Danau Limboto dan Kesaksian Benteng Otanaha (bagian – 1)

Danau Limboto yang terlihat dari benteng Otanaha. Danau telah banyk berubah, menjadi daratan dan pemukiman. Foto: Christopel Paino
Danau Limboto yang terlihat dari benteng Otanaha. Danau telah banyak berubah, menjadi daratan dan pemukiman. Foto: Christopel Paino

Senjata-senjata itu telah lengkap. Pasukan dari Kerajaan Hulondalo siaga di Benteng Otanaha. Sejauh mata memandang, ketegangan terlihat di Danau Limboto. Para pasukan terus mengawasi. Di seberang, tepatnya di Bolihuangga, pasukan dari kerajaan Limutu juga bersiap mengarahkan senjata. Jika perundingan ini gagal, pertumpahan darah lebih besar akan terjadi. Perang yang sudah satu abad lamanya akan berkecamuk kembali.

Kini, harapan ada di dua pembesar kerajaan yang akan mengucap janji di Danau Limboto. Seorang Panglima bernama Popa adalah representasi rakyat dari kerajaan Limutu. Sedang raja dari kerajaan Hulondalo mengutus panglimanya, Eyato, untuk memimpin upaya perdamaian. Mereka naik perahu. Bertemu dalam satu titik. Masing-masing pasukan mengikuti mereka dari belakang.

Di tengah danau, Popa dan Eyato mencabut keris masing-masing. Sembari mengacungkan keris yang di ujungnya telah ditancapkan lemak kerbau, mereka bersumpah. “Siapa yang melanggar sumpah duo limo lo pohalaa, maka dia akan hancur seperti lemak yang di keris ini.”

Sumpah lainnya terus terucap. Sejurus kemudian, mereka bersepakat melempar semua senjata, seperti pedang, tombak, rantai emas, bahkan cincin ke Danau Limboto, sebagai simbol perdamaian.

Nukilan di atas diceritakan oleh budayawan Gorontalo, Alim Niode, kepada Mongabay. Ini merupakan peristiwa penting yang terjadi di abad XVII. Ketika itu, perseteruan terjadi antara dua kerajaan besar, yaitu Hulondalo (Gorontalo) melawan Limutu (Limboto). Untuk mengakhiri pertumpahan darah, kedua kerajaan mengikat sumpah perdamaian di Danau Limboto, yang terkenal dengan nama Uduluwo Limo Lo Pohalaa.

Dalam narasi lainnya, Harto Juwono, sejarawan lulusan Universitas Indonesia, yang menulis naskah “Gorontalo Abad XVII”, mengatakan bahwa dalam perdamaian itu kedua kerajaan mengadakan upacara sakral dengan membawa pusaka kerajaan masing-masing berupa rantai emas.

Kedua ujung rantai itu dipegang raja Hulondalo dan Limboto. Mereka memasukannya ke air untuk direndam, tak lupa, keduanya juga mencuci pedang pusakanya dengan air Danau Limboto. Kedua pihak berjanji untuk berdamai dan hidup berdampingan. Mereka sepakat menyelesaikan segala sengketa dengan jalan musyawarah.

Benteng Otanaha, saksi bisu kerusakan Danau Limboto. Sumber: Wikipedia

“Ketika peristiwa itu terjadi, banyak yang tidak melihat posisi Benteng Otanaha. Semua mata hanya tertuju pada Danau Limboto. Padahal Benteng Otanaha dan Danau Limboto itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya terkait erat,” jelas Alim.

“Kalau saja tidak ada perdamaian di Danau Limboto, perang besar sudah terjadi. Pasukan yang berada di Benteng Otanaha akan perang secara terbuka melawan pasukan yang sudah bersiap di Bolihuangga.”

Bolihuangga kini telah menjadi nama kelurahan di Limboto. Bolihuangga, kata Alim, artinya adalah rumah persenjataan. Pasukan dari kerajaan Limboto siap-siaga di tempat ini.

Lalu, apa pentingnya Benteng Otanaha terhadap Danau Limboto. Bukankah benteng pertahanan biasanya berhadapan dengan laut?

