Air untuk Penghidupan Warga Karangtengah Tiba-tiba Keruh, Ada Apa?

Waluyo, 54, melarang cucunya untuk turun ke bawah air terjun Cipendok dengan ketinggian 92 meter yang terletak di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). Padahal, kedatangan dirinya bersama cucunya dari luar kota, sedianya akan mandi di Sungai Prukut yang menjadi tempat jatuhnya air terjun Cipendok.

“Saya terkejut saja sampai sini, ternyata airnya keruh. Padahal, biasanya airnya bersih, bahkan pada saat hujan sekalipun. Namun, ternyata saat sekarang keruh,”ungkap Waluyo, warga Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Banyumas tersebut.

Air Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng keruh sejak dua bulan terakhir. Wisatawan pun enggan berkunjung ke lokasi wisata tersebut dan masyarakat setempat terdampak karena airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Foto : L Darmawan
Air Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng keruh sejak dua bulan terakhir. Wisatawan pun enggan berkunjung ke lokasi wisata tersebut dan masyarakat setempat terdampak karena airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Foto : L Darmawan

Makanya, ia kemudian melarang cucunya untuk mandi curug tersebut, karena airnya berwarna coklat. Pantas saja, tidak terlalu banyak wisatawan yang datang di kawasan wisata alam tersebut. Padahal, biasanya pada akhir pekan, ada puluhan bahkan ratusan pengunjung yang sengaja datang di Curug Cipendok itu. Mereka bermain di bebatuan yang berada di Kali Prukut yang mengalirkan air yang terjun dari curug tersebut. Para pengunjung biasanya begitu betah, karena airnya dingin dan bersih. Khas mata air pegunungan.

Tetapi kini, sangat kontras dengan kondisi sebelumnya. Sebab, dengan air yang keruh, wisawatan enggan datang. Jangankan untuk mandi, melihat saja sepertinya tidak terlalu semangat. “Kalau seperti ini, apa yang dilihat. Daun-daun pepohonan yang berada di sekitar curug saja berwarna coklat. Kalau tidak ada lumpur yang masuk ke aliran curug, jelas tidak mungkin. Air yang warnanya coklat itu karena ada tanah yang tercampur,”jelas Waluyo.

Karena air Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng keruh sejak dua bulan terakhir, wisatawan enggan mandi dan bermain di curug tersebut. Foto : L Darmawan
Karena air Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng keruh sejak dua bulan terakhir, wisatawan enggan mandi dan bermain di curug tersebut. Foto : L Darmawan

Salah satu petugas Kawasan Wisata Curug Cipendok, Hadi Purnomo, mengakui kalau wisatawan yang datang ke curug semakin hari kian sedikit. “Sudah dua bulan kondisi air Curug Cipendok keruh, karena airnya berwarna coklat. Orang yang masih datang ke sini, kemungkinan belum tahu kalau airnya keruh. Jika sudah tahu keruh, sepertinya mereka enggan datang. Karena pada umumnya, para pengunjung itu paling suka menikmati mandi di sekitar air terjun,”jelas Hadi.

Ia mengungkapkan, dari informasi yang diperolehnya menyebutkan kalau air Curug Cipendok yang keruh tersebut disebabkan karena adanya pembukaan areal hutan milik Perhutani. “Pepohonan pada areal hutan milik Perhutani ditebang untuk dijadikan jalan bagi proyek pembangkit listrik panas bumi (PLTP) Baturraden. Dengan adanya pembukaan lahan hutan maka ada tanah atau lumpur yang masuk ke aliran air menuju Curug Cipendok, sehingga airnya berwarna coklat,”katanya.

Terdampak

Keruhnya air Curug Cipendok hingga aliran air Sungai Prukut yang kemudian melintasi Desa Karangtengah berdampak pada kehidupan masyarakat setempat. Pasalnya, aliran yang sebelum bersih dan kini menjadi kotor itu merupakan sumber penghidupan masyarakat setempat.

“Saya menggunakan air yang mengalir dari Curug Cipendok untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk mandi, memasak dan minum. Kalau sekarang, semuanya serba sulit karena airnya bercampur lumpur. Saya terpaksa harus menyaring dahulu untuk keperluan sehari-hari baik untuk masak maupun minum. Bagi yang ekonominya mampu, mereka bisa membeli air galon yang bersih, tetapi seperti saya buruh tani tidak mungkin. Makanya saya menyaring air dahulu,”ungkap Katur, 51, warga Dusun Lebaksiu, Desa Karangtengah.

