Ikan Jenis Apa yang Banyak Dikonsumsi Bangsa Indonesia di Masa Lalu?

Nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya dengan mancari ikan di lautan. Peralatan yang mereka gunakan juga sederhana, jaring dan kail. Foto: Junaidi Hanafiah

Nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya dengan mancari ikan di laut. Peralatan yang mereka gunakan juga sederhana, jaring dan kail. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Sebagai bangsa bahari, tentunya ikan merupakan menu makanan sehari-hari bagi sebagian besar bangsa kita. Pertanyaannya, ikan apa yang umum dimakan bangsa ini di masa lalu?

“Berdasarkan bukti arkeologi atau artefak ikan yang sering kita temukan dalam setiap kali melakukan ekskavasi di wilayah pemukiman kuno di wilayah pantai timur Sumatera, kemungkinan besar ikan berpatil atau berpantak,” kata Budi Wiyana, arkeolog lahan basah yang juga Kepala Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan, Selasa (03/01/2017).

Jadi, lanjut Budi, ikan yang banyak dikonsumsi itu seperti sembilang, baung, patin, lele, juaro, coli, dan lambak.

“Patil-patil ikan ini ditemukan di antara artefak rumah tangga di situs pemukiman di pantai timur. Masanya dari abad ke-4 hingga 14 Masehi. Pokoknya, hampir setiap kali melakukan ekskavasi kita selalu menemukan patil ikan,” ujarnya.

Selain itu, ditemukan juga beberapa kali ruas belakang ikan yang ukurannya besar. “Kami belum menelitinya lebih jauh, tapi kemungkinan itu hiu atau paus.”

 

 

Ikan laut hasil tangkapan nelayan yang biasanya dikumpulkan di tempat penampungan ikan untuk selanjutnya dijual. Foto: Junaidi Hanafiah

Ikan laut hasil tangkapan nelayan yang merupakan kekayaan laut Indonesia. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Budi belum melakukan penelitian atau kajian lebih mendalam, kenapa masyarakat di wilayah pesisir pantai timur—dari masa praSriwijaya, Sriwijaya, hingga Majapahit—tersebut senang mengonsumsi jenis ikan berpatil, yang umumnya hidup di muara dan sungai tersebut. “Sepertinya bukti ikan laut hanya tulang ikan besar seperti hiu atau paus itu,” lanjutnya.

Namun, Budi memperkirakan ikan-ikan berpatil ini juga dikonsumsi masyarakat di pesisir lainnya di Nusantara (Indonesia). Sebab, mereka yang menetap di pesisir timur itu bukan hanya Melayu, atau Bugis, juga para pendatang dari luar Nusantara, seperti Tiongkok. “Tapi hal ini butuh penelitian lebih dalam dan meluas,” ujarnya.

Jika dikaitkan di masa kekinian, terutama kuliner khas Sumatera Selatan, yakni pindang ikan, memang banyak ikan berpatil seperti baung dan patin yang dijadikan bahan masakan tersebut.

 

 

Patil ikan yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Foto: Balar Sumsel

Patil ikan yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Foto: Balar Sumsel

 

 

Ada kemungkinan pilihan terhadap ikan berpatil ini, bukan hanya persoalan rasa, juga memiliki manfaat bagi kesehatan. “Leluhur kita kan sangat paham soal kesehatan dan pengobatan. Saya percaya setiap makanan yang dikonsumsi pasti memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan, bukan sebatas rasa,” terangnya.

Pernyataan Budi ini mungkin ada benarnya, dalam beberapa artikel kesehatan, ikan memang dinilai jauh lebih sehat dikonsumsi dibandingkan daging hewan di daratan. Berdasarkan beberapa penelitian, ikan air tawar jauh lebih bagus dikonsumsi manusia dibandingkan ikan laut. Hanya sejumlah ikan laut yang sangat baik, lantaran mengandung banyak asam omega 3 seperti salmon, makarel dan sardine.

Tetapi, penelitian lain juga menyebutkan sejumlah ikan berpatil seperti patin memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan, selain juga mengandung omega 3 yang tinggi seperti salmon.

 

 

Ruas tulang belakang hewan paus. Foto: Balar Sumsel

Ruas tulang belakang paus. Foto: Balar Sumsel

 

 

Ikan patin memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan jenis ikan lainnya, terutama asam lemak esensial DHA sekitar 4,74 persen dan EPA sekitar 0,31 persen. Total kandungan lemak ikan patin 2,55 persen menjadi 3,42 persen, lalu asam lemak tak jenuh di atas 50 persen. Asam oleat merupakan asam lemak tak jenuh tunggal di dalam daging ikan patin sekitar 8,43 persen.

Oleh karena itu ikan patin berpotensi mencegah penyakit kardiovaskular, yakni penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah seperti penyakit jantung iskemik, stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi dan pembesaran aorta dan penyakit jantung rematik. Ikan patin juga baik dikonsumsi ibu hamil karena kandungan omega 3 dan DHA sangat baik untuk pertumbuhan janin menjadi sehat dan normal.

 

 

Tulang burung. Foto: Balar Sumsel

Tulang burung. Foto: Balar Sumsel

 

 

Tidak makan binatang buas

Selain makan ikan, khususnya ikan berpatil, masyarakat pantai timur Sumatera juga mengonsumsi kura-kura, babi dan burung. “Tetapi artefak babi, burung dan kura-kura ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan ikan ditemukan pada situs pemukiman,” katanya.

Yang jelas, kata Budi, mereka belum pernah menemukan artefak tulang dari hewan buas atau yang saat ini dilindungi seperti gajah, harimau, beruang, buaya, kera, dan lainnya.

“Dapat disimpulkan sementara masyarakat kita, khususnya yang hidup sebelum, pada masa Sriwijaya dan sesudahnya tidak pernah mengonsumsi harimau, kera, buaya, beruang, apalagi gajah,” tandasnya.

 

 

Tempurung kura-kura. Foto: Balar Sumsel

Tempurung kura-kura. Foto: Balar Sumsel

 

 

 

DISKUS