, ,

Inilah Satwa Laut yang Telah Punah

Ancaman kepunahan spesies tidak saja terjadi untuk spesies yang hidup di daratan, tetapi juga terjadi bagi spesies yang hidup maupun yang tergantung hidupnya pada lautan. Para peneliti menyebutkan bahwa dalam 500 tahun terakhir telah terjadi kepunahan satwa yang berasosiasi dengan ekosistem laut.

Kepunahan ini diperkirakan terjadi bertambah cepat karena berbagai faktor, seperti semakin banyaknya bahan pangan manusia yang diambil dari laut, eksploitasi laut untuk berbagai keperluan bahan bakar fosil, mineral dan energi, pencemaran laut dan semakin meningkatnya transportasi samudera.

Para peneliti mengindikasikan bahwa berbagai sepesies laut semakin terancam dalam laju yang meningkat sejalan dengan industralisasi dan revolusi industri sejak abad ke-19.

Berikut adalah daftar beberapa spesies laut yang telah punah dalam 500 tahun terakhir yang dikumpulkan oleh Mongabay.com. Mudah-mudahan laut dan pesisirnya tidak akan menjadi tempat yang “kosong dan sepi” karena kehilangan para penghuninya.

Sapi Laut Steller

Sapi laut steller (Hydodamalis gigas) adalah mamalia besar yang telah punah. Spesies ini sebelumnya dapat ditemukan di pantai laut Bering. Satwa ini diidentifikasikan oleh Georg Steller dan pada saat ditemukan hanya tersisa sekitar 1500 saja. Sapi laut steller diburu oleh pelaut, pemburu dan pedagang bulu sebagai bahan makanan dan lemaknya sebagai lampu minyak. Hanya dalam 27 tahun setelah ‘ditemukan’ satwa ini dinyatakan punah.

Cerpelai Laut

Foto: R.H. Manville 1966. Sumber: Proceedings of the US National Museum. Vol. 122

Cerpelai laut (Neovison macrodon) adalah mamalia yang dapat dijumpai di pesisir timur Amerika Utara. Jenis ini telah punah diburu untuk memenuhi permintaan pasar bulu di Eropa secara besar-besaran, meskipun sebelumnya penduduk asli Amerika juga memburu satwa ini untuk bulu dan dagingnya. Satwa ini dinyatakan punah pada akhir abad ke-19.

Bebek Labrador

Gambar: John James Audobon.

Populasi bebek labrador (Camptorhynchus labradorius) tidak pernah berlimpah, namun kemungkinan perburuan dan pengambilan telur berpengaruh terhadap kepunahan bebek ini di akhir dekade abad ke-19. Namun demikian, para peneliti belum bersepakat tentang penyebab utama kepunahan spesies ini, beberapa ahli menyebutkan menyempitnya habitat karena meningkatnya populasi manusia di pesisir timur Amerika Utara dan masalah berkurangnya sejenis kerang-kerangan yang menjadi sumber makanan utama bebek ini.

New Zealand Grayling

Gambar: Frank Edward Clarke.

New Zealand grayling (Prototroctes Oxyrhynchus) adalah satu-satunya jenis ikan laut yang diketahui telah punah dalam 500 tahun terakhir. Spesies ini bertelur di sungai, tetapi tumbuh dan hidup di lautan lepas Selandia Baru. Pemanenan yang berlebihan, ikan invasif, dan deforestasi diperkirakan telah menyebabkan kepunahan.

Anjing Laut Karibia

Gambar: Peter Schouten dari sumber asli ‘A Gap In Nature’.

Anjing laut karibia atau Caribbean monk seal (Monachus tropicalis) dinyatakan punah oleh IUCN Red List pada tahun 2008, meski sejak tahun 1950-an sudah tidak ditemukan lagi. Anjing laut ini punah karena diburu, meski faktor berkurangnya makanan akibat industrialisasi penangkapan ikan mungkin juga menjadi penyebab utama satwa ini kehilangan sumber mangsanya.

Burung Kormoran Pallas

Gambar: Joseph Wolf.

Kormoran Pallas (Phalacrocorax perspicillatus) adalah jenis burung kormoran yang terbesar yang pernah ada. Jenis ini hanya ditemukan di timur utara Rusia, dinyatakan punah akibat tekanan perburuan yang terjadi. Burung ini juga disebut sebagai kormoran kacamata karena daerah seputar matanya yang unik seperti orang berkacamata.

Auk Besar

Gambar: Joseph Wolf.

Auk besar (Pinguinus impennis) disebut juga dengan julukan “pinguin dari belahan utara” meski sebenarnya bukan bagian dari keluarga pinguin. Spesies pernah tersebar di belahan bumi utara dari Canada, Norwegia, Greenland dan Islandia. Perburuan menjadi faktor kepunahan jenis ini. Auk besar terakhir di Islandia diburu pada tahun 1844.

Singa Laut Jepang

Gambar: Nkensei.

Singa laut jepang (Zalophus japonicus) sebelumnya dianggap sebagai sub spesies dari Singa laut california (Z. californianus). Pada akhir abad ke-19 singa laut jepang diburu oleh para nelayan jepang secara besar-besaran dalam skala industri. Pada akhir tahun 1940-an spesies ini sudah tidak terlihat lagi di laut Jepang. Selain perburuan, pengambilan ikan sumber pakan singa laut dalam skala industri juga menjadi sebab yang mendorong kepunahan spesies ini. Perburuan singa laut ditujukan sebagai bahan makanan, minyak dan bagian tubuh yang digunakan dalam pengobatan tradisional.

Burung Oystercatcher Pulau Kenari

Gambar: Henrik Gronvold.

Burung Oystercatcher asal Pulau Kenari (Haematopus meadewaldoi), sebuah pulau di lepas lautan Atlantik, Spanyol terakhir diketahui keberadaanya pada tahun 1913 oleh para nelayan lokal dan penjaga mercusuar. Burung ini dinyatakan punah secara resmi oleh IUCN Red List pada tahun 1994, setelah terlihat terakhir pada tahun 1950. Hilangnya sumber pakan yaitu sejenis invertebrata dari pesisir laut dan telur yang dimangsa oleh predator seperti kucing dan tikus dianggap sebagai faktor yang mendorong kepunahan jenis ini. Faktor perburuan saat jenis ini bermigrasi juga dianggap sebagai faktor yang mendorong kepunahannya.

Burung Petrel Pulau Saint Helena

Tahiti petrel (Pseudobulweria rostrata). Foto: Magnus Manske/Wikipedia common
Foto sepupu Saint Helena Petrel yaitu Tahiti petrel (Pseudobulweria rostrata). Foto: Magnus Manske/Wikipedia common

Petrel Saint Helena (Pseudobulweria rupinarum), adalah spesies burung laut yang hanya dijumpai di pulau Saint Helena, yang berada di selatan lautan Atlantik. Menurut IUCN Red List burung ini dinyatakan punah pada tahun 2004, setelah sebelumnya merupakan spesies terancam punah sejak tahun 1988. Meskipun belum dinyatakan faktor utama dari kepunahan spesies ini, tetapi para peneliti menyebutkan bahwa perubahan habitat tempat hidup dan desakan manusia menjadi faktor utama kepunahannya.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , ,