Nasib Badak India juga Terancam Sebagaimana Badak di Indonesia. Apa Penyebabnya?

Badak merupakan satwa yang sudah menempati bumi sejak 60 juta tahun lalu. Diperkirakan, diawal kehidupannya, ada sekitar 30 jenis yang hidup. Namun, seiring perjalanan waktu dan evolusi kepunahan, kini yang tersisa di dunia ini hanyalah 5 jenis.

Jenis tersebut hanya ada di Benua Afrika (2 jenis) dan Asia (3 jenis). Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan badak india (Rhinoceros unicornis) yang mewakili Asia. Sementara badak hitam (Diceros bicornis) dan badak putih (Ceratotherium simum) adalah spesies yang masih bertahan di Afrika.

Badak india yang diburu untuk diambil culanya. Di India, badak tersebar di Assam, West Bengal, dan Uttar Pradesh. Foto: Shreya Dasgupta
Badak india yang diburu untuk diambil culanya. Di India, badak tersebar di Assam, West Bengal, dan Uttar Pradesh. Foto: Shreya Dasgupta

Seperti yang kita ketahui, kondisi badak sumatera dan badak jawa yang hidup di Indonesia mengalami keterancaman. Meski hidupnya dilindungi, namun ancaman kepunahan menghantui kehidupan satwa bercula tersebut. Dua jenis ini, berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species Category, statusnya adalah Kritis (Critically Endangered/CR) atau satu langkah menuju kepunahan di alam. Secara umum, penyempitan habitat dan perburuan merupakan musuh utama kehidupan badak di negeri ini.

Bagaimana dengan badak india? Myanmar telah menjelma sebagai rute transit utama penyelundupan cula badak india ini. Sebelumnya, para pemburu gelap menyelundupkan cula-cula badak dari India menuju Tiongkok melalui Nepal. Namun pola ini berubah, setelah Myanmar menjadi rute pilihan. Kondisi ini terungkap sebagagaimana yang dituliskan para pegiat lingkungan dalam laporan yang dikirimkan kepada Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Ini dikarenakan, Pemerintah Nepal secara proaktif menangkap para pemburu ilegal dan penyelundup cula badak, sekaligus menghukum mereka. Pernyataan yang disampaikan oleh Bibhab Talukdar, Ketua IUCN SSC Asian Rhino Specialist Group, kepada Mongabay. “Situasi ini memaksa para penyelundup mengalihkan transitnya ke Myanmar”.

Sebagai contoh, pada Oktober 2013, operasi gabungan tentara Nepal dan polisi khusus, menangkap 14 orang yang diyakini sebagai anggota organisasi penyelundupan lintas batas Nepal – Tibet, termasuk sang pemimpin yang berbasis di Kathmandu. Kelompok ini diduga membunuh lebih dari 12 badak dalam 6 tahun terakhir. Juni 2015, pengadilan Nepal menjatuhkan hukuman 15 tahun kepada Rajkumar Chepang, karena keterlibatannya membunuh 21 badak.

Nepal terus mengintensifkan upaya anti perburuan ini, yang akhirnya mampu melestarikan dan meningkatkan populasi badak di negara tersebut. Nepal kini mempunyai 645 individu badak. Dalam dua tahun terakhir tidak ada catatan mengenai perburuan, hingga September 2016, kabar buruk terdengar saat badak jantan dewasa ditembak mati oleh pemburu.

Badak india yang berada di Kaziranga National Park. Foto: Udayan Dasgupta
Badak india yang berada di Kaziranga National Park. Foto: Udayan Dasgupta

Sebaliknya, populasi badak india terus menurun akibat perburuan. India kini memiliki 3.000 individu badak bercula satu besar. Negara bagian Assam adalah rumah bagi 2.635 badak. Antara 2011 – 2015, pemburu telah membunuh sebanyak 125 individu badak.

Pada 2015, aparat menyita empat cula badak di perbatasan Myanmar – Tiongkok. Aparat juga menyita cula badak di Manipur, India, dekat perbatasan Myanmar. Para peneliti juga mengamati bahwa cula-cula badak, juga dijual di Mong La, di negara bagian Shan (Myanmar), yang kini dipercaya sebagai wilayah penjualan satwa liar ilegal tujuan Tiongkok.

Namun, pergeseran ke Myanmar ini dipercaya hanya, bergantung bagaimana Nepal meneruskan kebijakan kerasnya pada para pemburu dan penyelundup.

“Badak india bisa ditemukan di India dan Nepal, dan pemerintah ke dua negara tersebut berusaha keras mengatasi perdagangan cula badak ini,” kata Talukdar. “Sementara, badak tidak ditemukan di alam liar di Myanmar, dan hingga saat ini pemerintah Myanmar belum menginisiasi kebijakan nyata untuk melacak perdagangan cula badak.”

Langkah-langkah untuk mengintensifkan pemantauan di perbatasan India-Myanmar belum juga terlihat. “Harus ada intervensi dari pemerintah pusat, dan hal ini baru akan terlaksana jika Pemerinah India memperlakukan yang sama antara pemburu dan penyelundup cula, sebagaimana penyelundup narkoba dan senjata,” kata Talukdar. “Perdagangan cula badak berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional, karena beberapa kelompok militan di India timur laut juga diduga terlibat dalam perdagangan cula badak untuk ditukarkan dengan senjata.”

Sumber tulisan:

Shreya Dasgupta. Indian rhino horns being smuggled to China via Myanmar. Mongabay.com