Membawa Realisme Rawa Gambut dalam Pertunjukan Teater Potlot

“Rawa Gambut” yang dipentaskan oleh Teater Potlot. Foto: istimewa

Pengantar redaksi: Pada tanggal 23 Maret 2017, Teater Potlot yang merupakan kumpulan para pekarya seni, pertama kalinya akan mementaskan drama Rawa Gambut di Jakabaring, Palembang. Pentas hampir dua jam ini ingin mengekspresikan bagaimana persoalan gambut dihadirkan ke ruang publik guna menghantarkan berbagai persoalan yang ada dalam konteks kekinian. Selanjutnya pentas ini akan menyapa kota-kota di lima provinsi di Sumatera di Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Riau dan Sumatera Barat hingga bulan Agustus 2017.

Para pekarya atau penulis lakon menjadi pengamat yang objektif terhadap realitas dan peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.  George Kernodle (1985) mengatakan para penulis lakon menciptakan apa yang disebut “the illusion of reality” di atas pentas. Bingkai gambar prosenium diubah menjadi semacam “picture window” dimana lewat jendela itu kita melihat orang-orang biasa terlibat dalam “sekeping kehidupan” mereka.

Pentas pun menjelma, tidak selalu menjangkau tempat-tempat yang jauh dan masa yang telah lampau, tetapi “yang kini, di sini dan sekarang”, the here and now. Bukan mimpi-mimpi dan fantasi-fantasi, tetapi menjadi suatu studi ilmiah kehidupan yang aktual. Truth was the byword, mungkin jadi pegangan etika para pekarya drama.

Merujuk pada George Kernodle, walau kita biasanya tidak menerapkan istilah impresionisme ke dalam realisme, kita akan bisa memahami realisme itu dengan lebih baik bila kita menyimak seni rupa, musik dan drama yang merespon dengan cara yang sama pada kemajuan-kemajuan historis.

Pembicaraan tentang realisme dalam teater bukanlah pertama-tama mempersoalkan seberapa tepat, cocok, pas antara yang dilukiskan pada naskah lakon dan yang disajikan di atas pentas, tetapi yang lebih mendasar adalah: bagaimana memahami, merumuskan, menghadirkan sesuatu yang dibayangkan sebagai realitas dan bagaimana menggunakannya untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dari sanalah lalu terjadi saling serap yang kemudian melahirkan apa yang disebut selected realism, di mana peralatan pentas diseleksi, tidak asal diisi dengan rinci. Pun diimbuhi dengan stylized realism yang menyajikan realisme dalam sajian ekspresionisme.

Dalam konsep realisme timur (oriental realism) Brecht, mengembangkan konsep epic realism yang menekankan pada transformasi realisme. Suatu realisme yang membelah dunia ini menjadi fragmen-fragmen, yang disatukan ke dalam sebuah gambaran dunia nyata yang penuh makna.

Lewat realitas pentas, maka lakon-lakon realis cenderung akan mengedepankan intelektual dan artistik yang lebih impresif. Ekspresi terhadap pemahaman ide-ide cerita yang lebih mendetail dan terwujudkan ke dalam realitas pentas lewat analisa dan penafsiran naskah. Lalu semuanya diringkas menjadi, eksposisi (pemaparan awal), komplikasi (penggawatan), klimaks, resolusi dan kongklusi.

 

Salah satu fragmen dalam drama “Rawa Gambut”. Foto: Ridzki R Sigit

 

“Rawa Gambut” Realisme Verbal di Ruang Publik

Drama Rawa Gambut Teater Potlot, yang saya tulis dan sutradarai adalah kenyataan realisme dalam teks teater. Saya menggunakan konsepsi realisme tersebut tidak berarti sebagai sebuah kesadaran teater, namun lebih kepada teknik yang bisa dilakukan untuk menyampaikan pesan dalam realitas pertunjukan.

“Rawa Gambut” lahir dari hasil mengumpukan banyak teks di kawasan gambut pesisir pantai Timur Sumatera, tepatnya di beberapa titik kawasan yang mengalami konflik lingkungan dan budaya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Saya bersama komunitas Teater Potlot melakukan riset dan survey ke lokasi, mendata dan mencatat berbagai persoalan di sana. Selain itu juga beberapa personilnya mengikuti berbagai wokshop dan seminar serta kajian ilmiah menyangkut degradasi lahan gambut, kebakaran, serta berbagai opsi lansekap berkelanjutan di kawasan tersebut. Kami juga menyusun peta-peta kecil peninggalan sejarah dan jejak penandaan Sriwijaya melalui artefak dan situs yang berhamburan di sekitar lokasi perkebunan sawit dan HTI akasia tersebut.

