Memaknai Lingkungan Bukanlah Nostalgia Semata

Seorang warga di daerah Kayuagung, Sumsel sedang menangkap ikan. Manusia harus menjaga hubungan dengan alam dan lingkungannya. Foto: Taufik Wijaya
Seorang warga di daerah Kayuagung, Sumsel sedang menangkap ikan. Manusia harus menjaga hubungan dengan alam dan lingkungannya. Foto: Taufik Wijaya

Bagi generasi yang lahir tahun 1975-an ke bawah, tentu masih ingat dengan berbagai situasi di era itu. Orang Sumsel yang tinggal di daerah hulu, tentu akrab dengan gunung, bukit, lembah, sawah berjenjang, gemericik air sungai nan bening, serta anak-anak telanjang yang bermain lumpur di sawah.

Bagi yang hidup di daerah Iliran, akan terkenang dengan hamparan rawa tertutupi pohon gelam dan belukar, rumah panggung yang dibawahnya kerap tergenang air pasang, suara kodok dari rawa pinggir sungai, serta getek-getek kecil yang berseliweran di antara rumah-rumah kayu.

Tidak lupa, sebelum tidur biasanya bapak atau kakek dengan telaten melantunkan Andai-andai (dongeng) tentang para puyang, sungai, hutan, dan tokoh-tokoh mistis dari negeri antah berantah.

Itu dulu, zaman yang tidak mungkin lagi akan terulang.

Zaman dimana semuanya begitu asri, tak ada banjir, tanah longsor, kabut asap, dan berbagai petaka lingkungan. Era yang mungkin jika diceritakan kepada generasi sekarang, generasi yang lahir di atas 1990-an, dianggap bagai cerita negeri dongeng belaka.

Saat ini yang ada didepan mata adalah realitas yang serba kosmopolit dan segalanya dihargai atas nama materi, lewat perhitungan untung rugi ala bisnis.

Era dimana banjir dianggap hal lumrah, dan merasa aneh jika air tidak masuk rumah di kala hujan, atau terheran-heran kenapa tidak ada kabut asap di masa kemarau.

Merasa aneh pula jika melihat lebatnya buah duku tapi tidak dijual, merasa heran jika melihat rawa luas tapi tidak ditanami kelapa sawit. Kenyataan itu adalah dunia yang sebenarnya saat ini.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Itulah pergeseran dan perubahan paradigma manusia dalam memandang alam sekitarnya.

Perubahan yang sebenarnya pula tidak terjadi begitu saja.

Semasa dulu segalanya terlihat asri dan sederhana, karena masyarakat sendiri tidak memiliki pembanding atau pemancing untuk merubah perilaku terhadap alam.

Saat di awal 1990-an banyak perusahaan mulai beroperasi, terutama sektor perkebunan, mata itupun terbelalak dan terbuka. Gencarnya asupan informasi dari TV, radio, bahkan kemudian internet dan telepon selular, makin melorotkan pandangan tersebut.

Alam bukan lagi sahabat sejati, tapi disitulah sumber materi, sumber kekayaan. Terbuktilah kemudian filosofis Cartesian dengan kata kunci Antroposentris yang menjadi acuan.

Memaknai alam, itulah kata penting.

Kata yang bisa dikatakan penyebab malapetaka yang senantiasa dialami. Kata yang memiliki dua sisi pemaknaan berbeda, untuk alam dan manusia ataukah untuk manusia semata.

Kata inilah yang akan bermuara pada banyak aspek, mulai dari perilaku manusia, sampai pada kebijakan pemerintah. Terbayang saat tahun 2009 lalu, penambangan batu bara digencarkan sedemikian rupa, karena batubara dianggap sumber pendapatan dan sumber energi luar biasa.

Teringat pula saat tahun 1990-an, perkebunan kelapa sawit menyebar ke berbagai pelosok, menghabiskan ribuan kubik kayu bernilai tinggi, mengeringkan rawa-rawa gambut, karena sawit dianggap punya nilai ekonomis tinggi.

Memaknai alam, itulah filosofis Komunikasi Lingkungan.

