FOKUS LIPUTAN: Satwa Indonesia Dalam Ancaman Kepunahan (Bagian 2 dari 3 Tulisan)

Rantai perdagangan satwa di Indonesia, melibatkan sebuah jaringan besar. Jaringan ini terbentuk mulai dari pemburu di tingkat akar, pengepul, hingga bandar besar pembelinya di luar negeri. Khusus di Kalimantan Timur, sejumlah besar satwa yang diperdagangkan ke luar negeri lebih banyak berasal dari luar wilayah ini sendiri. Sebagianbesar, justru berasal dari Indonesia bagian timur, seperti Maluku dan Papua.

Dalam bagian kedua tulisan ini, tim penulis laporan mendalam Mongabay-Indonesia menelusuri praktek-praktek perdagangan satwa di Kalimantan Timur. Sejumlah penangkapan yang dilakukan pihak berwenang, sempat terjadi, namun mengingat besarnya jaringan yang ada, sulit rasanya untuk memberantas secara keseluruhan atau menghentikan total aktivitas ilegal ini.

Kalimantan Timur, Salah Satu Titik Transit Perdagangan Satwa Ilegal

Indonesia bagian timur memang memiliki flora dan fauna yang sangat beragam, karena berhubungan dengan spesies di benua Australia. Selain bentuk dan jenisnya yang unik, fauna yang ada di wilayah Indonesia Timur memiliki keindahan tersendiri dari segi suara hingga bentuk, terutama jenis aves atau burung.

Keindahan tersebut, memancing para pemburu keuntungan untuk meraih laba bermodal keunikan spesies-spesies tersebut. Posisi Kaltim sendiri saat ini adalah perlintasan bagi para pedagang satwa dari wilayah timur Indonesia.

Hal ini ditandai oleh hasil tangkapan tujuh ekor burung dilindungi jenis Kasturi Kepala Hitam hasil sitaan di berbagai pasar burung, pada tahun lalu oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Seksi Wilayah III Balikpapan. Ketujuh burung endemik Indonesia Timur tersebut merupakan hasil sitaan dari berbagai tempat penjualan burung yang ada di Jl Soekarno Hatta Km 5 Balikpapan .

Menurut pengakuan penjual, burung-burung tersebut didapatkanya dari para kru kapal yang bersandar di Kaltim baik itu di Pelabuhan Semayang maupun di wilayah lain seperti Sangata, di Kutai Timur ataupun Kota Bontang.

“Kami memang berhasil melakukan penyitaan, kerena kami tahu bahwa burung-burung tersebut merupakan burung yang dilindungi dan hanya terdapat di Indonesia wilayah timur, atau dalam garis Garis Wallacea dimana burung-burung yang berada di kawasan tersebut memiliki suara dan keindahan bulu,” kata Nidiansyah Polhut Konservasi BKSDA Wilayah III Kaltim.

Mengingat hasil sitaan ini bukan asli dari Kalimantan Timur, Seksi Konservasi BKSDA Wilayah III kesulitan untuk melepaskannya, paling tidak mereka harus mengangkut kembali ke habitat aslinya.

Dari data tersebut dapat dijelaskan bawa Kaltim sementara menjadi jalur transit bagi perdagangan satwa, pasalnya beberapa pelabuhan di kawasan Kaltim sangat rentan dengan jalur perdagangan satwa.

Seperti yang dijelaskan Nidiansyah, bahwa banyak pelabuhan di Kaltim yang menjadi tempat sandarnya kapal-kapal untuk membawa batubara, minyak dan gas, mengakibatkan sangat mudah untuk melakukan perdagangan satwa. “Satwa yang paling mudah untuk di bawa adalah jenis aves atau burung, sehingga banyaknya kapal pengangkut batubara maupun hasil energy, memberikan keleluasaan untuk melakukan transaksi perdagangan satwa secara illegal,” ungkap Nidiansyah.

