Ada Porpoise, Ada Perlindungan Kawasan Ekosistem juga Sebaiknya…

Finless porpoise (Neophocaena phocaenoides) dengan berat 30 – 45 kilogram, merupakan satu dari enam jenis porpoise yang ada. Foto: WWF-UK/Xiodong Sun
Finless porpoise (Neophocaena phocaenoides) dengan berat 30 – 45 kilogram, merupakan satu dari enam jenis porpoise yang ada. Foto: WWF-UK/Xiodong Sun

April lalu, khalayak sempat diguncang dengan viral foto-foto mamalia laut, yang dipotong nelayan di kawasan Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sedikitnya tiga individu, yang awalnya diduga pesut (Orcaella brevirostris) terjaring nelayan. Maskur (35) saudagar ikan pemilik kapal yang menangkap mamalia tersebut mengatakan, semula nelayan menemukan empat, namun yang lebih besar dilepaskan.

Mamalia tersebut semula akan dijual di Pasar Flamboyan. Sebuah pasar tradisional di Kota Pontianak, yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan dari Kecamatan Batu Ampar. Namun, pedagang ikan menolak, lantaran mengatakan, hasil tangkapan nelayan tersebut merupakan mamalia dilindungi. Potongan mamalia tersebut disimpan Maskus di peti pendingin. Sampai saat Albertus Tjiu, Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia, bersama Davina mendatangi kediaman Maskur, untuk mengambil spesimennya.

Selang tujuh bulan, hasil tes DNA keluar. BKSDA Kalbar bersama World Wide Fund (WWF) Indonesia bekerja sama dengan Indonesian Biodiversity Research Centre Universitas Udayana, mengumumkan bahwa mamalia tersebut merupakan lumba-lumba tanpa sirip, atau Finless porpoise (Neophocaena phocaenoides). “Seperti identifikasi saya dulu,” tukas Dwi Suprapti, Koordinator Marine Species Conservation WWF-Indonesia. Dia mengatakan, sering kali orang keliru, mengganggap bahwa lumba-lumba adalah porpoise dan porpoise adalah lumba-lumba.

Baca: Mamalia Malang yang Terjaring Nelayan Itu Porpoise…

Sejak awal, pakar satwa laut tersebut sudah berhasil mengidentifikasi melalui pengamatan fisik. Dwi mengatakan, dari sampel mamalia tersebut, terlihat susunan gigi yang tumpul dan kecil-kecil. Jumlahnya, sekitar 23 gigi dan hal ini identik dengan ciri-ciri porpoise. Walau demikian, kepastian jenis mamalia tersebut harus melalui tes laboratorium genetik. Tujuan lain adalah untuk melengkapi bank data keragaman satwa aquatic, dalam hal ini Cetacea, di Indonesia. WWF Indonesia tengah melakukan pemetaan genetik, untuk mengetahui subpopulasi porpoise ini. “Sebelumnya, porpoise dilaporkan terjaring nelayan dan mati di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas,” kata Dwi, April lalu.

Dasar pengujian tersebut, dilihat dari populasi peta DNA-nya, karena pemetaan jelajah dan habitatnya sudah ada. Temuan ini, hal yang cukup mengejutkan, sama halnya dengan keberadaan pesut di perairan Kubu Raya 2011 lalu. “Tidak pernah ada laporan sebelumnya tentang populasi porpoise di Kubu Raya. Ini temuan baru.”

Nelayan di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menunjukkan potongan yang diduga kepala pesut yang telah dibekukan, Jumat (8/04/2016). Foto: WWF Program Kalimantan Barat
Nelayan di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menunjukkan potongan yang diduga kepala pesut yang telah dibekukan, Jumat (8/04/2016). Foto: WWF Program Kalimantan Barat

Dalam paparan pers, pengumuman resmi keberadaan mamalia ini di Lansekap Kubu Raya, 7 November lalu, Albertus menilai, hasil tes DNA ini sangat penting. Mengingat minimnya data terkait satwa tersebut di dunia. Porpoise adalah mamalia laut dengan ukuran paling kecil. Untuk mengamati subpopulasinya, periset akan menemukan tantangan, karena karakter porpoise yang berbeda dengan Cetacea lain pada umumnya. “Porpoise merupakan hewan pemalu dan bukan hewan akrobatik. Porpoise jarang terlihat di permukaan, kecuali saat ia ingin bernapas.”

Di Indonesia, penelitian khusus terhadap spesies ini belum pernah dilakukan. Informasi mengenai keberadaan porpoise di Lansekap Kubu Raya telah disampaikan pada kegiatan Southeast Asian Marine Mammal Stranding Network Symposium-Workshop-Training.

Di Lansekap Kubu sendiri, pada Oktober 2016 kemarin, juga ditemukan Bryde’s whale. Paus yang diperkirakan masih bayi atau juvinele tersebut, juga temuan baru. Paus Bryde (Bryde’s whale) merupakan paus berukuran tidak lebih dari 25 ton yang menyukai perairan tropis dan hangat. Penyebab terdamparnya paus tersebut hingga ke perairan dangkal, diduga akibat terseret arus bawah laut yang kuat. “Hal yang biasa terjadi dan menyebabkan mamalia laut besar terdampar,” ujar Albert. Temuan ini melengkapi fakta bahwa dari 88 jenis Cetacean yang ada di dunia, 3 diantaranya dijumpai di wilayah perairan Kabupaten Kubu Raya dengan komposisi jenis yang lengkap.

