Asa Sumba, Mandiri Energi dari Sumber-sumber Terbarukan

Duapuluh kincir angin di Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, NTT, menghasilkan daya listrik 10 KW dan menjangkau 22 rumah. Foto: Eko Rusdianto
Duapuluh kincir angin di Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, NTT, menghasilkan daya listrik 10 KW dan menjangkau 22 rumah. Foto: Eko Rusdianto

Rambu Kariri Aji, menggosok panci besar di halaman belakang rumah. Sesekali dia menyiram pelan wadah itu. Air mengucur dari keran di samping kanan, menghasilkan riakan dalam baskom. Dia menunjukkan pada saya sambal memamerkan senyum.

Tujuhbelas tahun lalu, Kariri dan warga Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, tak menikmati air dengan membuka keran tetapi dituang dari ember atau wadah jerigen.

Untuk mendapatkannya pun harus berjalan kaki beberapa jam, lalu diangkut ke rumah. “Sekarang kami tak perlu keringat lagi untuk dapat air,” katanya. “Setiap saat bisa cuci piring atau mandi.”

Tak jauh dari tempat Kariri menyelesaikan cucian piring, seorang anak gadis merebus air di kompor. Warna api biru dan semburan api tak berbunyi layaknya pakai tabung gas. “Ini kompor biogas dari kotoran babi,” katanya.

Saya mencermati. Di dekat kompor menempel selang kecil di dinding seperti termometer raksasa. Untuk melihat persediaan gas kotoran hewan yang diendapkan di sebuah penampungan. Ada pula pipa dengan keran plastik, berfungsi menutup dan membuka saluran gas.

Di desa ini, saya melihat 20 kincir angin di sebuah bukit, berputar menghadap sesuai arah angin. Kincir-kincir ini menghasilkan daya listrik hingga 10 KW yang mengalirkan energi ke 22 rumah berjauhan dan tak terjangkau jaringan PLN.

Di badan sungai desa ini terpasang pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) menghasilkan daya hingga 30 KW, berhasil menerangi 334 rumah warga selama 24 jam penuh, sejak 2011.

Inilah desa mandiri yang memanfaatkan energi ramah lingkungan. Bagaimana kisahnya?

 

 

Bendungan penyuplai air menuju pipa untuk dialirkan ke turbin PLTMH Mbakuhau. Energi listrik yang dihasilkan pembangkit ini mencapai 30 KW dan dimanfaatkan oleh 334 rumah. Foto: Eko Rusdianto
Bendungan penyuplai air menuju pipa untuk dialirkan ke turbin PLTMH Mbakuhau. Energi listrik yang dihasilkan pembangkit ini mencapai 30 KW dan dimanfaatkan oleh 334 rumah. Foto: Eko Rusdianto

***

Pada 1999, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, menyambangi desa ini. Beberapa orang mulai berdiskusi dan saling membagi pengalaman. Awalnya respon warga tak begitu baik. Mendengar sepintas, lalu berlalu.

Umbu Hinggu Paujanji, saat ini anggota DPRD Sumba Timur dan Ketua Koperasi Jasa Peduli Kasih, melihat idedari LSM cukup baik. Pelan-pelan beberapa warga mau ikut.

Tahun 1999, katanya, warga bersama Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan membangun listrik tenaga surya.

Listrik dari tenaga surya ini untuk menarik air dari sungai dan ditampung ke bak besar. Dari bak ini, pipa ditarik ke rumah-rumah warga. “Saya lupa persisnya kapan air mengalir ke rumah warga. Waktu itu, semua warga merasa senang. Bagaimana membahasakan, itu sangat susah. Pokoknya kami senang sekali,” kata Umbu Hinggu.

Rumah Umbu Hinggu berada di jalan utama Desa Kamanggih. Sebuah rumah sederhana. Di halaman belakang  terdapat bangunan kayu terbuka, untuk berdiskusi atau makan bersama.

Dari rumah ini, letak sungai sekitar dua kilometer, untuk menjangkau harus menuruni lereng curam. “Jadi dulu, kalau mau mandi, jalan kaki ke sungai. Sudah mandi bersih, jalan pulang keringat lagi,” katanya.

Ketika listrik tenaga surya ini beroperasi, warga membentuk Koperasi Jasa Peduli Kasih. Dari koperasi inilah, sistem penyaluran air dikelola. Antara tahun 1999-2005, koperasi yang masih mengandalkan listrik tenaga surya untuk penyaluran, membebankan iuran pada setiap warga pelanggan Rp15.000 per bulan.

