,

Belajar dari Taman Nasional Yosemite

SAYA beruntung mendapat kesempatan berjalan-jalan ke Yosemite National Park. Ia sebuah cagar alam di California, negara bagian Amerika Serikat, sekitar empat jam naik mobil dari San Francisco. Saya lihat ekosistem Yosemite dipelihara teliti sedemikian rupa hingga tak terlalu banyak menerima “barang asing” masuk ke kawasan  itu. Dampaknya, antara lain, orang praktis tak bisa menerima sinyal telepon, apalagi internet, karena menara sinyal telepon tak bisa dibangun. Hanya sesekali, ketika naik mobil di tempat tinggi, telepon saya bisa terima sinyal.

Yosemite adalah taman nasional paling terkenal di Amerika Serikat. Ia dikenal karena pemandangan alam indah. Saya hanya berkunjung ke Lembah Yosemite, seluas 18 km2 atau hanya setengah persen dari kawasan Yosemite National Park. Ini tempat paling populer di kawasan ini.

Disana ada El Capitan, sebuah kumpulan batu granit, berdiri vertikal, sekitar 900 meter. Ia tempat favorit rock climber. Nama itu dari bahasa Spanyol, berarti “Sang Kapitan.” Ia terjemahan orang Spanyol terhadap bahasa Indian pribumi setempat, “To-to-kon oo-lah” atau “To-tock-ah-noo-lah.”

Sidney Jones, kenalan saya di International Crisis Group, seorang ahli soal Islam dan Indonesia, menganjurkan naik ke salah satu gunung granit, Sentinel Dome. Saya lihat pepohonan sequoia raksasa, batu granit maha besar, dan ketika musim gugur, pepohonan dengan daun-daun warna kuning keemasan.

Sekitar 95 persen kawasan Yosemite dalam kondisi liar. Ia ditetapkan sebagai taman nasional pada 1916. Uniknya, pohon tumbang pun tak boleh diambil. Pepohonan yang terbakar juga dibiarkan, tak boleh diambil, tak boleh ditanami lagi, tak boleh diotak-atik. Sepanjang saya naik mobil menelusuri Lembah Yosemite –sesuatu yang mengganggu ekosistem tapi diatur minimal– saya lihat berapa ratus pohon tumbang karena kena sambar kilat atau sebab alamiah lain.

Tampaknya, ekosistem Yosemite dibiarkan berjalan dengan intervensi minimal manusia. Saya bayangkan, kalau ia terjadi di hutan lindung di Indonesia, entah berapa truk kayu akan dibawa pergi dan diperdagangkan.

Di berbagai tempat diingatkan bahwa pengunjung dilarang (denda maksimal US$5,000):

Memberi makan atau mendekati binatang liar;
Berburu binatang;
Mengumpulkan reptil atau kupu-kupu;
Mengambil tanaman termasuk buah pohon cemara (pine cone);
Memungut barang arkeologis termasuk pucuk anak panah;
Membawa metal detector atau memakai metal detector guna mencari barang logam bersejarah;
Mengendarai kendaraan ke daerah sensitif;
Camping di luar daerah camping;
Memakai senjata api.

Saya pernah jalan dua kali menelusuri kawasan taman nasional Wasur di Merauke. Orang seenaknya menebang pohon dan membangun rumah-rumah sepanjang jalan. Jangan tanya deh soal buang sampah, atau memburu hewan. Sepanjang jalan bisa lihat sampah. Bahkan pemerintah daerah Merauke sekarang bangun jalan 15 kilometer antara Kampung Yanggandur dengan Kampung Rawa Biru dalam kawasan Wasur. Saya takkan heran bila Wasur suatu kali dipenuhi pemukiman pendatang.

Luas Yosemite sekitar 3,000 km2, terletak di sisi barat pegunungan Sierra Nevada. Ia terletak bertetangga dengan Stanislaus National Forest, luasnya 3,600 km2, lebih besar dari Yosemite. Gabungan kedua taman nasional ini, kira-kira 11 kali luas Kota Jakarta. Cukup luas untuk jalan dari ujung ke ujung –kalau pun bisa dilewati mobil semua.

