Langkah Jitu Mengurangi Permintaan Cula Badak Asia

 

Badak hitam (Diceros bicornis) afrika dan anaknya di Etosha National Park, Namibia. Foto: Yathin S Krishnappa, Creative Commons

 

Lebih dari 1.350 individu badak dibantai untuk diambil culanya pada 2015. Sebagian besar terjadi di Afrika, sekitar 1.342 badak dibunuh, sedangkan sisanya diperkirakan dilakukan di India.

Meskipun negara-negara seperti Afrika Selatan, Namibia, dan dalam hal tertentu India, adalah sumber cula-cula badak, namun sedikit sekali yang diperjualbelikan di negara-negara tersebut. Justru, permintaan akan cula dilakukan konsumen dari China dan Vietnam, yang dijual sebagai barang mahal atau bahan pembuatan obat tradisional. Dari 2006 hingga Mei 2016, sebanyak 528 kilogram cula badak disita di China, dan 442 kilogram disita di Vietnam, menutut laporan LSM Environmental Investigation Agency (EIA).

Baik Afrika Selatan, Namibia, maupun India memang sudah dan terus melakukan berbagai upaya untuk menghentikan para pemburu badak, namun mereka tentu saja tak punya kekuatan untuk memotong permintaan akan cula badak yang dilakukan oleh mereka yang berada di luar negeri. Untuk memerangi hal ini, pegiat konservasi di seluruh dunia sedang memformulasikan strategi menghentikan permintaan cula badak terutama dari Asia timur, yang lebih 30% permintaan dari China dan Vietnam.

“Kita tidak akan pernah bisa mengurangi perburuan badak jika kita tak bisa mengurangi permintaan pasar. Pada dasarnya, kita tak akan pernah punya sumber daya yang cukup untuk memelindungi mereka di alam liar. Selain itu, jika kita tak mengurangi permintaan akan cula badak, harganya terus naik,” kata Peter Knights dari WildAid.

Cula badak pada dasarnya terdiri dari keratin, sejenis protein yang juga ditemukan di kuku dan rambut manusia. Di China, cula badak sudah digunakan sebagai bahan baku obat selama ratusan tahun. Dipercaya, bisa menyembuhkan demam, rematik, bahkan keracunan makanan. Di Vietnam, obat-obatan berbahan baku cula badak dipercaya mampu menyadarkan orang mabuk.

Alec Kennaugh dari  Natural Resources Defense Council mengadakan survei di lima kota besar di China; Beijing, Shanghai, Guangzhou, Kunming, dan Harbin, untuk mengukur consumer behavior, termasuk preferensi jenis cula, kemauan membayar lebih, juga stigma. Dia menemukan bahwa di China, terdapat dua pasar berbeda, yakni cula badak yang digunakan untuk obat, dan cula badak untuk dikoleksi sebagai barang mewah.

Hampir separuh dari responden menyatakan bahwa mereka menggunakannya untuk obat-obatan, terutama menyembuhkan demam. Mereka umumnya mempercayai bahwa obat-obatan dari cula badak sama atau lebih manjur dibandingkan obat herbal.

Hasilnya, studi ini merekomendasikan pentingnya ketersediaan obat alternatif di pasaran untuk menyembuhkan demam akut. Kampanye ini sebaiknya dimulai dari wanita, yang mewakili mayoritas pembeli obat tradisional.

Studi ini juga menggarisbawahi bahwa orang-orang yang membeli cula badak untuk dikoleksi sebagai barang mahal, membelinya karena mereka menginginkan sesuatu yang “langka” dan “unik”. Mereka tak segan membeli cula badak Asia dengan harga yang lebih mahal, semata-mata karena badak asia lebih langka dibanding badak afrika.

Kennaugh menegaskan perlunya mendorong kampanye konsevasi satwa liar, dan juga upaya menciptakan barang-barang substitusi untuk mengurangi “keinginan” dan “kelangkaan” cula badak, yang diharapkan secara psikologis akan mengurangi keiginan untuk membeli cula badak.

