Agus Susanto: Bencana Telah Menyulap Tepian Sungai Gajah Wong Jadi Kampung Hijau

Facebook198Twitter9LinkedIn0Google+0Email

Agus Susanto pengagas terbentuknya Kampung Hijau Gambiran. Foto: Tommy Apriando

Kepedulian dan kesadaran warga RW 08 Gambiran, Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta pada lingkungan kampungnya kini tertanam sebagai suatu keharusan. Inilah hasil kerja keras Agus Susanto, bapak tiga anak yang telah menetap di Gambiran, sejak 1981 silam. Wilayah kampung yang berdampingan sungai Gajah Wong tersebut kini menjadi percontohan permukiman hijau yang asri di Yogyakarta.

Berawal dari kegelisan akan ancaman besar terhadap dirinya dan warga kampungnya yang hidup bersebelahan dengan sungai  Gajah Wong. Lalu kurangnya  Ruang Terbuka Hijau (RHT) di Yogyakarta. Agus mencoba melopori terbentuknya “Kampung Hijau” di kampungnya.

Sekretarian Komunitas Kampung Hijau Gambiran. Foto: Tommy Apriando

Alhasil, kampung hijau yang digagasnya bersama warga sekitar 2005 telah mengukir banyak prestasi dibidang lingkungan. Mongabay Indonesia bertandang ke kampung hijau dan berkesempatan mewawancarai sang penggagas, Agus Susanto. Berikut petikan wawancaranya :

Mongabay Indonesia: Bagaimana awal mula anda dan warga menginisiasi adanya “Komunitas Kampung Hijau” ?

Agus Susanto: Terbentuknya “Komunitas Kampung Hijau” ini merupakan salah satu bentuk perwujudan dari kesadaran warga setempat akan pentingnya menjaga lingkungan. Walaupun sadarnya masyarakat tidak bisa begitu saja lahir. Pertimbangan dari segi ekonomis sempat menjadi pergolakan besar dikalangan warga. Ada warga yang berkata, “Kenapa tidak bayar petugas kebersihan saja, untuk mengelola sampah dan kebersihan kampung.”

Adanya bencana, penyakit, menjadi titik awal masyarakat sadar untuk menjadikan kampungnya harus bersih dan sehat. Bencana banjir di tahun 2005, lalu pada 13 Desember 2006, kemudian disusul bencana banjir pada 27 Desember 2007 pasca gempa bumi. Bencana banjir tersebut telah membuat warga mengalami begitu banyak kerugian.

Oleh karenanya, pasca peristiwa tersebut, warga akhirnya menyadari bahwa semua musibah itu diakibatkan oleh ulah mereka sendiri. Hingga warga sepakat pada 1 April 2007 mendeklarasi sebagai “Kampung Hijau“ Gambiran RW 08.

Program Sanitasi air Kampung Hijau. Air sumur di saring sehingga siap menjadi air minum warga. Foto: Tommy Apriando

Mongabay Indonesia:  Apa saja Kegiatan yang dilakukan warga Kampung Hijau ini ?

Agus Susanto: Ada beberapa program yang dilakukan, diantaranya melakukan pengelolaan Sungai Gajah Wong, yaitu melakukan pemetaan sungai yang diwujudkan kedalam bentuk peta, mencari jejaring komunitas sungai, terus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai, antisipasi bencana banjir, pembuatan bronjong sebagai upaya penanggulangan banjir. Selain itu, program penggunaan Energi alternatif, dengan pemanfaatan IPAL menjadi  Biogas di RT. 30 & RT. 47. Biogas dari limbah sampah tersebut dimanfaatkan oleh warga sebagai bahan bakar alternatif. IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) komunal yang ditempatkan di beberapa titik sehingga dampak dari pencemaran air limbah khususnya limbah rumah tangga dapat diminimalisir sebelum air akhirnya dibuang ke sugai.

Selain itu, program tamanisasi dan penghijauan menjadi program warga kampung. Mulai dari penanaman pohon baik itu tanaman keras, sayur, ataupun buah – buahan, pemanfaatan lahan kosong sebagai media tanah, penghijauan area publik, Fitness out door dan Gazebo di pinggiran sungai.

Mongabay Indonesia: Bagaimana pengoperasian Bank Sampah di kampung hijau sendiri ?

Agus Susanto : Ini program berbeda dengan apa yang ada di daerah lain seperti Bantul. Adanya bank sampah ini, awalnya untuk membentuk kepedulian masyarakat agar sampah yang ada tidak dibuang begitu saja, namun bisa di tabung sebagai nilai ekonomis. Pengoperasiannya masih sederhana, setiap sampah yang ditabung warga dihitung dan uangnya bisa digunakan untuk kegiatan kampung atau untuk warga itu sendiri.  Kami juga belum bisa melalukan pelaporan berapa jumlah sampah yang masuk perhari atu perbulan serta berapa uang yang didapat dari sampah tersebut.

Mongabay Indonesia: Bagaimana konsep Taman Hijau ini dalam pengoperasiannya serta perawatannya nanti ?

Agus Susanto: Taman ini pastinya menjadi percontohan di tingkat Propinsi. Mulai dari beberapa pohon yang di tanam, kemudian penerangannya menggunakan energi “solar panel”.  Akan ada 13 lampu bertenaga matahari. Selain itu, taman ini akan disiapkan fasilitas jalur sepeda dan pejalan kaki serta gazebo-gazebo. Tidak boleh ketinggalan adanya tong-t0ng sampah yang memisahkan antar sampah organik dan non-organik, yang nantinya masing-masing sampah itu akan dikelola dan dimanfaatkan oleh warga, mulai dari Biogas, pupuk dan hal lainnya yang bernilai ekonomis dan punya nilai manfaat.

Tigabelas Lampu dengan tenaga Solar Panel atau panel surya menjadi alat penerang di taman hijau percontohan di kampung hijau gambiran. Foto: Tommy Apriando

Mongabay Indonesia: Apa harapan anda terhadap pemerintah dan masyarakat Jogja, dalam upaya menjaga lingkungan ?

Agus Susanto:  Saya berharap kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, apalagi membuang sampah ke sungai.  Pikirkanlah dampak dari tindakan anda, ketika anda membuang sampah. Jagalah kebersihan lingkungan dari hal kecil, paling tidak dari diri anda sendiri, lebih baik lagi bila dilakukan di lingkungan masyarakat tentunya.

Jika pemerintah bisa melakukan sasaran penghijauan sampai dikampung-kampung itu baru istimewa, warga menyiapkan lahannya, pemerintah memfasilitasi tanaman dan fasilitas taman, warga merawat dan menjaganya. Inilah yang diharapkan oleh kami dan mungkin saja warga lainnya di Yogyakarta.

Comments