Komunitas Malu Dong dan Perilaku Nyampah

Tak sulit menemukan spanduk untuk memperingatkan orang yang gemar nyampah di Kota Denpasar, Bali. Kalimatnya ada yang sopan sampai umpatan. Misalnya, Yang Buang Sampah Sembarangan Anjing.

Pemerintah Kota Denpasar juga kerap menyidangkan pelaku nyampah sembarangan ini di balai banjar. Ada petugas yang kerap mengintai lalu “tangkap tangan” pelaku dengan mencatat identitas dan meminta datang ke sidang tindak pidana ringan (tipiring).

Ada juga kebijakan terbaru larangan mengeluarkan sampah di pinggir jalan raya. Desa sudah diminta membentuk armada pengangkut sampah dari rumah ke rumah agar sampah tak menggunung di jalanan. Namun ini belum menyeluruh.

Relawan komunitas Malu Dong Buang Sampah Sembarangan rutin menyusuri pantai Mertasari Sanur untuk memungut sampah Foto: Luh De Suriyani
Relawan komunitas Malu Dong Buang Sampah Sembarangan rutin menyusuri pantai Mertasari Sanur untuk memungut sampah Foto: Luh De Suriyani

Bank sampah juga makin banyak dibentuk agar warga merasakan manfaat memilah sampah. Tapi perilaku nyampah juga tak mudah hilang. Masih mudah ditemukan tebaran sampah plastik di pinggir sungai, tebing, bahkan di titik-titik persembahyangan. Misalnya saat ritual melasti atau penyucian alam di pinggir pantai. Warga duduk berkumpul untuk bersembahyang, setelah itu meninggalkan sampah organik dan anorganik begitu saja.

Bagaimana mengintervensi perilaku nyampah ini sampai sanubari? Sebuah komunitas menemukan strateginya. Sederhana, tapi cukup mengena.

Pada sebuah event seni untuk perubahan sosial, Mabesikan Festival pada 22 Oktober 2016, Nyoman Sudiarta atau yang kerap dipanggil om Bemo beraksi. Bersama ibu Josi dan anaknya, ketiganya mengambil peralatan “perang” yakni jepitan bambu untuk memungut sampah, kantong sampah, dan selop tangan.

Mereka menyelip di sela-sela ratusan orang yang sedang menikmati konser musik dan tempat makan. Walau sudah diworo-woro oleh pembawa acara berkali-kali dari panggung tetap saja masih ada sampah seperti gelas air, punting rokok, dan plastik makanan di beberapa sudut.

Ketiganya dengan percaya diri mengecek tiap petak, termasuk taman-taman kecil di bawah pohon dan kaki-kaki orang untuk memulung sampah anorganik. Sejak pagi hingga acara berakhir, puluhan relawan komunitas Malu Dong Buang Sampah Sembarangan ini bergantian memulung. Mereka mengenakan kaos aneka warna dengan gambar menyolok, emoticon figur sedih karena perilaku nyampah. Teksnya singkat: Malu Dong.

Stan komunitas Malu Dong ini selalu menarik perhatian dengan bendera dan signage warna warni sebagai pusat informasi, koordinasi dan memobilisasi relawan. Foto: Luh De Suriyani
Stan komunitas Malu Dong ini selalu menarik perhatian dengan bendera dan signage warna warni sebagai pusat informasi, koordinasi dan memobilisasi relawan. Foto: Luh De Suriyani

Komunitas ini juga meminta ruang, sebuah stan untuk edukasi dan informasi tentang gerakan ini. Di sini para relawan berkumpul, mendapat alat “perang” melawan perilaku nyampah tadi dan berkoordinasi.

Di stan juga dijual aneka merchandise seperti kaos, tas belanja, asbak portabel seperti dompet kecil, dan lainnya. Pengahasilannya digunakan untuk membeli kebutuhan utama seperti penjepit sampah, selop, kantung sampah reuse, masker, dan materi edukasi.

Anthi Wijaya, koordinator relawan menyebut ada 88 yang terdaftar dari anak-anak sampai dewasa. Catatan ini baru dibuat sejak April 2016 lalu. Saat komunitas ini menyebar virus malu dong buang sampah sembarangan di puluhan ribu pengunjung event industri clothing indie terbesar di Bali, PICA Fest.

