Mengenal Anggrek Unik Endemik Merapi

anggrek6-vanda-tricolor-yang-sedang-mekar Vanda suavis atau vanda tricolor, pemenang kontes anggrek di Sleman. Foto: Nuswantoro

Sebanyak 25 tanaman anggrek jenis vanda suavis ikut kontes dalam festival anggrek Sabtu dan Minggu, (10-11/10/16) di Sleman, Yogyakarta. Anggrek-anggrek itu berusia lima hingga 15 tahun, dari tinggi 30 sampai dua meter.

Bunga vanda suavis atau vanda tricolor, berbentuk seperti laba-laba, dengan tiga warna dominan dalam satu kelopak yaitu putih, trotol merah kecoklatan, dan ungu. Dari puluhan jenis anggrek temuan di Merapi, vanda suavis dianggap berbunga paling indah. Inilah ratu anggrek dari Lereng Gunung Merapi. Sayangnya, kelestarian terancam.

“Dari sekitar 70 spesies anggrek Merapi sebelum 2010, tinggal, termasuk vanda tricolor ini,” kata Kadarso, ketua panitia festival.

Festival yang baru dua kali ini bertujuan mengajak masyarakat mencintai anggrek vanda tricolor yang makin langka, mendekati punah, terutama di Lereng Merapi.

“Diharapkan masyarakat makin banyak ikut menanam, memelihara, dan melestarikan. Lalu mengembalikan ke habitat hingga banyak dijumpai lagi di Gunung Merapi,” katanya.

Selain kontes anggrek, dalam festival juga demo merangkai bunga oleh Hervia Sandra Budi, penyerahan bibit anggrek ke masyarakat, pelatihan budidaya anggrek, dan lomba fotografi.

 Vanda suavis atau vanda tricolor, pemenang kontes anggrek di Sleman. Foto: Nuswantoro
Vanda suavis atau vanda tricolor, pemenang kontes. Foto: Nuswantoro

 

 Kenalkan anggrek

Festival ini berawal dari keprihatinan Sri Suprih Lestariati Bangun Andarini, pada 2015 soal minimnya pengetahuan terhadap vanda tricolor.

Pemilik Titi Orchids ini mengajak rekannya, Endang Semiarti menyelenggarakan festival anggrek.    Saat itu,  tim harus bekerja keras mengumpulkan dan mengajak pecinta anggrek ikut. Ternyata tak banyak tahu tentang vanda tricolor.

“Bahkan yang menanam pun tak tahu jenis anggrek yang ditanam. Kita survei ke mana-mana, yang punya vanda tricolor diajak ikut. Kita juga membantu mengangkut anggrek ke festival,” kata Titi.

Titi sudah lama mengenal anggrek ini, bahkan pada 2006, mengusulkan sebagai icon Yogyakarta.

“Ada beberapa kota ingin jadikan anggrek ini icon, seperti Klaten, Boyolali, dan Magelang.”

Dia berharap, dukungan pemerintah mendorong petani menanam dan mencintai vanda tricolor. Setelah jumlah cukup bisa mengembalikan ke alam bahkan ekspor. “Di luar negeri harga sampai US$75,” katanya.

Anggrek Merapi ini unik. Harum pada jam-jam tertentu dan tahan panas. Foto: Nuswantoro
Anggrek Merapi ini unik. Harum pada jam-jam tertentu dan tahan panas. Foto: Nuswantoro

Penelitian genetik

Endang Semiarti, juga Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Yogyakarta dan dosen di Fakultas Biologi UGM mengatakan Fakultas Biologi sudah menglokasi anggrek ini sejak 1987.

Dia mengatakan, anggrek ini punya kelebihan, bisa eksis meskipun merapi marah luar biasa. Di Merapi,  katanya, ada dua tumbuhan tahan panas, yakni, vanda tricolor dan dendrobium mutabile.

“Sudah kita teliti dan dipublikasikan. Orang-orang asing sudah melirik. Mereka bertanya, boleh tidak gen dibagi ke mereka. Gen itu bisa dimasukkan ke tanaman pangan, ujung-ujungnya kita disuruh membeli. Kita nggak mau seperti itu,” katanya.

Dalam penelitian bersama Rozikin, Endang yang lebih suka menyebut vanda tricolor sebagai anggrek Merapi ini, menemukan ada heat shock protein (HSP) hingga tahan panas.

“Setelah erupsi hebat 2010, kita menemukan ada anggrek Merapi masih hidup.”

Dia berharap, festival bisa mengenalkan anggrek istimewa ini ke masyarakat, dan menjadi icon Yogyakarta.

“Setelah dikenal, biasa ada dampak buruk. Anggrek lalu diambili dari habitat asli. Biasa kita kesulitan mencari lagi. PAI bersama masyarakat berusaha konservasi.”

Budi Setiardi Daryono, Dekan Fakultas Biologi, UGM mengisahkan keberhasilan Taiwan, Hongkong, dan Singapura yang memiliki taman anggrek terbaik di dunia. Padahal, hampir semua anggrek dari Indonesia.

“Indonesia memiliki 5.000 spesies anggrek. Negara lain tak sekaya kita. Mereka pintar menata, mengelola, hingga wisatawan terkesan. Ini tantangan. Di Yogyakarta ada satu spesies anggrek hanya ada di sini, vanda tricolor. Riset sudah kami dukung, baik molekuler maupun bioteknologi.”

Vanda tricolor bisa hidup di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (DPL). Budidaya cukup mudah, hanya perlu ketelatenan. Pada usia dua tahun,  tinggi pohon sekitar 15 sentimeter, dan terus meninggi hingga beberapa meter.

“Anggrek merapi harum, namun hanya bisa tercium pada pukul 7.00-9.00 pagi,” kata Endang.

Vanda tricolor dinilai bagus jika seluruh daun terlihat segar, ujung akar berkembang, dan bunga indah. Dalam satu pohon,  bisa belasan tangkai bunga, umumnya muncul pada Oktober-September. Meski begitu,  anggrek ini bisa berbunga sewaktu-waktu.

Endang Semiarti (kiri), Sri Suprih Lestariati dan Bangun Andarini (tengah), serta Sri Muslimatun, Wakil Bupati Sleman (kanan). Foto: Nuswantoro
Endang Semiarti (kiri), Sri Suprih Lestariati (tengah), serta Sri Muslimatun, Wakil Bupati Sleman (kanan). Foto: Nuswantoro
Anggrek Merapi kuncup. Foto: Nuswantoro
Anggrek Merapi kuncup. Foto: Nuswantoro