Mewujudkan Kemandirian Energi Berawal dari Desa di Bali

Bagi I Gusti Ngurah Agung Putradhyana, mengubah panas sinar matahari menjadi energi listrik tidak lagi mimpi. Dia menggunakannya mulai dari skala pribadi dan rumah tangga. Mimpi besarnya, Indonesia yang berlimpah cahaya matahari ini bisa mandiri energi terbarukan.

Agung Putradhyana mulai mewujudkan mimpi itu dari desanya sendiri. Sehari-hari, arsitek alumni Universitas Udayana Bali yang akrab disapa Gung Kayon itu tinggal di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Jaraknya sekitar 60 km barat daya dari Denpasar.

Di rumah berarsitektur Bali tersebut, Gung Kayon mencukupi hampir semua kebutuhan energi listriknya dengan tenaga surya. Untuk mendapatkan energi matahari di rumahnya, Kayon memasang belasan panel surya di halaman, atap, ataupun bagian lain. Energi matahari yang terkumpul kemudian diubah menjadi panas, cahaya, maupun gerak melalui berbagai peralatan rumah tangga.

I Gusti Ngurah Agung Putradhyana yang lebih akrab dipanggil Gung Kayon memotong rumput menggunakan alat dengan sumber energy dari matahari di rumahnya di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Foto : Anton Muhajir
I Gusti Ngurah Agung Putradhyana yang lebih akrab dipanggil Gung Kayon memotong rumput menggunakan alat dengan sumber energy dari matahari di rumahnya di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Foto : Anton Muhajir

Panel-panel itu dalam beragam ukuran dan daya, dari 10 watt peak (WP) per jam hingga 300 WP per jam. Panel-panel tersebut rata-rata mendapatkan sinar matahari minimal 4 jam tiap hari sehingga daya listrik yang diperoleh antara 40 watt hingga 1.200 watt.

Sebagai ilustrasi, panel surya dengan kekuatan 50 WP per jam mampu menyimpan energi listrik mencapai 200 watt selama 4 jam. Daya listrik sebesar itu cukup untuk menyalakan lampu 10 lampu dengan daya 3 watt selama lebih dari 5 jam.

Namun, Gung Kayon tidak hanya menggunakan energi surya tersebut untuk kebutuhan lampu penerang. Dia juga menggunakan energi surya tersebut antara lain untuk kompor listrik, lampu rumah, isi ulang ponsel, bahkan mesin pemotong rumput.

Untuk alat terakhir tersebut, Gung Kayon menggunakan panel surya yang dimasukkan ke dalam tas, yang energinya digunakan untuk alat pemotong. Meskipun masih dalam jumlah terbatas, Gung Kayon juga membuat alat pembajak sawah, gerobak pengangkut sampah, dan alat pemotong padi yang digerakkan dengan tenaga surya.

Alat sederhana lain yang dia kembangkan adalah pengisi daya telepon genggam. Hanya dengan 2-4 panel surya masing-masing berkekuatan 10 WP, dia bisa mengisi ulang daya ponsel. “Tidak perlu lagi pakai listrik rumah. Praktis bisa dibawa ke mana-mana juga,” kata Gung Kayon.

Pengisi daya ponsel itu kadang dia tempelkan di topi atau di tas sehingga bisa dibawa jalan-jalan.

Gung Kayon memperlihatkan solar panel portable. Atas upaya mewujudkan kemandirian energi di desanya Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, Gung Kayon mendapat anugerah dari Kementerian ESDM  pada November 2016. Foto : Anton Muhajir
Gung Kayon memperlihatkan solar panel portable. Atas upaya mewujudkan kemandirian energi di desanya Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, Gung Kayon mendapat anugerah dari Kementerian ESDM pada November 2016. Foto : Anton Muhajir

Dengan semua inovasi tersebut, rumah Gung Kayon di Desa Geluntung pun kini sama sekali tidak tergantung pada listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dia memang masih berlangganan PLN dengan daya sebesar 1.300 Watt tapi hanya sebagai cadangan. Dalam sebulan, dia paling hanya menghabiskan biaya Rp 20.000. “Karena sudah kadung langganan,” katanya lalu tertawa.

Memperluas di Desa

Atas usahanya mengenalkan sumber energi terbarukan, pada November 2016 lalu, Gung Kayon mendapatkan penghargaan Energi Prakarsa Perorangan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Namun, penghargaan itu justru membuatnya tertantang untuk mewujudkan mimpi kemandirian energi di Indonesia.

Menurut Gung Kayon, dengan posisi di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk mandiri dengan mengandalkan tenaga surya. Itulah yang sekarang dia perjuangkan, mewujudkan kemandirian energi mulai dari desa kelahirannya sendiri.

“Indonesia memiliki sumber energi matahari yang lebih dari cukup. Potensinya mencapai 1.000 watt per jam sementara alata-alat di pasaran bisa mengubahnya menjadi sekitar 150 sampai 200 watt per jam,” kata Kayon.

“Dengan modal potensi itu, banyak hal bisa kita lakukan. Jadi tidak ada lagi istilah tidak ada sumber energi lagi,” tambahnya.

