Ekowisata Banyuwangi : Menguji Keseriusan Sunrise of Java Mewujudkan Pelestarian Lingkungan (bagian 3)

Sebagai pemandu pariwisata lokal, Heru Agus Setiawan tak hanya mampu menerangkan beragam tanaman di 25 hektare kebun milik Hotel Kalibaru Cottages di Desa Kalibaru, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pemandu wisata yang sudah bekerja sejak 15 tahun lalu itu juga lancar menerangkan sejarah tentang perkembangan tempat kelahirannya, Banyuwangi.

Akhir Maret lalu, Heru menjelaskan berbagai tanaman di kebun milik hotel yang berdiri sejak 1994 itu. Tak hanya kopi robusta, di kebun dengan ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut itu juga terdapat kakao, durian, merica, hingga buah naga.

Menggunakan pisau lipat, dia menunjukkan cara menyadap pohon karet atau memotong buah kakao yang sudah hampir matang. Heru bahkan membawa contoh-contoh produk dari kebun yang sudah diolah, seperti kopi dan kakao kering. Dia menerangkan proses pengolahan dari kebun hingga menjadi produk olahan.

(baca : Ekowisata Banyuwangi : Dulu Membalak Hutan, Kini justru Melestarikan, bagian 2)

 

Ekowisata di Kalibaru, Banyuwangi, Jatim, mengenalkan juga proses sambung pucuk kopi kepada turis. Foto : Anton Muhajir

 

“Kebun memang menjadi daya tarik bagi turis-turis asing, terutama Eropa,” kata Heru. Pada musim puncak liburan (peak season), dia bisa memandu 2-3 kali grup turis. Tiap grup ada 20an turis. Turis asing yang datang umumnya dari Belanda dan Jerman.

Kalibaru berada dekat perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Daerah ini menjadi pelintasan bagi para turis mancanegara untuk menuju Bali setelah mengunjungi Gunung Bromo atau sebaliknya. Kalibaru Cottages merespon peluang itu dengan membangun hotel berisi 60 kamar di pinggir jalan raya Banyuwangi – Jember.

Selain di Kalibaru, lokasi lain yang menarik bagi turis adalah perkebunan di Glenmore, kecamatan tetangga. Lokasinya sekitar 15 km ke arah timur dari Kalibaru. Di kecamatan ini terdapat perkebunan swasta PT Glenmore yang berusia ratusan tahun sejak penjajahan Belanda. Pabrik pengolahan kopi, kakao, dan karet yang berdiri sejak 1929 ini sehari-hari masih beroperasi hingga saat ini.

“Turis-turis asing senang sekali melihat semua proses dari kebun hingga pengolahan menjadi komoditas siap jual,” tambahnya.

 

Warga lokal terlibat dalam ekowisata di Banyuwangi, Jatim, sebagai pengelola ataupun pemandu. Foto : Anton Muhajir

 

Namun, menurut Heru yang juga bekerja lepas di Kalibaru Cottages, selama dua tahun terakhir turis domestik juga makin banyak. “Bupati (Banyuwangi) memang serius mengembangkan dan mendukung ekowisata,” ujarnya.

 

Africa van Java

Dua tahun terakhir, ekowisata Banyuwangi memang berkembang pesat. Ketika tempat-tempat wisata lama seperti Kalibaru Cottages dan PT Glenmore masih menjadi tujuan perjalanan, muncul pula objek-objek baru, seperti Desa Adat Kemiren, Wisata Pinus Songgon, Bangsring Underwater, Watu Dodol, dan lain-lain. Mereka tersebar di tepi pantai hingga pegunungan, dari ujung timur ke barat, dari utara ke selatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi Yanuar Bramuda mengatakan Banyuwangi memang menerapkan konsep ekowisata dalam pengembangan pariwisata di daerahnya. “Kami tidak ingin terjebak pada model pariwisata yang sudah dikembangkan daerah lain, seperti Bali dan Lombok,” ujarnya. Menurutnya, jika Bali menerapkan konsep pariwisata massal seperti dua provinsi di timur Jawa tersebut, maka mereka tidak akan punya segmen.

Dengan modal kekayaan alam dan budaya, kabupaten yang mengusung slogan Matahari Terbitnya Jawa atau The Sunrise of Java ini pun memilih ekowisata sebagai andalan. Dalam Rencana Strategis Pembangunan Pariwisata Banyuwangi 2010-2015, kabupaten ini memang menjadikan kebudayaan dan potensi alam sebagai basis pariwisatanya.

(baca : Ekowisata Banyuwangi : Mantan Pengebom Ikan itu Kini justru Menjaga Pesisir, bagian 1)

Selain itu, menurutnya, ekowisata Banyuwangi juga dipilih untuk menjawab salah satu isu lingkungan global saat ini, perubahan iklim. Sebagai daerah yang memiliki banyak hutan, sungai, dan laut, Banyuwangi berharap bisa mewujudkan green tourism sekaligus menjawab isu pemanasan global.

