muda asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) pun merasakan hal yang sama. Sejak kecil, dia sangat dekat pesisir dan dapur. Tiap hari, makanan di piringnya beragam, mulai dari ikan, kerang, hingga sayur. Sayangnya, kebiasaan itu berubah ketika dia merantau ke Makassar. Saat kuliah, pilihan makanan menjadi terbatas agar bisa menghemat biaya. “Cari yang praktis dan murah,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/rutinitas-dapur-yang-mengubah-pola-konsumsi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/11/rutinitas-dapur-yang-mengubah-pola-konsumsi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Industri Ekstraktif Kian Masif, Ambisi Konservasi Laut Hanya Ilusi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/11/industri-ekstraktif-kian-masif-ambisi-konservasi-hanya-ilusi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/11/industri-ekstraktif-kian-masif-ambisi-konservasi-hanya-ilusi/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jun 2026 03:01:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000219/Laut-Wawonii-tercemar-768x506.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128870</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Laut berperan penting untuk menunjang kehidupan manusia. Sayangnya, saat bersamaan, laut kian hadapi banyak ancaman dan tekanan. Dari pencemaran, penangkapan ikan berlebih, penggunaan alat tangkap tak ramah, hingga industri ekstraktif yang begitu masif. Demi memastikan laut tetap terjaga, pada 2022, sebanyak 190 negara berkomitmen untuk mencapai ‘30&#215;30’,  kesepakatan untuk mewujudkan 30% kawasan konservasi pada 2030 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/industri-ekstraktif-kian-masif-ambisi-konservasi-hanya-ilusi/">Industri Ekstraktif Kian Masif, Ambisi Konservasi Laut Hanya Ilusi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Laut berperan penting untuk menunjang kehidupan manusia. Sayangnya, saat bersamaan, laut kian hadapi banyak ancaman dan tekanan. Dari pencemaran, penangkapan ikan berlebih, penggunaan alat tangkap tak ramah, hingga industri ekstraktif yang begitu masif. Demi memastikan laut tetap terjaga, pada 2022, sebanyak 190 negara berkomitmen untuk mencapai ‘30&#215;30’,  kesepakatan untuk mewujudkan 30% kawasan konservasi pada 2030 secara global, termasuk Indonesia. Abdul Matolib Angkotasan, Dosen Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Ternate mengatakan, target itu lahir dari kekhawatiran global akan krisis biodiversitas yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi masa depan planet ini. Terumbu karang mengalami pemutihan karena perubahan iklim. Mangrove dan padang lamun terus menyusut. Berbagai spesies laut menghadapi tekanan akibat penangkapan berlebih, pencemaran, serta ekspansi industri di wilayah pesisir. Di atas kertas, target ‘30&#215;30’ itu terdengar menjanjikan. Namun di lapangan, banyak menimbulkan paradoks karena industri ekstraktif yang kian massif. “Saat Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk 30&#215;30 dalam konteks konservasi lingkungan hidup, tapi saat yang sama ada izin pertambangan yang terus dibuka, seperti tambang nikel,&#8221; katanya Menurut dia, aktivitas ekstraksi nikel tidak hanya sebabkan kerusakan ekosistem darat, juga laut. Apalagi, banyak  tambang yang beroperasi itu berada di pulau kecil, meski secara nyata kebijakan itu melanggar Undang-undang. Begitu juga dengan wilayah dengan nilai ekologi tinggi bahkan hutan lindung, pemerintah buka untuk tambang, seperti Raja Ampat. Padahal,  kawasan ini  terkenal sebagai rumah bagi lebih dari 75% spesies karang dunia dan ribuan spesies ikan. Dia mendorong, pemerintah bersikap tegas dengan mencabut izin usaha pertambangan di kawasan konservasi, terlepas dari status sebagai proyek strategis nasional (PSN) atau alasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/11/industri-ekstraktif-kian-masif-ambisi-konservasi-hanya-ilusi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/11/industri-ekstraktif-kian-masif-ambisi-konservasi-hanya-ilusi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Satu-satunya di Dunia: Laut Alor Bisa Mendingin 10 Derajat dalam Sejam, dan Ikannya Pingsan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/satu-satunya-di-dunia-laut-alor-bisa-mendingin-10-derajat-dalam-sejam-dan-ikannya-pingsan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/satu-satunya-di-dunia-laut-alor-bisa-mendingin-10-derajat-dalam-sejam-dan-ikannya-pingsan/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jun 2026 09:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/09074527/GAMBAR-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129075</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Akhir