Penelitian: Emisi Metana Air Limbah Kelapa Sawit Beri Dampak Perubahan Iklim

Perkebunan kelapa sawit di Riau. Foto: Aji Wihardandi
Perkebunan kelapa sawit di Riau. Foto: Aji Wihardandi

Buangan gas metana dari air limbah olahan kelapa sawit ternyata sangat siginifikan berdampak pada perubahan iklim dibandingkan dengan pembukaan lahan, kebakaran hutan dan pengeringan lahan gambut. Hal ini terungkap dari sebuah studi yang dimuat dalam jurnal ilmiah Nature Climate Change baru-baru ini.

Penelitian yang dipimpin oleh Philip G. Taylor dari Universitas Colorado menemukan bahwa emisi gas metana dalam setahun dari limbah pengolahan kelapa sawit setara dengan 115 juta ton karbon dioksida di Malaysia dan Indonesia saja, atau sekitar 15% dari total emisi dari penegringan lahan gambut dan alihfungsi lahan di kedua negara tersebut.

“Buangan metana dari limbah kelapa sawit merupakan ancaman iklim yang sangat besar, dimana bisa menaikkan sekitar 1% emisi gas rumah kaca di tahun 2050 mendatang,” ungkap Taylor kepada Mongabay.com. “Metana limbah kelapa sawit mewakili 15% emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan,.”

Namun masalahnya bisa dicari jalan keluar, ungkapTaylor, yang menyarankan untuk memanfaatkan metana produksi limbah air olahan kelapa sawit ini menjadi bioenergi dibandingkan harus membiarkannya lepas ke atmosfir dan menambah emisi gas rumah kaca. “Emisi ini adalah sumber dari energi terbarukan yang seharusnya bisa menjadi solusi yang menguntungkan bagi perubahan iklim,” jelasnya.

Menurut penelitian, Malaysia bisa memenuhi seperempat energi mereka dengan memanfaatkan metana dari limbah olahan kelapa sawit ini. Keuntungan dari menggunakan metana ini, karena merupakan bahan bakar yang alternatif dan bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah-wilayah yang miskin. “Pembangunan infrastruktur itu butuh waktu, Dan bagi pabrik-pabrik pengolahan yang tidak memiliki aksies ke jalan utama, hal ini menjadi sumber energi baru dengan mengoptimalkan POME CH4,” ungkap kajian ini. Limbah ini juga bisa bermanfaat untuk menyuburkan tanah.

Hasil studi ini memperlihatkan bahwa dengan pengolahan limbah yang baik, digabung dengan penghentian konversi hutan untuk pembukaan perkebunan kelapa sawit, serta meningkatkan kepadatan hasil di setiap buah sawit, bisa membuat industri minyak kelapa sawit menjadi lebih berkelanjutan.

“Kendati melalui pemanfaatan metana ini tidak akan mengganti kerusakan hutan akibat penebangan, namun hal ini akan membawa keuntungan tambahan bagi pemilik pabrik, masyarakat lokal dan dampak luas perubahan iklim. Keuntungan finansial dari bioenergi metana ini harus digabungkan dengan moratorium ketat pada pembukaan hutan untuk mencegah pembiayaan deforestasi, yang akan memberikan manfaat ekstra bagi iklim.

CITATION: Philip. G. Taylor et al. Palm oil wastewater methane emissions and bioenergy potential NATURE CLIMATE CHANGE | VOL 4 | MARCH 2014.