Sekjen AMAN Baru Terpilih, Rukka: Negara Harus Penuhi Janji Lindungi Masyarakat Adat

Rukka Sombolinggi, Sekjen AMAN terpilih menggantikan Abdon Nababan. Foto: Ayat S Karokaro

 

 

Namanya Rukka Sombolingi. Perempuan asal Toraja, Sulawesi Selatan ini sudah malang melintang di organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sejak lama. Pada Minggu (19/3/17), dia terpilih sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) AMAN 2017-2022 menggantikan Abdon Nababan. Abdon lima tahun kedepan sebagai Wakil Ketua Ketua Dewan AMAN Nasional.

Pada Kongres AMAN V di Kampong Tanjung Gusta, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rukka, terpilih secara aklamasi. Selain Rukka, ada empat orang maju jadi calon Sekjen AMAN, yaitu Simpun Sampurna, Arifin Saleh, Mina Susana Sestra, dan Eustobia Renggi.

Dalam pemilihan, Pimpinan Sidang, Hein Namotemo juga Ketua Dewan AMAN Nasional mengatakan,  sebelum pemilihan, kelima calon diminta berembuk di tempat tertentu.

Setelah hampir 30 menit berembuk, Mina, mengambil pengeras suara, dengan suara lantang mengatakan mereka akan bekerja sama membangun dan mengembangkan organisasi AMAN lebih maju lagi. Dari mereka kelima, katanya, yang tepat jadi Sekjen AMAN adalah Rukka.

Suara riuh terdengar di ruang utama sidang. Para calon saling berpelukan dan samar terdengar suara mereka saling memberikan semangat serta dukungan. Para peserta kongres langsung membludak ke depan panggung utama untuk bersalaman dengan Rukka, perempuan pertama memimpin organisasi masyarakat adat nusantara yang memiliki 2.332 anggota komunitas adat, dengan anggota sekitar 17 juta orang.

Rukka mengatakan,  yang paling mendesak memastikan tahun ini DPR tak lagi menunda pengesahan UU Masyarakat Adat, sesuai aspirasi masyarakat adat.

“Ini sangat penting karena yang mematangkan apa yang disebut rekonsiliasi antara masyarakat adat dengan negara. Rekonsiliasi ini hanya bisa terjadi ketika negara mengakui, melindungi dan memihak masyarakat adat,” katanya kepada Mongabay.

Dengan rekonsiliasi itu, dia memastikan, masyarakat jadi bagian dari negara dan negara hadir di tengah-tengah mereka. “Situasi seperti memang belum terjadi hingga sekarang.”

Sikap kongres kali ini, katanya, memastikan masih berlanjut dialog , lebih giat membantu negara memastikan mereka melakukan kerja tetapi tentu saja ada batas waktu. Saat ini, katanya,  menunggu bagaimana negara, Presiden Jokowi kedepan segera memastikan Nawacita terpenuhi.

“Kita akan tunggu karena ini baru terpilih. Ada mandat dari Kongres AMAN V memastikan itu segera terjadi. Strategi kerja dan rapat pengurus besar segera dilakukan untuk menerjemahkan strategi kedepan dari program yang dihasilkan AMAN dalam kongres,” katanya.

Kalau melihat enam poin Nawacita Presiden, sampai kini baru 13.000-an hektar hutan adat kembali hingga masih jauh dari harapan. Presiden, katanya, tak boleh lagi lamban seperti siput.

“Presiden harus segera memastikan kementerian dan lembaga negara yang berurusan langsung dengan masyrakat adat, memastikan Presiden memenuhi Nawacitanya.”

Pemerintah, katanya, harus bergerak, merealisasikan janji dan komitmen yang selama ini hanya masih ucapan belum tindakan.

 

Lima kandidat Sekjen AMAN. Foto: Ayat S Karokaro

 

Hingga kini, katanya,masih banyak masyarakat adat dipenjara, berhadapan dengan meja hakim, dikriminalisasi aparat karena mempertahankan wilayah adat. Negara, katanya, harus menghentikan aksi ini.

“Setelah pelantikan ini, saya akan mengumpulkan kawan-kawan, tadi kami berlima segera bekerja memulai memastikan hasil kongres terlaksana. Kerja prioritas saya, melakukan pembenahan, memperkuat orgasasi. Dengan organisasi kuat akan memastikan pekerjaan bisa jalan.”

Kini, DPR sedang membhas RUU Masyarakat Adat. Setelah UU sah itu juga menjadi tantangan tersendiri. Tantangan gerakan masyarakat adat kedepan, sebenarnya berkelahi dengan bayang-bayang sendiri.

Kini, ada masyarakat adat yang dibelokkan kemana-mana. Sudah ada teman-teman AMAN yang direkrut sejumlah perusahaan yang berkonflik dengan masyarakat adat, merebut hutan adat. Mereka menyeberang dan akan menjadi lawan dan bayang-bayang masyarakat adat. “Ini jadi tantangan gerakan masyarakat adat ke depan.”

Untuk itu, mulai saat ini, melalui Kongres AMAN V  konsolidasi gerakan masyarakat adat bukan hanya organisasi juga dengan pendukung organisasi.

Hein Namotemo, Ketua Dewan Aman Nasional mengatakan, masyarakat adat tak pernah ragu terhadap kemampuan perempuan. Kini,  mereka memiliki Sekjen baru seorang perempuan enerjik.

“Kami bersama organisasi sayap dan otonom, mendukung penuh sekjen baru untuk mencapai tujuan organisasi, jadikan masyarakat berdaulat, mandiri,” kata Hein.

Selain memilih Sekjen AMAN yang baru, kongres juga menetapkan Hein Namotemo sebagai Ketua Dewan AMAN Nasional, dan Abdon Nababan wakil ketua untuk periode lima tahun ke depan.

Dewan Aman Nasional beranggotakan 14 orang dengan masing-masing region (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali – Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua).

Dalam kongres ini, masyarakat adat musyawarah mufakat juga memutuskan Papua sebagai lokasi kongres VI pada 2022. Untuk rapat kerja nasional (rakernas) di Sulawesi Utara pada 2019.

Pada kongres ini, dihadiri sekitar 3.000-an komunitas adat anggota AMAN. Dalam kongres yang berlangsung 15-19 Maret 2017 ini, ada tiga acara pokok, yaitu sarasehan 15-16 Maret 2017, pembukaan dan perayaan hari kebangkitan masyarakat adat 17 Maret 2017, serta Kongres Masyarakat Adat 18-19 Maret 2017.