Mimpi Energi Batu Bara Bersih Indonesia

Sebuah tongkang batubara sedang melintasi sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: Kemal Jufri/Greenpeace.

 

Pemerintah Indonesia kini mengandalkan apa yang sering disebut sebagai teknologi “batu bara bersih” dalam upaya mencapai target tujuan penurunan iklim. Hal ini terdengar cukup aneh, karena  bahkan di negara-negara dengan sumber energi baru dan teknologi lebih maju ketimbang Indonesia pun, pemanfaatan energi batu bara bersih sering disebut sebagai mimpi di siang bolong.

Secara teori, teknologi tercanggih akan mampu menghilangkan 90% karbon dan partikel berbahaya dari pembakaran batu bara. Namun, teknologi ini akan meningkatkan biaya operasional pembangkit energi batu bara naik menjadi 70%, jelas Ed Rubin, seorang profesor dari Carnegie Mellon University dalam sebuah wawancaranya dengan Mongabay.

Saat ini, hanya ada dua pembangkit energi yang menggunakan teknologi carbon capture and storage (CCS) di dunia, yakni Dam Boundary di Kanada yang mulai beroperasi pada 2014 (dan ternyata diketahui bahwa karbon dan partikel berbahaya lain tidak hilang hingga 90%), dan Petra Nova di AS yang bakal beroperasi tahun ini.

Seperti diketahui, teknologi CCS prinsipnya adalah untuk menghentikan emisi pembakaraan fosil dengan cara mengendalikan agar CO2 tidak lepas ke udara.

Di sisi lain, banyak pembangkit lain dari berbagai penjuru dunia yang tak jadi beroperasi, ataupun beroperasi dengan skala kecil, disebabkan biaya yang membengkak dan menghadapi kesulitan-kesulitan teknis lainnya.

Teknologi yang lebih sederhana, -yang ternyata sering juga disebut teknologi “batubara bersih”-, dipakai di 500 pembangkit energi di seluruh dunia. Teknologi sederhana ini ternyata hanya mampu menghilangkan karbon dari pembakaran batubara sebayak 20%, dan rasanya inilah yang akan digunakan di Indonesia.

Pembangkit dengan teknologi ini jika jadi dipergunakan, takkan mampu membuat Indonesia mencapai tujuan pembangunan rendah karbon. Hal yang telah ramai disuarakan oleh para pengamat dan aktivis lingkungan karena keprihatinan akan dampak lingkungan dari industri tersebut yang tak pernah hilang.

 

Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk protes di PLTU di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Foto: Afriadi Hikmal/Greenpeace.

 

Teknologi yang akan dipakai Indonesia

Pembangkit energi yang dengan teknologi sederhana seperti dimaksud di atas sering disebut “supercritical” atau “ulta-supercritical”, sebagai kebalikan dari teknologi tradisional yang disebut “subcritical”. Perbedaannya adalah di tekanan uapnya.

Meskipun ada berbagai macam metode untuk memproses batubara menjadi energi, batubara biasanya dihaluskan kemudian dibakar untuk memanaskan air dalam bejanan tekanan uap (boiler), yang menjadi uap yang menggerakkan turbin.

Boiler supercritical dan ultra-supercritical dibuat untuk menahan suhu yang lebih tinggi dan tekanan yang lebih besar. Dengan kondisi tersebut, lebih sedikit energi yang diperlukan untuk mengubah air menjadi uap, membuat boiler lebih efisien dan dengan demikian mengurangi jumlah emisi per megawatt jam.

Pembangkit listrik supercritical ini menghasilkan 20% lebih sedikit karbon untuk jumlah yang sama dari energi yang dihasilkan, dan pembangkit ultra-supercritical menghasilkan 30 persen lebih sedikit, menurut hasil kajian dari Badan Energi Internasional (International Energy Agency).

Meskipun teknologi supercritical mulai digunakan di  Eropa, Jepang, dan beberapa negara lain, namun penggunaannya belum jamak dipakai di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Pembangkit energi tenaga batu bara yang menggunakan teknologi supercritical  pertama di Indonesia  yakni di  Cirebon, mulai beroperasi pada tahun 2012, dengan dua unit ultra-supercritical masih dalam tahap uji coba di tempat tersebut.

Indonesia saat ini memiliki sekitar 50 pembangkit listrik tenaga batu bara, dan berencana untuk membangun 117 pabrik baru pada 2019. Dengan rincian; 21 persen menggunakan teknologi  subcritical; 43 persen supercritical; 16 persen ultra-supercritical; dan 20 persen tidak terdefinisi.

Dengan hanya sebagian dari tenaga batu bara baru menggunakan teknologi ini, diyakini akan sulit untuk Indonesia mengejar laju proyeksi pengurangan emisi karbon hingga 20 persen untuk tahun 2030.

