Dari Pekarangan, Hadi Susilo Arifin Tebar Jurus Cinta Lingkungan

Hadi Susilo Arifin di ruang kerjanya yang menghadap ke taman. Tiada sudut ruangan yang tidak dihiasi tanaman. Foto: Rahmadi Rahmad
Hadi Susilo Arifin di ruang kerjanya yang menghadap ke taman. Suasana damai kental terasa. Foto: Rahmadi Rahmad

Kecintaan Hadi Susilo Arifin terhadap tanaman tidak perlu dibantah. Di pekarangan rumahnya seluas 800 meter persegi itu, sekitar 170 jenis tanaman tersusun rapi. Mulai dari rerumputan, perdu, anggrek, pisang hias, hingga pohon berukuran besar seperti kamboja bali, sukun, dan rambutan binjai, tampak berseri. Tiada satu jenis pun yang tidak mendapat sinar mentari.

Bahkan, di rumahnya yang bernuansa rumah tropis dengan satu kamar ala Jepang itu, tidak ada ruangan yang tidak dihiasi tanaman. Pohon merambat maupun yang berada dalam pot, semua memberikan pesona berbeda. Tanpa harus menggunakan alat pendingin ruangan, rumah Hadi sudah adem dengan sendirinya.

“Bila diatur dengan baik, pekarangan tidak hanya memberikan keindahan, namun juga, memenuhi kebutuhan pangan kita mulai dari sayuran hingga bahan pangan seperti ubi atau jagung,” ujar Hadi di kediamannya di Laladon Permai, Bogor, Minggu (19/04/2015).

Setiap pagi, rumah saya pun dikunjungi beragam burung. Ada merbah cerukcuk, cucak kutilang, cinenen jawa, kacamata biasa, burung-madu sriganti, dan perenjak jawa. Burung ini mengambil madu, bunga, buah, hingga serangga atau ulat dari tanaman di pekarangan yang tidak hanya dijadikan sebagai tempat untuk mencari makan, tetapi juga untuk bermain, kawin, dan bersarang.

Bahkan, kala pohon salam di pekarangan belakang rumah berbunga dan berbuah, beberapa ekor tekukur rajin mengunjungi pohon tersebut. Hal menarik lain papar Hadi adalah perpaduan tanaman harendong (Melastoma malabatrichum) dan mangkokan. Biasanya, setelah memakan bunga melastoma yang ungu, burung akan menuju ke daun mangkokan yang menyimpan air karena berpermukaan cekung. “Pemandangan ini sangat indah,” terang Hadi.

Bukan hanya burung yang hidup bahagia di pekarangan penuh cinta itu. Ada juga kupu-kupu, tupai, kadal, nyamuk, musang, hingga ular. Ular, apakah tidak takut? “Tentu tidak.” Selama keseimbangan ekosistem terjaga dan segala tanaman ditata, keharmonisan akan tercipta. “Buktinya, saya baik-baik saja tho,” guraunya.

Sekitar 170 jenis tanaman hidup ceria di pekarangan Hadi. Semua jenis tanaman itu ditanam sesuai peruntukannya tanpa mengabaikan pencahayaan mentari. Foto: Rahmadi Rahmad
Sekitar 170 jenis tanaman hidup ceria di pekarangan Hadi. Semua jenis tanaman itu ditanam sesuai peruntukannya tanpa mengabaikan pencahayaan mentari. Foto: Rahmadi Rahmad

Cinta pekarangan

Kemampuan Hadi dalam menata pekarangan tak usah diragukan lagi. Kompetensinya di bidang ekologi dan manajemen lanskap dan gelar doktor yang diperolehnya dari The Graduate School of Technology and Science, Okayama University Jepang 1994-1998 membuatnya dikenal sebagai profesor pekarangan.

Saat ini, Hadi juga tercatat sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Bersama Nurhayati Arifin, sang istri, Hadi telah mendesain pekarangan rumahnya sejak 1998, setelah keduanya lulus S3 di Jepang.

Menurut lelaki berkacamata ini, semua tumbuhan yang ada di pekarangannya, telah didesain sesuai peruntukkan. Caranya? Secara detil, ia memperhatikan tata ruang pekarangan (depan, samping, belakang) terlebih dahulu sebelum ditanam jenis tumbuhan yang disesuaikan pencahayaan matahari. Untuk jenis bunga yang tidak tahan panas akan ditanam di tempat teduh. Sehingga, penataan pekarangan yang dibangun tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga sisi fungsional.

Berdasarkan penelitiannya selama 22 tahun, penulis buku “Pemeliharaan Taman” ini membagi konsep pekarangan berdasarkan kelompok yaitu struktur (vertikal dan horizontal), ukuran, serta zonasi.

Untuk pekarangan dengan struktur vertikal, menurut Hadi, sebaiknya diisi tanaman strata berlapis: dari yang rendah (rumput dan semak), sedang (perdu dan pohon kecil), hingga yang tinggi (pohon sedang-pohon tinggi seperti rambutan, kelapa, dan petai). Sementara, dari sisi horizontal, keragaman jenis tanaman dilihat dari fungsinya seperti tanaman hias, sayuran, obat, buah, penghasil bumbu, umbi-umbian dan penghasil pati. Termasuk juga, tanaman bahan baku industri maupun tanaman lainnya seperti tanaman peneduh dan penghasil kayu bakar.