Oktober 2025, warga pesisir Alor, Nusa Tenggara Timur, ramai-ramai turun ke laut dengan tangan kosong, tombak, dan serokan. Bukan untuk menyelam atau memancing. Tapi untuk memungut ikan yang mengambang pingsan di permukaan air. Seorang warga bahkan berhasil membawa pulang lebih dari 150 kilogram ikan dalam satu kejadian. Yang membuat ikan-ikan itu pingsan bukan racun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/satu-satunya-di-dunia-laut-alor-bisa-mendingin-10-derajat-dalam-sejam-dan-ikannya-pingsan/">Satu-satunya di Dunia: Laut Alor Bisa Mendingin 10 Derajat dalam Sejam, dan Ikannya Pingsan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Akhir Oktober 2025, warga pesisir Alor, Nusa Tenggara Timur, ramai-ramai turun ke laut dengan tangan kosong, tombak, dan serokan. Bukan untuk menyelam atau memancing. Tapi untuk memungut ikan yang mengambang pingsan di permukaan air. Seorang warga bahkan berhasil membawa pulang lebih dari 150 kilogram ikan dalam satu kejadian. Yang membuat ikan-ikan itu pingsan bukan racun, bukan jaring, dan bukan ulah manusia. Melainkan air yang tiba-tiba menjadi sangat dingin. Perairan Alor Kecil, di Selat Mulut Kumbang antara Pulau Alor Kecil dan Pulau Kepa, menyimpan fenomena oseanografi yang hingga kini hanya tercatat di satu tempat di seluruh dunia. Beberapa publikasi ilmiah peer-reviewed mengonfirmasi hal ini. Jurnal Regional Studies in Marine Science menyebutnya secara eksplisit: tidak ada wilayah tropis lain di Bumi yang memiliki suhu permukaan laut sedingin ini. Fenomena itu disebut extreme upwelling event (EUE), atau yang oleh Anindya Wirasatriya, Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro yang memimpin riset ini, dijuluki ALaDin, singkatan dari air laut dingin. Dalam upwelling biasa, air dingin dari kedalaman naik ke permukaan dan menurunkan suhu sekitar dua derajat Celsius. Di Alor, penurunannya bisa mencapai 10 derajat Celsius hanya dalam waktu sekitar satu jam. Suhu permukaan laut yang normalnya sekitar 28 derajat Celsius di perairan tropis bisa anjlok hingga sekitar 12 derajat Celsius. Perubahan suhu yang begitu drastis dan mendadak inilah yang membuat ikan-ikan kehilangan kesadaran. &#8220;Hampir mustahil di perairan tropis suhu permukaan laut dapat mencapai 12°C,&#8221; kata Anindya. Mekanismenya dikendalikan oleh pasang surut, bukan angin seperti upwelling pada umumnya. Di bawah Selat Mulut Kumbang, tersembunyi sebuah cekungan dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/satu-satunya-di-dunia-laut-alor-bisa-mendingin-10-derajat-dalam-sejam-dan-ikannya-pingsan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/satu-satunya-di-dunia-laut-alor-bisa-mendingin-10-derajat-dalam-sejam-dan-ikannya-pingsan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kala Marapi Kembali Erupsi, Bagaimana Para Petani Beradaptasi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/10/marapi-kembali-erupsi-bagaimana-para-petani-beradaptasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/10/marapi-kembali-erupsi-bagaimana-para-petani-beradaptasi/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jun 2026 07:57:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/06052256/Ernis-membersihkan-ladangnya-di-Sungai-Pua-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128874</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara gemuruh dari arah Gunung Marapi bukan lagi hal  asing bagi Omniwati. Perempuan 50 tahun itu tinggal dan bertani di lereng gunung yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupannya. Da berkali-kali mendengar letusan, melihat abu vulkanik membumbung ke langit, hingga merasakan atap rumahnya bergetar ketika erupsi besar terjadi. Jika beberapa tahun lalu suara letusan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/10/marapi-kembali-erupsi-bagaimana-para-petani-beradaptasi/">Kala Marapi Kembali Erupsi, Bagaimana Para Petani Beradaptasi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara gemuruh dari arah Gunung Marapi bukan lagi hal  asing bagi Omniwati. Perempuan 50 tahun itu tinggal dan bertani di lereng gunung yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupannya. Da berkali-kali mendengar letusan, melihat abu vulkanik membumbung ke langit, hingga merasakan atap rumahnya bergetar ketika erupsi besar terjadi. Jika beberapa tahun lalu suara letusan membuatnya segera meninggalkan ladang, kini respons Omniwati berbeda. Pengalaman menghadapi erupsi berulang telah mengubah caranya menyikapi letusan dari gunung. “Kalau dulu dengar suara gunung, langsung pulang. Sekarang paling lihat dulu arah anginnya ke mana,” kata ibu satu anak ini, Minggu (31/5/26). Bagi Omniwati yang bertani di Koto Baru, tepat di Lereng Gunung Marapi yang membentang di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini,  arah angin menjadi penentu penting. