Mongabay Travel: Lut Tawar, Danau Sejuk di Dataran Tinggi Aceh Tengah

 

Lut Tawar, danau kebanggaan masyarakat Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Danau Lut Tawar atau sering disebut Laut Tawar merupakan danau yang terletak di dataran tinggi Aceh, 1.500 meter di atas permukaan laut. Danau ini menjadi tempat wisata menarik karena letaknya di pinggir Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Luasnya mencapai 5.472 hektare dengan panjang 17 kilometer dan lebar 3,219 kilometer.

Berkunjung ke Lut Tawar, mata akan dimanjakan pemandangan danau yang indah, dikeliling pegunungan dengan hawa sejuk. Bila kita berkeliling, butuh waktu hingga dua jam. Namun, dijamin tidak akan membosankan karena ada hutan pinus yang mengawal danau ini. Pastinya, ada aktivitas nelayan mencari ikan di danau ini.

Waktu berkeliling akan lebih lama, bila kita singgah ke beberapa goa yang ada di sekitar. Sebut saja Loyang Peteri Pukes, Loyang Koro, Loyang Peteri Ijo, Loyang Perupi atau Goa Ular, Loyang Ujung Karang, dan Loyang Mendale. Semua goa itu memiliki legenda tersendiri bagi masyarakat Gayo.

 

Bukan hanya menawarkan keindahan, di sekeliling Lut Tawar juga ada goa yang patut dikunjungi. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Lelah berkeliling danau, kita juga bisa melihat danau dari tempat tinggi. Seperti dari Bur Gayo, dari sana akan terlihat Kota Takengon dan Danau Lut Tawar yang luas. Dipastikan, Lut Tawar merupakan muara bagi 25 aliran sungai yang mengalir ke Krueng Peusangan di Kabupaten Bireuen.

Di sekitar danau juga ada warung kopi Arabica Gayo, salah satu kopi terbaik dunia. Kopi-kopi tersebut berasal dari kebun di Kabupaten Aceh Tengah yang bertetangga dengan Kabupaten Bener Meriah.

Mirwan, wisatawan asal Jakarta mengatakan, Danau Lut Tawar masih alami yang  keindahannya terjaga. Biaya untuk makanan dan penginapan juga sangat murah. “Saya sering membawa anak-anak ke sini saat liburan. Mereka mengajak saya keliling danau menggunakan perahu yang disewakan.”

 

Terlihat dua pemuda memainkan suling dan rebana. Saat menjaga padi sawah, biasanya masyarakat menyanyi yang merupakan budaya masyarakat setempat. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Khalisuddin, Sekjen Forum Penyelamat Danau Lut Tawar mengatakan, salah satu cara menjaga danau yang telah ada sejak belasan ribuan tahun ini adalah dengan mengembangkan wisata. Masyarakat mendapatkan penghasilan dari kegiatan wisata sehingga tidak merusak danau atau hutan di sekitarnya.

“Lut Tawar bukan hanya menjanjikan keindahan alam, tapi juga memiliki banyak situs budaya. Ini sebagaimana penemuan fosil manusia yang hidup pada 7.400 tahun yang lalu di Gua Loyang Mandale, dan objek wisata budaya lainnya.”

 

Kopi arabica Gayo yang merupakan salah satu produk kopi terbaik dunia, di hasilkan di kebun kopi yang ada di sekitar Lut Tawar. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Geliat wisata di Danau Lut Tawar terus tumbuh. Budaya lokal masyarakat Gayo yang memiliki nilai seni tinggi sangat mendukung keindahan alamnya. Kini, hampir setiap tahun, pemerintah menggelar Festival Lut Tawar untuk memperkenalkan Lut Tawar ke masyarakat luas, tentunya dengan tetap menjaga keasrian danau di dataran tinggi ini.