Dua Primata Ini Kompak Menghalau Predator

 

Owa dari jenis kalawet (Hylobates albibarbis). Foto: Andrew Walmsley/Borneo Nature Foundaton

 

Laporan ilmiah yang dipublikasikan di Asian Primates Journal, menjelaskan adanya interaksi tidak biasa antara owa dari jenis kalawet (Hylobates albibarbis) dengan lutung merah (Presbytis rubicunda) saat diusik seekor macan dahan (Neofelis diardi).

Perilaku yang merupakan bentuk kerja sama antar-primata melawan predator ini dikenal dengan nama ‘predator mobbing‘. Kejadian tersebut makin berkesan karena terekam kamera.

Tim lapangan Borneo Nature Foundation (BNF) yang melakukan penelitian lutung merah liar di Hutan Sebangau, Kalimantan Tengah, tidak menduga bila satwa ini bergabung dengan kelompok kalawet. Tentunya, setelah mendengar panggilan peringatan akan predator.

Dua primata itu, akhirnya meneriakkan suara peringatan yang diarahkan pada pohon liana di hutan. Ini disebabkan macan dahan atau Sunda Clouded Leopard bersembunyi di pohon tersebut.

Sekitar dua setengah jam, kalawet dan lutung merah mengeluarkan teriakan peringatan ke macan dahan, yang nyatanya tidak bergerak dari posisinya. Posisi owa jantan terdekat sekitar 2 meter dari macan dahan, sedangkan lutung sekitar 10 meter. Peringatan mencapai puncaknya, ketika kalawet jantan itu menarik ekor macan dahan, sementara lutung terus mengeluarkan teriakannya.

 

Lutung merah (Presbytis rubicunda). Foto: Chris Owen/Borneo Nature Foundation

 

Ada dua teori mengapa primata ini mengepung macan dahan. Pertama, macan dahan, merupakan spesies yang dominan di malam hari, mungkin tengah tertidur ketika kalawet melihatnya.

Kedua, adalah bayi dari kelompok kalawet dibunuh oleh macan dahan, dan mungkin ini yang menyebabkan pengepungan terjadi. Bayi kalawet terakhir terlihat tiga minggu sebelum peristiwa ini berlangsung, yang bisa juga menghilang setelah induk kalawet mencarinya. Namun, sang bayi tidak pernah terlihat selama pertikaian tersebut.

Kalawet dan lutung yang secara fisik lebih lemah, bergabung untuk mencegah kehadiran predator. “Kami tidak tahu pasti, apakah macan dahan ini membunuh bayi owa,” kata Dr. Susan Cheyne, Co-Direktur Borneo Nature Foundation dan penulis pendamping publikasi di jurnal tersebut. “Tapi, jika kalawet dan lutung tidak bekerja sama untuk membela diri dari ancaman predator, kita mungkin saja tidak mengetahui apa yang terjadi,” lanjutnya dalam keterangan tertulis, awal pekan ini.

Cheyne memaparkan akan langkanya peristiwa tersebut. Menurutnya, meskipun pihaknya telah mengumpulkan lebih dari 10.000 jam data perilaku kalawet dan lutung merah selama 12 tahun penelitian di Hutan Sebangau, akan tetapi ini adalah kali pertama dua spesies itu rukun.

“Kami biasanya melihat kalawet, yang lebih dominan, mengejar lutung. Ini disebabkan, terkadang ada persaingan dalam hal makanan, wilayah teritori, dan lainnya. Untuk peristiwa ini, kedua spesies tampaknya mengesampingkan perbedaan yang ada, bersama menghalau predator.”

Meskipun nasib bayi kalawet tidak diketahui, akan tetapi macan dahan tidak menunjukkan agresi alias perilaku mengancam. “Hal penting yang dapat kita pelajari dari primata ini adalah kekuatan dalam jumlah banyak dan kerja sama yang baik merupakan strategi jitu melawan pemangsa,” lanjutnya.

Zainuddin, Asisten Lapangan BNF dan penulis pendamping publikasi, yang menyaksikan interaksi ini pertama kali mengatakan, kondisi tersebut sangat menarik untuk diteliti. “Kami beruntung bisa merekamnya, pengalaman yang belum pernah kami lihat sebelumnya ketika penelitian.”

 

Macan dahan (Neofelis diardi). Foto: Ben Buckley/Borneo Nature Foundation

 

Kebiasaan

Anton Ario, peneliti owa sekaligus satwa karnivor jenis kucing besar dari Conservation International Indonesia mengatakan, perilaku umum dikalangan primata termasuk owa dan lutung apabila mendeteksi adanya ancaman adalah, mereka mengeluarkan seruan peringatan atau alarm call. Ini merupakan bentuk komunikasi sesama anggota kelompok primata. “Bentuk ancaman yang dimaksud adalah kehadiran satwa pemangsa, macan dahan, misalnya,” ujarnya, Kamis, 13 April 2017.

Anton menuturkan, macan dahan yang merupakan salah satu karnivor kucing besar mahir memanjat pohon. Satwa mangsa dari jenis kucing liar ini tidak hanya mamalia teresterial tetapi juga yang hidup arboreal, primata. Ancaman bagi primata ini tidak hanya pemangsaan terhadap anak, namun juga individu dewasa.

Terdeteksinya kehadiran macan dahan oleh owa dengan mengeluarkan alarm call tentunya menguntungkan kelompok lutung yang pada akhirnya mengetahui pula keberadaan macan dahan. Mereka pun meningkatkan kewaspadaan. “Umumnya, mereka menghindar atau menjauh dari sumber ancaman.”

 

 

Menurut Anton, meski peristiwa “pengeroyokan” oleh kedua jenis primata tersebut secara bersamaan jarang terjadi, namun hal ini menunjukan adanya strategi mempertahankan diri bersama dari ancaman melalui agresi. Tujuannya, agar keduanya selamat. “Kemungkinan,  kedua jenis primata ini pernah menyaksikan pemangsaan yang dilancarkan oleh macan dahan sebelumnya,” jelasnya.

Indonesia merupakan rumah nyaman bagi 7 jenis owa. Ada Hylobates moloch (owa jawa) yang tersebar di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah; Hylobates lar (serudung) yang berada di Sumatera bagian utara; Hylobatesagilis (ungko) di Sumatera bagian tengah ke selatan; juga Symphalangus syndactylus (siamang) di seluruh Sumatera.

Berikutnya, Hylobates klosii (bilou) di Pulau Mentawai, Sumatera Barat; Hylobates muelleri (kelempiau) di seluruh Kalimantan; serta Hylobates albibarbis (ungko kalimantan atau kalawet) yang berada di Kalimantan bagian barat.