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat merusak tanaman cabai, kentang, bawang, dan tomat yang menjadi sumber penghidupan mereka. Dengan memperhatikan arah angin, mereka bisa memperkirakan apakah lahan mereka berisiko terdampak atau tidak. Pengetahuan itu Omniwati peroleh dari pengalaman hidup berdampingan dengan gunung api yang terus menunjukkan aktivitasnya. Sejak erupsi besar pada 3 Desember 2023, Gunung Marapi belum benar-benar menghentikan aktivitas vulkaniknya. Lebih dua tahun terakhir, tercatat 528 kali erupsi dan 8.904 kali hembusan gas serta abu berdasarkan data Magma Kementerian Energi Sumber Daya Minerl (KESDM). Rata-rata hampir 20 erupsi terjadi setiap bulan. Omniwati bilang, pengalaman paling berat terjadi setelah erupsi besar yang terjadi pada 2023. Saat itu, pasir dan abu vulkanik menutupi lahan pertanian di sejumlah kawasan lereng Marapi. Tanaman yang hampir memasuki masa panen&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/10/marapi-kembali-erupsi-bagaimana-para-petani-beradaptasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/10/marapi-kembali-erupsi-bagaimana-para-petani-beradaptasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bawa Penyakit dan Kikis Genetik, Bahaya Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/10/bawa-penyakit-dan-kikis-genetik-bahaya-kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/10/bawa-penyakit-dan-kikis-genetik-bahaya-kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jun 2026 07:03:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/19150355/Kucing-Kuwuk-di-Ujung-Kulon-Dok_-Uci-Sanusi_YIARI5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129085</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah video di Instagram menampilkan seekor kucing berbintik bermesraan dengan seekor kucing peliharaan biasa. Komentar-komentar di bawah video itu penuh kekaguman. Sebagian warganet bahkan meminta lokasi dan berharap bisa mendapatkan anak kucing hasil persilangan itu. Namun yang tidak disadari para pengagum video tersebut adalah, yang tengah mereka saksikan bukan sekadar momen menggemaskan. Itu adalah peristiwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/10/bawa-penyakit-dan-kikis-genetik-bahaya-kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik/">Bawa Penyakit dan Kikis Genetik, Bahaya Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah video di Instagram menampilkan seekor kucing berbintik bermesraan dengan seekor kucing peliharaan biasa. Komentar-komentar di bawah video itu penuh kekaguman. Sebagian warganet bahkan meminta lokasi dan berharap bisa mendapatkan anak kucing hasil persilangan itu. Namun yang tidak disadari para pengagum video tersebut adalah, yang tengah mereka saksikan bukan sekadar momen menggemaskan. Itu adalah peristiwa yang oleh para ilmuwan konservasi disebut sebagai hybridization event; kawin silang antara satwa liar dilindungi dengan kucing domestik. Ini sebuah proses yang jika terus berlangsung tanpa kendali, dapat menghapus identitas genetik seekor spesies dari muka bumi selamanya. Di Indonesia, kucing liar yang paling rentan terhadap ancaman ini adalah kucing hutan atau kucing kuwuk (Prionailurus javanensis, sebelumnya diklasifikasikan sebagai Prionailurus bengalensis). Ia adalah felid terkecil yang masih bisa dijumpai di sawah-sawah, pinggiran hutan, wilayah agroforestri, bahkan perkebunan sawit. Ukuran tubuhnya nyaris sama dengan kucing peliharaan, namun inilah sumber masalahnya. Dengan bulu berbintik cokelat dan sorot mata tajam, kucing kuwuk sering dianggap sebagai kucing kampung biasa oleh warga. Padahal statusnya jelas: satwa liar dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018. Kucing hutan atau dikenal dengan nama kucing kuwuk ini terpantau di tepi hutan Ujung Kulon. Foto: Dok. Uci Sanusi/YIARI Video seperti yang beredar itu bukan fenomena tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan video serupa yang merekam interaksi bahkan perkawinan antara kucing hutan dengan kucing domestik telah menyebar di berbagai platform media sosial di Indonesia. Mayoritas diunggah tanpa kesadaran akan implikasinya. Sebagian bahkan diunggah dengan kebanggaan, karena si pemilik berhasil mengabadikan &#8220;kucing liar&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/10/bawa-penyakit-dan-kikis-genetik-bahaya-kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/10/bawa-penyakit-dan-kikis-genetik-bahaya-kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>