Inilah Para Pahlawan Sampah Bali

Penyemprotan sampah organik yang bakal menjadi kompos. Foto: Luh De Suryani
Penyemprotan sampah organik yang bakal menjadi kompos. Foto: Luh De Suryani

“Pemulung dilarang masuk.” Demikian papan peringatan terlihat di sejumlah area, termasuk jalan kampung di Bali. Tak massal tetapi cukup banyak.

Beberapa warga beralasan takut pencurian barang. Kenyataan, Bali sangat tergantung pada pemulung dalam penanganan sampah. Gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) terbesar, Suwung, terus meninggi.

Kehadiran pemulung paling krusial di TPA Temesi, tersibuk setelah TPA Suwung. Temesi menangani sampah Kabupaten Gianyar, pusat turisme terutama dari Ubud. Bahkan pemulung adalah kunci rantai pemilahan sampah hingga TPA ini menjadi salah satu percontohan.

Pada Selasa (23/12/14), puluhan pemulung terlihat memilah sampah, mengelompokkan organik dan anorganik. Truk-truk menjatuhkan sampah, lalu disambut kelompok pemulung yang sudah memiliki pelanggan truk masing-masing.

“Tiap kelompok pemulung sudah tahu mana truk langganan mereka, tak mungkin berebutan sampah,” kata Wayan Sriasih, petugas TPA bagian penimbangan sampah organik terpilah.

TPA Temesi sekitar 10 tahun menerapkan model pemberian upah pada pemulung. Tiap ton sampah organik yang terpilah dihargai Rp45.000. Pemulung cekatan dan bekerja delapan jam per hari bisa memilah sampai satu ton.

Pemulung mendapat hasil tambahan dari sampah anorganik yang bisa dijual. “Ada lima barang yang bisa dijual, paling mahal bisa Rp35.000 per kilogram,” kata Sugino, pria tua yang sudah bekerja di TPA tujuh tahun terakhir. Dia fasih menjelaskan, barang-barang yang laku dijual ke pengepul seperti botol, besi, kardus, plastik, dan lain-lain.

Pada tengah hari, Sugiono rehat dan memesan bakso yang singgah ke sana. Dia makan lahap di tengah tumpukan sampah.

Begitu juga keluarga pemulung lain. Lokasi pemilahan teduh tertutup atap membuat para pemulung bekerja sampai larut malam agar mendapat hasil lebih banyak, upah lebih besar.

Sugiono termasuk paling cekatan dan pekerja keras. Dia bisa menyekolahkan anak sampai kuliah dan mengirimkan uang Rp2 juta per bulan ke Jember, Jawa Timur.

Sampah dipilah antara yang organik dan anorganik. Foto: Luh De Suryani
Sampah dipilah antara yang organik dan anorganik. Foto: Luh De Suryani

Beberapa tahun setelah TPA Temesi dibuka pada 2004, puluhan warga lokal masih bersemangat menjadi pemulung. Kini tak ada yang tersisa. “Dulu banyak warga setempat jadi pemulung, sekarang tidak ada karena tidak kuat bekerja sama sampah,” kata Sriasih.  Padahal, sebagian besar pemulung di sini berhasil menyekolahkan anak atau membeli kendaraan pribadi dari memilah sampah.

Sriasih, staf Yayasan Pemilahan Sampah Temesi, pengelola TPA ini yang bekerja tiap hari sebagai penimbang sampah organik. Tiap hari, rata-rata terpilah 40-50 ton sampah organik. Perempuan ini hafal dari mana sumber sampah. Misal, dia menunjuk sampah hotel lebih banyak sisa makanan, lalu sampah pasar lebih basah dan lebih banyak varian. Sampah anorganik hotel biasa diambil duluan oleh petugas atau warga sekitar, hingga di TPA tertinggal remah-remah.

Gunungan sampah di TPA Temesi adalah organik yang akan diolah menjadi kompos. Dengan sistem aerob, kompos bisa diproduksi sampai 10 ton per hari. Inilah sumber utama penghasilan TPA untuk operasional. Selain dana hibah dari program PBB, Clean Development Mechanism untuk mengurangi emisi global. Pemerintah Gianyar menyediakan lahan TPA.

Seiring makin banyak penduduk dan aktivitas, sampahpun meningkat. Beberapa tahun ini, muncul gundukan sampah tak terpilah di area sanitary landfill TPA Temesi.