 

Anak-anak yang sedang bermain di depan pembangkit listrik tenaga batubara di Cirebon. Foto: Henri Ismail/Greenpeace.

 

Teknologi yang diharapkan akan dipakai Indonesia

Teknologi yang lebih canggih dapat diadopsi di Indonesia, seperti yang telah sukses diujicobakan di negara meski dengan korbanan biaya yang lebih besar. Teknologi CCS yang  digunakan di Dam Boundary, Kanada dan Petra Nova di Amerika Serikat layak untuk dipertimbangkan untuk dipakai Indonesia. Meskipun proyek ini menelan biaya sekitar US 1 miliar.

Rubin mencatat penelitian dan pengembangan lebih lanjut dapat menurunkan biaya secara signifikan. Untuk Petra Nova, secara khusus Presiden AS Donald Trump telah menyatakan dukungannya untuk penggunaan teknologi batubara bersih ini.

Teknologi batu bara bersih lain yag dipakai di Amerika Serikat menggunakan teknologi yang disebut gasifikasi, yang sekarang juga sedang diuji coba di Indonesia. Dilansir oleh Jakarta Globe  sebuah perusahaan Jepang, IHI Corporation, telah berinvestasi di pabrik prototipe PT Pupuk Kujang yang diharapkan selesai pengujian tahun ini,

Dengan gasifikasi, alih-alih membakar batu bara, batu bara diubah menjadi gas dengan menggunakan uap dan tekanan udara yang memaksa molekul karbon terpisah. Residunya lebih mudah dipisahkan dari gas yang dihasilkan yang kemudian dibakar untuk menghasilkan energi.

 

Kekhawatiran terhadap Pembangkit Listrik Batubara

Selain CO2, maka zat-zat seperti nitrogen oksida dan sulfur oksida yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan dibuang keudara dari pembangkit tenaga batu bara.

Rajender Gupta, seorang insinyur kimia di University of Alberta, Kanada menyebutkan kepada Mongabay, bahwa teknologi CCS akan mampu membuang zat-zat ini. Pada pembangkit supercritical, polutan ini menurun sama seperti karbon, dengan cara efisiensi. Namun, teknologi yang secara efektif menyaring zat-zat berbahaya ini masih belum banyak digunakan, jelas Gupta.

Dampak lingkungan lainnya dari penggunaan batubara meliputi penggundulan hutan untuk  operasi pertambangan batu bara dan juga penggunaan airnya. Menurut sebuah laporan  Greenpeace sebuah pembangkit listrik batu bara akan menggunakan air seukuran  kolam renang Olimpiade tiap tiga setengah menit.

Sebuah laporan terkait industri batu bara 2016 oleh koalisi LSM, termasuk didalamnya Sierra Club, mengkritik semua upaya untuk batubara ramah lingkungan.

Laporan ini menyebutkan bahwa “Mengganti pembangkit batu bara yang kurang efisien dengan pembangkit yang efisien hanya akan bermanfaat secara jangka pendek. Namun disisi lain, hal ini akan menjaukan kita untuk menggunakan pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan, seperti matahari dan angin”

Di sisi lain, Rubin adalah satu diantara mereka yang masih berpikir batu bara masih memiliki peran transisi penting dan bahwa teknologi batu bara bersih bisa membuat peran yang kurang merusak.

“Biaya beberapa energi terbarukan telah turun secara signifikan, namun teknologi energi terbarukan yang ada masih belum dapat melakukan pekerjaan seperti batu bara, yang menyediakan listrik 24 jam per hari,” jelas Rubin.

“Ketika kita berbicara tentang biaya energi terbarukan turun, kita jarang berdiskusi tentang  biaya yang dibutuhkan untuk menyediakan listrik saat angin tidak bertiup, ketika matahari tidak bersinar,” tambahnya.

Tenaga panas bumi (geothermal) adalah jenis energi terbarukan yang tidak memiliki masalah fluktuasi angin dan matahari. Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia yaitu sekitar 40 persen dari total sumber daya global panas bumi, menurut Bank Dunia.

Modal yang tinggi dan masalah regulasi yang ada di Indonesia, menjadi kendala untuk pengembangan teknologi panas bumi ini.

Sebuah 2015 laporan oleh Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, menyatakan bahwa menambahkan 3.000 megawatt kapasitas panas bumi akan membutuhkan USD 4 miliar untuk modal dan USD 9.5 milyar untuk hutang. Diperkirakan, saat ini Indonesia memiliki sekitar 27.000 megawatt kapasitas panas bumi yang belum termanfaatkan. (Diterjemahkan oleh Akhyari Hananto)

Artikel asli dapat dijumpai dalam tautan berikut di Mongabay.com: Indonesia’s clean coal dreams