Kami tinggal di Evergreen Lodge, sebuah penginapan dengan belasan kabin, di pinggiran Yosemite. Kamar-kamar bersih, setiap kabin ada dua kamar tidur dan satu tempat mandi. Lengkap dengan air panas. Air keran mereka didapat dari pengeboran sumur, kedalaman 700 meter. Bersih dan bisa langsung diminum.

Penginapan ini didirikan sejak 1921. Ia juga ada restoran, tavern, rumah rekreasi maupun tempat duduk dengan perapian. Saya datang saat musim gugur, suhu berkisar 2 Celcius malam hari dan 20 Celcius siang hari.

Selama empat hari, tiap pagi, saya biasa bangun pukul 5.00, membaca buku The Obamians: The Struggle Inside the White House to Redefine American Power, lalu berjalan-jalan di hutan dekat penginapan. Pukul 8.00 sarapan pagi. Sarapan sederhana, enak sekali. Makan siang favorit saya adalah elk chilli, makanan dari kacang polong merah dicampur daging rusa besar, yang boleh dipelihara, di beberapa peternakan kecil di Yosemite.

Ada sebuah telaga kecil dekat Evergreen. Saya melewati telaga ini setiap pagi. Saya suka duduk dan menikmati bayangan pepohonan pada permukaan air. Sebuah tempat liburan yang mengesankan.

Saya sangat suka dengan tempat ini.

Kalau ada daerah di Yosemite yang mengganggu pikiran saya, ia adalah Hetch Hetchy Reservoir, tempat penampungan air bersih, untuk Kota San Francisco. Reservoir ini ditandai dengan Dam O’Shaughnessy, setinggi 100 meter, yang mengumpulkan air bersih dari lelehan salju dan berbagai sumber air sekitar Hetch Hetchy.

Ide membangun dam dimulai pada 1903. Kalangan pecinta lingkungan, termasuk John Muir, tokoh lingkungan hidup dan Presiden Sierra Club, menentang rencana reservoir karena akan mengganggu ekosistem Yosemite. Rencana reservoir diveto dua kali Presiden Theodore Roosevelt, kawan John Muir.

Sesudah Roosevelt selesai masa jabatan pada 1909, kampanye dimulai lagi. Pada 1913, parlemen Amerika Serikat voting lagi. Hasilnya, kalangan pendukung dam menang 43–25 (dengan 29 anggota parlemen abstain). Presiden Woodrow Wilson setuju dengan hasil voting. Pada 1914, insinyur Irlandia, Michael O’Shaughnessy, mulai memimpin proyek pembangunan dam. John Muir kecewa. Dia menulis kepada kawannya, “As to the loss of the Sierra Park Valley [Hetch Hetchy] it’s hard to bear. The destruction of the charming groves and gardens, the finest in all California, goes to my heart.” Muir meninggal dunia sesaat sesudah keputusan. Dam selesai dibangun pada 1923. Singkatnya, perlu waktu 20 tahun guna memperdebatkan dam.

Ia mengingatkan saya bahwa upaya konservasi alam selalu berhadapan dengan kepentingan praktis manusia. Ia memang sering harus kompromi. Negara harus mengatur kompromi itu. Kalau kini Yosemite masih terpelihara dengan baik, walau pun ada dam O’Shaughnessy, ia terjadi karena proses perdebatan dan kompromi. Saya harap berbagai macam hutan di Indonesia bisa juga diperdebatkan dengan serius macam Yosemite.

Kayu yang sudah tumbangpun tak boleh diganggu di Taman Nasional Yosemite. Foto: Andreas Harsono
Keindahan Yosemite yang terjaga. Foto: Andreas Harsono
Pemandangan Yosemite nan indah. Foto: Andreas Harsono
Pepohonan di Sentinel Dome yang memancar keemasan. Foto: Andreas Harsono


Penulis seorang wartawan dan peneliti, tinggal di Jakarta.

Artikel yang diterbitkan oleh
, ,