Yang terpilah, tak berbau. Pipa-pipa besar menyalurkan udara ke bawah gunungan sampah organik. Beberapa petugas tiap hari menyemprotkan air ke gundukan untuk menjaga suhu.

Nyoman Ari, staf yayasan bidang laboratorium ini rutin mengukur kadar oksigen dan indikator lain untuk mendapat kompos yang baik. Tiap minggu, Ari dua kali mengukur oksigen dan suhu dengan mencapkan alat ke sampah organik. “Untuk memastikan pengomposan berlangsung aerob dan suhu tak terlalu panas. Kalau terlaku panas dilakukan pembalikan dan penambahan udara agar mikroba penting tak mati.”

Tiap minggu, katanya, sampel kompos dicek kadar PH, kandungan garam, amonium, nitrat nitrit, dan lain-lain. Pengukuran umum seperti ini bisa di lab sederhana milik Temesi. Namun, indikator lain seperti Nitrogen Fosfor Kalium harus ke lab tanah Universitas Udayana di Denpasar. Kompos yang baik akan menyehatkan tanah hingga menyuburkan tanaman.

Setelah beberapa bulan menumpuk, sampah organik hancur diayak dengan beberapa mesin hingga menghasilkan kompos lebih halus. Kemudian di ujung tahapan produksi ada petugas lain yang mengemas kompos dan siap jual.

Terlihat petani yang memanfaatkan residu kompos langsung di kebun sayur mayur TPA. Daur sampah menjadikan berkah. Foto: Luh De Suryani
Terlihat petani yang memanfaatkan residu kompos langsung di kebun sayur mayur TPA. Daur sampah menjadikan berkah. Foto: Luh De Suryani

Di dekat pengepakan ini, terlihat petani yang memanfaatkan residu kompos langsung di kebun sayur mayur TPA. Daur sampah menjadikan berkah.

Bali dan sampah

Gerakan pengampanye pengurangan sampah plastik terus muncul di Bali. Ada banyak komunitas bergerak.

Data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bali,  sampah per hari hampir 6.000 meter kubik. Terbesar dari warga Denpasar sekitar 2.500 meter kubik, lalu Badung.  Dari kabupaten lain 400 meter kubik.

Dalam laporan status lingkungan 2013, disebutkan limbah  pariwisata menjadi perhatian karena mempengaruhi kondisi  lingkungan  terutama wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Menurut kajian Yayasan Wisnu 2001, rata-rata  sampah hotel per  hari  0,02  m 3/kamar/hari  dan rumah  makan  0,01  m3 /seat/hari.  Produksi limbah  padat dari hotel  dan  rumah  makan hampir 250 kubik per hari. Paling banyak dari Tabanan hampir 90 kubik/hari, disusul Gianyar sekitar 50 kubik/hari.

Faktor turis sangat mempengaruhi limbah padat. Di Tabanan, obyek wisata Tanah Lot menyumbang limbah padat  terbanyak,  karena pengunjung mencapai 2 juta orang per tahun. Diikuti Ubud, Pantai Kuta, dan Pantai Sanur.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam beberapa kesempatan mengatakan,  masalah lingkungan mengancam Bali karena daya dukung terbatas. Saat ini, penduduk Bali mencapai 4,2 juta jiwa, luas hanya 0,29% dari Indonesia. “Menurut ahli ideal hanya 1,5 juta jiwa. Ditambah wisatawan jadi 5 juta orang pasti pakai air, makanan, transportasi, dan lain-lain.”

Pastika berwacana Bali bebas sampah Plastik pada 2015, salah satu kerja sama dengan pabrik pengolahan plastik di Tabanan. Menurut dia, kapasitas pabrik 15 ton dan kekurangan bahan baku. Pemerintah berencana membelikan tiap kabupaten mesin press sampah plastik dan motor pengangkut. Asumsi harga Rp80 juta per unit mesin press. Tahap pertama 10 alat. Bali disebut memiliki 60 bank sampah.

I Wayan Cakra, Manajer Yayasan Pemilahan Sampah Temesi mengatakan, perlu pemimpin berpihak pada lingkungan jika ingin serius menangani sampah.  “Pemimpin banyak tak dari latar lingkungan hingga investasi pengolahan sampah kecil.”

Untuk itu, Karena jasa pemulung sangat tinggi dalam pemilahan sampah karena tak dari hulu. “Tanpa mereka (pemulung) saya tidak ada apa-apanya.”