Pada 2005, pompa air yang menggunakan tenaga surya diganti menjadi pompa listrik dari PLN. “Tahun itu jaringan listrik dari PLN di beberapa titik tertentu sudah sampai desa, termasuk lokasi penampungan air,” kata Umbu Hinggu.

Selanjutnya pada 2011, pompa air tenaga listrik dari PLN diganti lagi menjadi listrik tenaga air–PLTMH. Pada 2013, koperasi mengubah regulasi pemanfaatan jaringan pelanggan dengan memasang meteran air. Hingga kini, pelanggan sudah 150 rumah.

Iuran air ini, dikelola koperasi, diperuntukkan kembali memasang jaringan pipa air bagi warga yang membutuhkan.

Rambu Kariri Aji, memperlihatkan bagaimana air mengucur keluar dari keran. Jaringan pipa air telah dinikmati 150 rumah di Desa Kamanggih. Foto: Eko Rusdianto
Rambu Kariri Aji, memperlihatkan bagaimana air mengucur keluar dari keran. Jaringan pipa air telah dinikmati 150 rumah di Desa Kamanggih. Foto: Eko Rusdianto

Listrik warga   

Meskipun beragam sumber energi ada, belum selesai dari masalah. Beberapa warga telah menikmati ketersediaan air melalui keran, belum merasakan penerangan listrik.

Cahaya redup dari lentera menggunakan minyak tanah dan penerangan dari biji jarak, hanya bertahan beberapa jam. Beberapa warga, mengisahkan kampung akan begitu gelap saat masuk pukul 19.00. Warga memilih tidur dan keesokan pagi bangun dan berangkat ke kebun.

“Jadi makan makan malam itu, sebisanya paling lambat jam enam (18.00) sebelum matahari hilang. Jadi masih sedikit terang. Setelah itu cerita sebentar. Kemudian tidur,” kata Umbu Yanus Pulu Ratu.

“Untuk anak sekolah, belajar siang hari. Malam itu waktunya tidur.”

Akhirnya, pada Januari 2011, melalui bantuan lembaga Hivos dan IBEKA sebagai pelaksana kegiatan bergandengan dengan JICA (lembaga pendanaan dari Jepang), mencanangkan pembangunan PLTMH di Kamanggih.

Warga yang telah belajar dari usaha menciptakan air bersih, bekerja bersama.

Saya berkunjung ke desa ini, Selasa, (25/10/16), wilayah seperti landscape Sumba Timur pada umumnya, jalan menuju Desa Kamanggih memperlihatkan deretan bukit sabana yang luas. Pohon besar terlihat sangat jarang.

Tanah kering dan udara panas. Saya dan rekan dalam perjalanan sempat bercanda,” apa benar di tanah ini ada air?”

Umbu Hinggu membuyarkan candaan itu. Menumpang kendaraan offroad, kami menerobos jalan berangkal batu. Menurun melalui pinggiran tebing. “Itu hutan La Bundung. Sudah menjadi hutan lindung,” katanya.

Hutan itu oase menyejukkan mata di tengah kegersangan. Tumbuhan terlihat rapat dan lebat menyelimuti bukit. Di bawah, kaki sungai mengalir.

Namanya Mbakuhau. Di badan sungai inilah sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) beroperasi.

Ketika menapakkan kaki di bendungan PLTMH Mbakhau, air mengalir melalui pintu, serupa menari dalam kolam sebelum masuk ke pipa yang mengantarkan ke rumah turbin (power house).

Di ujung pipa pengantar (penstock), saya melihat rumah turbin beratap seng. Air jatuh dari ketinggian 37 meter itu menciptakan daya kuat.

Bukan hal sepele membuat air itu jatuh dengan sempurna ke rumah turbin. Warga desa akhirnya merekayasa aliran alami air, dari semula mengalir melalui pinggiran tebing hutan La Bundung, dipotong dengan cara membelah bukit.

“Dari analisis teman-teman yang membantu pembuatan PLTMH, jika mengikuti liukan sungai secara alami kemungkinan hanya akan menghasilkan sekitar 10 KW daya listrik,” kata Umbu Windi Ndapangadung, Kepala Desa Kamanggih.

