Dari Denmark untuk Hutan Harapan (Bagian 1)

Siti Nurbaya, Menteri LHK dan Casper Klynge, Dubes Denmark, sedang ngobrol di jembatan hutan Harapan. Foto: Yitno S
Siti Nurbaya, Menteri LHK dan Casper Klynge, Dubes Denmark, sedang ngobrol di jembatan hutan Harapan. Foto: Yitno S

Pada Selasa (27/9/16), Duta Besar Denmark, Casper Klynge datang ke Hutan Harapan, Jambi. Hari itu,  dia menandatangani perjanjian dengan Burung Indonesia. Dalam perjanjian itu pemerintah Denmark menggelontorkan hibah Rp40 miliar (US$3 juta) untuk restorasi ekosistem. Ini kali ketiga pemerintah Denmark memberikan bantuan buat restorasi hutan Harapan, yang dikelola PT Restorasi Ekosistem (Reki) setelah 2011 dan 2014. Total dana Rp160 miliar.

Dana ini untuk memperkuat pengelolaan Hutan Harapan, yang merupakan hutan restorasi tertua di Indonesia. Restorasi Ekosistem Konsesi (ERC) didirikan pada 2008

“Saya senang bisa hadir di sini menandatangi perjanjian lanjutan. Ini akan memberi harapan bagi masyarakat. Kalau anda lihat lokasi ini (hutan asri), ini alasan kami memberikan bantuan,” katanya.

Klynge mengatakan, dana Rp40 miliar ini sangat penting untuk menjaga hutan sebagai paru-paru dunia.

Apalagi,  katanya, Indonesia negara pengemisi karbon lima besar dunia. “Dengan upaya ini kita berharap bisa mengurangi emisi, sesuai komitmen Pak Jokowi (Presiden-red) ketika pertemuan di Paris,” katanya.

Dia berharap, pemerintah pusat dan daerah terjun menjaga hutan harapan dari perambahan. Tahun lalu, Hutan Harapan kehilangan seperlima bagian hutan atau 22% karena dirambah masyarakat pendatang. “Kami harapkan itu tak terjadi kembali.”

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya juga hadir dalam kunjungan ini. Dia mengatakan, perambahan dan kebakaran hutan menjadi permasalahan yang harus segera ditangani  di konsesi Hutan Harapan.

Meski demikian, Siti, menilai, restorasi ini terbilang sukses dalam pelestarian hutan dan perlindungan masyarakat adat.

“Saya yakin, pemegang konsesi lain dapat belajar dari cara pengelolaan hutan bekerja sama dengan masyarakat untuk menghindari kebakaran dan melestarikan Hutan Harapan,” katanya.

Hutan Harapan, katanya, seluas 98.555  hektar bisa membantu Indonesia mengurangi emisi, karena menyimpan 10 juta ton karbon.

Konsep restorasi,  katanya, memperbaiki hutan-hutan produksi yang dianggap rusak. Saat ini, ada 15 areal restorasi mencapai 573.000 hektar. Dia memperkirakan, akan ada 1,65 juta hektar hutan untuk RE pada 2019.

Ketua Dewan Burung Indonesia, Ani Mardiastuti mengatakan kemungkinan dana hibah Dermark ini yang terakhir. Mereka akan menggunakan sebaik-baiknya.

“Kemarin Pak Dubes, bisik-bisk pada saya. Maaf ya ini yang terakhir. Kami tak lagi bisa kasih. Jadi siap-siaplah, oke. Kami juga bisa pahamlah, nanti orang lain mungkin gak dapat jatah kalau diambil semua oleh kami,” katanya.

Emil Salim, Senior Programe Officer-Environment, Energy, and Climate, Kedutaan Denmark mengatakan, Pemerintah Denmark tak lagi bisa memberikan donor untuk Burung Indonesia karena program Development Denmark berakhir 2018.

“Indonesia sekarang sudah maju. Jadi dana hibah akan diarahkan ke negara-negara yang lebih membutuhkan, seperti Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan.”

