Gerakkan Ekonomi Desa dengan Kembali ke Pangan Lokal

Teguh Surya, pegiat lingkungan dari Yayasan Madani, dengan rendang Masbro. Foto: Sapariah Saturi
Teguh Surya, pegiat lingkungan dari Yayasan Madani, dengan rendang Masbro. Foto: Sapariah Saturi

Terik matahari tak menyurutkan masyarakat berkunjung ke Festival Desa di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta. Seorang pria dengan rambut keperakan, mengajak warga untuk berkumpul di sebuah aula. Ia tempat beralas karpet merah, beratap rumbia. Harum aroma bumbu bercampur cabai goreng begitu terasa menusuk hidung.

Pria itu, Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Aliansi Desa Sejahtera. Dengan pengeras suara, dia mengatur beberapa orang yang membawa piring dan mangkok ke tengah aula. “Semua yang hadir di sini, bisa berkumpul dan menikmati sambal Nusantara,”katanya. Minggu, (30/10/16).

Tejo adalah pegiat pangan lokal. Baru-baru ini, dia menentang pemerintahan yang impor pangan. Dia nilai, kerja pemerintah ini bertentangan dengan Nawacita yang ingin mewujudkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan produktivitas nasional. Impor pangan justru bertentangan dengan kebijakan kedaulatan pangan.

Dalam Festival Desa 2016, mengusung isu pemberdayaan ekonomi desa, dapat membuka wawasan masyarakat mengubah pola konsumsi. Keragaman pangan di negeri ini merupakan potensi yang belum tergali optimal.

Sambal Nusantara, merupakan salah satu kegiatan mengenalkan keragaman cita rasa sambal Indonesia. Berbagai daerah menampilkan sambal andalan. Wied Harry mengenalkan sambal berbahan alami, disuguhkan pula dengan kerupuk. Warna kerupuk hijau, dari pewarna alami. “Jangan mengharapkan dari Pasar Sehat Ciheuluet kerupuk putih. Kita kerupuk hijau,” katanya.

Wied, konsultan kesehatan, yang kerap mengkampanyekan pola makan sehat alami khusus food combining. Sebelumnya, pada pukul 10.00-12.00, Wied mengisi acara; Cara Mudah Masak Sehat.

Wied terkenal dengan motto: makanan enak bisa sehat dan makanan sehat juga bisa enak, asal kita tahu triknya. Pasar Sehat Ciheuleut yang disebutnya merupakan pasar tradisional yang menjual sayur mayur dan buah organik. Halaman rumah dia ubah menjadi pasar tradisional. Wied juga terkenal dengan buku-buku mengenai food combining.

Romdon, (berbaju putih) dengan beragam produk dari Saung Rangkai di Festival Desa. Foto: Sapariah Saturi
Romdon, (berbaju putih) dengan beragam produk dari Saung Rangkai di Festival Desa. Foto: Sapariah Saturi

Para pengunjung Festival Desa mulai memenuhi aula. Riuh rendah pengunjung meningkahi suara Tejo yang mengenalkan peserta festival lain. Peserta dari Jambi membawa sambal kabau, sayuran mirip jengkol dan sambal tempoyak. Tempoyak adalah pangan dari durian yang difermentasi. Dicampur udang, cabai dan bawang, membuat sambal ini nikmat disantap dengan nasi putih panas. Aromanya sangat khas, sedikit asam.

Peserta berikutnya memajang sambal kemasan. Ada sambal kering, sambal manis, sambal bawang dan sambal kecombrang. Sambal ini dijual dalam kemasan botol, mulai Rp30.000. Peserta lain, menampilkan sambal kemangi, sambal dabu-dabu, sambal pecit, serta sambal matah.

“Dari Festival Sambal ini, kita harapkan para pengunjung dapat mengenalkan kepada keluarga atau sanak sahabat mereka,” ucap Tejo. Festival ditutup dengan menyantap bersama aneka hidangan.

Selain Sambal Nusantara, stand pameran juga menyediakan beragam produk pangan lokal dan alami. Ada pegiat pertanian organik, mereka tak hanya menanam sayuran, juga bumbu serta tanaman obat.

Antara lain Saung Rangkai. Diinisasi Romdon Nurhadisamsi, asal Kampung Tegalega Desa Hegarmanah, Kecamatan Bungbulang Garut. Romdon membentuk komunitas ini sejak usia SMP. Saung artinya rumah berestetis, unik dan seni tinggi. Sedangkan rangkai adalah anak-anak yang harus terus membangun diri dan merangkai serpihan kehidupan dengan hal positif.

