Perdagangan Empedu Beruang: Lingkaran Setan Pengobatan Tradisional di Asia

Facebook79Twitter42LinkedIn1Google+1Email

Seekor beruang hitam di Myanmar baru saja dibunuh untuk diambil kantung empedu mereka. Foto: Chris Shepherd/TRAFFIC South-East Asia

Di hutan-hutan di Asia, beruang masih terus ditangkap. Beruang hasil tangkapan ini umumnya dikirim ke pusat penangkaran beruang yang tidak memiliki izin dan ilegal, dan dikurung di dalam kandang sempit seumur hidup mereka. Tubuh mereka akan digunakan sebagai sumber daya yang bisa terus diperbarui, dan menguntungkan lewat penjualan organ dan cairan di dalam bagian-bagian tubuh mereka. Dengan menanam kateter permanen ke dalam tubuh mereka, para penangkar terus mengambil cairan empedu di dalam tubuh beruang. Di beberapa negara Asia di bagian timur, perdagangan cairan empedu beruang ini menjadi sebuah kebutuhan yang penting, sementara para konsumen terus melestarikan bisnis eksploitasi ini dengan terus membelinya. Adanya hukum penawaran dan permintaan yang terus berlanjut membuat semakin banyak beruang yang ada di alam harus meringkuk di dalam kandang mereka.

“Meski konservasi beruang menjadi perhatian seluruh dunia, namun titik-titik utama perdagangan beruang ada di Asia, dimana perdagangan, perburuan dan permintaannya masih menjadi yang tertinggi,” ungkap Chris Shepherd, Deputy Regional Director TRAFFIC South-East Asia, yang berupaya memutus perdagangan produk dari empedu beruang yang semakin membahayakan satwa ini. Chris bersama timnya melakukan investigasi dan berusaha memutus jaringan perdagangan empedu beruang yang kini sudah menjalar ke seluruh Asia.

Beruang ditaruh di kandang sempit di dalam penangkaran. Foto: Asian Animal Protection Network

Shepherd menjelaskan kepada Mongabay.com bahwa TRAFFIC, sebagai lembaga yang memonitor jaringan perdagangan satwa, memliki peran penting untuk menghentikan kejahatan perdagangan satwa lewat ‘upaya investigasi di titik-titik penghubung dibalik perdagangan satwa, dan melakukan upaya untuk mendorong tindakan agar perdagangan ilegal dihentikan dan menekan permintaan bagian-bagian tubuh satwa yang terancam dan dilindungi.’

Tiga spesies utama beruang yang banyak diambil empedu mereka adalah beruang hitam asia (Ursus thibetanus), beruang madu (Helarctos malayanus) dan beruang coklat (Ursus arctos). Beruang hitam dan beruang madu sudah masuk dalam daftar rentan di Daftar Merah IUCN.

Dalam laporan TRAFFIC disebutkan bahwa kurang dari 25.000 beruang hitam Asia yang tersisa di alam liar, dan populasi beruang madu sendiri sudah berkurang sekitar 30% dalam tiga dekade terakhir, akibat deforestasi yang masif dan perburuan yang tidak termonitor. Beruang coklat, yang masuk kategori ‘beresiko rendah’ juga menjadi target empuk perdagangan liar.

Beruang tangkapan di dalam kandang di Indonesia. Foto: Chris Shepherd/TRAFFIC South-East Asia

Beruang sendiri menjadi komoditas penting dalam pengobatan tradisional Cina, karena mereka menghasilkan cairan yang dinilai sangat berharga, yaitu cairan empedu beruang yang sudah digunakan sejak 2000 tahun silam. Perdagangan cairan empedu dan bagian empedu ini dijual dalam berbagai bentuk, mulai dari kantung empedu secara utuh, empedu mentah, dalam bentuk pil, bubuk, serpihan dan salep. Cairan empedu beruang ini dianggap obat manjur untuk mengobati wasir, sakit tenggorokan, luka, memar, penyakit otot, terkilir, epilepsi hingga membersihkan liver. Namun tidak seperti cula badak yang dinilai tak memiliki khasiat dlam pengobatan, cairan empedu beruang secara ilmiah terbukti memiliki khasiat pengobatan.

“Namun, riset juga menemukan ada lebih dari 50 pengobatan herbal lain yang legal, dan masih banyak lagi pengobatan sintetis lainnya. Kuncinya adalah mendidik masyarakat dan meminta mereka untuk menggunakan pengobatan yang legal, yaitu pilihan yang tidak melibatkan perdagangan gelap satwa yang terancam,” ungkap Shepherd.