Beberapa lokasi yang ada di Kaltim yang sangat berpotensi menjadi tempat transit perdagangan satwa, diantaranya adalah Pelabuhan Semayang Balikpapan, Pelabuhan Sangata, Pelabuhan di Kota Bontang dan Pelabuhan di Berau, serta Nunukan ataupun di Tarakan.

Sementara itu untuk Kaltim sendiri, dari data terakhir, kepala rangkong menjadi pilihan untuk di perdagangkan, hingga pada tahun 2013 lalu, sebanyak 48 kepala rangkong berhasil digagalkan untuk diselundupkan melalui bandara Sepinggan Balikpapan. Ke-48 kepala rangkong tersebut rencananya akan dibawa ke Jakarta dan dijual dengan harga sekitar Rp 2 juta per kepala. “Kami menangkapnya saat pihak Bandara sepinggan akan mengetahui kepala rangkong tersebut, karena merasa curiga, akhirnya pihak keamanan Bandara member tahu kelapa rangkong tersebut kepada pihak BKSDA Wilayah Balikpapan,” kata Nidiansyah.

Tujuh Burung asal wilayah timur Indonesia yang ditemukan di Kaltim. Foto: HENDAR
Tujuh Burung asal wilayah timur Indonesia yang ditemukan di Kaltim. Foto: HENDAR

Diketahui kepala rangkong tersebut dikirim oleh warga Samarinda dan kepala rangkong tersebut diperoleh dari warga yang berada di pedalaman Berau. Dimana satu kepala rangkong tersebut hanya di hargai Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu.

Dari fakta tersebut terlihat bahwa fauna yang ada di Kaltim lebih banyak dicari dalam bentuk tak bernyawa, karena kebutuhan akan sesuatu di tubuh binatang tersebut. Seperti rangkong, begitupula dengan penyu serta binatang lainnya.

Sementara itu menurut salah satu pedagang burung bernama Ahmad, di Jl Soekarno Hatta Km 5, perdagangan burung endemik Kaltim sangatlah jarang, selain burung kicau seperti Murai Batu dan sejenisnya, sementara untuk burung-burung langka sangat dan amat sangat susah.

“Kalau di Kaltim sangat susah, apalagi kami tidak tahu mana burung langka atau yang di lindungi. Kadang ada sejenis merak Kalimantan, kami tamping saja dari orang yang bawa, burung-burung tersebut lebih banyak di bawa dari daerah Sangata atau Berau, sementara untuk lokalan Balikpapan tidak pernah,” ungkap Ahmad.

Perburuan Rangkong di Pedalaman Kalimantan Timur

Kampung Merasa yang berada Kabupaten Berau, merupakan salah satu dari sekian kampung yang ada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Kelay. Kampung yang berpenduduk sekitar 1000 jiwa ini, berada di pinggiran Sungai Kelay. Hampir semua kegiatan penduduk tidak terlepas dari aliran sungai Kelay.

Bentangan alam yang indah serta hutan yang masih terlihat rapat di kawasan tersebut, tentunya tidak terlepas dari beraneka ragam satwa yang ada di dalamnya. Namun semua itu tidak terlepas dari incaran berbagai pihak untuk mengekspolitasinya. Salah satu habitat yang sangat mudah ditemukan di kawasan tersebut yakni burung Rangkong Badak (Buceros Rhinoceros).

Burung yang memiliki jambul berwarna merah tersebut, sejak tahun 2012 lalu menjadi incaran para pembeli diluar negeri. Hal ini dikatakan kepala kampung Merasa Effendi. “Warga kampung beberapa bulan lalu sering melakukan perburuan burung enggang itu, karena banyak permintaan dan harganya cukup tinggi. Yang beli orang dari luar negeri, tapi lewat pengepul,” kata Effendi yang ditemui beberapa waktu lalu di Kampung Meresa.

