Inilah Para Perempuan yang Kreatif Memanfaatkan Bambu Hasil Hutan

Asmara Murni (50), warga Desa Air Pikat, perajin bambu yang siap membagikan ilmunya bagi warga di desanya. Foto Taufik Wijaya
Asmara Murni (50), warga Desa Air Pikat, perajin bambu yang siap membagikan ilmunya bagi warga di desanya. Foto Taufik Wijaya

Masyarakat yang berada di sekitar Bukit Barisan di Sumatera bagian Selatan, menjadikan perkebunan kopi sebagai sumber ekonomi. Namun, ada potensi lain yang cukup besar, yakni pengelolaan bambu. Selain menjadi tanaman pencegah erosi, baik dalam menampung air, penghasil oksigen, juga dapat dijadikan bahan makanan, kerajinan, dan bahan baku papan.

Bambu diyakini merupakan tanaman yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Termasuk pula di wilayah Bukit Barisan di Sumatera bagian Selatan; meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu dan Lampung. Di wilayah ini terdapat beberapa jenis bambu dari 159 spesies bambu yang ada di Indonesia.

Jejak sejarah bambu ini salah satunya masih terbaca dalam kehidupan masyarakat Rejang Lebong, Bengkulu. Meskipun tidak seimbang dengan keberadaan pohon kopi, di wilayah ini bambu bukan hanya ditemukan di hutan, kebun, juga di halaman rumah warga. Bambu bukan hanya digunakan untuk rakit, angkutan sungai, namun juga dijadikan dinding dan lantai rumah, peralatan rumah tangga, alat musik seruling, namun juga untuk bahan makanan.

“Ini namanya lemaeh (lema). Bahannya dari rebung yang difermentasi bersama ikan,” kata Sri (33), warga Desa Tebat Pulau, sambil menunjukkan lauk makanan di atas piring berwarna kuning kemerahan, dan terlihat patahan tulang ikan.

Lemeah, makanan yang terbuat dari rebung bambu yang difermentasi bersama ikan air tawar bersisik. Antikanker. Foto Taufik Wijaya
Lemaeh, makanan berkhasiat antikanker dari bambu. Foto Taufik Wijaya

Cara membuatnya sederhana. Diambil rebung bambu yang di Rejang Lebong bernama bambu seri—berwarna hijau, berukuran besar, dan berkulit tipis. Rebung ini kemudian dicincang, dicampur ikan air tawar bersisik seperti emas, mujair, sepat. Campuran tersebut diaduk. Selanjutnya adonan tersebut disimpan di dalam sebuah wadah yang dilapisi daun pisang yang menutup rapat. Proses fermentasi selama selama tiga hari.

Saat dimasak, biasanya lemaeh menggunakan bumbu cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, santan kelapa, ikan, talas, sedikit gula dan garam. Saat dimakan, lemaeh dapat dicampur dengan lalapan seperti petai atau jengkol.

“Dulu, para leluhur kami meredamnya di wadah dari tanah liat bernama tajuo. Sekarang menggunakan toples atau ember. Setelah dimasak, lemaeh dapat dijadikan lauk untuk perjalanan, juga dimasukan ke dalam bambu. Tahan selama seminggu,” kata Sri.

Potensi Ekonomi Menjaga Hutan

Ternyata lemaeh yang merupakan makanan khas Rejang diyakini memiliki khasiat antioksidan jenis fitosterol dan antikanker. Rasanya asam, pedas, manis, gurih, serta sensasi aroma khas rebung bambu yang dimasak amat disuka masyarakat Jepang dan sejumlah negara di Eropa.

“Kami mendengar kabar masakan lemaeh sudah dieksport ke Jepang dan Eropa dalam bentuk kaleng,” kata Pramasty Ayu Koesdinar dari AKAR, sebuah lembaga nonpemerintah yang mendamping sejumlah desa di sekitar Hutan Lindung Bukit Daun dalam program hutan kemasyarakatan (Hkm).

Menurut Koesdinar, kedepannya potensi ini sangatlah memungkinkan untuk  dalam mengembangkan ekonomi masyarakat desa yang terlibat program Hkm (Hutan Kemasyarakatan), seperti Desa Barumanis, Desa Tanjung Dalam, Desa Tebat Pulau, Desa Tebat Tenong Dalam, dan Desa Air Lanang, yang memproduksi lemaeh sebagai produk makanan eksport maupun lokal.

“Sebab bahan bakunya masih banyak di sini, seperti bambu dan ikan. Jika kegiatan ini berjalan baik, maka masyarakat akan menjaga tanaman bambu serta menjaga sungai, danau, sebagai penghasil ikan,” kata Koesdinar.

