Kebakaran Hutan dan Lahan Landa Empat Kabupaten di Sumbar

Kebakaran lahan merembet ke hutan di Lembah Harau, Jorong Limpato, Kecamatan Harau, Rabu (28/9/16). Foto: Vinolia
Kebakaran lahan merembet ke hutan di Lembah Harau, Jorong Limpato, Kecamatan Harau, Rabu (28/9/16). Foto: Vinolia

Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di Sumatera Barat. Dalam sehari, Rabu (28/9/16) kebakaran terjadi di empat titik sekaligus,  tersebar di empat kabupaten, yakni Limapuluh Kota, Sijunjung, Sawahlunto dan Pasaman.

Di Limapuluh Kota, karhutla di Lembah Harau, Jorong Lubuak Limpato, Harau.  Tepatnya,  di hutan tebing layar tempat pengibaran bendera raksasa pada 17 Agustus lalu. Kepulan asap putih membumbung tinggi di puncak bukit sejak Senin sore (26/9/16).

Keterangan warga setempat, api dari rerumputan kering di dasar tebing menjalar keatas hingga menyapu hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan merambat ke perkebunan warga. Hingga Rabu malam (28/9/16) pijaran api terpantau makin meluas.

Petugas BPBD kesulitan memadamkan api karena tebing vertikal cukup tinggi mencapai 300 meter. Titik api baru berkurang Kamis malam (29/9/16).

“Dari lokasi awal sumber api terlihat jalur api di rerumputan selebar satu meter. Tidak sampai hitungan jam, api cepat merambat ke tebing dan membakar semua yang dilaluinya,” kata warga setempat, Andi Gope.

Pemadam kebakaran, katanya, tak bisa berbuat apa-apa selain melihat dari kejauhan karena tebing tak bisa dilalui kendaraan.

“Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menonton karena medan terjal, satu-satunya jalan hanya menunggu hujan turun atau menurunkan tim keatas. Itu sangat berisiko karena kepulan asap masih tebal,” katanya.

Hingga Rabu malam, kebakaran hutan di Lembah Harau, belum bisa dipadamkan. Foto: Vinolia
Hingga Rabu malam, kebakaran hutan di Lembah Harau, belum bisa dipadamkan. Foto: Vinolia

Pemuda yang tergabung dalam Komunitas Merah Putih Lembah Harau ini bilang, sudah melaporkan kejadian ke BKSDA. BKSDA menyatakan tak bisa berbuat apa-apa.

“Saya sudah laporkan ke BKSDA, mereka bilang anggaran tak ada,” katanya.

Nasriyanto Kepala BPBD Limapuluh Kota mengatakan, karhutla Lembah Harau tak bisa dipadamkan, lantaran tak ada akses menuju titik api, air yang disemprotkan dari bawah tak bisa menjangkau tebing.

“Tinggi tebing ratusan meter. Tidak ada jalan ke sana. Kalaupun ada, hanya jalan setapak,” katanya dihubungi Rabu malam (28/9/16).

Dari pantauan kamera pengintai (drone) luas area terbakar hampir dua hektar.

Selain di Lembah Harau, beberapa perbukitan lain di Limapuluh Kota juga terbakar, termasuk rumah warga.

Kapolres Limapuluh Kota AKBP Bagus Suropratomo mengatakan, untuk memadamkan api, petugas membutuhkan helikopter water booming. “Sudah berkoordinasi dengan bupati lapor langsung ke Kapolda.”

Di Sijunjung, kebakaran hebat terjadi di Perbukitan Kupitan, Nagari Padangsibusuk, Sijunjung Rabu (28/9/16). Api dari ilalang dan rumput kering di pinggir jalan merambat ke perbukitan yang merupakan jajaran dari Bukit barisan.

Petugas sempat kewalahan memadamkan api karena lokasi kebakaran terletak di perbukitan dengan kemiringan terjal 50-80 derajat, ditambah lokasi cukup jauh. Segala upaya dilakukan termasuk memadamkan api manual agar tak merambat ke pemukiman penduduk.

Asap mengepul dari kebakaran hutan di Lembah Harau. Foto: Vinolia
Asap mengepul dari kebakaran hutan di Lembah Harau. Foto: Vinolia

Kebakaran baru bisa pada Kamis (29/9/16) siang. Lima armada damkar dari Pemkab Sijunjung dan Pemko Sawahlunto, dibantu aparat TNI dan Polri, serta warga memadamkan api agar tak meluas.

Penyebab pasti kebakaran belum diketahui, tetapi menurut sejumlah saksi, api pertama kali muncul dari pinggir jalan hingga merambat ke Perbukitan Kupitan yang berbatasan langsung dengan Muaro Kalaban, Kota Sawahlunto. Hembusan angin cukup kencang, ditambah cuaca terik, membuat api cepat menyebar luas ke kawasan lain.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sijunjung menyebutkan, setidaknya 16 hektar lebih lahan terdiri dari perkebunan sawit, karet dan hutan habis dilalap si jago merah.