“Jadi kami belah ini gunung. Semua warga datang bergotong royong. Membawa cangkul, linggis, sekop. Kami mengerjakan sampai dua minggu. Tanpa harus digaji. Masing-masing membawa makanan,” katanya.

Seorang anak sekolah dasar di desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, NTT, menikmati es pada jam istirahat. Pada 2011, berkat PLTMH masyarakat telah dapat memiliki lemari pendingin. Foto: Eko Rusdianto
Seorang anak sekolah dasar di desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, NTT, menikmati es pada jam istirahat. Pada 2011, berkat PLTMH masyarakat telah dapat memiliki lemari pendingin. Foto: Eko Rusdianto

Sebelum PLTMH beroperasi, menjangkau Sungai Mbakuhau, tak ada jalan kendaraan, hanya setapak.

Umbu Hinggu, memperlihatkan tempat terakhir akses kendaraan ketika menuju PLTMH Mbakuhau itu. Jaraknya sekitar ribuan meter. Semen, balok kayu, besi, atap seng, mesin turbin, digotong masyarakat. Sembari membuka akses jalan.

Setahun kemudian, konstruksi PLTMH selesai. Jaringan listrik ke rumah warga sudah terpasang. Beberapa lampu jalan sudah berdiri.

Dasilnya? Pada pertengahan Oktober 2011, tenaga pendamping dan warga bersepakat mengoperasikan PLTMH. “Itu sekitar jam sembilan atau delapan (pukul 09.00). Teman-teman berjalan ke setiap rumah untuk memberikan informasi,” kata Umbu Hinggu.

Setiap warga duduk di rumah menunggu dengan penuh haru. Sekitar pukul 10.00,  listrik mengalir melalui jaringan. Seperti sebuah keniscayaan, bola lampu warga memancarkan cahaya. Warga saling berangkulan. Haru.

Hingga menjelang malam. Mata lampu di pinggir jalan berkilau. Jalan desa menjadi terang. Dalam kisah beberapa penduduk, orang-orang tidur hingga larut malam. Mereka saling berkunjung. “Saya kira waktu itu saya sendiri tidur jam dua (pukul 02.00 dinihari). Tidur menjadi ringan dan penuh bahagia,” kata Umbu Hinggu.

Di rumah turbin, di bawah lereng bukit itu, Theopilus Tamu Ama (24), ikut berlari melihat kampong yang benderang. Dia warga Desa Kamanggih sebagai operator PLTMH. “Saya senang sekali. Senang sekali waktu itu,” katanya.

Theopilus Tamu, memperlihatkan pada saya bagaimana sistem pengoperasian PLTMH itu. Dia menunjukkan kotak berdiri seperti lemari, dengan katup tombol.

Ada empat digit angka berwarna merah tertera pada panel itu. Di dekat rumah turbin, ada sebuah pondok sederhana. Di dalamnya ada televisi tabung dan kasur. “Ini tempat istirahat. Rumah turbin itu kantornya,” katanya.

Pada 2013, Koperasi Jasa Peduli Kasih sebagai badan usaha, perjanjian kerjasama dengan PLN. Jaringan listrik PLN di interkoneksikan dengan jaringan PLTMH. “Pada musim kemarau debit air kurang, listrik tidak begitu masksimal. Jadi di switch (diganti) ke jaringan PLN.”

Pada malam hari, katanya, warga menggunakan jaringan PLTMH, siang hari pakai jaringan PLN..

Interkoneksi ini menjadikan Theoplius Tamu tenaga honorer di PLN. Penghasilan setiap bulan Rp2,2 juta, sebelumnya hanya Rp600.000 per bulan.

Jaringan listrik PLTMH menjadi tanggung jawab PLN dengan aset tetap milik warga yang diwakili Koperasi Jasa Peduli Kasih.

Sebelumnya, warga yang menjadi pelanggan PLTMH Mbakuhau dibebankan iuran Rp20.000 per bulan. Ketika interkoneksi dengan PLN, warga mendapatkan meteran gratis untuk pra bayar 200 dan selebihnya disediakan oleh koperasi dengan pemasangan gratis.

Akhirnya, listrik bagi setiap pelanggan tak lagi membayar dengan besaran merata. Seorang warga Desa Kamanggih, hanya membeli pulsa listrik Rp20.000, bisa merasakan listrik hingga tiga bulan.

