Suku Bajo, Simbol Eksistensi Warga Pesisir yang Semakin Terpuruk  

Dikenal sebagai suku yang tinggal di perairan laut, nasib Suku Bajo dimasa kini ternyata belum sebaik yang dibayangkan publik. Keberadaannya di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang notabene adalah kawasan wisata terkenal sekarang, ternyata masih serba kekurangan.

Gambaran tersebut juga dilihat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat mengunjungi perkampungan Suku Bajo di Pulau Wangi-wangi, akhir pekan lalu. Perempuan asal Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat itu, terpaku mendapati perkampungan pesisir itu minim dari segala fasilitas yang dibutuhkan.

Di antara fasilitas yang masih sangat minim itu, adalah fasilitas kesehatan beserta tenaganya untuk melayani warga yang tinggai di perkampungan tersebut. Selain itu, masalah kebersihan juga masih terlihat belum baik di perkampungan nelayan yang terletak di kawasan Mola Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan itu.

Di Mola Raya sendiri, perkampungan Suku Bajo tersebar di lima desa, yaitu Desa Mola Utara, Mola Bahari, Mola Selatan, Mola Samaturu, dan Nelayan Bhakti. Kelima warga desa yang masih terikat darah dan sejarah itu, kemudian secara bersama melakukan aksi kerja bakti membersihkan lingkungan.

Sampah-sampah yang berserakan, kemudian dibersihkan, diambil dan ditampung ke dalam satu wadah. Tujuannya, agar warga bisa merasakan kebersihan lingkungan dan menghirup kembali udara yang bersih. Keberadaan sampah, diketahui sudah sejak lama ada di perkampungan Suku Bajo.

 

Tumpukan sampah di perkampungan Suku Bajo di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menggerakkan masyarakat Suku Bajo untuk membersihkan sampah dan menjaga lingkungan dalam kunjungan kerjanya minggu kemarin. Foto : Regina Safri/Humas KKP

 

Fakta tersebut sudah diketahui oleh warga Suku Bajo, ataupun warga di luar suku tersebut. Dan bahkan, masyarakat di luar Wakatobi sudah paham, Suku Bajo di Wangi-Wangi selalu ditemani oleh tumpukan sampah, baik di darat maupun di laut yang jadi tempat tinggal mereka.

Kondisi itu yang memaksa Susi Pudjiastuti untuk kembali ke Mola Raya setelah melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Maluku. Kunjungan tersebut menjadi yang kedua dalam waktu sepekan. Susi mengaku, dia tergerak hatinya karena merasa miris melihat perkampungan nelayan yang menjadi simbol masyarakat pesisir di Nusantara.

Agar perkampungan Suku Bajo bisa lebih bersih dan kesehatan lebih baik, pada kunjungan kedua tersebut Susi membawa serta sejumlah peralatan yang diperlukan, seperti seperti excavator, mobil roda tiga, sekop, cangkul, sapu lidi, pacul, gerobak,  skopnet, pengait sampah/gancu, dan karung sampah untuk keperluan kerja bakti.

“KKP bersama-sama warga juga menyiapkan tempat pembuangan akhir sampah-sampah tersebut,” ungkap Susi.

 

Warga Suku Bajo membersihkan sampah di perkampungannya di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menggerakkan masyarakat Suku Bajo untuk membersihkan sampah dan menjaga lingkungan dalam kunjungan kerjanya minggu kemarin. Foto : Regina Safri/Humas KKP

 

Dalam kerja bakti ini juga dilakukan perbaikan sarana mandi cuci kakus (MCK) di kawasan Mola Raya yang sudah tidak dapat digunakan. Selain itu dilakukan pula perbaikan jalan kayu lapuk yang menghubungkan rumah-rumah warga.

Di akhir kegiatan kerja bakti, KKP menyerahkan peralatan kebersihan secara simbolis sebagai bentuk kepedulian KKP terhadap kebersihan perkampungan nelayan Mola Bahari.

“Nanti jangan buang sampah ke laut lagi ya. Kalau buang sampah ke laut, rumahnya juga saya buang ke laut,” ujar Susi menyindir dengan halus.

 

Destinasi Internasional

Sebagai destinasi wisata internasional, Wakatobi selalu menjadi incaran para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, melihat kondisi di Wakatobi langsung, Susi merasa harus ada pembenahan yang banyak.

“Wakatobi ini salah satu destinasi pariwisata nasional. Kalau ada wisatawan mancanegara datang tapi melihat kondisi kampung Suku Bajo seperti ini, kita tidak boleh diam. Nanti tidak ada yang mau datang. Kalau sudah bersih daerah sini juga akan jadi incaran wisatawan,” ujar dia.

 

Warga Suku Bajo bersiap melakukan kerja bakti membersihkan pemukiman mereka dibantu oleh pihak KKP. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam kunjungan kerjanya, membantu peralatan kebersihan. Foto : Regina Safri/Humas KKP

 

Selain masalah kebersihan, Susi melihat bahwa kebutuhan dasar masyarakat Suku Bajo juga banyak yang belum terpenuhi. Dia mencontohkan, kebutuhan peralatan dapur dan rumah tangga masih banyak yang belum punya.

Di luar kebersihan, Susi juga menyoroti aspek kesehatan di Suku Bajo. Dalam kunjungan yang pertama, Susi mengaku kaget karena kondisi kesehatan warga Bajo masih sangat buruk. Kata dia, banyak anak kekurangan gizi, dan menderita down syndrome.

