, ,

Merawat Varietas Lokal, Kembangkan Selaras Alam

Varietas-varietas padi lokal mulai ditinggalkan bahkan sebagian punah. Saghir berusaha menjaga dan merawat mereka jangan sampai terlibas varietas baru, lewat menanam dengan memahami iklim dan lingkungan sekitar.

Saghir Sama memperlihatkan beberapa contoh benih padi. Ia terendam di dalam ember-ember plastik, teronggok di karung. Beberapa menggeletak dan masih menempel di batang. Sambil memamerkan, dia melafalkan beberapa nama, seperti lotong sawerigading, ta’daga sawerigading ataupun nippon sawerigading. Inilah sebagian kecil varietas padi lokal dari Sulawesi Selatan.

Nippon sawerigading, diberi label singkat sebagai nippon gading cukup mengejutkan. Bulir terlihat bulat berisi. “Zaman Jepang (pendudukan Jepang di Indonesia 1942-1945) masyarakat disuruh tanam padi jenis ini, karena besar-besar dan mudah disumpit untuk makan tentara Jepang,” katanya.

Sedang beberapa varietas lokal lain cukup dikenal petani pada masa lalu, seperti padi kamandi, lapang, barri, buri-buri Mereka semua lenyap.

Mengapa jenis padi itu menghilang? “Karena ada varietas padi baru yang diperkenalkan dengan masa tanam singkat,” katanya. “Sementara padi lokal, usia hingga lima bulan. Parah lagi, tidak ada lembaga di Sulsel yang benar-benar konsisten mempertahankan varietas itu.”

Saghir adalah peneliti padi dan mantan Kepala Balai Proteksi Tanaman Sulawesi dan pernah menempuh jalur pendidikan di IRRI Filipina 1982. Di masa pensiunan inilah, dia menjadi petani di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu.

Saghir meneliti padi sejak 1958. Menurut dia, pertanian skala besar di Sulsel mulai 1948. Saat itu, pemerintah mengembangkan padi bengawan dan si gadis.

Padi-padi ini diperkenalkan di Kabupaten Sidrap, ujicoba dan ditanam massal. Menjelang 1970-an, saat revolusi hijau dipelopori IRRI, muncul padi varian baru PB 5 dan PB 8 (saat ini berkembang hingga PB 30).

Sebelumnya, perkembangan pertanian di Sulsel, cukup baik, karena pada 1964, Universitas Hasanuddin membuka Fakultas Pertanian, sebagai persiapan sumber daya manusia. Bersama mahasiswa dan para peneliti padi dari universitas, percobaan-percobaan dilakukan di Sidrap. Hasilnya, ada ratusan varietas ditanam.

Namun, pada 1972, produksi padi Sidrap dan penggunaan pestisida berlebihan memunculkan beberapa hama perusak, seperti virus tungro yang merusak batang padi. Secara lokal, masyarakat mengenal hama tungro sebagai mentek (penyakit yang membuat padi kerdil).

Tahun 1982, beberapa peneliti pertanian termasuk tim IRRI berdatangan ke Sidrap. Segala macam cara dan strategi dilakukan untuk menaklukkan tungro. Muncullah padi Pelita I dan Pelita II. Padi-padi ini, katanya, menggantikan lahan padi IRRI, namun hasil lebih buruk. “Apa yang terjadi, hama wereng menyerang.”

Varietas padi lokal makin tertinggal. Pada masa itu, pemerrintah mengeluarkan pernyataan jika padi lokal tak begitu respon saat pemupukan dan memunculkan banyak hama. Sedang hasil revolusi hijau (IRRI) tahan hama dan respon saat pemupukan. “Itu cerita yang berkembang saat itu,” katanya.

Padi varietas lokal yang dilabeli dengan nama nippon gading. Foto: Eko Rusdianto
Padi varietas lokal yang dilabeli dengan nama nippon gading. Foto: Eko Rusdianto

Ramah lingkungan

Akhirnya, mejelang akhir 1980-an, Saghir dan beberapa peneliti lokal menemukan metode echo technology (konsep teknologi ramah lingkungan). Metode ini mengembalikan kembali kearifan lokal dalam mengenali iklim dan lingkungan sekitar menjelang musim tanam.

Di lahan seluas satu hektar, Saghir membagi-bagi menjadi beberapa petakan. Setiap petakan ditanam jenis padi berbeda dengan petakan lain. “Harus berbeda, supaya hama tidak muncul bersamaan juga.”