Di lihat dari struktur dan bentuknya, kata Alim, benteng itu dibuat oleh Portugis. Benteng Otanaha sudah ada sebelum perang satu abad antara Kerajaan Hulondalo dan Limutu terjadi. Ketika itu, Spanyol dan Portugis sudah wara-wiri di Gorontalo dan mencoba mempengaruhi raja-raja di Gorontalo dengan tujuan untuk menguasai sumber daya alam.

“Posisi Benteng Otanaha sangat strategis karena memantau aktivitas yang terjadi di danau. Danau ini, melalui Sungai Topodu bisa tembus ke laut Gorontalo. Bahkan, tahun 1900-an, kakek saya yang berasal dari Bone, Sulawesi Selatan naik perahu hingga menyusuri wilayah yang saat ini disebut jembatan jodoh.”

Selain memantau kejadian di danau Limboto, pada masa Raja Panipi, Benteng Otanaha dijadikan  wilayah pertahanan melawan Belanda yang datang dari arah laut di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Namun yang menjadi pasukan pemukul adalah pasukan Bubohu, yang saat ini dikenal sebagai tempat wisata bernama Desa Bubohu Bongo. “Sayangnya, kini Danau Limboto tidak terawat dan dangkal. Daratan nampak jelas, ” papar Alim.

Pemandangan danau dari salah satu sudut Benteng Otanaha. Foto: Christopel Paino
Pemandangan danau dari salah satu sudut Benteng Otanaha. Foto: Christopel Paino

Dangkal

Secara administratif, Danau Limboto berada di wilayah Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi  Provinsi Gorontalo, luas danau Limboto tahun 1932 adalah 8.000 hektar dengan kedalaman 30 meter. Tahun 1970 luasnya menjadi 4.500 hektar dan kedalamannya sekitar 15 meter. Tahun 2003, luas danau hanya sekitar 3.054,8 hektar, dan kedalamannya menyusut menjadi 4 meter.

Penyusutan ini terus berlangsung. Tahun 2010, luas danau 2.537,2 hektar dengan kedalaman 2 sampai 2,5 meter. Tahun 2012, luasan danau tersisa hanya 2.500 hektar dengan kedalaman 1,876 sampai 2,5 meter.

Menurut Alim Niode, perhatian pemerintah ke Danau Limboto sifatnya aksesoris semata. Terlalu banyak kepentingan politis dan pendekatan proyek. Kini, di sekitar danau banyak berdiri permukiman penduduk. Keramba ikan membentuk koloni sendiri, di tengah atau pinggiran danau. Pun eceng gondok yang tumbuh membentuk sebuah pulau. “Namun, Benteng Otanaha tidak banyak berubah. Dari puncak benteng, danau terlihat jelas. Benteng ini saksi bisu kehancuran Danau Limboto.”

Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Hasyim, menilai bahwa manusia telah mempercepat kerusakan Danau Limboto. Kerusakan non-teknis lebih disebabkan oleh kebijakan pengelolaan danau dan sumber daya alam secara umum oleh pemerintah daerah. Meskipun dilakukan pengerukan, namun tidak akan menyelesaikan masalah karena di wilayah hulu, hutannya tidak diperbaiki. “Saat ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo gencar-gencarnya kerja sama dengan perusahaan sawit di wilayah yang merupakan hulu Danau Limboto.”

Direktur Perkumpulan Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), Ahmad Bahsoan, berpendapat sama. Untuk menyelamatkan Danau Limboto yang kritis harus dilakukan pembenahan di hulu. Menurutnya, kalau pemerintah memberikan izin-izin pertambangan atau perkebunan skala besar di daerah hulu, maka itu sama saja bohong karena akan semakin membuat Limboto yang berada di hilir semakin sakit.

Sebagaimana kisah perdamaian Kerajaan Hulondalo dan Limutu, salah satu janji yang diucapkan adalah jangan sampai danau surut. Jika terjadi, dikhawatirkan peperangan akan berkecamuk lagi.

Kondisi Danau Limboto yang terus mengalami pendangkalan. Eceng gondok terus memenuhi danau bersejarah ini. Foto: Christopel Paino