Kala Para Musisi Suarakan Kepedulian Penyelamatan Orangutan

Karya seni Rennie Emonk dan Hendry Norman tentang Orangutan terbuat dari barang bekas. Foto: Tommy Apriando
Karya seni Rennie Emonk dan Hendry Norman tentang Orangutan terbuat dari barang bekas. Foto: Tommy Apriando

Ratusan orang memenuhi ruang pertunjukan Liquid Café, Yogyakarta, Selasa (13/10/15). Mereka menunggu band-band seperti Miskin Porno, Broken Roses, Sriplecit, Fstvlst, Down for Life dan Seringai yang ambil bagian dalam pagelaran musik tahunan “Sound for Orangutan” 2015.

Pukul 20.00, band Broken Rose tampil dalam gelaran oleh para relawan Centre for Orangutan Protection (COP) yang tahun ini mengusung tema “Way Back Home” atau “perjalanan pulang.” Sejak pagelaran pertama 2012-2014, selalu Jakarta, tahun ini di Yogyakarta.

“Tujuan konser musik untuk menggalang dukungan masyarakat bagi perlindungan dan penyelamatan orangutan di Indonesia,” kata Shinta Permata, kordinator Sound for Orangutan 2015 kepada Mongabay.

Lewat konser ini, COP bersama musisi-musisi ingin menyerukan dan menyebarkan informasi mengenai perlindungan orangutan dan habitat. Konser ini, tidak hanya pertunjukan musik, namun pengunjung mendapatkan informasi, ikut berdonasi membantu 13 orangutan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo, Kalimantan Timur. Setiap pembelian tiket, masyarakat ikut berdonasi.

“Semua keuntungan konser didonasikan bagi orangutan melalui COP, termasuk melepasliarkan 13 orangutan.”

Arian Seringai geram dengan perusahaan yang telah merusak habitat orangutan. Foto: Tommy Apriando
Arian Seringai geram dengan perusahaan yang telah merusak habitat orangutan. Foto: Tommy Apriando

Dampak kebakaran

Kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, selain berdampak pada manusia, satwa endemik seperti orangutan ikut terkena. Mulai penyakit pernapasan hingga luasan hutan menyusut.

Farid Stevy, vokalis band Fstvlst sedih dan prihatin terhadap bencana kebakaran lahan dan hutan. “Kami mulai ketakutan populasi orangutan makin berkurang hingga punah. Orangutan punya hak hidup, bahkan semua mahkluk lain. Kita sebagai manusia begitu rakus hingga merebut hak hidup mereka. Sangat menyedihkan.”

Arian Arifin, vokalis band Seringai geram atas tindakan korporasi yang merusak hutan sebagai habitat orangutan. Dia mengajak pengunjung konser cerdas mencari tahu nama-nama korporasi pembakar hutan, apa saja produk yang dihasilkan, bila perlu jangan dibeli.

“Jangan pernah beli produk Sinar Mas dan Wilmar,” kata Arian. Lahan dua perusahaan ini disebut-sebut banyak mengalami kebakaran.

Shinta mengatakan, selain kebakaran hutan seperti saat ini juga terjadi berbagai kasus kematian dan perdagangan satwa dilindungi.

Pada 1990, ada 80.000 orangutan Kalimantan. Pada 1995, turun drastis tinggal 12.500 dan 2004 hanya 7.500 orangutan. Sedangkan orangutan Sumatera jumlah diperkirakan hanya 6.500 terbesar di kawasan Leuser. Status kini kritis alias satu langkah menuju kepunahan di alam.

“Ancaman terbesar habitat orangutan adalah alihfungsi lahan untuk perkebunan, terutama sawit, dan pertambangan,” kata Shinta.

 Band Fstvlst ikut berpartisipasi di konser Sound for Orangutan. Foto: Tommy Apriando
Band Fstvlst ikut berpartisipasi di konser Sound for Orangutan. Foto: Tommy Apriando