 Casper Klynge, Dubes Denmark, usai penandatanganan hibah. Foto: Hutan Harapan
Casper Klynge, Dubes Denmark, usai penandatanganan hibah. Foto: Hutan Harapan

Rumah Rangkong

Rangkong (Hornbill/Bucerotidae), burung yang memiliki penampilan menarik. Tubuh besar, berwarna-warni. Rangkong memiliki peranan penting dalam proses regenerasi hutan, namun variasi dan jumlah makanan tersedia di alam dan ancaman perburuan akan mengancam kelestarian rangkong.

Sumatera, pulau habitat terbesar rangkong.  Dari sembilan rangkong di Sumatera, delapan ada di Hutan Harapan, konsesi PT Restorasi Ekosistem (Reki).

Reki mencatat, ada delapan jenis rangkong mendiami Harapan Rainforest yaitu enggang klihingan (Anorrhinus galeritus/bushy-crested hornbill), enggang jambul (Aceros comatus/Berenicornis comatus/white-crowned hornbill).

Kemudian julang jambul-hitam (Aceros corrugatus/Rhabdotorrhinus corrugatus/wrinkled hornbill), julang emas (Aceros undulates/Rhyticeros undulates/wreathed hornbill), dan kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus/Asian black hornbill).

Lalu, kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris/oriental pied hornbill), rangkong badak (Buceros rhinoceros/rhinoceros hornbill), serta rangkong gading (Buceros vigil/Rhinoplax vigil/helmeted hornbill).

Zelvin, staf Riset Reki menyebutkan, dari sembilan jenis itu hanya rangkong papan (Buceros bicornis) tak ada di Hutan Harapan. ”Semua rangkong ini tersebar di Hutan Harapan, hanya rangkong papan tak ada.”

Meskipun rangkong menjadi ikon hutan tropis Asia, hanya sebagian kecil menyadari peran penting satwa ini dalam penyebaran biji tumbuhan tropis.

“Rangkong memiliki peran sangat penting dalam menjaga hutan tropis sehat dan beragam. Rangkong umumnya frugivorous (pemakan buah). Buah beringin yang berbuah sepanjang tahun di hutan tropis adalah pakan penting bagi rangkong. Biasa Orang Jambi menyebut arau, beringin, berkum, atau sejenisnya,” katanya.

Kondisi pakan di Hutan Harapan, sejauh ini cukup berlimpah. Banyak sumber pakan rangkong. Selain buah-buahan, rangkong juga memakan invertebrata dan vertebrata kecil.

Untuk memenuhi kebutuhan saat perkembangbiakan, invertebrata dan vertebrata dikonsumsi sebagai pakan pengganti saat ketersediaan buah menipis.

Dengan postur tubuh cukup besar, katanya, memungkinkan rangkong terbang dalam jarak jauh. Rangkong juga memiliki kapasitas perut cukup besar, hingga mampu memencarkan biji-biji dari tanaman merata ke seluruh hutan.

“Populasi rangkong di Sumatera cenderung menurun dari tahun ke tahun karena perburuan dan perubahan habitat. Rangkong masih tersisa terutama di hutan-hutan relatif masih bagus, seperti di Hutan Harapan perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan.”

Upaya pelestarian rangkong di Hutan Harapan, katanya, dengan monitoring rutin. Khusus rangkong, sampai pemberian sarang rangkong buatan.

“Kita patroli setiap hari, monitoring khusus rangkong lakukan satu kali setiap bulan. Tim riset ada delapan orang, masing-masing terbagi tiga tim yaitu flora, fauna serta abiotik dan lingkungan,” katanya.

Untuk pembuatan sarang rangkong, katanya, mengadopsi dari salah satu Taman Nasional di Singapura, belum berhasil. Bersambung

Penanaman pohon di Hutan Harapan. Foto: Hutan Harapan
Penanaman pohon di Hutan Harapan. Foto: Hutan Harapan