Suratimin: Membangkitkan Desa Konservasi di Tengah Kegersangan Gunung Kidul

Suratimin, penggagas kawasan konservasi Semoyo di Gunung Kidul, Yogyakarta. Foto: Tommy Apriando

Rambutnya mulai memutih, kumis tebal, muka bulat, tinggi berkisar 168 cm. Ia menyambut kedangan Mongabay Indonesia di kediamannya di desa Semoyo,Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namanya sudah banyak dikenal mulai dari pemerintah desa Semoyo hingga pemerintah DI Yogyakarta.  Ia adalah Suratimin.

Pria 47 tahun ini adalah salah satu penggagas berdirinya Desa Kawasan Konservasi Semoyo (DKKS), pendiri dan pengelola Radio Komunitas Radekka FM, pendiri dan guru di Sekolah Anak Tani, Ketua Serikat Petani Pembaharu Gunung Kidul dan beberapa lagi komunitas yang ia gagas dan dirikan. DKKS sampai sekarang menjadi rujukan banyak pihak untuk belajar mengelola alam, khususnya hutan rakyat, lahan pertanian,  dan pembangunan kemandirian petani. Mongabay Indonesia berkesempatan untuk mewawancarainya di kediamannya di Desa Semoyo, Di Yogyakarta. Berikut petikan wawancaranya :

Radekka FM, sangat membantu warga dalam mendapat informasi terkait konservasi dan juga hiburan. Foto: Tommy Apriando

Mongabay Indonesia:  Sejak kapan anda dan masyarakat merintis hutan rakyat ini ?

Suratimin: Awalnya sekitar 1999, pekan-pekan pertama sepulang dari merantau dari Papua, hampir setiap hari saya berdiskusi dan ngobrol bersama tetangga. Mereka banyak membincangkan tentang kerusakan alam di desa Semoyo. Obrolan ke obrolan lalu lahirlah ide membuat konservasi hutan rakyat. Ide ini juga mempertimbangkan mulai menipisnya pohon di tebing-tebing kawasan Semoyo, sumber mata air yang terus berkurang dan banyaknya penabangan pohon di desa Semoyo.Sedangkan untuk kelembagaan, kami mulai merintisnya sejak tahun 2004, akan tetapi resmi menjadi kelembagaaannya pada tahun 2008.

Mongabay Indonesia:  Apa yang mendasari terbentuknya kelembagaan hutan rakyat ini ?

Suratimin: Lahirnya kelembagaan hutan rakyat ini didasari dari keprihatinan kita melihat kondisi hutan dan lingkunagn disekitar yang semakin memprihatinkan. Dulu sumber mata air banyak, pohon besar masih banyak, keanekaragaman juga masih banyak. Tapi, laju pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan kayu, pemakian pupuk kimia yang berlebihan membuat kondisi lingkungan dan hutan bukannya menjadi lebih baik, tapi semakin buruk. Dari kondisi yang buruk ini kemudian, kami menggagas dan memikirkan bagaimana desa kami bisa bertahan, tidak boleh rusak. Maka terbentuklan lembaga ini.

Kami awalnya di dampingi oleh TRS dari jogjakarta, Interfaith Jogja untuk membuat pembelajaran dalam mengelola pengorganisasian komunitas, memetakan isu lokal, ada juga sekolah pertanian rakyat. Kegiatan ini bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar untuk lebih tahu bagaimana berkomunitas dan mengelola hutan itu secara baik.  Desa Kawasan Konservasi Smeoyo dikelola dengan penataan hutan rakyat yang melestarikan sumber-sumber mata air. DKKS juga menjadi media pembelajaran sekaligus laboratorium alam komunitas dalam melestarikan lingkungan hidup dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai pengikat keberlanjutan pembelajaran.

Mongabay Indonesia: Berapa luasan desa kawasan konservasi hutan ? Bagaimana pengelolaannya ?

Suratimin: Di kawasan Semoyo seluas 576,2 hektare, 493,2 hektare diantaranya adalah hutan rakyat. Adapun pembagiannya Pekarangan : 200,93 Ha; Tegalan : 292, 6 Ha dan sisanya sawah dan penggunaan lainya.493,2 hektar hutan rakyat itu adalah milik warga-warga yang  tersebar di desa Semoyo. Desa Semoyo sendiri terdiri 5 pedukuhan,  24 Rukun Tetangga dan 816 keluarga. Dari pengelolaan hutan rakyat dilakukan warga masyarakat dan kita hanya mengorganisir. Selama ini, kami sadar dalam mengorganisir belum sempurna, tapi kami yakin kedepannya akan menjadi lebih baik lagi. Apalagi untuk regenerasi, kami yakin kedepannya akan banyak generasi yang akan peduli akan lingkungan.

Adapun keinginan dari adanya DKKS ini, untuk menjadikan wilayah hutan konservasi, selain itu untuk menyelamatkan lingkungan.  Masyarakat juga bisa bergerak dalam proses pembelajaran, agar mampu mengelola potensi lokalnya untuk meningkatkan ekonominya. Saya juga bersama warga sedang merintis bank rakyat yang bisa menerima jaminan kayu. Bank itu dipastikan tidak ada embel-embel bunga. Mekanismenya, seperti terbang butuh, kalau butuh Rp10 juta per orang, misalnya agunannya 20 pohon.

