Kala Lubang Tambang Batubara di Sawahlunto Meledak…

Tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat, kembali makan korban. Pada 25 Januari 2014, lima pekerja tambang dilaporkan tewas di lubang tambang antara Bukit Bual Sijunjung dan Sawahlunto. Kali ini, ledakan kembali terjadi di lubang tambang batu bara milik PT Nusa Alam Lestari (NAL) di Parambahan, Kecamatan Talawi, Sawahlunto, sekitar 97 kilometer arah selatan Padang. Ledakan diikuti kebakaran terjadi Senin (27/6/17) pukul 23.00, menyebabkan lima pekerja dalam lubang tambang luka bakar. Tiga orang kritis hingga dirujuk ke RS M.Djamil Padang.

Tiga korban yang dirujuk ke RSUP M Djamil, masing-masing Firman Dedi (43), Kamundi Halawa (35) dan Siswoko (40). Dua korban lain, April Syaiful (37) dan Adi Tusiman (35) dirawat intensif di RSUD Sawahlunto. Para penambang ini tergabung dalam kelompok pekerja shift kedua perusahaan yang beroperasi sejak 2006 ini.

Seorang saksi mata, Rudinaldi mengatakan, mendengar ledakan cukup keras di lubang H milik NAL. Setelah beberapa menit ledakan, lima pekerja berusaha menyelamatkan diri.”Saat para korban di luar lubang, kami langsung menyiram dengan air, baru dilarikan ke RSUD Sawahlunto,” katanya Selasa (28/6/16).

Pantauan di lokasi, penambangan masih berjalan, namun di lubang H tak ada aktivitas. Lubang dipasang garis polisi. Tak satupun boleh masuk. Dari mulut lubang tambang terlihat asap hitam keabu-abuan masih mengepul.

Seorang tim medis RSUD Sawahlunto, dokter Irwan mengatakan, kelima korban mengalami trauma saluran pernapasan akut. Tiga orang segera dirujuk ke RSUP M Djamil karena mengalami luka bakar cukup serius. Sebelumnya, mereka sudah mendapatkan pertolongan pertama di Sawahlunto.

Selain mengalami trauma pernapasan, lima korban juga luka bakar serius dengan persentase antara 40-60%.

“Pertolongan pertama tim medis, dengan memberikan alat bantu pernapasan berupa instalasi endotrakhea dan infus serta upaya pemindaian keluar masuk cairan,” katanya.

Hal harus diwaspadai dalam penanganan pasien luka bakar, katanya, risiko komplikasi jalan pernapasan. Mereka sudah mengantisipasi dengan evaluasi medis terhadap kondisi pasien sebelum dirujuk. Tim medis juga sudah menyedot kandungan zat karbon pada saluran pernapasan korban.

Pantauan di RSUP M. Djamil, Kaminudin tiba sekitar pukul 04.35, Selasa (28/6/16). Adi dan Siswoko, sekitar pukul 05.20. Adi dan Siswoko mengalami luka bakar bagian kepala, tubuh hingga kaki. Keduanya langsung dibawa ke ruangan Rasusitasi.

Gustavianof, Pejabat Pemberi Informasi RSUP M. Djamil mengatakan, korban ledakan yang dirujuk rata-rata mengalami luka bakar di kepala, wajah dan punggung. Ada juga luka di kaki dan tangan. Diagnosa dokter, mereka mengalami luka bakar dengan persentase tak jauh berbeda. Kaminudin luka bakar 44%, Adi 50% dan Siswoko diagnosa 53% luka bakar.

Dengan persentase seperti itu, kemungkinan korban mengalami trauma inhalasi. Trauma ini terutama karena racun inhalan seperti asap, gas, dan uap.

Penyebab ledakan masih diselidiki

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno saat meninjau lokasi ledakan lubang tambang Selasa (28/6/16) mengatakan, pemda masih menyelidiki penyebab ledakan lubang tambang batubara NAL. “Jika ditemukan unsur kelalaian manusia maka meminta penyidik segera membawa permasalahan ke ranah hukum,” katanya.

Tim pengawas tambang masih investigasi mencari. Untuk penyelidikan, saat ini dilarang aktivitas penambangan di lubang tambang. Tim dengan koordinator Kantor Wilayah Energi dan Sumber Daya Mineral Sumbar, menemukan ada konsentrasi kandungan gas metan cukup tinggi pada lubang. Pemerintah Sumbar juga akan menyelidiki pengelolaan dampak lingkungan pertambangan dan kewajiban lain sesuai regulasi.

Gubernur memastikan, jika ada pelanggaran tata administrasi dan penanganan dampak penambangan, akan memberikan sanksi tegas hingga pencabutan izin.

“Kita memang membutuhkan bahan galian tambang, namun aktivitas penambangan harus memenuhi kaidah-kaidah analisa dampak lingkungan dan keselamatan seluruh unsur yang dipengaruhi seperti para penambang, ekosistem hutan sekitar kawasan tambang serta pengelolaan lahan bekas tambang,” katanya.

Terkait dugaan kelalaian pengelola tambang, Kepala Teknik Tambang (KTT) NAL, M Fauzi menyerahkan sepenuhnya pada tim pengawas tambang.

Dia mengatakan, sebelum lubang tambang meledak tiba-tiba, tim teknik tambang sudah mengecek gas di lubang itu. Hasilnya, semua aman.

“Mereka sempat bekerja sekitar enam jam sejak pukul 17.00-23.00. Sudah proses produksi penambangan, setelah ledakan kelima pekerja masih mampu menyelamatkan diri keluar dari lubang sebelum evakuasi.”

Anggota tim pengawas tambang, Ade Lino, mengatakan, belum bisa menyimpulkan penyebab ledakan karena tim belum bisa masuk ke lubang tambang sedalam 200 meter itu. Kini, masih berisiko, kadar CO sekitar 40.

“Khusus lokasi NAL ledakan baru pertama kali hingga membutuhkan penyelidikan lebih jauh sebelum disimpulkan apakah bencana alam biasa atau ada faktor kelalaian.”

Bertaruh nyawa

Kamirudin, korban tambang ledakan Selasa malam (28/6/16) masih terbaring lemah di RSUP M. Djamil. Ledakan tambang itu membuat sekujur tubuh dan wajah luka bakar serius.

Hembusan nafas terdengar berat melalui slang oksigen yang terpasang. Beberapa slang lain juga terpasang di beberapa bagian tangan yang melepuh dan menggembung akibat jilatan api. Lelaki empat anak itu masih belum bisa membuka mata.

Tak ada satupun anggota keluarga menemani dia di rumah sakit. Warga asli Nias, itu hanya ditemani dua rekan kerjanya. “Saya sudah menghubungi keluarganya di kampung. Mereka tak bisa menemani Kamirudin karena tak punya dana berangkat ke Padang. Keluarga di kampung berharap dia cepat sadar dan sembuh,” ujar rekan kerja korban, Roberti Nduru.

Roberti mengatakan, pekerjaan mereka geluti itu tak bergaji besar. Untuk satu ton batubara, dia mendapat upah Rp70.000. Dalam sehari bisa menambang sekitar 10 ton.

Dalam lubang tambang sedalam200 meter itu, katanya, tak sedikitpun menggunakan pakaian pengaman api. “Kami bekerja hanya menggunakan pakaian seperti biasa, kadang hanya baju dalam.”

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,