Mangrove di Pantai Clungup yang Kini Hijau Lagi

Deretan pohon mangrove di pantai Clungup, Malang, Jawa Timur, yang kini hijau kembali. Dulunya, kawasan ini rusak parah. Foto: Petrus Riski
Deretan pohon mangrove di pantai Clungup, Malang, Jawa Timur, yang kini hijau kembali. Dulunya, kawasan ini rusak parah. Foto: Petrus Riski

Hamparan pohon mangrove langsung terlihat ketika saya memasuki kawasan Pantai Clungup di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di sisi kiri jalan setapak menuju pantai itu mangrove tumbuh lebat dan rapat. Gugusan bukit yang mulai lebat ditumbuhi pepohonan, menjadi latar rimbunannya mangrove di pantai selatan Jawa Timur itu.

Siapa sangka, kawasan ini, pada masa reformasi 1998 sempat kritis karena pohonnya ditebangi masyarakat. Reformasi yang lepas kendali menjadi biang kerusakan lingkungan di pesisir selatan Jawa Timur, termasuk hutan mangrove di sini.

“Habis, tidak ada apa pun. Begitu juga ikan dan satwa yang ada. Masyarakat beringas, semua ditebang,” papar Saptoyo, Ketua Lembaga Masyarakat Konservasi Bakti Alam yang mengelola Clungup Mangrove Conservation (CMC), beberapa waktu lalu.

Baca: Penting Dilakukan, Restorasi Mangrove Sebaiknya Melibatkan Berbagai Pihak

Awalnya, Saptoyo seorang diri menghijaukan kawasan Pantai Clungup ini. Perlahan, ia mengajak warga setempat untuk menanami kawasan pantai ini dengan mangrove dan jenis tanaman lainnya. Dari sekitar 81 hektare, 73 hektare lahan sudah direhabilitasi.

“Kami mulai 2005, sifatnya simpatisan, siapa yang mau ikut saja. Hanya 8 hektare yang tidak bisa dikembalikan fungsinya karena sudah berbentuk sawah.”

Mangrove yang memiliki fungsi penting, salah satunya menahan abrasi pantai. Foto: Junaidi Hanafiah
Mangrove yang memiliki fungsi penting sebagai penahan abrasi pantai. Foto: Junaidi Hanafiah

Upaya merestorasi kawasan pantai Clungup bukan pekerjaan mudah karena banyak benturan kepentingan. Ada tambak dan lahan pertanian yang harus dibebaskan melalui ganti rugi karena sudah digarap warga. Mentalitas masyarakat yang tidak peduli lingkungan merupakan masalah utama yang harus dibenahi saat itu. “Bersama anggota kelompok sebanyak 105 orang, kami menanam 10.000 mangrove dengan jarak tanam 3×3 meter setiap tahun.”

Menurut Saptoyo, melibatkan masyarakat untuk melestarikan lingkungan harus memperhatikan kepentingan ekonomi juga. Melalui ekowisata, teman-teman yang dulunya merambah mangrove, kami alihkan menjadi pemandu wisata dan lainnya. “Menanam itu mudah. Menjaga dan merawat itu yang berat, karena harus ada kolaborasi semua pihak,” tandasnya.

Tidak selalu menanam

Rehabilitasi lahan menurut Coastal Safety Manager Wetland International, Apri Susanto Astra, tidak selalu menanam. Melihat keseluruhan dan melakukan penilaian awal terhadap lahan yang akan rehabilitasi, terutama apa yang dibutuhkan, adalah hal penting yang harus dilakukan.

Apri mengatakan rehabilitasi harus diawali penilaian, untuk mengetahui target dan kesesuaian dengan rencana yang akan dijalankan. Persoalan yang sering dihadapi adalah tidak diketahuinya apa yang dibutuhkan lahan karena pada dasarnya alam mempunyai mekanisme memperbaiki diri, termasuk ekosistem mangrove.

“Bila lahan untuk tumbuh kembang mangrove telah tersedia, kita tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Alam akan mengembalikan mangrove pada posisi dan kondisi semula, bisa tumbuh sendiri.”

Ekosistem mangrove memiliki arti penting bagi iklim global. Hutan mangrove sendiri memiliki kemampuan empat kali lipat dari hutan biasa sebagai penyimpan cadangan karbon dalam tanah. Foto: Junaidi Hanafiah
Ekosistem mangrove memiliki arti penting bagi iklim global. Hutan mangrove sendiri memiliki kemampuan empat kali lipat dari hutan biasa sebagai penyimpan cadangan karbon dalam tanah. Foto: Junaidi Hanafiah

Apri mencontohkan hutan mangrove yang terbentuk tanpa ada intervensi manusia melalui penanaman, yaitu hutan referensi di Desa Bedono, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Struktur permeable yang merupakan cara merehabilitasi ekosistem mangrove tanpa melakukan penanaman.

“Kita hanya membuat bendungan kayu untuk tumbuh kembang mangrove. Selama kurun waktu tertentu, satu petak struktur yang penuh sedimen akan beralih menjadi vegetasi mangrove dan begitu selanjutnya.”

Struktur permeable adalah model penyediaan lahan tumbuh kembang mangrove yang diadopsi dari Belanda. Lahan yang disiapkan melalui metode ini hanya menunggu terperangkapnya bibit mangrove pada sedimen yang menjadi media tumbuh kembang mangrove. Bibit mangrove yang jatuh ke air dan terbawa gelombang akan terperangkap serta menancap di sedimen atau lumpur itu. Selain oleh air, bibit mangrove juga disebarkan oleh burung pantai yang biasanya singgah di mangrove.

“Kalau di area tersebut suplay bibitnya tidak ada, ini yang perlu intervansi manusia. Kita sediakan bibitnya tapi bukan dengan menanam, melainkan dengan menebar tanpa harus menancapkan. Biarkan alam yang mengatur tanpa harus kita tata.”

Menurut Apri, bila ekosistem mangrove terjaga dipastikan membawa keuntungan bagi lingkungan maupun manyarakat. “Mangrove itu fungsinya melindungi daerah pesisir dari ombak, erosi, abrasi, juga mengimbangi peningkatan tinggi air laut dan menahan intrusi air laut ke dalam. Secara ekologis, membantu proses yang terjadi pada ekosistem, seperti menjadi tempat bertelur ikan atau biota lain, juga tempat burung berkumpul dan mencari pakan.”

Selain sebagai pelindung pesisir, konservasi ekosistem mangrove baiknya juga memperhatikan sisi ekonomi masyarakat. Sebab, konservasi dan perlindungan alam akan sulit diwujudkan tanpa adanya dukungan masyarakat. “Kami coba mengkombinasikan perlindungan dan pelestarian lingkungan dengan kegiatan yang menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Ini penting,” pungkas Apri.