Meresahkan, Begini Cara Warga Wonogiri Atasi Serangan Monyet

Tanam pohon buah-buahan di Gunung Kacang. Selain buat konservasi lahan, buah bisa jadi makanan monyet hingga tak ganggu tanaman pertanian warga. Foto: Nuswantoro

Tanam pohon buah-buahan di Gunung Kacang. Selain buat konservasi lahan, buah bisa jadi makanan monyet hingga tak ganggu tanaman pertanian warga. Foto: Nuswantoro

 

 

 

 

 

“Saya tobat. Sekarang tak menanam jagung lagi karena selalu dirusak kawanan kera ,” kata Sukiman Rebo, warga Pakis, Desa Bugelan, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, Minggu, belum lama ini. Warga menyebut monyet ekor panjang ini dengan sebutan kera.

Dia kesal monyet kerap menyerang ke ladangnya. Serangan monyet, katanya,  datang hampir tiap hari terlebih musim kemarau.

“Petani sudah melakukan berbagai cara mencegah serangan. Menghalau memakai kayu, anjing, sampai menunggui ladang. Kawanan kera selalu kembali datang.”

Monyet datang, ladang rusak. Pernah, katanya, jagung  sampai tak bisa panen. Sebagai ganti, dia memilih tanam janggelan.

“Ini salah satu tanaman andalan Wonogiri. Daun jadi bahan cincau hitam. Jika ditanami jagung atau ketela, sudah pasti dimakan monyet.

“Biasanya kera datang berkelompok. Sekitar 10 ekor setiap kelompok. Mereka itu pintar,” katanya sambil memperagakan bagaimana monyet-monyet itu menjarah jagung atau ketela.

Ciri-ciri kelompok monyet yang menyerang berbulu abu-abu, dengan variasi warna coklat keemasan dan putih. Ekor panjang. Setiap menyerang selalu datang berkelompok. Biasa menyerang pagi atau siang hari.

Monyet ini bisa mendekap jagung jarahan sambil bergelantungan di pohon. Jika mengambil ketela, mereka menggunakan kekuatan otot tangan dan punggung. Saat mencabut ketela, posisi berkebalikan dengan yang biasa dilakukan manusia.

Untuk mencegah kerugian, petani Desa Bugelan yang menanam jagung atau ketela terpaksa menjaga ladang.

Sejak pagi mereka sudah berada di ladang, siap menghalau kawanan monyet yang mau menjarah. Mereka tak berani membunuh monyet karena tahu perbuatan itu dilarang.

Slamet, warga Bugelan menuturkan, tak hanya tanaman pangan, monyet juga merusak tanaman seperti sengon. Kadang-kadang, monyet itu berani sampai ke rumah warga.

“Sengon masih muda dirusak, dahan dipatahkan. Seolah-olah mereka tahu itu bukan pohon yang menghasilkan makanan buat mereka,” kata pria juga anggota LMDH Hargo Mulyo, Bugelan itu.

Sebelum menyerang, selalu ada salah satu anggota kawanan naik ke pohon tinggi dan mengintai keberadaan petani. Saat petani pergi, monyet turun mengambil makanan.

“Jika tak ada ketela, rumput untuk ternak juga dimakan,” katanya, sambil memperlihatkan jenis rumput yang dimakan monyet.

Paryanto, Kepala Desa Bugelan, mengatakan, ada sekitar 15 hektar lahan petani tak bisa ditanami tanaman pangan karena kawanan monyet menjadikan lahan itu tempat mencari makan.

“Petani biarkan ladang itu terbengkalai. Beberapa kali warga lapor ke kantor. Keluhan lalu diteruskan ke kecamatan dan BKSDA Sukoharjo,” katanya. “Tapi belum ada tindak lanjut.”

Akhirnya, dia mengambil solusi, kalau lahan-lahan Perhutani yang masih kosong ditanami pohon yang menghasilkan makanan monyet, hingga tak menyerang tanaman warga.

Di beberapa wilayah ada warga membangun rumah di daerah rawan longsor. “Ini sekaligus konservasi perbukitan, menghijaukan bukit mencegah longsor.”

 

 

 

 

Slamet, petani Bugelan, memperlihatkan jenis rumput yang juga dimakan monyet. Foto: Nuswantoro

Slamet, petani Bugelan, memperlihatkan jenis rumput yang juga dimakan monyet. Foto: Nuswantoro

 

 

 

 

 

 

Tanami pohon buah

Tino Noto Prasojo, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Hargo Mulyo, Bugelan, mengatakan, warga sekitar Gunung Kacang, kerap didatangi monyet. Mereka sudah angkat tangan.

Warga sekitar hutan jarang menanam ketela atau jagung. Padahal,  selain beras, mereka memanfaatkan jagung dan ketela sebagai makanan pokok.

“Warga dekat hutan kini menanam jahe, cabe, janggelan. Talas dan kalanjana saja dimakan kera,” katanya.

Dia lalu menggerakkan masyarakat agar di lingkungan Gunung Kacang ditanami buah-buahan.

Gayung bersambut. Kebetulan, Garda Hijau Bumi (GHB) Wonogiri, kelompok prolingkungan berencana mengadakan penanaman pohon. GHB selama ini dikenal mendampingi Sadiman, penerima kalpataru karena kegigihan menghijaukan bukit-bukit gundul di Wonogiri.

“Tambahan buah-buahan itu bermula dari keluhan warga Bugelan, kalau kemarau warga diganggu kera,” kata Yustanto, Ketua GHB, saat penanaman pohon.

Sebanyak 10.000 bibit tanaman mereka berikan ke LMDH. Bibit-bibit itu hasil sumbangan beberapa instansi seperti Dinas Pertanian dan Dinas Perkebunan Wonogiri, Balai pengelolaan DAS Solo, dan Ikatan Alumni UNS, Solo.

Selanjutnya, bibit ditanam di sekitar Bugelan, antara lain Gunung Kacang, Air Terjun Jurug Muncar, dan Gunung Besek. Tanaman buah itu antara lain sirsak, duwet, jambu biji, kakao, asam Jawa, talok.

Mereka juga menanam beringin dan tanaman perindang lain.   “Kita menanam buah di Bugelan sebagai sabuk pengaman, agar ekosistem tetap terjaga, tanpa menyakiti kera.”

Menurut Sulis, koordinator lapangan aksi penanaman, selain melibatkan masyarakat, kegiatan didukung komunitas pecinta lingkungan berbagai kota, dan TNI. Sebanyak 350-an orang dari 311 komunitas, dari Solo, Bali, Ponorogo, Yogyakarta, dan sekitar Wonogiri.

“Harapannya dengan penghijauan, masyarakat kembali bisa menanam tanaman lebih menghasilkan. Hutan lebih hijau. Warga sekitar hutan bisa menanam jagung, ketela lagi.”

Mereka berharap, monyet tak masuk wilayah warga. “Cukup di hutan karena dalam hutan tersedia makanan buat mereka.”

 

 

 

 

Buah yang disukai monyet. Foto: Nuswantoro

Buah yang disukai monyet. Foto: Nuswantoro

 

 

 

 

 

 

 

 

DISKUS