Upaya untuk mengekstraksi cairan empedu ini dilakukan dengan berbagai teknologi yang ditemukan oleh manusia. Laporan TRAFFIC menjelaskan beberapa metode umum dari ekstraksi empedu dari beruang yang ditangkap ini adalah: menggunakan teknologi USG untuk mencari dan menusuk kandung empedu, memasukkan sayatan tetap di perut dan kandung empedu atau kateter logam yang menggunakan tabung logam permanen ditanamkan untuk mengakses empedu , metode yang ‘penuh kekejaman’ juga dilakukan menggunakan tabung kateter permanen untuk mengekstrak empedu yang kemudian dikumpulkan dalam kantong plastik yang diatur dalam kotak logam yang dikenakan oleh beruang, dan akhirnya hanya mengeluarkan seluruh kandung empedu.

Pusat ekstraksi cairan empedu beruang. Foto: Dan Bennett/TRAFFIC South-East Asia

Beruang-beruang yang ditangkap untuk diambil empedunya ini biasanya mengalami kekurangan gizi dan hidup dalam standar kesehatan yang rendah, dan rata-rata hanya mampu hidup selama 5 tahun (bandingkan dengan beruang yang hidup di alam liar dengan sehat, yang mampu hidup selama 25 hingga 30 tahun). Jika pun beruang ini bertahan di usia lebih dari lima tahun, mereka umumnya dibunuh di usia 10 tahun karena produktivitas cairan empedu mereka yang sudah berkurang.

Chris Shepherd sendiri menyoroti bahwa istilah ‘penangkaran beruang’ itu sudah salah. Nyatanya tak ada satu pun beruang yang ada di penangkaran ini berasal dari hasil perkawinan dan dilahirkan di dalam pusat penangkaran, seluruh beruang yang ada di ‘penangkaran’ ini diambil dari alam liar, atau menculiknya.

Harga satu ekor anak beruang yang ditangkap di Kamboja atau Laos, dan dijual ke penangkaran di Vietnam berkisar 100 dollar AS.

Saat ini bisnis penangkaran beruang di Asia menjadi sebuah bisnis yang besar. Menurut hasil investigasi TRAFFIC, di Cina saat ini diperkirakan ada 97 penangkaran yang berisi 7.000 hingga 10.000 ekor beruang dan di wilayah yang lebih besar lagi di Asia, sekitar 12.000 ekor beruang kini menjadi mesin penghasil cairan empedu. Hal ini dinilai sebagai perbudakan yang dilakukan manusia kepada satwa.

Pil-pil hasil ekstraksi empedu beruang di Asia. Foto: Dan Bennet/TRAFFIC South-East Asia

Maraknya penangkaran ini, didorong oleh besarnya permintaan dan keuntungan yang sangat menjanjikan. Produk empedu sangat berbeda di berbagai wilayah di Asia, namun dari hasil investigasi TRAFFIC diperkirakan harga kantung empedu utuh hanya sekitar 51,11 dollar AS di Myanmar dan sekitar 2.000 dollar AS di Hongkong. Jika dijual dalam potongan, kantung empedu ini berharga sekitar 0,11 per gram di Thailand dan yang termahal adalah 109.70 per gram di Jepang. Sementara harga per butir pil berisi empedu beruang adalah sekitar 0,38 dollar AS di Malaysia dan mencapai 3,83 dollar AS di Thailand.

Berdasarkan survey ke pasar tradisional yang dilakukan di Kamboja, CIna, Hongkong,  Jepang, Korea, Laos, Makau, Malaysia Myanmar, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam ditemukan bahwa beruang hidup dan bagian tubuh mereka dijual secara terbuka di pasar tradisional untuk pengobatan. Termasuk diantaranya adalah cakar beruang, kulit, jari-jari, gigi, tengkorak, dan yang termahal tentu saja: kantung empedu dan cairan empedu.

Bagaimana mengatasi perdagangan tubuh beruang ini? 

Harus diakui, peran konsumen sangat penting untuk menghentikan perdagangan hasil-hasil tubuh satwa yang langka dan dilindungi, termasuk beruang. Karena permintaan dari konsumen inilah yang menjadi pemicu utama bisnis perdagangan dan penangkaran ilegal beruang terus berlangsung. Siklus eksploitasi, selalu dimulai dari konsumen. Jika tiak ada keuntungan yang bisa diraih dari bisnis ini, maka orang-orang yang selama ini menangkarkan beruang akan berkesimpulan bahwa bisnis ini tidak lagi menguntungkan.

Harus diingat kembali bahwa, hilangnya beruang sebagai sebuah mata rantai kehidupan liar di alam, akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem dan pada akhirnya, akan mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri.

Comments