Antropolog klasik, AT Rambo, pernah berkata bahwa antara manusia dengan alam selalu berinteraksi menyalurkan materi, energi, dan informasi yang kemudian terwujud dalam berbagai tindakan yang terjadi.

Gagasan sang antropolog ini mengilhami pentingnya aspek komunikasi dalam persoalan lingkungan. Yang disebut dengan etnoekologi komunikasi, sebuah sudut pandang pemahaman tentang lingkungan yang berakar dari sudut pandang kesatuan manusia dengan alam.

Lagi-lagi, inilah pemaknaan, hal paling dasar dalam berkomunikasi.

Menjadi jelas, mengapa di masa lalu, keharmonisan, keserasian itu begitu indah terjalin, karena ada sudut pandang pemaknaan yang seimbang tentang hak alam dan hak manusia.

Sekarang, justru fenomena itu yang dirindukan, walau kecil kemungkinan akan terwujud. Sekaligus menyatakan bahwa etnoekologi komunikasi menjadi penting untuk diperkuat dan dijadikan landasan berpikir.

Persoalan lingkungan kemudian semakin menemukan momentumnya, menjadi sangat aktual, seolah-olah ini sejalan dengan ide klasik dari Malthus, makin banyak manusia, makin tinggi pula persoalan lingkungan.

Logika sederhana bisa menerima ini. Banyaknya orang tentu banyak pula kebutuhan, terutama kebutuhan dasar.

Darimana sumbernya? Dari alam.

Eksploitasi dan eksplorasi, itulah yang terjadi. Sementara sisi perbaikan, pencegahan atau upaya konservasi sangat terlambat dan sangat minim.

Perkembangan kota yang pesat dan pertumbuhan populasi menjadi ancaman alih fungsi lahan. Sebagai contoh Kota Bandung, berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kota Bandung penyusutan lahan pertanian mencapai 200 hektar pada tahun 2016. Foto : Donny Iqbal
Perkembangan kota yang pesat dan pertumbuhan populasi menjadi ancaman alih fungsi lahan. Sebagai contoh Kota Bandung, berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kota Bandung penyusutan lahan pertanian mencapai 200 hektar pada tahun 2016. Foto : Donny Iqbal

Saat masalah lingkungan menemukan momentum, maka memutar balik pemaknaan terhadap lingkungan juga mendapat porsi terbesar, karena pangkalnya dari sini. Andai tak dilakukan itu, niscaya kegagalan saja yang akan terjadi.

Tak ada niat baik atau tidak menjadikan isu lingkungan sebagai masalah bersama, adalah faktor pertama. Seakan masalah ini hanya urusan aktifis lingkungan, BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, dan segelintir jurnalis lingkungan atau akademisi lingkungan.

Kedua, hukum lingkungan pun tak pula bergigi tajam, kerap kandas oleh manisnya konflik lingkungan, dan ketiga, yang terparah, cara pandang bahwa sumber pendapatan asli daerah dari lingkungan hidup masih mengental di para pemangku kebijakan.

Dimasa sekarang, memutar balik pemaknaan terhadap hakekat lingkungan sangat strategis dan krusial. Inilah momentum dan peran besar komunikasi lingkungan.

Berkomunikasi tentang dan dengan lingkungan bukanlah pekerjaan  akademisi atau ilmuwan belaka, tapi semua elemen, karena seluruh unsur terlibat dalam aktifitas tersebut.

Yang diperlukan adalah merancang dan mengawal gerakan pemaknaan ulang terhadap lingkungan, setidaknya, jadikanlah itu sebagai isu bersama terlebih dahulu. Mulailah dari sekarang, karena masalah lingkungan bukan masalah nanti, tapi saat ini.

Melakukan gerakan ini dengan harapan untuk masa depan, yang dalam bahasa lain sering pula disebut sebagai pembangunan yang berkelanjutan (sustainability development). Sederhananya, apa yang dikerjakan hari ini harus memikirkan kepentingan generasi 20-50 tahun kedepan.

Dalam bahasa komunikasi, setidaknya ada 4 aspek terkait, yaitu: kampanye lingkungan, advokasi lingkungan, pendidikan lingkungan, dan penguatan sistem informasi tentang lingkungan.

