,

Terumbu Karang Pangandaran Terancam Aktivitas Manusia

Pasca tsunami 2006, ekosistem terumbu karang di Pangandaran, Jawa Barat (Jabar) rusak parah. Kondisi diperparah dengan berbagai aktivitas manusia yang makin memperburuk keadaan ekosistem terumbu karang di sana.

“Upaya konservasi terumbu karang dimulai 2008. Pangandaran mendapat bantuan teknis PBB untuk pemulihan kawasan wisata,” kata staf Indonesia Ecotourism Network (Indecon), Khaerul, akhir November 2012. Indecon terlibat aktif dalam konservasi terumbu karang ini.

Meskipun begitu, bukan berarti masalah selesai. Ancaman upaya konservasi masih banyak, antara lain sedimentasi, penangkapan ikan tak ramah lingkungan,  pencemaran lingkungan dan aliran drainase pertanian, serta pengelolaan tempat rekreasi.

Sungai Cikidang, Cialit dan beberapa sungai lain yang bermuara ke Pantai Pangandaran, menjadi perantara mengalirnya sedimen dan sampah dari darat ke laut. “Aktivitas nelayan seperti penggunaan bahan peledak dan potassium sianida juga berpotensi merusak ekosistem terumbu karang,” ucap Khaerul.

Dampak penggunaan racun itu, tidak hanya membunuh ikan, sekaligus hewan karang. Tak hanya menangkap ikan, penangkapan udang, lobster dan gurita juga terindikasi merusak habitat ekosistem terumbu karang. “Nelayan biasa membongkar karang tempat persembunyian hewan dan berjalan kaki di atas terumbu karang saat surut.”

Terumbu karang di Pantai Pangandaran tersebar di kawasan Cagar Alam Laut Panjung yaitu pantai timur dan barat Pangandaran, membentang sepanjang 1,5 kilometer dengan lebar antara 20-50 meter. Tingkat kedalaman bervariasi antara 1-10 meter termasuk ke dalam terumbu karang tepi (Fringing reef). Cagar Alam Laut Pangandaran ditetapkan berdasarkan SK Menhut No.225/Kpts-II/1990 tanggal 8 Mei 1990, dengan luas 470 hektar terdiiri dari cagar alam darat dan laut.

“Terumbu karang di  Pangandaran sebagaian besar karang-karang masif yang bisa bertahan dengan baik, meskipun dihadapkan pada kondisi Samudera Hindia dengan ombak keras,” kata Khairul.

Selain beberapa biota karang, ekosistem di Pantai Pangandaran ditemukan bivalvia 13 jenis. Di pantai timur 13 species, dan pantai barat enam species. Ada 23 genus gastropoda, 14 genus di pantai barat dan 20 genus pantai timur.

Tangkapan Nelayan Turun

Kerusakan ekosistem terumbu karang, juga berpengaruh pada ikan hasil tangkapan nelayan. Sejak gelombang tsunami menghantam, hasil tangkapan ikan mengalami penurunan. Meskipun ada fakktor lain penyebab penurunan hasil tangkap nelayan, seperti kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, dan jumlah perahu makin banyak.

Budi, staf Local Working Group (LWG), mengatakan, pasca tsunami banyak bantuan masuk ke Pangandaran. Kondisi ini menyebabkan perahu nelayan makin banyak.  Perahu yang bertambah, tak hanya jumlah tangkapan nelayan turun juga merusak kawasan wisata Pangandaran. Jika dulu satu nelayan hanya memiliki satu perahu, sekarang ada yang memiliki sampai tiga.

“Karena pelabuhan di sekitar bulak setra belum jadi, parkir perahu menjadi semrawut. Di pantai barat, parkir nelayan dan perahu wisatawan menumpuk hingga sangat mengganggu kenyamanan wisatawan,”  ucap Budi.

Lalu, dibangun juga beberapa tempat mencari ikan terbuat dari kayu bernama bagang. Jumlah  bagang di sekitar pantai timur ada 30 lebih.

“Dengan bagang di sepanjang pantai timur, hasil tangkapan ikan nelayan jadi berkurang. Sebab bagang bukan hanya menangkap ikan besar, tapi ikan-ikan kecil juga tertangkap hingga berpengaruh buruk bagi nelayan yang tidak mempunyai bagang.”

Jika biasa hanya radius  500 meter – satu km dari pantai masih banyak ikan, kini radius dua sampai tiga km ke tengah laut pun susah mencari ikan. “Sebelum tsunami jumlah perahu ada sekitar 300, sekarang bertambah tiga kali lipat,” kata Budi.

Bagang di sekitar pantai. Foto: Indra Nugraha
Perahu yang makin banyak menyebabkan hasil tangkap nelayan menyusut. Foto: Indra Nugraha
Artikel yang diterbitkan oleh
, , ,