Kami juga mengamati kebijakan pemerintah usai kebakaran besar lahan gambut tahun 2015 lalu. Memantau langkah-langkah pemerintah melalui program restorasi gambut yang dikerjakan  BRG (Badan Restorasi Gambut), sebuah badan bertanggungjawab langsung kepada Presiden Joko Widodo yang melakukan program restorasi gambut yang dilaksanakan lima tahun sejak tahun 2016.

Apa kepentingan Teater Potlot, sebagai kelompok yang bergerak di seni budaya dalam kegiatan restorasi gambut tersebut?

Pertanyaan tersebut tentu saja berkaitan dengan lansekap budaya di kawasan tersebut. Konkretnya melacak jejak sejarah Sriwijaya sebagai simbol peradaban masa lalu. Serta menandainya dalam bentuk karya dan rekomendasi-rekomendasi perlindungan cagar budaya.

Pun, teramat penting lagi bagaimana menjaga dan mengaktualisasikan spirit peradaban Sriwijaya tersebut dalam teks kekinian dan akan datang, yakni ikut menjaga alam dan keberlangsungan makhluk hidup di kawasan tersebut.

Gambaran degradasi lahan dan pengelolaan gambut yang eksploitatif di kawasan pesisir pantai Timur Sumatera tersebut yang menjadi topik utama drama Rawa Gambut Teater Potlot.

Teater menjadi alternatif gerakan kebudayaan untuk melakukan kritik dan masukan kepada pemangku negara serta lembaga-lembaga swasta dan independen  yang terlibat di pengelolaan dan monitoring lansekap berkelanjutan, khususnya di kawasan gambut Pantai Timur Sumatera.

Selaku penulis naskah dan sekaligus sutradara, saya mencoba mensimulasikan berbagai bentuk pengucapan realisme teater yang mempertimbangkan banyak hal dalam mewujudkan nilai-nilai yang hendak disampaikan ke dalam realitas pentas. Kemudian memfokuskan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari yang direfleksikan menjadi pesan-pesan moral yang estetik.

 

Salah satu fragmen dalam drama “Rawa Gambut”. Foto: Ridzki R Sigit

 

Saya menggiring penafsiran aktor serta  playing space realisme yang dimainkan guna merangsang kesadaran intelektualnya (Theatre of Intelligent). Menjelaskan teks kata dan rupa menjadi replika panggung dari pemikiran tematik yang diusung drama Rawa Gambut.

Sehubungan dengan struktur drama tersebut agar mampu membuat the interest curve, grafik tentang alur ceritera dan grafik ini saya pergunakan sebagai patokan atau pedoman dalam latihan-latihan. Dengan kurva tersebut diharapkan dapat mempertahankan dan melanjutkan perhatian para penonton.

Saya akan membiarkan teks Rawa Gambut  menjadi kumpulan fragmen dari pecahan artefak masa lalu, atau menjadi disain replika masa depan. Mungkin gambut dalam makna simbolik akan menjadi verbal dan hadir sebagai rupa tiga dimensi. Menjadi sosok yang dihidupkan, atau bisa juga dimatikan secara estetika.

Ketika Rawa Gambut masuk ke ruang publik,  saya dan komunitas Teater Potlot, sepakat tidak akan memperdebatkan esensi naturalis dan teaterikalis dalam artistik panggung. Tidak juga melakukan penetrasi topeng-topeng yang digunakan manusia sehari-hari. Seperti Richard Schechner (1994) menyebut Stanislavski dan Brecht sebagai orang-orang naturalis,  Grotowski dan Artaud sebagai orang-orang teaterikalis.

Terkait drama Rawa Gambu, saya berharap Teater Potlot mampu berkontribusi melahirkan perubahan pada situasi dan kondisi yang kacau, paradoks, dan serba tidak pasti, bahkan mengancam kehidupan masa depan bumi dan seisinya.  Teater  tetap menjaga keberlangsungan narasi-narasi keadilan pengelolaan bumi.

Konsep-konsep menerima dan memberi, serta menjaga dan tidak melukai.

Rawa Gambut, hanya mengingatkan para pengelola alam, agar segera menghentikan perusakan dan penghancuran peradaban bumi dan sejarah. Rawa Gambut mengajak semua untuk kembali menjadi manusia Sriwijaya. Manusia yang menolak segala bentuk eksploitatifisme dalam mengelola sumberdaya alam di bumi ini.

* Conie Sema. Penulis dan Sutradara di Teater Potlot, email semaconie@gmail.com.