Dijelaskan Koesdinar bambu sangat baik untuk menjaga lahan di sekitar Hutan Lindung Bukit Daun maupun sekitar hutan lainnya. Selain menghasilkan oksigen, bambu mampu menampung air, menahan tanah longsor hingga meredam polusi.

Bambu yang ditumbuh di tepian Sungai Air Pikat, Kecamatan Bermani Ulu, Rejang Lebong. Foto Taufik Wijaya
Bambu yang tumbuh di tepian Sungai Air Pikat, Kecamatan Bermani Ulu, Rejang Lebong. Foto Taufik Wijaya

Selain dijadikan lemaeh, bambu juga banyak digunakan masyarakat Rejang untuk anyaman. Peralatan rumah tangga anyaman tradisional yang terbuat dari bambu diantaranya, beronang (bakul), teleng (tampi), getul (drum), cakik (tempat penyuci ikan dan sayuran), bakul siri, serta badang (tempat bumbu masak).

Sayang tradisi menganyam bambu yang biasanya dilakukan kaum perempuan mulai berkurang. Padahal harga jual hasil anyaman bambu ini lumayan di pasaran lokal, seperti bakul siri yang harganya mencapai Rp150 ribu per buah.

Salah satu perempuan yang memiliki kemampuan menganyam itu Asmara Murni (50), warga Desa Air Pikat. “Saya dapat ilmu menganyam dari ibu saya, dan ibu saya dari nenek saya. Ini tradisi turun-menurun,” jelasnya.

“Saya sedih banyak ibu-ibu di desa ini tidak lagi memiliki kemampuan membuat anyaman. Padahal jika mereka mampu menganyam, mereka tidak lagi membeli, dan mungkin menjualnya ke orang lain seperti saya lakukan selama ini,” katanya.

“Jadi saya langsung bersedia ketika ditawari anak-anak dari AKAR untuk mengajari para ibu untuk menganyam,” ujarnya, sembari tersenyum ke arah Koesdinar.

Erwin Basri, direktur Eksekutif AKAR, membenarkan rencana program pengembangan ekonomi masyarakat berbasis anyaman bambu. “Rencananya kita akan menjual kopi bubuk yang dihasilkan dari perkebunan kopi Hkm dengan kemasan atau bungkus menggunakan anyaman bambu. Pasti menarik,” ujarnya.

“Hasil anyaman lain juga tetap kita dorong. Bukan hanya untuk bungkus bubuk kopi,” kata Erwin.

Selain makanan lemaeh, anyaman bambu, potensi bambu lainnya yakni penjualan ekspor batang bambu. Beberapa negara luar, seperti di Jepang dan Eropa, bambu sudah diolah menjadi bahan baku papan. “Katanya lebih kuat dan berpenampilan menarik,” kata Erwin.

Peran Perempuan dalam Menjaga Hutan Berbasis Budaya

Anne Sophie Gindroz dari Rights and Resources Initiative, mengatakan penjagaan hutan berbasis budaya merupakan kearifan masyarakat di sekitar hutan di dunia, termasuk di Indonesia.

“Pemanfaatan bambu di Rejang maupun daerah lainnya di kawasan Bukit Barisan ini terbukti mampu menjaga hutan, lingkungan, dan membuat masyarakatnya hidup sejahtera atau survive,” katanya. Apalagi, manfaat bambu dapat memberikan peran penting bagi kaum perempuan di dalam rumah tangga.

“Perempuan bukan sebatas pelengkap keluarga. Mereka jelas akan berperan aktif dalam menjaga lingkungan. Nasib hutan bukan semata ditentukan kaum laki-laki. Jika perempuan diberi peran penting di sektor hilir dari hasil hutan atau kebun, kekuatan ekonomi keluarga di desa atau sekitar hutan akan lebih kuat. Konflik pun terhindar,” jelas Anne Sophie.

Jika perempuan didorong membuat sumber ekonomi baru, maka konflik masyarakat dengan pemerintah terhadap hutan akan terhindar atau terkurangi. Sebaliknya jika hanya bertumpu pada kaum lelaki, yang cenderung mengandalkan perkebunan atau pertanian untuk menambah pendapatan, akibatnya perluasan wilayah perkebunan dan pertanian menyebabkan terjadinya perambahan hutan.

“Jika ilmu pengetahuan bersifat adil di dalam rumah tangga, maka keputusan yang diambil pun akan bersifat demokratis dan kaya dengan pengetahuan,” pungkasnya.