Kekayaan Terpendam, Citatah Miliki 200 Jenis Varietas Ubi Jalar

Sedang meneliti Ipomoea. Foto: koleksi Agung Karuniawan

Ada lebih kurang sekitar 200 lebih varietas ubi jalar di Kawasan Citatah, Kabupaten Bandung Barat, yang memiliki potensi menjadi bibit unggul.  “Kerabat liar ubi jalar di Citatah tumbuh sebagai gulma di lahan pertanian,” kata Agung Kurniawan, Kepala Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran di Jatinangor, Jumat(9/11/12).

Citatah merupakan wilayah terisolasi dengan daerah berbukit-bukit berkapur hingga diduga ada kolam genetik kerabat liar ubi jalar asli Indonesia. Selama ini ubi jalar kecil, tidak dikonsumsi karena dinilai tidak bernilai ekonomis. Oleh masyarakat jenis ini hanya digunakan untuk pakan ternak. Namun, bagi ilmuan, kawasan Citatah menyimpan kekayaan plasma nutfah ubi liar yang sangat kaya.

“Varietas tahan cekaman biotik dan abiotik, sangat adaptif dan tahan serangan hama. Dengan keunggulan  ini, ubi liar Citatah sangat bagus jika disilangkan dengan jenis lain hingga menghasilkan varietas baru,” ujar dia.

Penelitian mengenai kerabat liar ubi jalar di Citatah pernah dilakukan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Unpad tahun 2009. Hasil penelitian menunjukan dari 148 aksesi kerabat liar ubi jalar, ada keragaman genetik yang tinggi terutama pada karakter morfologi.

Meskipun, keragaman genetik tinggi, setelah diteliti jenis spesiesnya hanya tiga: Ipomoea trifida, Ipomoea triloba dan Ipomoea obscura.  Dari ketiga spesies ini, yang endemik kawasan Citatah adalah Ipomoea trifida.

Selain Agung, mahasiswa S3 Faperta Unpad Budi Waluyo juga terlibat dalam penelitian ini. Budi mengatakan, ketiga spesies kerabat liar ubi jalar ini memiliki keunikan tersendiri.

“Ipomoea trifida merupakan sumber perbaikan genetik ubi jalar karena mampu menghasilkan ubi. Selain mampu bersilang secara baik dengan varietas ubi jalar yang biasa dikonsumsi (Ipomoea batatas), spesies ini sumber gen tahan hama, kudis, serta nematoda hingga berpeluang menghasilkan varietas baru unggul,” ucap Budi.

Spesies lain yang bisa bersilang baik dengan Ipomoea batatas adalah Ipomoea triloba. Spesies ini bisa untuk perbaikan genetik ubi jalar. Ia tahan cekaman biotok dan sumber gen tahan kekeringan karena tumbuh di kawasan berkapur dan lahan kering.

Ipomoea triloba berdasarkan hasil sampling eksplorasi juga menyebar di Citatah, secara morfologi bervariasi. Studi literatur mengenai Ipomoea triloba dari Amerika Latin sebagian besar mempunyai sifat self-incompatible pada bunga hingga tidak menghasilkan biji dari persilangan sendiri.

“Ipomoea dari Citatah  mampu menghasilkan biji melimpah hingga mampu menyerbuk sendiri, secara genetik bersifat homozigot. Ipomoea Citatah bisa dijadikan studi genetik dan pewarisan karakter pada persilangan intra dan interspesies,” kata Budi.

Yang paling miris, ubi jalar Citatah ini sudah dimanfaatkan Jepang. “Indonesia kecolongan.” Keberadaan ratusan varietas ubi jalar inipun terancam. Karena di kawasan itu tempat penambangan batu kapur oleh masyarakat. “Jika penambangan makin gencar, bukan tidak mungkin kerabat liar ubi jalar itu, bisa punah.”

Biji dan daun Ipomoea trifida. Foto: koleksi Agung Karuniawan
Ipomoea tribola. Foto: koleksi Agung Karuniawan
Tanaman Ipomoea. Foto: koleksi Agung Karuniawan
Ubi jalar liar spesies Ipomoea trifida. Foto: koleksi Agung Karuniawan