“Di rumah saya ada kulkas dan beberapa peralatan elektronik. Saya pakai pulsa listrik hingga Rp250.000. Saya kira itu wajar,” kata Windi.

Desa Kamanggih memilki penduduk sekitar 1.800 jiwa. Di dalamnya ada tujuh kampung, terletak berjauhan. Sekitar 334 rumah terjangkau aliran listrik, diperkirakan belum mencapai setengah jumlah rumah di seluruh wilayah itu.

Sisa pembuangan air dari dalam rumah turbin, yang terbuang kembali ke sungai Mbakuhau, desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, NTT. Foto: Eko Rusdianto
Sisa pembuangan air dari dalam rumah turbin, yang terbuang kembali ke Sungai Mbakuhau, Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, NTT. Foto: Eko Rusdianto

Di salah satu kampung, terletak di wilayah terpencil ada 25 rumah dapat bantuan solar cell, yang di-cas pada siang hari dan digunakan malam hari hanya untuk beberapa mata lampu.

Dusun Kalihi,  misal, berdiri pembangkit listrik tenaga angin berdaya 11 KW, menjangkau 22 rumah.

Keterbatasan daya membuat pemakaian listrik inihanya malam hari. Siang hari, listrik tenaga angin untuk menyimpan energi.

“Siang hari penduduk, ke kebun. Hampir tak ada orang di rumah. Siang juga terang. Jadi cukup malam saja,” kata Umbu Yanus Pulu Ratu, sekaligus operator.

Di Kalihi, jarak antar rumah warga cukup berjauhan. Dari mulai 500 meter-10 kilometer. “Kami sangat senang dengan listrik, kami bisa nonton televisi. Anak kami bisa belajar malam, dan beberapa kegiatan kerajinan bisa dilakukan malam hari,” katanya.

Koperasi

Sekitar pukul 12.00, di Desa Kamanggih bertepatan jam pelajaran anak SD, saya menemui beberapa murid berlarian cekikikan. Seorang anak laki-laki, baru saja keluar dari warung di samping sekolah.

Di tangan memegang es lilin, yang telah dipotong untuk berbagi dengan seorang lain. Anak itu, duduk di pagar sekolah sembari memakan es  yang digenggam.

“Enak? Bisa bagi esnya,” kata saya menggoda.  Dia tersenyum lalu berjalan meninggalkan saya.

Es lilin hal biasa bagi anak yang wilayah telah terjangkau listrik. Di Kamanggih, praktis menikmati es baru bisa mudah 2011, ketika PLTMH berfungsi baik. Beberapa kios warga terbuka dan mulai menajajakan minuman dingin.

Seorang pengusaha mebel dan furnitur, Matius Umbu Rongga benar-benar menikmati kehadiran listrik.

Dulu,  dia membuat peralatan mebel seperlunya. Kini, hampir sebagian besar orang menikmati listrik, kebutuhan naik, dan pesanan mebel selalu ada. Dalam perhitungan dia, usaha mebel dalam sebulan menghasilkan Rp3 juta pendapatan bersih.

Usaha lain warga adalah membuka perbengkelan. “Kalau ban motor bocor, atau harus service ringan, sekarang warga tak perlu ke Waingapu. Di desa juga ada,” kata Rongga.

Sementara Koperasi Jasa Peduli Kasih, yang menaungi pengorganisasian kegiatan desa melalui kegiatan energi terbarukan, makin baik. Interkoneksi PLTMH dengan PLN menjadikan suplai listrik sebagai nilai tambah.

Setiap musim hujan dan debit air banyak,  koperasi dapat memperoleh keuntungan hingga Rp5 juta per bulan. Kala musim kemarau Rp3 juta.

Dalam hitungan koperasi, sejak 2013, pemasukan dari sistem interkoneksi jaringan, sekitar Rp100 juta. Kini, koperasi mengelola pemanfataan listrik, air, biogas, hingga simpan pinjam. Nilai aset, baik bergerak dan tidak mencapai Rp8 miliar.

  

Theopilus Tamu Uma dan rekannya berdiri diantara tebing yang dipotong warga desa untuk mengalirkan air menuju turbin. Foto: Eko Rusdianto
Theopilus Tamu Uma (baju kuning) dan rekannya berdiri diantara tebing yang dipotong warga desa untuk mengalirkan air menuju turbin. Foto: Eko Rusdianto

 

 

Investasi besar

Menciptakan energi yang ramah lingkungan investasi lumayan mahal. Membangun PLTMH Mbakuhau di Desa Kamanggih kapasitas 30 KW, mencapai Rp2,3 miliar. Sumba, menargetkan pada 2020 keseluruhan pulau bis menggunakan energi terbarukan.

