Bisnis Sawit Malaysia Terus Berjaya Gunduli Hutan Indonesia

Facebook67Twitter31LinkedIn0Google+1Email

Polusi udara dari pabrik pengolahan kelapa sawit di Sumatera. Foto: Rhett A. Butler

Sebuah konglomerasi bisnis Malaysia bernama Lion Forest Industries Berhad (LFIB) melalui anak perusahaannya LFIB Plantations Sdn Bhd telah mengakuisisi kepemilikan sebuah perusahaan perkebunan sawit Indonesia PT Varita Majutama senilai 63.75 juta dollar Amerika Serikat.

PT Varita Majutama adalah perusahaan yang menguasai Hak Guna Usaha seluas 17.270 hektar perkebunan kelapa sawit di Teluk Bintuni, Papua Barat Indonesia dengan masa usaha selama 35 tahun. PT Varita juga telah mendapat persetujuan dari Departemen Kehutanan untuk mengubah hutan di wilayah yang sama seluas 35.371 hektar untuk menjadi perkebunan kelapa sawit.

Kelapa sawit, komoditi yang semakin berduri bagi hutan tropis Indonesia. Foto: ji Wihardandi

Berdasarkan data yang belum diaudit hingga tanggal 30 Juni 2012, total aset yang dimiliki oleh PT Varita adalah seniai 142.92 miliar rupiah, kewajiban bersih sekitar 25.14 miliar rupiah dan kerugian setelah dipotong pajak adalah 6.72 miliar rupiah.

Seperti dilaporkan theindonesiatoday.com, LFIB mengakuisisi 100% kepemilikan PT Varita Majutama dengan mengakuisisi dua perusahaan yang ada di bawah perusahaan ini, yaitu 70% dari PT Karya Tekhnik Utama dengan nilai sekitar 44.62 juta dollar AS dan 30% sisanya dari perusahaan Singapura Kyosen Transport senilai 19.13 juta dollar AS.

Perusahaan kelapa sawit Malaysia memang semakin agresif mencari lahan perkebunan di Indonesia akibat terbatasnya luasan lahan di wilayah mereka. Sebelumnya, seperti dilaporkan oleh tribunnews.com, Fima Corp Bhd, salah satu perusahaan asal Malaysia berniat mencari lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Ekspansi tersebut dilakukan untuk memperkuat bisnis perkebunan perusahaan yang kini memiliki sekitar 19.000 hektar.

Managing Direktur Fima Corp, Roslan Hamid mengatakan, saat ini perusahaannya masih menunggu persetujuan dari pemerintah Indonesia, sebelum menanam lahan baru di Indonesia. “Kami mencari lahan, jika kami menemukan lahan yang cocok, kami akan pergi membelinya,” kata Roslan dalam RUPS tanggal 25 September 2012 silam kepada tribunnews.

Data deforestasi dan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia dan Malaysia antara 1990 sampai 2008. Tabel: Mongabay.com

Perusahaan Malaysia lain yang berjaya di Indonesia adalah grup Sime Darby, yang agresif membuka lahan dan pabrik pengolahan di berbagai wilayah Indonesia. Anak perusahaan Sime Darby, PT Minamas Gemilang, memiliki 23 pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia dengan kapasitas 20.500 ton TBS per hari. Total kapasitas pabrik kelapa sawit sebesar 1.025 ton per jam untuk 20 jam setiap hari.

Mereka bahkan sudah mulai berekspansi lagi dengan rencana pembukaan pabrik baru pengolahan minyak kelapa sawit (refinery) yang sudah mulai dibangun di Kalimantan Selatan akan mulai beroperasi pada kuartal III/2012.

Head of Plantations PT Minamas Gemilang Mohammad Gozhali Bin Yahya mengatakan kepada Bisnis.com, pabrik pengolahan kelapa sawit itu sudah mulai dibangun, tetapi diprediksikan baru beroperasi pada kuartal III/2012.

