Nuri Papua Sitaan Pulang Kampung, Perburuan Paruh Bengkok Terus Menggila

Burung-burung sitaan dari tangan warga di Maluku Utara. Foto: M Rahmat Ulhaz

 

Paruh bengkok dari Papua maupun Maluku Utara, terus jadi sasaran perburuan dan perdagangan. Di Maluku Utara, sendiri paruh bengkok selain jadi peliharaan warga juga diperdagangkan keluar daerah. Begitu juga dari Papua, banyak burung keluar, antara lain ke Halmahera dan Ternate, Malut, lewat kapal laut.

Salah satu kasus, sekitar Mei 2016, warga membawa dua nuri kepala hitam lewat kapal fery dari Sorong ke Weda, Halmahera Tengah, Malut. Sebelum sampai Weda,  sudah diamankan Polisi Kehutanan (Polhut) Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL)  di Pelabuhan   Buli,  Halmahera Timur.

Burung  masuk kandang  transit  untuk perawatan hampir  10  bulan di Buli. Baru, Kamis (16/3/17),  bertepatan Hari Bakti Rimbawan,  nuri diserahkan  ke Balai  Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat, Sorong untuk lepasliar.

Burung dibawa pakai kapal  fery oleh Koordinator  Polisi Kehutanan  BTNAL, Atiti Kotango  ke Sorong. Atiti mengatakan, nuri kembali ke habitat asal di Papua, demi menjaga keseimbangan ekosistem kawasan.

Sadtata Noor Adirahmanta, Kepala Balai TNAL mengatakan, pelepasliaran satwa, harus berhati-hati agar tak mengganggu keseimbangan ekosistem. Terlebih, jenis jenis eksotis, bisa jadi mengganggu satwa asli misal jadi pesaing dalam mencari makanan atau jadi predator bahkan menyebarkan penyakit.

Untuk nuri dari Papua itu, katanya, kala disita belum siap lepasliar karena tak bisa terbang. Setelah rehabilitasi sekitar sembilan bulan, baru siap kembali ke alam.

Di kandang transit (rehabilitasi) itu, selain nuri Papua ada juga kakatua jambul putih, kesturi Ternate, nuri bayan dan perkici. Burung-burung ini endemik Malut.

Ke depan, satwa sitaan bisa masuk ke suaka khusus paruh bengkok. Dia bilang, Malut,  akan ada Suaka Burung Paruh Bengkok (SBP) di BTANL Resort Tayawi yang bakal beroperasi  akhir  2017.

Dengan suaka ini, katanya, tak hanya tempat perawatan burung hasil sitaan atau penyerahan sukarela masyarakat, juga penangkaran, rekreasi dan edukasi. “Masyarakat akan diberikan pelatihan penangkaran burung paruh bengkok,” katanya.

 

Wakapolres Halsel, Kompol Setyo Agus (kaos putih) menyerahkan burung sitaan ke Arga, Kepala BKSDA Halsel. Foto: M Rahmat Ulhaz

 

Terus terjadi

Perburuan dan perdagangan paruh bengkok Malut, terus menggila, terlebih untuk dibawa ke daerah lain. Baru-baru ini,  di Halmahera Selatan, polisi mengamankan puluhan ekor paruh bengkok sebelum keluar Malut.

Di Bacan, polisi menyita  57 burung dari enam jenis berbeda dari dua lokasi, di Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, dan Desa Saketa, Gane Barat. Polisi menangkap lima pelaku yaitu HP, MF, N, FH dan BB.

Kompol Setyo Agus Wakapolres Halsel, dalam konferensi pers Sabtu (11/3/17) mengatakan, di Desa Babang menemukan 39 burung  terdiri 28 perkici, tujuh bayan hijau, dan empat bayan merah.

”Kami juga mengamankan kapal KLM Hasrat Jaya yang mengangkut burung tujuan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, bersama tiga pelaut yakni HP, MF dan N.”

Di Desa Saketa, berhasil menggagalkan penyelundupan  18 burung terdiri dari 11 nuri  merah kepala hitam, dua kakatua jambul kuning, dua kakatua jambul putih dan tiga nuri kepala merah.

“Di Saketa kami mengamankan satu kapal tunda (tug boat) MRP 15 Samarinda yang mengangkut burung dilindungi itu bersama dua pelaku, FH dan BB. Burung dibeli dari Kecamatan Agats, Asmat, Papua. ABK rencana bawa ke rumah masing-masing.”

Polisi mendapat informasi dari anggota di Polsek Saketa.  Sebelumnya, jual beli satwa selalu lolos.  ”Kami agak sedikit kesulitan karena burung dibawa tersembunyi di sejumlah desa. Kami kekurangan personel. Anggota hanya ditugaskan di desa-desa tertentu,” katanya.

Saat ini, pelaku masih proses penyidikan kepolisian. Barang bukti alias burung-burung diserahkan ke BKSDA Halsel untuk lepas liar.

Arga, Kepala BKSDA Halsel membenarkan, telah menerima satwa dari Polres Halsel dan memasukkan mereka ke karantina.

”Untuk 11 nuri merah kepala hitam akan dibawa ke Papua, karena habitat disana.”

Sadtata mengatakan, paruh bengkok di Malut yang banyak diperjualbelikan seperti nuri bayan, kasturi Ternate, kakatua putih, nuri kalung ungu, nuri pipi merah, perkici  dagu merah, betet kepala paruh besar, nuri raja Ambon dan serindit Maluku.