Seram! Ada “Cacing Setan” di Perut Bumi

Makhluk berwujud “cacing setan” ini berhasil ditemukan beberapa kilometer di perut bumi. Sejauh ini, inilah hewan darat yang ditemukan paling jauh di kedalaman tanah.

Spesies nematoda baru ini disebut Halicephalobus mephisto. Asalnya, dari kata Mephistopheles yang berarti setan, sebagaimana cerita legenda Faustian yang menggambarkan adanya biosfer kaya di kedalaman bumi.

Penampakan kepala "cacing setan" atau yang disebut Halicephalobus mephisto. Foto: Gaetan Borgonie, Universitas Ghent, Belgia

Penampakan kepala “cacing setan” atau yang disebut Halicephalobus mephisto. Foto: Gaetan Borgonie, Universitas Ghent, Belgia

“Cacing setan” ini ditemukan di kedalaman 3,6 kilometer di sebuah pertambangan emas di Afrika Selatan. Sebelumnya, diyakini bahwa nematoda hanya bisa hidup di kedalaman puluhan meter di bawah tanah. Hanya mikroba saja yang mampu hidup di kedalaman itu, yang kemudian diketahui sebagai  makanan “cacing setan” sepanjang 0.5 mm itu.

"Cacing setan" ini ditemukan di kedalaman 3,6 km di perut bumi. Sumber: s-media-cache-ak0.pinimg.com
“Cacing setan” ini ditemukan di kedalaman 3,6 km di perut bumi. Sumber: s-media-cache-ak0.pinimg.com

“Kedengarannya ini seperti penemuan kecil, tapi bagi saya, seperti menemukan ikan paus di Danau Ontario. Makhluk ini jutaan kali lebih besar dari bakteri yang mereka makan. Cacing yang “mengejutkan” di kedalaman yang ekstrim,” kata Tullis Onstott, geomicrobiologist dari Princeton University di New Jersey.

Onstott dan Gaetan Borgonie, nematologist dari  Universitas Ghent, Belgia, pertama kali menemukan H. mephisto di  sebuah tambang emas yang dalam di Afrika Selatan. Namun, waktu itu tim tidak yakin apakah cacing tersebut ikut tergali oleh penambang, atau keluar dari bebatuan.

Di pertambangan emas wilayah Afrika Selatan inilah nematoda jenis baru ini ditemukan. Sumber: i.ytimg.com
Di pertambangan emas wilayah Afrika Selatan inilah nematoda jenis baru ditemukan. Sumber: I.ytimg.com

Untuk mengetahuinya, Borgonie menghabiskan waktu satu tahun, menggali jauh ke dalam tambang guna menyusuri saluran-saluran air kecil. Ia juga mengambil sampel dan menyaringnya untuk mencari nematoda yang tinggal di saluran air tersebut. Borgonie memfilter 31.582 liter air sampai akhirnya ia menemukan cacing tersebut di beberapa sampel bebatuan.

Yang lebih mengejutkan, tim juga menemukan bukti bahwa spesies cacing tersebut telah ada sejak ribuan tahun. Pengujian isotop di air tempat cacing tersebut ditemukan diketahui telah berumur antara 3.000 hingga 12.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan, hewan tersebut telah berevolusi untuk bertahan hidup, menghadapi tekanan alam yang kuat dan panas yang luar biasa di kedalaman.

“Penemuan ini mungkin tidak begitu mengejutkan bagi kalangan nematologists, tapi bagi saya, sangat mencengangkan. “Batas kehidupan multisel kini telah meluas secara signifikan dalam planet kita,” jelas Onstott.

Onstott berharap penemuan “cacing setan” ini akan menginspirasi para peneliti untuk mencari kehidupan yang kompleks di tempat lain di muka Bumi. “Orang-orang biasanya berpikir hanya bakteri saja yang bisa hidup di bawah permukaan planet seperti Mars. Penemuan ini mengatakan sebaliknya,” tukas Onstott.