Untuk itu, Susi kemudian mendirikan posko kesehatan gratis dengan membawa 3 orang dokter umum dan 2 orang gigi. Setelah diperiksa dokter, jika ada warga yang mengalami sakit serius, maka akan dirujuk ke RS memadai di Makassar atau kota terdekat.

Jika tidak memungkinkan dirawat di sekitar Wakatobi, warga yang sakit akan diterbangkan ke Jakarta untuk mendapat pengobatan di RS Pusat Angkatan Darat, Jakarta Pusat.

Selain warga secara umum, Susi juga menyoroti kesehatan balita dan ibu hamil yang ada di perkampungan pesisir tersebut. Dia meminta kepada para ibu untuk membawa anaknya berobat ke Poskesdes yang dibangun di tengah mereka.

“Semua yang sakit-sakit berobat saja ke sana. Gratis. Kita juga sediakan susu, biskuit, dan vitamin untuk anak-anak. Yang dewasa yang kurang sehat juga ada vitamin di Poskesdes,” himbau dia.

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sedang berbicara dengan seorang ibu dalam kunjungan kerjanya di perkampungan Suku Bajo di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. KKP membantu warga Suku Bajo terkait kebersihan lingkungan dan kesehatan warga Suku Bajo. Foto : Regina Safri/Humas KKP

 

Guna meningkatkan akses kesehatan masyarakat Mola Raya yang masih buruk, Badan Riset dan Sumber Daya Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) juga melakukan inventarisasi pendataan BPJS bagi masyarakat semua lapisan di Mola Raya.

Di luar itu, Susi juga mengingatkan pentingnya warga untuk memiliki asuransi nelayan yang sudah disediakan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Bapak sudah ada asuransi nelayan kah? Buruan dibikin, supaya nanti kalau kenapa-napa ada jaminan. Tubuh dipakai terus melaut ya harus diasuransikan,” ujar Menteri Susi kepada seorang nelayan paruh baya yang menderita penyakit jantung.

Susi meminta Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) untuk melakukan pendataan nelayan di wilayah kampung Bajo Mola yang belum menerima asuransi nelayan. Dia ingin, kesejahteraan masyarakat Suku Bajo segera ditingkatkan dan masuk prioritas program kerja di KKP.

“Intinya, memberikan kehidupan yang layak bagi masyarakat Suku Bajo, harus menjadi prioritas,” tandasnya.

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sedang berbicara dengan seorang ibu dalam kunjungan kerjanya di perkampungan Suku Bajo di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. KKP membantu warga Suku Bajo terkait kebersihan lingkungan dan kesehatan warga Suku Bajo. Foto : Regina Safri/Humas KKP

 

Revitalisasi Kampung Suku Bajo

Melihat kompleksnya permasalahan yang ada di perkampungan Suku Bajo, Susi Pudjiastuti mengusulkan kepada Bupati Wakatobi Arhawi untuk dilakukan revitalitasasi dan memindahkannya ke tempat lain dengan penataan pemukiman yang baik. Dia berjanji, Pemerintah akan mencarikan dana untuk mewujudkan rencana tersebut.

Adapun lokasi yang akan dijadikan tempat relokasi, berada di Kecamatan Wangi-wangi Selatan, yakni Desa Liya Mawi. Selain agar kehidupan suku bajo lebih baik, lokasi baru ini juga diharapkan dapat menjadi objek wisata baru di Wakatobi.

Desa Liya Mawi sendiri adalah  desa pesisir dengan sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai pembudidaya rumput laut. Namun, kondisi lahan untuk rumput laut di desa tersebut sudah terjadi pendangkalan akibat penambangan pasir secara ilegal di sekitar lokasi tersebut.

Diketahui, Suku Bajo dikenal sebagai suku penjelajah. Jejaknya bisa dilihat di berbagai provinsi di Indonesia. Namun, dari semua provinsi yang ada, Sulawesi Tenggara, khususnya Kabupaten Wakatobi, menjadi tempat populasi terbanyak dengan lebih dari 20 ribu penduduk suku tersebut.

 

Pemukiman warga Suku Bajo yang sudah bersih. KKP membantu warga Suku Bajo terkait kebersihan lingkungan dan kesehatan warga Suku Bajo saat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kunjungan kerjanya di perkampungan Suku Bajo di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.: Regina Safri/Humas KKP

 

Sebagai suku laut yang banyak menggantungkan penghasilan dari laut, Suku Bajo di Wakatobi dikenal sangat aktif dengan memanfaatkan hasil laut, salah satunya adalah mengambil batu karang dan menjualnya. Atau, batu karang diambil untuk dijadikan bahan membangun rumah.

Dari waktu ke waktu, kegiatan mencari nafkah Suku Bajo tersebut, diketahui tidak banyak berubah. Mereka, meski sudah memasuki mesin waktu modern, tidak mau mengganti mata pencaharian dengan profesi yang lain.

Akan tetapi, karena profesi yang disandang tersebut, keberadaan Suku Bajo dewasa ini dinilai mengancam ekosistem laut di sekitar Wakatobi, destinasi wisata bahari internasional yang saat ini sudah mendunia. Mereka dianggap mengancam, karena kebiasaannya berburu terumbu karang dan itu bisa menghancurkan kelestarian sumber daya perikanan di sekitarnya.