Opini publik adalah capaian yang harus direbut. Itulah peran media massa, media kampanye, kelompok penekan (pressure group), NGO, akademisi, yang sebaiknya dibarengi dengan mengangkat aspek ini ke level isu kebijakan publik.

Hutan di Sipanganbolon, Simalungun, Sumut, terbakar (14/10/16). Kebakaran hutan menyebabkan kabut asap yang buruk bagi kesehatan manusia. Foto: Ayat S Karokaro
Hutan di Sipanganbolon, Simalungun, Sumut, terbakar (14/10/16). Kebakaran hutan menyebabkan kabut asap yang buruk bagi kesehatan manusia. Foto: Ayat S Karokaro

Melalui kampanye, yang dibarengi dengan tindakan advokasi, maka penyadaran, pemberdayaan, perlindungan, dan termasuk pengawasan kegiatan lingkungan bisa lebih efektif. Kalangan pemodal besar yang banyak meraih untung dari eksploitasi lingkungan, bisa ditekan.

Pemerintah yang selama ini cenderung tutup mata harus dibangunkan dengan kampanye yang gencar. Teknik propaganda, kampanye, penggalangan opini, yang dikenal dalam komunikasi bisa jadi alat utama.

Di sisi lain, kelompok masyarakat, generasi muda, dan unsur lain, termasuk aparatur pemerintah harus pula dipersiapkan. Pendidikan lingkungan yang berakar dari pemaknaan ulang terhadap posisi lingkungan, dijadikan agenda utama.

Mengkomunikasikan ke semua pihak bahwa masalah lingkungan adalah masalah bersama. Tidak mesti di dalam kelas yang sangat formil. Di tengah sawah, di pinggir sungai kadang jauh lebih efektif.

Bukankah, “aku berbuat maka aku bisa” ketimbang “aku mendengar maka aku lupa”.

Sejalan dengan semua itu, kemajuan teknologi informasi harus pula diikuti. Teknologi internet yang semakin canggih harusnya jadi modal besar. Sistem informasi lingkungan hidup, yang memberikan pencerahan pada semua pihak, sekaligus mekanisme tanggap bencana, akan mengikat semua itu dalam sebuah sistem yang terintegrasi.

Berpadulah komunikasi lingkungan itu dalam sebuah sistem informasi LH yang berbasis pada pemaknaan posisi seimbang antara manusia dengan lingkungan.

Tentu saja mewujudkan itu bukanlah masalah sederhana, banyak tantangan dan hambatan akan terjadi.

Apalagi ini bicara soal industri yang padat modal, soal masyarakat yang sudah tergeser pemahamannya, soal hak ekonomi dan hak hidup warga, soal tekanan global yang masih berorientasi keuntungan, termasuk soal paradigma pemerintah yang masih terbelit-belit dalam dilema ekonomi politik lingkungan.

Kajian komunikasi lingkungan sebenarnya tidak memusingkan soal itu. Ilmu yang terfokus pada pemaknaan manusia ini, punya banyak celah untuk menerobosya. Terpenting sasaran awal adalah rebut opini publik, dengan sumber daya yang ada.

Saat jalan sudah tersumbat, maka lubang kecillah yang bisa dimanfaatkan.

Membalikkan pemaknaan bukanlah berarti bernostalgia ke masa lalu, berkhayal tentang zaman yang sudah lewat, tetapi mengambil hal-hal penting yang masih berceceran, yang tersangkut di pondok-pondok tua di tengah kebun, atau di bong-bong (jamban) pinggir sungai, atau mungkin di pance-pance (pelataran bambu) masyarakat uluan Sumsel.

Nilai penting inilah yang didorong agar masuk jadi isu bersama dan selanjutnya ke level kebijakan publik, menjadi aturan bersama, memaksa siapapun untuk patuh.

Kawalan dan kontrol dari media akan membantu sekali, disinilah tampak bahwa menyelesaikan masalah ini harus bersama-sama.

* Dr. Yenrizal Tarmizi, M.Si. Penulis adalah akademisi Komunikasi Lingkungan FISIP UIN Raden Fatah. Penulis tinggal di Palembang. Artikel ini adalah opini penulis.