Sumba menjadi pulau percontohan untuk energi terbarukan. Maka pemerintah meluncurkan program Sumba Iconic Island. Pemerintah, swasta, dan masyarakat bersama mewujudkan.

Asisten Manajer Pelayanan dan Administrasi PT PLN Area Sumba, Risan Dananjaya mengatakan, saat ini kebutuhan listrik di Sumba mencapai 13 MW. Untuk Sumba Timur 6,2 MW. PLN hanya mampu 6,2 MW.

Pelanggan jaringan PLN di Sumba yakni 52.000 keluarga. Menurut Risan, masih jauh dari target. Ada puluhan wilayah masih sulit terjangkau jaringan.

“Jadi diharapkan banyak inisiatif muncul dari masyarakat,” katanya.

Di Sumba, investasi energi terbarukan, tersebar di beberapa titik. Ada pembangkit listrik tenaga biomassa satu MW. Ada PLTMH sementara dalam tahap pembangunan sampai listrik tenaga angin.

Pada informasi liflet Sumba Iconic Island, dijelaskan pembangkir listrik tenaga hidro target 12 unit, dengan potensi 7,1 MW. Untuk pembangkit istrik tenaga bayu (angin) target 100 unit, dengan potensi 10 MW.

Untuk pembangkit istrik tenaga surya terpusat 39 unit. Pembangkit istrik tenaga biogas target 557 unit dengan potensi 8.962.870 m2. Untuk listrik tenaga biomassa satu unit, potensi satu MW.

PLN Sumba juga mencanangkan pembangunan pembangkit listrik tenaga gas. Di Sumba Barat Daya berkapasitas 30 MW dan Sumba Timur kapasitas 10 MW. Risan mengatakan, listrik tenaga gas ini ditargetkan selesai 2018. “Ini dibangun PLN sendiri. Nanti langsung terkoneksi dengan jaringan,” katanya.

Namun demikian, beberapa pandangan mengatakan jika penggunaan gas bukanlah alternatif energi terbarukan. “Itu juga benar. Setidaknya masih sedikit ramah dibandingkan diesel,” ucap Risan.

Mengenai target Sumba menggunakan energi terbarukan pada 2020, bagi PLN sebagai sebuah upaya dan target berani. Data PLN, hingga kini, sedikitnya masih 3% jaringan energi terbarukan di Sumba, selebihnya diesel.

“Saya kira harus positif berpikir, 3% mungkin dari pelanggan PLN, hasil yang didapat kecil. Data kami, hingga 2015, sudah 43% energi terbarukan,” kata Wilhelmus Poek, Field Project Manager Sumba Iconic Island.

Sumba, menjadi pilihan projek percontohan energi terbarukan di Indonesia, melalui kajian panjang. Di Sumba, potensi besar, angin, matahari dan air.

Bagi Wilhelmus Poek, 2020 adalah target energi terbarukan mencapai 95%, 5% pembangkit listrik konvensional seperti diesel. “Target jauhnya, pada 2025, Sumba menggunakan energi terbarukan 100%. Kami yakin akan tercapai,” katanya.

Keyakinan Wilhelmus, berdasarkan kemauan semua pihak duduk bersama. “Dalam waktu dekat, kita akan mengadakan pertemuan mengundang beberapa investor. Melihat dan membagikan mereka data, jika Sumba sangat potensial.”

Di Sumba, katanya, beberapa investor mulai melirik telah bahkan sudah memiliki lahan. “Ini soal waktu.”

Theopilus Tamu Uma, Operator PLTMH Mbakuhau, memperlihatkan cara pengecekan daya listrik di panel turbin, desa Kamanggih, Kecamatan Kahaunga Eti, Sumba Timur, NTT. Foto: Eko Rusdianto
Theopilus Tamu Uma, Operator PLTMH Mbakuhau, memperlihatkan cara pengecekan daya listrik di panel turbin, desa Kamanggih, Kecamatan Kahaunga Eti, Sumba Timur, NTT. Foto: Eko Rusdianto