“Bagi kami hidup adalah membangun diri, orang lain, kampung dan lebih luasnya negara ke arah yang positif, kreatif dan kritis,” katanya, seperti tertuang dalam blognya.

Seorang pegiat pendidikan, Boy Pindro, yang mengajarkan Romdon bercocok tanam pada 2007. “Beruntung kami di desa mempunyai potensi lahan masih luas. Selain bersawah, kami juga bercocok tanam sayuran, obat dan membuat gula aren,” katanya. Romdon bahkan mengerjakan proses pembuatan gula aren sendiri.

Gula aren produksi Saung Rangkai, menggunakan bahan-bahan alami dalam pembuatannya. “Untuk menampung nira kelapa untuk gula aren, memerlukan waktu sekitar 10 jam. Saat menampung nira, kita gunakan bahan pengawet alami supaya tidak cepat basi.”

Bahan pengawet ini antara lain, kulit manggis, kulit nangka, atau kulit buah raru. Kulit ini dipotong-potong dan ditaruh pada bagian dasar wadah yang menampung nira kelapa. Nira kemudian ditanak dan dicetak, dan dibiarkan mengeras.

Romdon yang mendirikan SMK Pertanian ini bertekad mengembangkan potensi pertanian di kampungnya. Romdon dan enam pemuda kampung, terus berkampanye warga mau intensifikasi dan diversifikasi pertanian.

“Menyadap aren dan bercocok tanam sebenarnya tak mengganggu pekerjaan utama, yakni menanam padi.” Saat ini, warga mulai menanam sayur lalapan.

Beragam produk hasil alam dari Pesantren Ekologi, Ath Thaariq, Garut di Festival Desa. Foto: Sapariah Saturi
Beragam produk hasil alam dari Pesantren Ekologi, Ath Thaariq, Garut di Festival Desa. Foto: Sapariah Saturi

Sekolah pertanian binaan Saung Rangkai mempunyai lahan tujuh hektar sebagai pilot project siswa. Lahan digarap bersama siswa, pemuda desa dan guru.

“Dapat mencukupi pangan di daerah sendiri adalah impian. Desa harus mandiri pangan,” katanya.

Bersebelahan dengan Saung Rangkai, ada Pesantren Ekologi Ath-Taarig, Garut. Pesantren ini menyediakan beragam hasil tani, melalui proses-proses alami. Ada bunga telang ungu—bisa buat sirup maupun pewarna makanan alami–, rosela, garam sampai bumbu non MSG. Di sini juga menjual beragam bibit seperti tomat, rosela, dan kacang-kacangan.

Di stan lain, Teguh Surya, aktivis lingkungan menjual aneka rendang. Dilabeli Rendang Masbro, Teguh mengusung slogan ‘merawat cita rasa rendang Padang’. “Saya benar-benar mempertahankan teknik memasak dan bumbu-bumbu asli Padang,” katanya.

Teguh memasang harga Rp280 ribu untuk rendang sapi, serta Rp160 ribu untuk rendang ayam. Ada pula varian rendang bebek, kata Teguh, rendang terlaris.

Untuk mempertahankan cita rasa itulah Teguh benar-benar menggunakan bahan dengan resep kuno Padang. Terkadang, beberapa komponen bumbu didatangkan langsung dari Padang. “Di Jakarta, sangat sulit mendapatkan kelapa tua. Padahal, makin tua kelapa makin bagus warna rendang. Cabai kering juga salah satu bahan yang sulit didapat,” katanya.

Teguh berkomitmen membeli bahan-bahan di pasar tradisional. “Berbelanja di pasar tradisional mempunyai nilai lebih karena ada interaksi sosial antara pembeli dan penjual,” katanya.

Selain itu, untuk memakmurkan para pedagang di pasar tradisional yang makin lama tergerus pasar modern.

Teguh justru merasa aman berbelanja di pasar tradisional, karena yakin dengan rantai pasok produknya. Di pasar tradisional, sapi yang sudah dipotong langsung dijual. Begitu pula ayam dan bebek. Justru, proses ini tak bisa terlihat di pasar modern. “Di pasar tradisional, proses terbuka. Tidak sama dengan pasar modern,” katanya.

Dari laman 100persenpanganlokal.org disebutkan, Festival Desa 2016 ini merupakan wadah mempertemukan produsen pangan, kerajinan dan lain-lain di pedesaan dengan konsumen kota. Konsumen rata-rata merupakan anggota komunitas dan pribadi yang peduli dengan potensi pangan lokal di desa.