Seorang anak melinats di dekat Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng yang airnya keruh sejak dua bulan terakhir. Foto : L Darmawan
Seorang anak melinats di dekat Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng yang airnya keruh sejak dua bulan terakhir. Foto : L Darmawan

Tak hanya Katur yang terkena dampak, Risto, 48, juga merasakan dampaknya. Sebab, aliran air tersebut digunakan oleh warga desa untuk mengaliri kolam-kolam ikan. “Begitu ada perubahan air yang kini kotor dan berubah menjadi coklat, maka banyak petani ikan yang merugi akibat ikannya mati. Berbagai jenis ikan seperti gurameh, nilam, mujair dan lainnya terpengaruh dengan perubahan air tersebut. Kondisi seperti ini jelas sangat memprihatinkan,” katanya.

Tidak heran, jika kemudian warga setempat sejak pekan lalu melakukan protes terhadap kondisi aliran sungai yang keruh. Mereka memasang berbagai macam poster dan patung kertas yang berbentuk ikan di atas aliran irigasi desa setempat. Di patung ikan ditulis, tulung aku pengin urip lah artinya tolong, saya ingin hidup. Kemudian di sisi lainnya, bertuliskan aku jaluk tulung sapa atau saya minta tolong siapa.

Kepala Desa Karangtengah Rusdi Mulyanto mengatakan kalau keruhnya air memang berdampak besar bagi masyarakat setempat. “Kami telah bertemu dengan Pak Bupati Banyumas Achmad Husein mengenai air yang keruh tersebut. Dari hasil pertemuan itu diperoleh informasi jika kotornya air sungai salah satunya akibat pembangunan jalan untuk proyek pembangunan PLTP Baturraden. Kami mohon, agar pengelola PLTP Baturraden segera melakukan upaya agar air kembali bersih,” tegasnya.

Menurut Kades, upaya harus secepatnya karena air yang tercemar tersebut sangat berdampak buruk bagi masyarakat. “Masyarakat terus mengeluhkan air yang tercemar itu, karena mereka sangat menggantungkan kehidupannya pada aliran air dari Curug Cipendok tersebut. Baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pengairan kolam. Tidak sedikit petani ikan di sini rugi belasan hingga puluhan juta rupiah akibat tidak panen ikan. Penyebabnya adalah air yang tercemar tersebut,” kata dia.

Warga Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng membuat patung ikan dan memasang poster sebagai bentuk protes keruhnya air Sungai Prukut karena pembangunan jalan PLTP Baturraden. Foto : L Darmawan
Warga Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jateng membuat patung ikan dan memasang poster sebagai bentuk protes keruhnya air Sungai Prukut karena pembangunan jalan PLTP Baturraden. Foto : L Darmawan

Secara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Banyumas Irawadi mengungkapkan bahwa Pemkab Banyumas telah bertemu dengan PT Sejahtera Alam Energy (SAE) membahas persoalan tersebut. “PT SAE selaku perusahaan yang membangun PLTP Baturraden sudah berkomitmen untuk menghilangkan efek yang ditimbulkan akibat aktivitas pembangunan PLTP tersebut. Setidaknya dalam sepekan mendatang, aliran sungai akan bersih kembali,”ujarnya.

Bahkan, pada Senin (17/01/2017), ia akan mendampingi Bupati Banyumas Achmad Husein untuk melihat upaya-upaya yang dilakukan PT SAE untuk menghilangkan dampak keruhnya air di Curug Cipendok dan sungai di sekitarnya.

Sementara Site Manager PT SAE Hermansyah yang dikutip media lokal di Banyumas menyebutkan kalau pihaknya sudah mulai bergerak untuk menyingkirkan tanah yang berada di sekitar lokasi air. “Target kami, dalam seminggu sudah rampung, dengan melakukan pembersihan dan pemasangan penyaring air agar tidak keruh lagi. Kami meminta maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan ini. PT SAE juga akan memberikan bantuan air bersih untuk kebutuhan masyarakat,”katanya.