 

Dua tahun terakhir terus bermunculan ekowisata dalam skala kecil di Banyuwangi, Jatim, seperti di Glenmore. Foto : Anton Muhajir

 

Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Banyuwangi serius memelihara kekayaan alam yang ada. Sebelumnya mereka hanya fokus pada tiga tujuan utama yang biasa disebut segi tiga berlian (diamond triangle) yaitu Gunung Ijen, Pantai Grajagan, dan Pantai Sukamade. Saat ini, beberapa lokasi baru pun dikembangkan terutama, misalnya Desa Adat Kemiren dan Dusun Lebah Madu.

“Kami juga mengenalkan Africa van Java, pesona di Taman Nasional Alas Purwo yang punya kekayaan binatang liar dilindungi, seperti rusa, banteng, dan banyak lagi,” Yanuar berpromosi.

 

Keterlibatan Warga

Dengan kian banyaknya tujuan ekowisata di Banyuwangi, kunjungan turis pun terus bertambah. Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, pada 2015 terdapat 2 juta turis domestik dan 50 ribu turis asing. Setahun kemudian jumlah turis domestik meningkat jadi 3,5 juta sedangkan turis asing 77 ribu.

Ketika jumlah turis kian banyak, komitmen Banyuwangi untuk menerapkan ekowisata pun seperti diuji: mau memilih pada peningkatan jumlah kunjungan atau tetap setia pada pelestarian lingkungan?

Bagi Yanuar, pilihannya jelas. “Visi kami adalah pariwisata untuk melestarikan dan menyejahterakan. Jadi, melestarikan tetap paling penting,” katanya. Dia memberikan contoh praktik ekowisata di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, di Banyuwangi bagian timur laut. Bangsring justru dikenal sebagai tujuan wisata setelah nelayan lokal membuat aturan tidak boleh memancing dan menjaring ikan sembarangan.

 

Warga terlibat pula dalam konservasi lingkungan untuk menjaga sungai seperti di Songgon, Banyuwangi, Jatim. Foto : Anton Muhajir

 

Hal senada dikatakan Sukirno, perintis ekowisata bawah air di Bangsring. “Kami lebih mengedepankan konservasi daripada wisata. Pariwisata itu hanya jangka pendek. Kalau mengedepankan konservasi, maka pariwisata akan berkembang dengan sendirinya,” tegas Sukirno.

Agar pelestarian lingkungan tetap dilakukan, para pengelola ekowisata di Banyuwangi melibatkan warga lokal. Heru di Kalibaru adalah contohnya. Begitu pula di Watu Dodol, Bangsring, Wisata Pinus Songgon, dan tempat-tempat lainnya. Di tempat lain, misalnya Karo Adventure, Songgon dan Pantai Cemara, Banyuwangi selatan, warga yang terlibat bahkan melakukan rehabilitasi lahan.

Menurut Nyoman Sukma Arida, doktor di bidang pariwisata lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pengembangan ekowisata di Banyuwangi memang dominan digerakkan oleh warganya sendiri. Dalam disertasinya tentang pariwisata berbasis desa di Bali, dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali itu menemukan tiga penggerak ekowisata yaitu investor, warga atau komunitas, dan pemerintah.

“Ketika masyarakat menjadi aktor utama dalam ekowisata, maka biasanya akan lebih berkelanjutan,” katanya. Bedanya, Sukma melanjutkan, model yang dikelola pemerintah akan lebih gemerlap di awal sebelum kemudian redup alias hanya sementara. Adapun model ekowisata yang dikelola investor cenderung lebih eksploitatif terhadap sumber daya alam.

Agar ekowisata di Banyuwangi terus sejalan dengan pelestarian lingkungan, menurut Sukma, maka warga harus dibiarkan menjadi pengelola tempat ekowisata itu sendiri. Masyarakat juga harus membuat aturan pengelolaan yang disepakati bersama. Bila ada aktor luar masuk semisal investor besar, masyarakat harus berani tegas menolak.

Adapun pemerintah cukup menyediakan regulasi dan menyiapkan sistem dukungannya, seperti promosi dan jejaring. Pemerintah berfungsi sebagai fasilitator saja agar ekowisata bisa tetap berjalan. Adanya regulasi akan membuat masyarakat pengelola ekowisata punya aturan sebagai acuan dalam pengelolaan dengan tetap memperhatikan pelestarian lingkungan.

“Ekowisata penting karena dengan menerapkan ekowisata, maka masyarakat maupun wisatawan bisa dilibatkan untuk ikut berkontribusi dalam konservasi lingkungan,” kata Sukma yang sudah beberapa kali mengunjungi Banyuwangi ini.