Banjir di Kota Bandung, Akibat Buruknya Drainase

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memprediksikan akan terjadi hujan lebat antara 23 – 25 Oktober 2016. Dari kondisi atmosfir terkini, dilaporkan terdapat indikasi munculnya potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di beberapa wilayah di Indonesia.

Salah satu kota yang terkena dampak hujan lebat adalah Kota Bandung.  Hujan berintensitas tinggi mengguyur dan menggenangi jalan – jalan utama kota Kembang tersebut,  Senin, 24 Oktober 2016.

“Kawasan Pasteur yang paling parah terkena dampaknya,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers, Senin, 24 Oktober 2016.

Warga mengabadikan mobil yang terseret banjir akibat hujan deras, di Jalan Pagarsih, Kota Bandung, Senin (24/10/2015). Selain cuaca buruk, diperparah dengan kondisi drainase yang tidak bisa menampung limpasan air yang mengalir. foto : BNPB
Warga mengabadikan mobil yang terseret banjir akibat hujan deras, di Jalan Pagarsih, Kota Bandung, Senin (24/10/2015). Selain cuaca buruk, diperparah dengan kondisi drainase yang tidak bisa menampung limpasan air yang mengalir. foto : BNPB

Sutopo mencontohkan, keadaan banjir saat itu seperti diterjang tsunami kecil yang tumpah di jalan. Air merendam jalan utama setinggi 160 sentimeter sehingga tampak seperti sungai. Banjir tersebut merendam kendaraan yang melintas di Jalan Pasteur. Kawasan parkir mal Bandung Trade Center, yang berada di Jalan Pasteur, juga terendam. Beberapa mobil di jalanan bahkan terseret banjir.

Selain Pasteur, banjir merendam Jalan Pagarsih dengan ketinggian air hingga 150 sentimeter serta Jalan Nurtanio setinggi 120 sentimeter. Sutopo mengatakan banjir mengalir cepat dan semua drainase perkotaan meluap. “Saluran drainase perkotaan tidak mampu mengalirkan aliran permukaan sehingga terjadi banjir,” tuturnya.

Berdasarkan laporan awal Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, banjir menyebabkan ratusan rumah terendam. Beberapa rumah rusak akibat tergerus banjir di bantaran Kali Cilimus. Banjir juga menjebol pagar Sekolah Menengah Atas  Negeri (SMAN) 9 Bandung sehingga ruang kelas dan ruang guru terendam dengan ketinggian air sekitar 90 sentimeter.

Pemerintah Bandung hingga saat ini belum membentuk BPBD. Pendataan terkait dengan bencana itu dilakukan BPBD Jabar bersama unsur lainnya, seperti TNI, Polri, Tagana, satuan kerja perangkat daerah, dan relawan.

Menurut Sutopo, saat ini sebagian banjir telah surut. Kondisi topografi yang miring menyebabkan banjir cepat surut. “Masyarakat mulai membersihkan rumah dari lumpur,” katanya.

BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan longsor. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi curah hujan akan terus meningkat. Fenomena intensitas La Nina lemah diprediksi akan meluruh pada Desember 2016.

Hujan deras yang mengguyur Kota Bandung sejak Senin 24 Oktober 2016 pagi membuat sejumlah ruas jalan digenangi banjir. Banjir di Jalan Pasteur, Kota Bandung, Senin siang melebihi 60 sentimeter. Akibatnya, sejumlah kendaraan memilih berhenti untuk menunggu banjir reda. Namun, beberapa mobil tetap memaksakan diri melewati genangan banjir. Foto : BNPB
Hujan deras yang mengguyur Kota Bandung sejak Senin 24 Oktober 2016 pagi membuat sejumlah ruas jalan digenangi banjir. Banjir di Jalan Pasteur, Kota Bandung, Senin siang melebihi 60 sentimeter. Akibatnya, sejumlah kendaraan memilih berhenti untuk menunggu banjir reda. Namun, beberapa mobil tetap memaksakan diri melewati genangan banjir. Foto : BNPB

Sedangkan Dipole Mode masih menguat sehingga curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan meningkat. Peristiwa hujan ekstrem diprediksi akan meningkat sehingga potensi banjir, longsor, dan puting beliung bakal meningkat.

