Atiqah Hasiholan: Hidup Indah Itu Kala Alam Terjaga

Atiqah Hasiholan bersama anak-anak Sungai Deli menanam pohon di sepanjang bantaran Sungai Deli Medan. Foto: Ayat S Karokaro
Atiqah Hasiholan bersama anak-anak Sungai Deli menanam pohon di sepanjang bantaran Sungai Deli Medan. Foto: Ayat S Karokaro

Pagi itu, di sebuah gang kecil di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), anak-anak yang tinggal di bantaran aliran Sungai Deli Medan, riuh. Mereka tampak riang gembira.

Anak-anak ini membawa sabun, gosok gigi, kemudian turun ke sungai. Di pinggir sungai terlihat deretan jamban. Anak-anak ini setiap hari mandi sambal membersihkan sungai dan memungut kotoran atau plastik.

Hari itu, berbeda dari biasa. Tersiar kabar, aktris berdarah Batak, akan berkunjung. Warga sekitar Bantaran Sungai Deli, bergotong royong membersihkan pemukiman mereka agar bersih.

Tikar kecil dikembangkan. Sambil berlarian, anak-anak ini tampak melihat ke ujung jalan, apakah sang yang mereka tunggu sudah datang.

Ibu-ibu memasak di dapur umum. Hari itu, ternyata mereka akan berpesta menyambut kedatangan Atiqah Hasiholan.

Bangunan megah ini berdiri di sepanjang bantaran Sungai Deli dan menyalahi aturan pembangunan batas bibir sungai. Foto: Ayat S Karokaro
Bangunan megah ini berdiri di sepanjang bantaran Sungai Deli dan menyalahi aturan pembangunan batas bibir sungai. Foto: Ayat S Karokaro

Tepat pukul 15.00, Atiqah datang ke gang sempit yang langsung berhadapan dengan Sungai Deli Medan. Janur yang dibuat anak-anak menyerupai mahkota kalung, dikalungkan ke leher sang aktris. Mereka duduk di tikar dan makan bersama.

Atiqah, saat itu hadir di Medan dalam promosi film terbaru berjudul Wonderful Life.

Atiqah tampak tersenyum melihat kondisi sungai terjaga begitu baik oleh anak-anak ini. Namun, katanya, belum puas karena sungai di Indonesia masih kotor dan tercermar.

Saat diwawancarai Mongabay dia bilang, sungai di Indonesia membutuhkan perhatian khusus.

Indonesia, katanya,  harus bisa mencontoh banyak negara yang mampu mengelola sungai dengan baik, bahkan bisa menjadikan obyek wisata, seperti di Thailand, Singapur, Malaysia, dan sejumlah negara lain.

Menurut Atiqah, rasa cinta terhadap lingkungan harus sudah ada sejak kecil. Bukan saat dewasa memberi komentar dan mengeluh sungai kotor dan jorok.

Rasa cinta yang dibangun dari anak-anak, katanya, bisa menjadi daya dorong mereka menjaga kebersihan sungai.

Pembuangan limbah pabrik, rumah tangga, dan limbah beracun ke sungai, katanya, merupakan perbuatan tercela. Kondisi ini terjadi di sungai-sungai seperti di Jakarta.

Atiqah Hasiholan, kala ke Medan, promo film terbaru Wonderful Life. Foto: Ayat S Karokaro
Atiqah Hasiholan, kala ke Medan, promo film terbaru Wonderful Life. Foto: Ayat S Karokaro

Atiqah juga mengajak anak-anak ini menanam pohon.

Menanam pohon, katanya, bentuk manusia menjaga dan menghargai serta mencintai lingkungan dari ancaman kehancuran.

Dalam film  terbaru Atiqah dari kisah nyata ini, bercerita seorang anak berkebutuhan khusus, kesulitan membaca dan menulis atau disleksia. Namun, dia bisa berkembang dan menikmati hidup saat bersanding dan menikmati keindahan alam.

“Ini bukan hanya promosi film Wonderful Life. Saya ingin menyampaikan pada masyarakat tentang kisah nyata bagaimana alam sangat dibutuhkan oleh manusia, termasuk Aqil, anak berkebutuhan khusus yang terapi di alam berhasil menikmati hidup,” katanya.

Dia bilang, terapi di alam, seperti pantai, laut, sampai gunung menjadi kekuatan sendiri bagi Aqil. Jadi, kata Atiqah, alam harus terjaga. Hidup menjadi indah, kala alam terjaga. Film ini,  mengajak penonton ikut menjaga alam.

“Saya melakukan ini untuk alam. Mari kita jaga alam untuk masa depan tanpa harus dirusak, pohon ditebang, menyebabkan kerusakan lingkungan parah.”

Warga, terutama anak-anak menanti kedatangan Atiqah. Foto: Ayat S Karokaro
Warga, terutama anak-anak menanti kedatangan Atiqah. Foto: Ayat S Karokaro