 

Sebuah billboard WildAid di Bandara Shenzhen, menampilkan selebriti Tiongkok Chen Kun, Jing Boran dan Li Bingbing. Kampanye “Menggigit Kuku” menekankan bahwa mengkonsumsi cula badak tidak lebih baik dari menggigit kuku sendiri. Foto: WildAid

 

Kampanye Chi

Susi Offord dari Save the Rhino menyatakan bahwa meningkatkan kesadaran publik akan konservasi badak memang adalah hal yang krusial, namun tak cukup. Menurutnya, mengurangi permintaan cula badak, harus meliputi penegakan hukum.

Offord mengatakan bahwa konsumsi cula badak dipicu oleh sekelompok kecil orang, namun mereka amat  berpengaruh. Kampanye pelestarian badak juga harus menarget kelompok-kelompok seperti ini, dengan menggunakan pesan-pesan positif, karena dirasa lebih berhasil merubah perilaku.

Satu contoh adalah Kampanye Chi. Diluncurkan September 2014 di Vietnam oleh TRAFFIC, Save the Rhino dan beberapa oraganisasi lain, kampanye ini memfokuskan pada konsep hidup di Vitenam tentang Chi. Konsep yang menegaskan bahwa kekuatan seseorang berasal dari dalam dirinya, tak bisa diperoleh dari luar, misalnya melalui cula badak.

Kampanye ini menargetkan pada komunitas-komunitas bisnis, pebisnis paruh baya, dan mereka yang baru saja ‘naik kelas’ menjadi orang kaya. Richard Rhomas dari TRAFFIC mengajarkan satu trik, yakni bahwa dalam setiap kampanye; 1) jangan menggunakan gambar badak, 2) jangan mencantumkan logo organisasi konservasi, 3) jangan menggunakan model yang kemungkinan kata-kata tak didengarkan oleh target sasaran.

Kampanye ini dilakukan menggunakan baliho-baliho dan banner raksasa di berbagai tempat strategis. Hasilnya memang belum diukur, baru akan dilaporkan beberapa bulan mendatang. Meski begitu, Offord percaya kampanye ini akan berhasil karena lambat laun, orang yang punya cula badak akan merasa malu, bukan bangga.

Sementara itu, WildAid lebih fokus membangun kesadaran masyarakat di negara, tempat  produk dari alam liar, salah satunya cula badak, dikonsumsi. “Saya kurang yakin kita bisa mempengaruhi orang paruh baya di Vietnam, konsumen cula badak yang dipercaya mampu menyembuhkan kanker, melalui baliho baliho atau iklan,” kata Peter Knights dari WildAid. “Namun kita berpotensi untuk mengedukasi anak-anak, para cucu, tetangganya, dan orang-orang dekatnya yang akan mampu mempengaruhi untuk tak lagi mengkonsumsi cula badak,” tambahnya.

 

 

Selama beberapa tahun terakhir, WildAid telah bekerja sama dengan berbagai pihak, untuk menyebarluaskan kampanye Nail Biter, yakni kampanya yang mengedukasi bahwa mengkonsumsi cula badak, tak lebih dari memakan kuku kita snediri. Duta kampanyenya antara lain Sir Richard Branson, aktis Li Bingbing, aktor Chen Kun, aktor dan penyanyi Jing Boran di China, dan 26 celebriti di Vietnam.

Baliho besar dipasang di subway, mall, trortoar, dan outdoor. Kampanye juga dilakukan di berbagai akun sosial media, dan berhasil meraih 13 juta views hingga saat ini. “Kami cukup terpana melihat jumlah orang yang bergabung dalam gerakan ini di Vietnam dan China, jumlah liputan media yang cukup luas,” kata knights.

Merubah perilaku (behavioral change) memang sulit, karena melibatkan faktor personal. tren ekonomi dan sosial, sehingga tak mudah untuk mengukur keberhasilan suatu kampanye seperti yang dilakukan berbagai organisasi. Namun, para ahli konservasi cukup yakin bahwa kampanye yang didesain dengan baik akan mampu menjadi pelengkap yang ampuh dari kampanye pelestarian badak itu sendiri di tempat asalnya.

“Dulunya, cula badak juga dikonsumsi dan dipakai di Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Setelah dilakukan kampanye bertahun, permintaan cula badak di sana menurun drastis. Mari berharap, kampanye ini juga akan berhasil di China, vietnam, dan tempat lain,” kata Susie Offord. (Diterjemahkan oleh: Akhyari Hananto)

 

 Sumber Tulisan:

Giovanni Ortolini. Reducing Asia’s hunger for rhino horn. Mongabay.com