Metode echo technology sangat memperhitungkan musim dan iklim tanam tepat. Misal, petani di Kecamatan Bua, memilih memulai musim tanam pada Februari karena menghindari hama tikus yang muncul Januari.

Namun, Februari dan Maret, hama muncul adalah penggerek. Pada musim tanam kedua untuk putaran setahun pada Agustus bebas hama penggerek namun muncul wereng. “Jadi dengan mengetahui iklim dan kemunculan hama-hama ini, kita menanam padi yang tahan penggerek dan tahan wereng. Menghindari hama tikus, karena tak ada padi tahan hama itu,” kata Saghir.

Metode ini pun dapat menghindari pemakaian pestisida. Echo technology sangat membantu petani budidaya tanaman, misal, konsep pertanian organik yang sekarang didengung-dengungkan.

Setiap petani, katanya, harus memahami “kemauan” dan kekurangan dalam unsur tanah tempat bercocok tanam. Jika bermukim di Maros, tanah memerlukan unsur Nitrogen (N). Kabupaten Sidrap tanah memerlukan unsur Nitrogen Pospat (NP). Untuk Luwu memerlukan unsur Nitrogen Kalium (NK).

Dengan mengenal karakteristik lahan, katanya, penggunaan pupuk kandang untuk organik akan makin mudah. “Jika semua orang berorganik dan pemupukan tanpa menambah unsur-unsur yang dibutuhkan, saya kira itu tidak akan lama bertahan,” kata Saghir.

Praktik pemberian pupuk dan nutrisi organik buat tanaman sudah dilakukan di Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba. Di sini, kelompok petani bahkan menargetkan pada 2015 menjadikan kampung itu sebagai kampung alamiah. Penggunaan pupuk dan pestisida tak lagi digunakan. Bagaimana mereka melakukannya?

Abdul Wahid, petani di Desa Salassae mengatakan, tanaman hanya perlu nutrisi. “Kami tak memberikan pupuk kimia pada tanaman. Namun memberi pupuk kompos, dan menyemprotkan nutrisi,” katanya.

Saya mengunjungi Desa Salassae pada Maret 2015. Petani, anak-anak muda, hingga anak-anak sekolah dasar merasa bangga dengan praktik pertanian alamiah mereka.

Abdul menjelaskan, cara menemukan nutrisi untuk tanaman. “Jika padi sudah mulai tumbuh, perlu kalium untuk memperkuat batang. Kami mendapatkan di jantung pisang yang kami permentasi dengan gula merah.”

Pertanian alamiah di Salassae merupakan upaya bersama puluhan petani lain. Mereka mendirikan demplot sebagai tempat belajar bersama dan menghasilkan beragam nutrisi – didapatkan dari ekstrak buah– yang ditempatkan dalam toples. Ada cacahan jantung pisang, batang pisang, buah pisang, daging ikan, pepaya, hingga nanas.

Semua hasil ekstrak itu bewarna coklat karena dicampur gula merah. Aroma setiap ekstrak buah ini cukup ‘menggoda’, beberapa petani sesekali mencicipi dengan menenggelamkan telunjuk ke wadah lalu menjilat.

Petani-petani di Salassae belajar mengelola pertanian alami termasuk mengatur ‘pola makan’ tanaman. Menghitung usia tanaman untuk menentukan kapan memberikan unsur nitrogen, posfor dan kalium. Ekstrak buah ini disemprotkan dengan campuran air tawar. Untuk ukuran tangki 15 liter, penggunaan ekstrak sebanyak tiga sendok makan. Ekstrak buah 20 liter bisa dipakai selama dua tahun.

Hasilnya, pada 2013 di lahan sawah seluas 30 are yang hanya menghasilkan sekitar lima karung padi setiap musim tanam, menjadi delapan karung atau sekitar 800 kilogram. Berat padi pun lebih baik. Satu karung gabah 110 kilogram menghasilkan 90 kilogram beras. Untuk berat gabah sama, dari hasil pertanian kimiawi hanya menghasilkan maksimum 60 kilogram beras. “Secara ekonomi kita untung, mengurangi biaya beli pupuk dan hasil lebih baik,” kata Tahmil, petani lain.

Saghir Sama,   menunjukkan lahan persawahan untuk tempat menanam varietas padi lokal. Lahan sudah diberishkan dan siap tanam. Foto: Eko Rusdianto
Saghir Sama, menunjukkan lahan persawahan untuk tempat menanam varietas padi lokal. Lahan sudah diberishkan dan siap tanam. Foto: Eko Rusdianto
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,