Kepala BPBD Sijunjung, Hardiwan mengatakan, sebelumnya api bisa dikendalikan Selasa malam (27/9/16) namun kembali membesar pada Rabu (28/9/16). “Kemarin kita sudah berupaya memadamkan, hari ini membesar karena tiupan angin cukup kencang,” katanya Rabu (28/9/16).

Hardiwan bilang kesulitan menjangkau lahan terbakar. “Personil kami harus mendaki bukit untuk memadamkan api, pemadaman agak sulit karena tak ada sumber air di lokasi.”

Di Sawahlunto, karhutla menghabiskan sekitar 20 hektar tersebar di hutan Bukik Batuguliang dan Bukik Sijongkang, Desa Ranti, Kecamatan Talawi, dan Bukit Bintan, Desa Muarakalaban, Kecamatan Silungkang. Untuk memadamkan api 100 personil BPBD Sawahlunto dibantu TNI/ Polri turun ke lapangan.

Meldi Hidayah, Sekretaris Badan BPBD Sawahlunto mengatakan, penyebab kebakaran belum diketahui. Titik api dari atas Bukit Batu Giliang, merembet ke Bukit Sijongkang karena angin kencang. Api mulai terlihat pada Selasa (27/9/16) siang.

Kepulan asap dan kobaran api tampak terlihat di Lembah Harau. Foto: Vinolia
Kepulan asap dan kobaran api tampak terlihat di Lembah Harau. Foto: Vinolia

Kebakaran sudah menyebar dekat permukinan warga dan SDN-III Rantih. “Upaya pemadaman focus titik api berdekatan dengan rumah penduduk dan sekolah. Pukul 04.30 api berhasil dipadamkan. Sekitar pukul 11.00, karena angin kencang dan cuaca panas, api kembali menyala,” katanya dihubungi via telepon.

Sedang Kebakaran di kaki Bukit Bintan, Desa Muarakalaban, Kecamatan Silungkang, perbatasan antara Sawahlunto dan Sijunjung, menghanguskan lima hektar. Kebakaran terjadi Selasa (27/9/16) siang. Petugas hanya mampu memadamkan api di lereng bukit. Untuk menghindari api mengarah ke rumah penduduk, satu mobil damkar disiapkan di lokasi beserta anggota.

Kebakaran hutan di Sawahlunto, mulai berdampak pada pengguna kendaraan di jalur lintas barat Sumatera. Kabut asap pekat membuat membuat jarak pandang menjadi terbatas dan membahayakan pengguna kendaraan.

Di Pasaman, puluhan hektar hutan pinus dan kebun karet di Nagari Lubuklayang, Kecamatan Rao Selatan, terbakar sejak tiga hari terakhir. Hingga Rabu dini hari (28/9/16), puluhan masyarakat masih di lokasi kebakaran.

Tim BPBD Pasaman menurunkan satu mobil pemadam kebakaran bersama anggota TNI, dan masyarakat coba memadamkan api sejak, Selasa malam hingga Rabu dini hari. Api belum berhasil dipadamkan.  M. Sayuti Pohan Kepala BPBD Pasaman bilang, terus berusaha memadamkan api.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Logistik BPBD Sumbar R Pagar Negara mengatakan, sebagian besar lokasi karhutla berada di perbukitan terjal, peralatan petugas BPBD dan pemadam tak mamadai buat menghentikan sebaran api.

“Lokasi terjal, selang pendek ditambah lagi sumber air cukup sulit membuat pemadaman jadi terkendala,” katanya dihubungi Kamis (29/9/16).

Menurut dia, karhutla karena adanya pembukaan lahan. Khusus di Lembah Harau, api dari bawah lembah. Api sisa pembersihan lahan perkebunan menyambar lahan di lereng bukit. Ditambah lagi angin bertiup cukup kencang dengan mudah membakar dedaunan kering di lereng bukit.

Dia bilang, satu-satunya cara mengurangi intensitas kebakaran, dengan hujan. “Harapan kita pada hujan, jika hujan deras bisa mengurangi penyebaran api yang membakar dedaunan kering usai kemarau sebelumnya,” ucap Pagar.

Berdasarkan data BPBD Sumbar, sejak empat hari belakangan ada lima kabupaten mengalami karhutla dengan luas 74 hektar. Rinciannya, Limapuluh Kota 28 hektar, Pasaman (30), Sijunjung (16), sedang Sawahlunto dan Pesisir Selatan, belum menyerahkan laporan. “Jika dihitung dari Januari lalu, total lahan terbakar berkisar 300 hektar di beberapa kabupaten.”

Api tampak berkobar di perbatasan Sawahlunto dan Sijujung Rabu sore (28/9/16). Foto: Yansen
Api tampak berkobar di perbatasan Sawahlunto dan Sijujung Rabu sore (28/9/16). Foto: Yansen
Asap mengepul dari Lembah Harau. Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di beberapa kabupaten lain di Sumbar. Foto: Vinolia
Asap mengepul dari Lembah Harau. Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di beberapa kabupaten lain di Sumbar. Foto: Vinolia