Poster pemahaman alur karbon hutan di hutan rakyat Semoyo. Foto: Tommy Apriando

Mongabay Indonesia: Adakah hambatan dalam mengelola Desa Kawasan Konservasi Hutan ini ?

Suratimin:  Hambatan pasti ada. Hambatan kita selama ini seperti pendanaan untuk melakuakn berbagai kegiatan, kedua terkait dengan Sumber Daya Manusia untuk terus melakukan sosialisasi soal hutan rakyat dan menjaga lingkungan di desa Semoyo. Jika SDM-nya kurang, hal ini akan berdampak pada pemahaman masyarakat soal pengelaolaan hutan secara baik. Maka dari itu, saya membuat radio komunitas untuk memberikan informasi pemahaman dan update berbagai hal kepada masyarakat sekitar soal pengelolaan hutan rakyat, maupun berbagai informasi yang bermanfaat dan dekat dengan aktivitas warga di desa Semoyo.

Pemerintah selama ini lebih mendukung dalam bentuk ucapan saja, “kami mendukung”, akan tetapi dukungan dalam bentuk pendanaan, kebijakan yang pro kami atau kegiatan yang bermanfaat lainnya masih kurang. Tapi, kita juga tidak patah semangat, kami akhirnya memilih untuk lebih aktif mendorong dari tingkat desa, untuk membuat kebijakan yang pro pada pengelolaan hutan rakyat.

Mongabay Indonesia: Bisa ceritakan ida anda membuat Radio Komunitas Radekka ?

Suratimin : idenya berangkat dari kurangnya Sumber Daya Manusia di desa Semoyo. Untuk memberikan berbagai informasi dan pemahaman soal pengelolaan hutan jika tidak ada SDM yang baik dan cukup, maka perlu cara lain dan efektif. Oleh karena itu radio komunitas Radekka di buat. Adapun siarannya sendiri mengenai berbagai informasi setar hal-hal yang diperlukan oleh warga sekitar Semoyo. Biayanya pengelolaannya punpatungan, sisanya pinjaman. Tahun 2008, Radio Desa Kawasan Konservasi (Radekka FM) mengudara untuk melayani kebutuhan informasi di desa Semoyo.

Awalnya warga diberi radio secara gratis hasil bantuan berbagai pihak supaya bisa mendengarkan siaran saat berkebun atau bertani. Warga desa pun jadi tidak repot-repot berkumpul membahas sesuatu karena radio sudah mewakilinya. Radekka FM ini tidak mengenal istilah dibayar yang ada adalah “probono”. Siaran dimulai dari jam 6 pagi hingga jam 9 malam. Lewat radio, saya menyiarkan berbagai hal tentang penghijauan, pertanian, teknik beternak, hingga proses penghitungan karbon dan berbagai hal yang menjadi kebutuhan dan konsentrasi warga desa Semoyo. Selain itu, Radekka FM bisa didengarkan di seluruh dunia karena dunia internet memberikan fasilitas agar siapa saja bisa streaming lewat alamat web desakawasankonservasi.blogspot.com.

Mongabay Indonesia: Dimanfaatkan untuk apa saja hutan dan hasil hutan Rakyat di Desa Semoyo?

Suratimin : Semua hasil kekayaan hutan yang ada di hutan rakyat ini tidak ada satupun yang luput dari pemanfaatan. Hutan kami jadikan lahan bertani, beternak, berkebun, bertanam pohon, bermain dan banyak lagi. Adapun produk hutan sudah pasti kayunya yang dimanfaatkan. Kayu yang ada di hutan Semoyo diantaranya Jati, Mahoni, dan Sengon, Di hutan rajat Semoyo juga ditanami beberapa tanaman buah seperti manggis dan durian yang punya nilai ekonomi penjualan tinggi.  Selain itu, hutan rakyat Semoyo pada 2010, di hutan rakyat di Semoyo setiap satu hektare lahan diperkirakan mampu menyerap 32 ton karbon per tahun, kemudian pada 2011 meningkat menjadi 36 ton per tahun.

Saat ini, kami juga sedang merintis membuat meubel. Adapun pembuatannya di buat dan dikelola warga semoyo sendiri. Menjual kayu glondongan dengan kayu yang sudah menjadi produk sudah pasti lebih bernilai ekonomi tinggi yang duah berbentuk produk.  Ini masih awal dirintis dan saat ini penjualannya juga masih disekitar jaringan atau personal dari kenalan kita saja. Kawasan pegunungan di Gunung Kidul sangat berpotensi menghasilkan kayu. Tercatat 80.000 meter kubik per tahun, sedangkan pemerintah kabupaten, baru bisa dimanfaatkan 20%-nya. Selebihnya masih dijual gelondongan.

Monbagay Indonesia : Apa pesan anda untuk masyarakat untuk pelestarian hutan dan lingkungan?

Suratimin: Saya dan warga pada intinya hanya berpesan jika alam terus dirawat dan dijaga, alam sebaliknya akan menjaga penghuninya. Menanam pohon dan tumbuhan lain adalah cara yang tepat menjaga ibu bumi, selain beternak hewan yang kotorannya sebagai makanan bumi. Lagipula, selama ini tidak sulit menanam pohon. Satu poho itu akan sangat berdampak pada masa depan anak cucu serta nafas manusia. Kalau bukan dari kita siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan hutan.