Saat perburuan enggang di kampung Merasa, harga kepala rangkong perkepalanya mencapai jutaan rupiah. Penduduk kampung yang mayoritas hidup dari perburu, mencari kayu gaharu dan petani itu, sejak Januari 2013 lalu telah melakukan perburuan terhadap yang dilindungi tersebut.

Menurut Effendi, sebagai kepala kampung yang juga pernah mengikuti perburuan rangkong tersebut, setiap subuh, ia bersama para penduduk telah memasuki hutan yang ada di belakang kampung, bahkan ia bergerak bersama penduduk menyusuri sungai Kelay, untuk mencari lokasi dimana burung yang sering berkelompok tersebut bertengger.

“Saya waktu mendengar besarnya permintaan kepala burung enggang itu, bersama-sama penduduk kampung kami melakukan perburuan sejak subuh, kami ada yang membawa sumpit, ada yang membawa sejata rakitan, masuk ke hutan dibelakang kampung, bahkan kami juga mencari dengan menyusuri sungai,” kata Effendi.

Salah satu rumah di Kampung Merasa penuh dengan tengkorak binatang buruan. Foto: Hendar.
Salah satu rumah di Kampung Merasa penuh dengan tengkorak binatang buruan. Foto: Hendar.

Bila bertemu burung rangkong badak tersebut, para pemburu langsung melakukan aksinya dengan menembak atau menyumpit. Burung yang tertembak, saat itu juga langsung di potong kepalanya untuk dibawa, sementara badannya ditinggalkan begitu saja di tengah hutan. Bahkan mereka berburu hingga berhari-hari.

“Kalau sudah dapat burungnya, kami langsung potong di tempat, kadang dagingnya kami makan, kepalanya kami simpan, kadang kami tinggalkan begitu saja. Kami kalau berburu bisa berhari-hari, bisa dua hari bahkan tiga hari. Sekali berburu bisa dapat tiga sampai empat ekor. Burung ini kadang berkelompok dan selalu berpasangan,” kata Effendi dengan tenang.

Setelah kembali ke kampung, para pemburu tersebut mulai mengumpulkan hasil buruannnya, lalu mereka menghubungi perantara pembeli untuk mengambil barangnya. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Burung enggang ini sempat menjadi primadona di kampung Merasa, namun saat ini sudah tidak lagi.

Hal ini dikarenakan harga kepala burung tersebut semakin anjlok, bahkan hanya mencapai Rp 100 ribu rupiah perkepalanya. “Kami saat ini sudah tidak lagi melakukan perburuan, karena harganya yang jatuh, bahkan hanya sampai ratusan ribu, tidak sesuai dengan biaya yang kami keluarkan dan resiko yang kami tanggung bila melakukan perburan,” lanjut Effendi

Menurut Effendi, kepala rangkong Badak ini digunakan sebagai obat dan ukiran. Biasanya peminatnya dari China. “Kalau kepala rangkong yang sudah diukir pasti sangat mahal, lalu ada yang bilang juga bisa sebagai obat, tidak tahu bagaimana caranya,” tambah Effendi.

Dari data yang ada di Indonesia merupakan rumah bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar di hutan hujan tropis, tiga diantaranya bersifat endemik. Mayoritas, rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (0 – 1000 m dpl). Di daerah pegunungan (> 1000 m dpl) rangkong sudah mulai jarang ditemukan. Pulau Sumatera menempati jumlah terbanyak dengan 9 jenis, di susul dengan Kalimantan dengan 8 jenis.

Namun sejak tahun 2012 lalu, sejak maraknya perburuan yang terjadi, maka semakin berkurang jumlah dan semakin langka burung yang terkenal menjadi calah satu ornament dari suku dayak di Kalimantan tersebut.

Harganya terus naik dan kini Rp4 juta per ons di tangan penjual ke luar negeri. Satu paruh beratnya empat hingga delapan ons. Menurut Effendi, paruh dan batok kepala enggang biasa dijadikan bahan baku ukiran atau obat.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,