Pengunjung yang sebagian anak muda ini ketika itu terlihat kikuk ketika sampahnya dipungut relawan-relawan Malu Dong di depan matanya. Para relawan juga banyak yang menjadi patron seperti seniman, arsitek, personil band, dan lainnya.

Ruby Maxine, wirausaha event organizer ini menyebut keinginannya bergabung jadi relawan karena saking bandelnya para penyampah. “Bisa dibilang dari 100 yang diingetin, baru 30 yang sadar,” ujarnya. Pada musim hujan, sampah anorganik makin banyak berkumpul di pantai terbawa aliran sungai atau gorong-gorong.

“Kalau banjir, yang dikomplain pemerintah. Saya sering tungguin mereka yang nyampah itu biar ambil sampahnya dan dibuang ke tong,” lanjut perempuan bersemangat ini.

Anak Agung Yoka Sara, arsitek dan seniman salah satu penggagas komunitas ini mengatakan misinya memang menyebar virus malu buang sampah sembarangan. Karena itu strategi utamanya adalah lewat event-event dan menjangkau langsung pelaku nyampah.

Lewat event pula gerakan ini membesar dan mudah memobilisasi relawan. Baru beberapa bulan eksis, hampir 5000 follower di Instagram. Selain itu terlihat di banyak event, bendera-bendera warna warni Malu Dong berkibar dan relawannya dihormati. Mereka memungut sampah dengan gaya dan bersenang-senang, beraksi di dekat penyampah.

Yoka Sara, seorang relawan arsitek menunjukkan ratusan puntung rokok yang dikumpulkan hanya beberapa jam di Pantai Mertasari, Sanur bersama relawan lain. Ia berniat buat seni instalasi dari puntung ini. Foto: Luh De Suriyani
Yoka Sara, seorang relawan arsitek menunjukkan ratusan puntung rokok yang dikumpulkan hanya beberapa jam di Pantai Mertasari, Sanur bersama relawan lain. Ia berniat buat seni instalasi dari puntung ini. Foto: Luh De Suriyani

Misinya menyadarkan otoritas seperti desa atau pemerintah lokal menyiapkan aksi pengelolaan sampah yang serius. Misalnya sejak awal dimulainya gerakan ini sekira enam bulan lalu, mereka masih konsisten tiap hari Minggu beraksi di Pantai Mertasari, Sanur. Pengumuman disebar di media sosial dan relawan baru atau lama akan berdatangan.

Salah satu pantai mahal, karena tiket masuknya Rp5000 ini walau tiap minggu dibersihkan sampah tak pernah absen. Salah satunya dari sungai terdekat.

“Kami ingin uji sampai kapan desa ikut bergerak. Kami tidak akan pindah ke lokasi lain walau banyak yang minta,” jelas Yoka. Ia berharap desa dan pengelola pantai Sanur memberi perhatian serius pada penanganan sampah dan pelaku nyampah sekitarnya.

Ia mengatakan sudah ada sejumlah pihak yang ingin mendirikan cabang-cabang Malu Dong di luar Bali karena dianggap cukup efektif dan menarik perhatian. Namun Yoka menyarankan untuk bergerak dengan ciri khas sendiri sesuai dengan konteks situasi setempat.

Sampah dan nyampah tak pernah usai diperbincangkan di Bali. Beberapa kali ada konten yang tersebar luas dampak kedua hal ini. Misalnya ketika sebuah foto orang surfing di tengah ombak penuh sampah plastik. Ada juga foto sebuah kendaraan operasional minimarket yang membuang sampah sembarangan di tepi jalan.

Tiap tahun pada musim angin Barat, pantai Kuta dipenuhi sampah di pesisirnya. Truk pengeruk mondar mandir mengumpulkan puluhan ton sampah organik dan anorganik.

Bali juga masih belum memastikan sistem penanganan sampah terintegrasi karena di TPA terbesar,Suwung, investor dinilai gagal mengolah sampah jadi listrik seperti perjanjian pasca konferensi perubahan iklim 2007 lalu di Bali.