Untuk memperluas penggunaan tenaga surya, Gung Kayon saat ini mengajak warga di desanya untuk menggunakan panel surya. Setahun terakhir, beberapa lokasi di desa pun memasang panel surya tersebut, seperti di Kantor Desa, Pura, dan tempat pemandian atau beji.

Kantor Desa Geluntung, Tabanan, Bali, sudah menggunakan tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan lampu penerang di halaman kantor. Foto : Anton Muhajir
Kantor Desa Geluntung, Tabanan, Bali, sudah menggunakan tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan lampu penerang di halaman kantor. Foto : Anton Muhajir

Di pemandian umum, misalnya, kini terpasang 20 lampu LED di sepanjang jalan menuju lokasi pemandian. Dari dulunya gelap karena tidak ada lampu, kini tiap malam tempat itu terang. Begitu pula dengan di Pura Desa.

Pemilihan lokasi-lokasi tersebut, menurut Gung Kayon, untuk memberikan “cantolan kultural” terhadap kampanye energi terbarukan. Setelah memasang di pura dan tempat pemandian, Kayon ingin selanjutnya memasang di balai banjar.

Tempat lain di Desa Geluntung yang sudah menggunakan listrik tenaga surya adalah Kantor Desa. Sejak Januari tahun lalu, mereka memasang panel surya di depan kantor desa lalu hasilnya digunakan untuk menghidupkan enam lampu di jalan dan halaman kantor desa.

Wayan Budiawan, Sekretaris Desa Geluntung mengatakan pemasangan panel surya di depan kantor desa menjadi percontohan bahwa listrik tenaga surya memang bisa diterapkan di skala lebih besar, tidak hanya di rumah tangga.

“Ini bagus karena sumber energinya dari alam dan dikembalikan lagi ke alam. Kita juga jadi pakai sumber energi lebih bersih karena mengandalkan matahari,” kata Budiawan.

Agar upaya memperluas di skala desa bisa lebih cepat, sekarang beberapa warga seperti Budiawan juga aktif memasang panel surya di sepanjang jalan desa. Harapannya, seluruh lampu di tempat-tempat publik Desa Geluntung bisa sepenuhnya menggunakan surya panel.

Bali Bisa Mandiri

Direktur Eksekutif Walhi Bali Suriadi Darmoko mengatakan upaya Gung Kayon di level desa bisa menjawab tantangan Bali mewujudkan kemandirian energi. “Dengan potensi sinar matahari berlimpah, Bali bisa memanen sinar matahari agar menjadi sumber energi listrik mulai dari skala rumah tangga,” kata Darmoko.

Darmoko mengatakan satu persen luas Bali saja sudah bisa memenuhi sumber energi surya panel. Misalnya dengan menggunakan atap rumah warga sebagai tempat surya panel. Dari masing-masing rumah tangga kemudian bisa dijual dan dikelola oleh PLN.

Seorang anak melintas di kompleks PLTS Kubu, Karangasem, Bali, yang kondisinya memprihatinkan dengan banyaknya alat dan panel surya yang rusak. Foto : Anton Muhajir
Seorang anak melintas di kompleks PLTS Kubu, Karangasem, Bali, yang kondisinya memprihatinkan dengan banyaknya alat dan panel surya yang rusak. Foto : Anton Muhajir

Sayangnya, menurut Darmoko, pemerintah pusat maupun di Bali belum serius dalam mengembangkan sumber energi listrik ramah lingkungan dan terbarukan. Dia menyebut contoh proyek listrik tenaga surya di Kubu, Karangasem dan di Nusa Penida, Klungkung.

Di Kubu, Karangasem, saat ini terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang mangkrak. Padahal, dia menjadi salah satu dari tiga proyek percontohan pembangkit listrik tenaga terbarukan pada zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Berada di lokasi seluas 1,2 hektar dengan kekuatan listrik yang dihasilkan sebesar 1 MWP, PLTS Kubu tidak hanya menjadi PLTS pertama yang dibangun tapi juga menjadi PLTS terbesar di Indonesia pada saat itu. Toh, mimpi besar nan ambisius itu kini tak terurus.

(baca : PLTS Kubu, Proyek Ambisius yang Kini Tidak Terurus)

Begitu pula dengan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Nusa Penida yang diresmikan SBY pada November 2007. Lokasi di Puncak Mundi ini malah digadang-gadang sebagai Desa Wisata Mandiri Energi karena juga memiliki PLTS.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Nusa Penida mangkrak dan baling-baling pembangkit listrinya tidak ada yang berfungsi sama sekali saat ini. Foto : Anton Muhajir
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Nusa Penida mangkrak dan baling-baling pembangkit listrinya tidak ada yang berfungsi sama sekali saat ini. Foto : Anton Muhajir

Toh, semua mimpi besar kemandirian energi itu kini telantar. Tidak ada satu pun dari delapan baling-baling PLTB yang berfungsi. Begitu pula dengan PLTS di pulau di sisi tenggara Bali tersebut.

Karena itulah, menurut Darmoko, upaya mewujudkan kemandirian energi di Bali harus dilakukan dari skala rumah tangga dengan melibatkan partisipasi publik. “Semua perlu kemandirian seperti air, pangan, dan energi. Negara harus memfasilitasi agar warga bisa mewujudkan kemandirian tersebut,” ujarnya.