Investasi pendirian pabrik refinery itu sekitar Rp936 miliar. Saat ini, perusahaan asal Malaysia itu telah memiliki 3 pabrik refinery di Malaysia, sedangkan di Singapura, Vietnam, Thailand, Belanda, dan Afrika Selatan masing-masing satu pabrik, sehingga total ada 8 pabrik pengolahan. Jika pabrik pengolahan di Indonesia sudah beroperasi, maka Sime Darby memiliki total 9 pabrik pengolahan produk turunan minyak kelapa sawit.

Anak perusahaan Sime Darby itu memiliki landbank di Indonesia seluas 288.057 hektare. Namun, lahan yang sudah ditanami dengan kelapa sawit sekitar 205.000 ha. Lahan perkebunan tertanam 205.000 ha itu diantaranya 105.000 ha yang telah menghasilkan minyak kelapa sawit. Produksi tandan buah segar (TBS) pada Juni 2011-Juli 2012 sekitar 1 juta ton TBS. Perusahaan ini, akan menanami lagi lahan yang belum dimanfaatkan sekitar 75.000 hektar.

Dari situs Bisnis.com, luas perkebunan kelapa sawit milik perusahaan asal Malaysia di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5-2,0 juta hektare atau 18,5%-24,7% dari total perkebunan sawit di Tanah Air 8,1 juta ha. Fadhil Hasan, mewakili Gabungan Pengusaha KelapasSawit Indonesia yang dihubungi Bisnis Indonesia, berkaitan dengan kepemilikan kebun sawit oleh Malaysia, lembaga itu tidak mengetahui secara pasti luas perusahaan perkebunan sawit milik Malaysia yang berada di Indonesia.

“Menurut perkiraan, luas perkebunan sawit milik perusahaan Malaysia di Indonesia] sekitar 1,5-2,0 juta ha,“ ujarnya kepada Bisnis Indonesia. Pada 2006, menurut Ketua Komisi Minyak Kelapa Sawit Indonesia Rosediana berdasarkan data yang dimiliki, kepemilikan perusahaan asal negeri jiran itu mencapai 18% dari total perkebunan sawit di dalam negeri.

Rosediana menegaskan pihaknya tidak mengetahui perkembangan luas perkebunan kelapa sawit milik Malaysia yang berada di Indonesia. Salah satu perusahaan Malaysia itu adalah Sime Darby yang kini memiliki luas 288.057 ha. Sime Darby diperkirakan menjadi perusahaan perkebunan dengan luas lahan terbesar kelima di Tanah Air.

Perkebunan kelapa sawit di negara bagian Sabah, Malaysia. Hutan Malaysia nampaknya semakin kurang untuk memenuhi target bisnis kelapa sawit negara ini, dan harus mencari lahan baru di negara tetangganya. Foto: Rhett A. Butler

Indonesia, saat ini adalah produsen terbesar kelapa sawit dunia, yang menyumbang sekitar 30% penggunaan minyak untuk memasak di dunia. Saat ini, perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia terfokus di Kalimantan, yang luasannya kira-kira sama dengan negara bagian California dan Florida jika digabungkan jadi satu. Perkebunan yang menyewa lahan, meliputi sekitar 32% wilayah dataran rendah Kalimantan di luar kawasan lindung, wilayah ini adalah sebuah cadangan wilayah yang siap dimusnahkan dalam dekade mendatang, menurut temuan penelitian ini.

Pada tahun 2010 saja, pembabatan lahan untuk memenuhi kebutuhan kebun kelapa sawit telah menyebabkan emisi karbon sebesar 140 juta metrik ton karbondioksida, jumlah ini setara dengan emisi sekitar 28 juta buah mobil.

Kendati Indonesia memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia, negeri kita juga merupakan salah satu emiter karbon terbesar di dunia akibat begitu lajunya angka kehilangan hutan dan lahan gambut. Jika ditotal, sejak 1990, perkembangan kebun kelapa sawit telah memusnahkan 16.000 kilometer persegi hutan primer dan hutan tanaman industri, setara dengan luasnya negara bagian Hawaii di Amerika Serikat. Luasan ini, kira-kira sekitar 60% dari keseluruhan hilangnya hutan tropis Indonesia saat itu.

Comments