Sedangkan pekarangan berdasarkan ukuran dikelompokkan mulai dari pekarangan sempit (120 m2), sedang (400 m2), besar (1.000 m2), dan ekstra luas (lebih dari 1.000 m2). Sementara zonasi, pekarangan dibagi menjadi pekarangan depan, samping, dan belakang.

Saya sempat bertanya pada profesor ramah ini tentang tata guna lahan, terutama cara memaksimalkan potensi pekarangan di komplek perumahan. Karena, keterbatasan lahan, membuat pekarangan di kawasan ini terpinggirkan.

“Tidak masalah,” jawabnya enteng. Banyaknya rumah justru membuat jumlah dan luas total pekarangan bertambah. Kok bisa? Tentu saja, karena pengembangan sistem rumah secara horizontal telah merancang setiap unit rumah yang dibangun memiliki ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai pekarangan. “Jadi, sesempit apapun pekarangan, jumlahnya akan bertambah, sehingga total luasannya juga bertambah.”

Pekarangan sempit dapat didesain secara vertikal yang kita kenal dengan nama vertical gardens atau vertikultur. Artinya, tanaman bisa diletakkan dalam pot gantung (hanging garden), pot berjenjang (cascade garden), dirambatkan pada anyaman kawat/jaring nilon (eco-screen) ataupun di tanam di atas atap (greenroof garden). “Hanya saja, penataan harus rapi agar tidak terlihat padat dan sumpek,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2000, luas pekarangan di Indonesia sekitar 5.132.000 hektar yang 1.736.000 hektar berada di Pulau Jawa. Namun, pada 2010, luasan pekarangan di Indonesia meningkat menjadi 10,3 juta hektar.

Ruangan bernuansa Jepang, tempat nostalgia Hadi saat mengenyam pendidikan. Foto: Rahmadi Rahmad
Ruangan bernuansa Jepang yang disebut “washitsu” tempat nostalgia Hadi saat menempuh pendidikan di Jepang. Foto: Rahmadi Rahmad
Kamar mandi dengan desain udara terbuka dan  dihiasi tanaman pot yang membuat suasana segar terasa. Foto: Rahmadi Rahmad
Kamar mandi dengan desain udara terbuka dan dihiasi tanaman pot yang membuat suasana segar terasa. Foto: Rahmadi Rahmad

Bermanfaat

Dari sudut ekologi, pekarangan merupakan lahan dengan sistem terintegrasi yang memiliki hubungan erat antara manusia sebagai pemilik dengan tanaman, tumbuhan, serta satwa liar, ikan, dan hewan yang diternakkan.

Menurut Hadi, sebagai lahan yang posisinya di sekitar rumah dengan batas dan kepemilikan yang jelas, pekarangan merupakan lahan yang berpotensi untuk kegiatan agroforestri/kombinasi beberapa jenis tanaman pangan semusim. “Selain untuk produksi pertanian juga penting dalam hal konservasi keanekaragaman hayati pertanian.”

Jika agroforestri di pekarangan diberdayakan sebagai usaha pertanian tambahan maka sangat berpeluang untuk meningkatkan ketahanan pangan di masa depan. Sistem ini juga bisa memberikan pendapatan yang baik bagi masyarakat dan berkesinambungan. “Selama ini, bila disebutkan pangan, orientasi kita selalu padi dan padi. Padahal, ubi, jagung, talas, atau sukun merupakan bahan pangan yang bisa ditanam di pekarangan,” ungkapnya.

Pengembangan pekarangan menuju ketahanan pangan ini akan tidak berarti bila hanya dilakukan perorangan. Karena itu, harus dilakukan pada satu kawasan, dalam hal ini kampung, karena keterbatasan ukuran pekarangan masing-masing rumah. “Bila dalam satu kampung, setiap pekarangannya ditanami komoditi unggulan ditambah hasil ladang atau sawah, ditambah dukungan manajemen perdagangan berbentuk koperasi, dipastikan ketahanan pangan akan bisa dilakukan. Ini baru saru kampung, bagaimana bila satu kabupaten, lalu satu provinsi, dan merembet se-Indonesia?”

Konsep ini juga bisa dikombinasikan dengan ternak berupa unggas, kelinci, kambing hingga kerbau atau sapi. Untuk daerah yang airnya melimpah bisa membuat kolam ikan di pekarangannya. “Di sinilah peran pengetahuan masyarakat lokal (local knowledge) diperlukan dalam memberdayakan lingkungannya, termasuk tanaman unggulan setempat yang cocok dibudidayakan. Ilmu ini sedang dikembangkan dan kita berharap akan membawa manfaat besar di masa mendatang,” ujarnya.

Inilah wujud sayang Hadi terhadap lingkungan yang ia mulai dengan “memberdayakan” pekarangan. Bagaimana dengan Anda?

Kolam ikan nila di pekarangan samping makin menambah nuansa alami. Foto: Rahmadi Rahmad
Kolam ikan nila di pekarangan samping makin menambah nuansa alami. Foto: Rahmadi Rahmad
Tidak hanya tanaman, setiap pagi, aneka burung rajin mengunjungi pekarangan rumah Hadi. Foto: Rahmadi Rahmad
Tidak hanya tanaman, setiap pagi, aneka burung rajin mengunjungi pekarangan rumah Hadi. Foto: Rahmadi Rahmad