Internet of Things, Cara Cerdas Menyelamatkan Badak dari Perburuan

 

Badak hitam (Diceros bicornis) yang hidup di Afrika. Foto: International Rhino Foundation

 

Setiap hari, makin sering kita dengar bagaimana Internet of Things (IoT), analisis data, data mining dan analisis prediktif, bisa dan bahkan wajib digunakan perusahaan-perusahaan moderen untuk tetap berkompetisi di era digital ini.

IoT adalah bagaimana kita memilah dan memanfaatkan sejumlah besar informasi, mendapatkan data yang terstruktur maupun tidak, posting di media sosial dan lainnya, untuk membuat keputusan yang cerdas dan cepat.

Secara sederhana, IoT adalah benda-benda di sekitar kita dapat berkomunikasi satu dengan lainnya melalui sebuah jaringan. Sejauh ini, IoT masih terkait dengan bagaimana ia digunakan untuk mengeruk keuntungan finansial dan memberikan kepuasan pada pelanggan. Belum digunakan, untuk hal-hal yang bersifat non profit.

Contoh sederhana manfaat dan implementasi IoT adalah kulkas yang dapat memberitahukan pemiliknya via SMS atau email tentang makanan dan minuman apa saja yang habis, harus disediakan lagi.

Pertanyaan muncul, bisakah IoT digunakan untuk, misalnya, menyelamatkan satwa yang terancam keberadaannya di Bumi? Sebut saja melindungi badak!

Saat ini, diperkirakan hanya tersisa sekitar 21 individu badak putih dan 5.500 badak hitam di Afrika. Sementara itu, Badak Asia, terutama badak jawa dan badak sumatera, jauh lebih terancam. Badak jawa, populasinya diestimasi tidak melebihi 70 individu yang terkonsentrasi di Ujung Kulon. Sementara badak sumatera, jumlahnya sekitar 100 individu.

Untuk melindungi sekaligus melestarikan mamalia luar biasa ini, kita harus berpikir out of the box. Berpikir kreatif.

 

 

Saatnya bertindak

Belum lama ini, Cisco dan Data Dimension, sebagaimana dikutip dari Internet of Business.com, melakukan langkah penyelamatan badak sebagai proyek pertama di dunia. Kedua perusahaan ini meneliti dan mengerahkan berbagai teknologi yang mereka miliki di sebuah tempat yang tidak disebutkan namanya, di suaka alam di Afrika Selatan, untuk melawan perburuan badak. Sengaja dirahasiakan, dengan tujuan melindungi satwa bercula yang tengah diselamatkan itu.

Teknologi yang mereka kembangkan, tentunya, memanfaatkan kekuatan dari IoT. Hal yang ditekankan adalah memonitor dan melacak individu badak saat masuk suaka alam tersebut, hingga pergi meninggalkannya. Kedengarannya tidak terlalu mengesankan, namun, ketika Anda mempertimbangkan betapa besar dan luasnya cagar alam di Afrika, serta betapa kejamnya para pemburu badak, teknologi ini benar-benar menjadi penting untuk melacak perilaku masing-masing individu, juga semua hal  yang mencurigakan di sana. Teknologi ini tidak mungkin dikembangkan tanpa adanya sensor array dan analisis data real-time.

Satu lagi, hal penting dari proyek ini adalah pengumpulan, pemeriksaan, analisis dan pemeriksaan informasi tentang semua karyawan cagar alam tersebut, termasuk para ranger, petugas keamanan, tim IT dan tim kontrol pusat. Menggunakan semua informasi yang dikumpulkan, Reserve Area Network  telah diciptakan dan hotspot WiFi dipasang di berbagai titik. CCTV, drone yang dilengkapi kamera inframerah, thermal imaging, pelacakan kendaraan, sensor IoT dan sensor IoT seismik juga digunakan.

Penggunaan GPS tracking untuk melacak badak adalah hal biasa. Drone sendiri digunakan untuk memonitor dan melacak pemburu, sementara kamera ditempatkan di berbagai titiik untuk mensurvei pagar-pagar pembatas di sepanjang cagar alam. Security check juga dilakukan pada para pekerja taman nasional.

Semua ini sangat membantu aplikasi IoT di lapangan. Sehingga, jika teknologi ini dipegang oleh orang dengan kemampuan yang tepat, kita akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menyelamatkan badak. Yaitu, dengan menyusun dan menginterpretasikan semua infomasi tersebut untuk memprediksi dan mencegah serangan pemburu.

Meskipun para pemburu umumnya tak segan mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan cula badak, namun data IoT tak mudah dibeli. Tidak mudah dijual oleh sembarang orang. Jika dipergunakan sebagai mana mestinya, sangat memungkinkan sebagai jalan cerdas yang kita perlukan untuk menyelamatkan badak-badak yang tersisa. (Berbagai sumber)