Tidak Ada Masterplan

Sementara itu, Pakar Tata Kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Denny Zulkaidi menilai masih banyaknya pekerjaan yang mesti diselesaikan Pemerintah Kota Bandung, terutama masalah banjir kala hujan datang. Salah satu persoalannya adalah sistem drainase yang masih buruk. Indikatornya, bisa dilihat mulai dari banyak atau tidaknya titik genangan, luas genangan, tinggi genangan dan lamanya genangan.

Dia mengungkapkan, bila melihat perkembangan pembangunan yang makin besar, limpasan air dihasilkan pun demikian besar. Drainase yang dirancang dulu, mungkin kian mengecil, karena adanya sedimen tanah, sampah dan faktor lain. Sehingga resapan ke lintasan drainase makin besar karena build up (pembangunan kota) areanya juga makin besar.

Ditambah lagi, belum adanya pembaharuan rancangan masterplan drainase untuk kota Bandung. “Kalau tidak salah, adanya masterplan drainase pas Bandung Urban Development Project (BUDP) di awal tahun 1980-an, ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Tetapi, sampai saat ini saya belum melihat ada lagi masterplan drainase yang baru,” katanya.

Dia mengatakan, sejauh ini perkembangan Kota Bandung dilihat dari presentase Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan ruang terbangun sangat tidak seimbang, masih jauh dari standar minimum yang ditetapkan UU Penataan Ruang No 26 Tahun 2007, yakni sekitar 20%.

Kota Bandung sendiri memiliki luas sekitar 16.729 hektar. Itu artinya, wilayah seluas 160 hektar harus berfungsi sebagai RTH dan tidak boleh dijamah oleh pembangunan. Menurutnya, angka RTH kota Bandung masih belum akurat, namun berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Pemakaman (Distamkam) Kota Bandung, dari hasil perhitungan sesusai dengan yang dikelolanya baru sekitar 6%-11%.

Seharusnya, Pemerintah Kota Bandung harus segera merealisasikan penyediaan 20% wilayah untuk RTH sekaligus menentukan kawasan – kawasan yang diproyeksikan sebagai RTH.

Dia mencontohkan, jika pemerintah Kota Bandung berencana menargetkan menambah ruang terbuka hijau secara berkala sebesar 0.5% di tiap tahunnya. Untuk menambah angka 7.5% diperlukan waktu selama 15 tahun sampai 2031, kiranya pemerintah harus membebaskan lahan sekitar 80 hektar per tahun.

“Kalau misalkan harga tanah per meter (sekarang) Rp1 juta, berarti harus menyiapkan sedikitnya Rp. 800 milyar pertahun hanya untuk pembebasan tanah, belum bikin infrastruktur. Untuk merealisasikan itu, tergantung pada kemampuan APBD yang harus pula disiapkan untuk pembebasan tanah,” terangnya.

Sejumlah burung kuntul (Bubulcus ibis) dan blekok (Ardeola speciosa) terbang dan bertengger di rimbunya pohon bambu di kampung Ranca Bayawak, Cisarinten Kidul, Gedebage, Kota Bandung, Jabar, Rabu (13/04/2016). Habitat burung itu terganggu oleh rencana pembangunan pembangunan dan alih fungsi lahan di kawasan tersebut, seperti rencana kawasan Bandung Teknopolis. Foto : Donny Iqbal
Sejumlah burung kuntul (Bubulcus ibis) dan blekok (Ardeola speciosa) terbang dan bertengger di rimbunya pohon bambu di kampung Ranca Bayawak, Cisarinten Kidul, Gedebage, Kota Bandung, Jabar, Rabu (13/04/2016). Habitat burung itu terganggu oleh rencana pembangunan pembangunan dan alih fungsi lahan di kawasan tersebut, seperti rencana kawasan Bandung Teknopolis. Foto : Donny Iqbal

Dia menyebutkan, kebijakan pemerintah Kota Bandung dalam membangun dan merevitalisasi sejumlah taman, jika dilihat dari aspek RTH, taman yang ada di Kota Bandung lebih banyak perkerasannya daripada hijaunya.

