Mereka Gunakan Bahan Lebih Ramah Lingkungan untuk Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh ini tak lagi menggunakan gabus tetapi sudah memakai bambu. Foto: Luh De Suryani
Ogoh-ogoh ini tak lagi menggunakan gabus tetapi sudah memakai bambu sampai kertas bekas. Foto: Luh De Suryani

Ribuan ogoh-ogoh, berwujud raksasa diarak sehari sebelum Nyepi, pekan lalu. Ini tradisi sama setiap tahun. Namun, ada yang beda dari ogoh-ogoh ini.  Apa itu? Penggunaan material bahan-bahan lebih ramah lingkungan. Mereka tak memakai gabus atau styrofoam.

Niko, anggota Sekaa Teruna (kelompok muda) Dai Banjar Gerenceng, Denpasar. Mereka membuat ogoh-ogoh dari batang bambu dan kertas semen bekas.

“Dulu banyak pakai gabus. Hanya bisa dikerjakan satu dua orang karena cara membentuk lebih sulit. Kalau pakai bambu, bisa dirakit ramai-ramai,” katanya. Dia lebih memberi apresiasi pada kolektivitas pembuatan ogoh-ogoh yang menjadi pertaruhan kreativitas anak muda tiap tahun ini.

Niko mengatakan, bambu dan semen bekas jauh lebih ramah lingkungan dibanding gabus. Dari segi biaya, lebih murah. Tahun lalu, banjar mengeluarkan biaya lebih Rp10 juta sementara tanpa gabus jadi Rp7 juta. Bahkan, dari ukuran dengan bambu bisa lebih besar.

Dua anggota banjar lain, I Nyoman Sanjaya dan Alit berharap penggunaan bahan lebih ramah lingkungan ini menjadi anjuran tahun-tahun mendatang.

Tidak ada data penggunaan gabus saat tradisi pengarakan ogoh-ogoh, simbol penetralisir kekuatan negatif ini di Bali. Namun, jika dikalkulasi biaya membeli bahan baku penyebab kanker itu sangat tinggi. Jumlah banjar di Bali lebih 5.000, nyaris semua membuat ogoh-ogoh. Bahkan kini ditambah kelompok ormas, klan, dan lain-lain.

Taruhlah, ada sekitar 5.000 banjar lalu biaya rata-rata pembuatan ogoh-ogoh Rp5 juta. Maka ada Rp25 miliar, untuk pembelian bahan baku. Bayangkan kalau semua membeli gabus kemudian dibakar, mengakibatkan residu lebih berbahaya.

Ogoh-ogoh Banjar Gerenceng berupa bayi raksasa dari perut keluar empat kepala ular, berjudul Kanda Pat. Nyaris semua dibentuk dari rangkaian irisan bambu. Lalu ditempel kertas koran dan semen agar lebih kuat. Tak mudah robek.

Lalu dicat sesuai desain. Sebagai dasar, banjar ini memanfaatkan pelepah pisang dan daun pisang kering (kraras) yang menjadi ornamen natural. Landasan ogoh-ogoh ini diikat di batang-batang bambu besar agar bisa diangkat ramai-ramai, diarak ke jalanan saat pawai.

Setelah keliling perempatan desa atau kota, ribuan wujud monster dan raksasa ini dianjurkan dibakar, sebagai wujud penyeimbangan atau pralina. Mengembalikan ke alam.

Jika gabus dibakar, asap hitam dan berbahaya. Dikutip dari website Unair.ac.id, styrofoam berbahaya karena terbuat dari butiran-butiran styrene, yang diproses menggunakan benzana (alias benzene). Padahal, benzana termasuk zat bisa menimbulkan banyak penyakit.

Tak hanya rangka dari bambu, cat yang digunakan buat ogoh-ogoh ini juga cat air, tak lagi pakai thiner seperti biasa. Foto: Luh De Suryani
Tak hanya rangka dari bambu, cat yang digunakan buat ogoh-ogoh ini juga cat air, tak lagi pakai thiner seperti biasa. Foto: Luh De Suryani

Dorongan tokoh muda

Marmar Herayukti, arsitek ogoh-ogoh dan tattoo artist di Denpasar berkisah. Tahun lalu,  ada pertemuan tahunan pemuda Denpasar tentang ekonomi kreatif bersama walikota. Dia mengambil inisiatif mencari bahan-bahan ‘aman’ dalam pembuatan ogoh-ogoh.

“Styrofoam sangat berbahaya, belum lagi tradisi gotong royong hilang karena dibuat sedikit orang,” kata pria pemilik Hellmonk Tattoo Studio ini. Sejak tahun lalu, kesadaran ini muncul di Gemeh, banjarnya. Mereka kembali menggunakan rakitan bambu, kertas bekas, dan lain-lain. Untuk cat, dia mengurangi thiner juga berbahaya diganti cat air.

Dari sisi biaya juga lebih hemat. Marmar menghitung,  biasa ogoh-ogoh gabus menghabiskan Rp6-25 juta tergantung ukuran. Dari rakitan bambu, maksimal Rp10 juta.

Gabus untuk ogoh-ogoh tinggi tiga sampai lima meter balok gabus besar, Rp800.000 per balok, biaya gabus Rp4 juta.

Dengan rakitan bambu menghabiskan 20 batang sekitar Rp15.000 per batang, anyaman bedeg 10 ikat Rp30.000 jadi sekitar Rp1 juta.

Pemerintah Denpasar pun, tahun ini melombakan ogoh-ogoh bersyarat khusus tidak menggunakan gabus. I Ketut Sudita, ketua tim seleksi dikutip dari laman Dinas Kebudayaan mengatakan, bobot penilaian seleksi ogoh-ogoh tahun ini berbeda. Peserta sama sekali tidak boleh menggunakan gabus.

Alternatif ulatan bambu, kayu, kertas, guwungan, gedeg, kerangka besi, rambut, dan bahan sejenis ramah lingkungan. Dipilih delapan dari masing-masing kecamatan masuk nominasi dan diberi dana Rp10 juta dipotong pajak.

Dengan menggunakan ulatan bambu secara langsung mengajarkan pemuda bisa mengerjakan sejumlah keperluan ritual di Bali, misal, ngulat (merangkai) klakat, dan sengkui.

Perayaan Tahun baru Saka atau Nyepi, ogoh-ogoh memiliki peranan sebagai simbol atau visualisasi prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta atau alam. Perwujudan Bhutakala ini dalam wujud menyeramkan. Diyakini jika kekuatan alam itu berlebihan akan menjadi kekuatan merusak dan menyeramkan.

Dari sisi sejarah banyak versi. Ada menyebutkan,  ogoh-ogoh terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem. Perkiraan lain muncul dan menyebutkan barong landung merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali).

Tak hanya jelang Nyepi, ogoh-ogoh banyak dipesan hotel sebagai penghias pintu gerbang. Kini,  ogoh-ogoh menjadi industri seni selain seni rupa dan kriya terkenal dari Bali.

Pemerintah Kota Denpasar, tahun ini membuat lomba ogoh-ogoh yang tak menggunakan gabus. Para senimanpun membuat ogoh-ogoh ini dari bambu, kertas bekas dan lain-lain. Foto: Luh De Suryani
Pemerintah Kota Denpasar, tahun ini membuat lomba ogoh-ogoh yang tak menggunakan gabus. Para senimanpun membuat ogoh-ogoh ini dari bambu, kertas bekas dan lain-lain. Foto: Luh De Suryani