Baca juga: Paus yang Terdampar Itu Dilarung ke Laut…

Kepala BKSDA Kalbar, Sustyo Iriyono, menambahkan, dipastikannya keberadaan porpoise di Lansekap Kubu menandakan ekosistem di kawasan tersebut cukup baik. “Satwa ini kerap menjadi penanda bahwa rantai makanan di kawasan tersebut cukup baik. Masih terdapat banyak ikan di sana,” katanya. Ancaman utama dari mamalia ini adalah manusia.

Kedepannya, BKSDA akan terus melalukan sosialisasi dan penyadarantahuan kepada masyarakat mengenai keberadaan mamalia laut ini. Dia juga menekankan perlu dilakukan sebagai rencana aksi bersama untuk melindungi habitat dan populasi satwa tersebut. Di Indonesia, porpoise dilindungi berdasarkan UU No 5 tahun 1990 dan PP No 7 tahun 1999.

Dharma Wira (40) anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kubu Raya menyatakan, idealnya foto-foto porpoise, pesut serta paus, dan beberapa satwa dilindungi lainnya disebar di wilayah tersebut. Sehingga tidak hanya nelayan, warga dan siswa juga memahami ada satwa dilindungi yang berada di wilayah mereka. “Ekosistem yang baik dan terjaga, hasil tangkap nelayan juga banyak,” tambahnya.

Pengukuran dilakukan untuk mengetahui gambaran utuh satwa yang telah dipotong-potong ini. Foto: Aseanty Pahlevi
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui gambaran utuh satwa yang telah dipotong-potong ini pada April 2016 lalu. Foto: Aseanty Pahlevi

Ekosistem Esensial

Albert menekankan, langkah yang harus dilakukan segera oleh para pihak adalah memastikan habitat porpoise tersebut aman dari pencemaran. “Untuk itu, harus ada kerja sama para pihak yang beroperasi di sekitar perairan habitatnya.”

Saat ini terdapat sebelas perusahaan yang memanfaatkan dan mengolah mangrove di kawasan Kubu Raya. Dari sebelas perusahaan tersebut, tiga di antaranya sudah menjalin kerja sama dengan WWF-Indonesia, yaitu PT. Kandelia Alam, PT. Bina Silva Nusa, dan PT. Ekosistem Khatulistiwa Lestari.

Selain itu, lanjutmya, harus ditemukan solusi atau jalan keluar buat sistem penangkapan ikan (by catch) yang dapat meminimalisir tertangkapnya Finless purpoise dengan tidak sengaja. Untuk habitat, salah satu solusinya adalah pendekatan membangun kawasan ekosistem esensial dengan semua perusahaan yang. “Pendekatan yang kita usung saat ini untuk membangun bentang lahan yang pada akhirnya tidak hanya bicara tentang spesies tetapi juga sosial ekonomi.”

Paus Bryde (Bryde’s whale) merupakan paus berukuran tidak lebih dari 25 ton yang menyukai perairan tropis dan hangat. Sumber: Wikipedia
Paus Bryde (Bryde’s whale) merupakan paus berukuran tidak lebih dari 25 ton yang menyukai perairan tropis dan hangat. Sumber: Wikipedia

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam, dijelaskan mengenai pembangunan kawasan ekosistem esensial. Kawasan ekosistem esesnsial yang dimaksud adalah ekosistem karst, lahan basah (danau, sungai, rawa, payau dan wilayah pasang surut yang tidak lebih dari 6 (enam meter), mangrove dan gambut yang berada di luar kawasan suaka alam (KSA) dan kawasan pelestarian alam (KPA).

Tujuan pembangunan kawasan ekosistem esensial adalah terjaminnya proses ekologis yang menunjang kelangsungan hidup flora, fauna, dan ekosistemnya. Selain itu, pembanguan ekosistem esensial juga bertujuan menjaga, mencegah, dan membatasi kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan potensi dan kawasan serta perubahan fungsi kawasan, baik yang disebabkan oleh manusia, ternak, kebakaran, alam, spesies invasif, hama, dan penyakit.

Kegiatan pembanguan ekosistem esensial juga untuk menjaga hak negara, masyarakat, dan perorangan atas potensi, kawasan, ekosistem, investasi, dan perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan KSA dan KPA. Selain itu, juga untuk menjamin keutuhan potensi, kawasan, dan fungsi kawasan.

Pawan-Kubu Landseascape Leader WWF-Indonesia, Ian M Hilman menambahkan, wilayah Kabupaten Kubu Raya memiliki hutan mangrove yang sangat luas dan menjadi yang terbaik se-Asia Tenggara. Hasil pengamatan WWF di Lansekap Kubu, menunjukkan kawasan itu memiliki nilai konservasi tinggi (NKT). “Misalnya untuk hutan mangrove, setidaknya terdapat 40 jenis mangrove termasuk Candelia candel, habitat bekantan, habitat pesut, dan teridentifikasi 60 jenis burung.”

WWF-Indonesia, sejak 2015 telah mendeklarasikan wilayah penting yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi di Kubu Raya dengan sebutan Lansekap Kubu. Pengelolaan berbasis lansekap atau bentang alam adalah bagian dari strategi menciptakan efektivitas pengelolaan di suatu wilayah. “Kesinambungan antara upaya konservasi kawasan maupun spesies (ekologi) dan kehidupan masyarakat dari (sosial ekonomi) menjadi tonggak utama keberlangsungan ekosistem suatu wilayah.”