“Lihat di taman, apakah lebih banyak yang hijau atau yang keras (yang tidak bisa meresap air)?.  Tiap taman, misalnya dari satu hektar, mungkin cuman 2000 meter2 yang hijaunya, sisanya diperkeras. Makanya, saya lebih suka menyebut taman yang ada saat ini adalah ruang terbuka publik, bukan ruang terbuka hijau. Karena lebih banyak kerasnya, ketimbang hijaunya,” jelas Denny.

Dia mengatakan, sejauh ini kebijakan pembangunan taman oleh pemerintah belum dikategorikan sebagai penambah RTH, tetapi hanya menambah Ruang Terbuka Non Hijau. Dia melanjutkan, pentingnya RTH tidak hanya bagus untuk ekologi tetapi juga dapat memperbaiki iklim mikro menjadi lebih sejuk.

Merancang Masterplan

Denny menerangkan, bila dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berapa persen diperuntukan untuk membangun. Itulah yang dipakai bahan hitungan untuk mengukur lebar drainase setiap ruas jalan yang diperlukan sampai masuk ke tanah. Atau bisa juga digunakan menghitung jumlah sumur resapan, biopori dan RTH untuk meresapkan air yang tidak masuk ke tanah.

Jadi, bukan hanya pencegahan melalui pendekatan secara struktural menciptakan drainase yang besar-besar itu, tetapi juga bisa dilakukan secara ekologi, artinya menyiapkan RTH yang punya resapan siginifikan untuk mengurangi limpasan ke drainasenya.”RTH diperluas, sumur resapan diperbanyak. Supaya air yang masuk ke drainase, sebetulnya bisa diminimalisir,” papar Denny.

Denny menyarankan, dalam jangka waktu dekat ini, pemerintah kota Bandung agar mendesain ulang masterplan drainase secara lengkap. Yang bisa diperuntukkan untuk kondisi saat ini atau kalau bisa, dirancang sebagai antisipasi untuk masa depan.

Minta Maaf

Sementara itu, melalui akun facebooknya, Walikota Bandung meminta maaf kepada masyarakat terkait banjir tersebut.

“Kami Mohon maaf dengan banjir pasteur/pagarsih yang terjadi. Tim DBMP juga sdh selalu standby di lokasi utk penyurutan. Sehingga siang tadi surut dalam 2 jam,” kata Ridwan dalam akun facebook yang diposting Senin malam.

“Kami juga sebenarnya sudah dan terus berupaya mengurangi banjir dgn memperbesar gorong-gorong (foto terlampir) dari tahun lalu, namun ternyata belum memadai,” lanjutnya

gorong-pagarsih-bandung

“Rencana ke depan, sistem tol air akan di pasang di Pasteur/Pagarsih seperti halnya yang dipasang di Gede Bage yang biasanya banjir, siang tadi tidak banjir. Kami akan terus berupaya. Hatur Nuhun,” tambahnya.

Korban Meninggal

Berdasarkan data yang diterima Mongabay, Banjir juga menyebabkan Ade Sudrajat (30) karyawan mini market meninggal dunia . Diduga korban terbawa arus ketika berupaya menolong sepupuhnya, namun nahas korban terpeleset masuk selokan dan terbawa arus. Jenzah korban telah diketemukan di depan SMPN 15 Bandung dan sudah diserahkan ke pihak keluarga.